Bab 29: Keresahan

1108 Words
Rana sedikit kaku, sangat berhati-hati saat memotongkan kuku. Hasil dari kerja kerasnya sangat memuaskan walau baru pertama kali melakukannya. Dia tidak menyangka jika akan begitu rapi. "Butuh waktu setengah jam untukmu menyelesaikannya," ucap River. "Dan lagi, juga tidak perlu tergesa, bukan? Aku tidak ingin mengambil risiko untuk menyulitkanmu." "Rana, apa kau merasa bersalah setelah kejadian hari itu?" "Sangat." River ingin menenangkan, ingin mengatakan kalau tidak terlalu masalah baginya. Namun, pintu terbuka memunculkan Aura yang berjalan lambat dengan membawakan sesuatu memenuhi kedua tangan. Dari jauh bisa terlihat kalau apa yang dibawa adalah makanan. "Oh, kau sudah sadar?" Aura bertanya, memasang tampang lega sekaligus senang. "Tepat sekali, karena Potato memintaku untuk menyiapkan sarapanmu." Dia meletakkan makanan di sisi kosong River yang lain. "Semoga kau menikmatinya." Mereka bertiga saling melemparkan tatapan kala suasana tiba-tiba hening. Tidak ada pergerakan dari River yang seharusnya melahap sarapannya, begitu pula dengan dua kakak beradik yang mengharapkan kepuasan dari makanan tersebut. "Apa yang kau tunggu? Habiskan sarapannya sebelum dingin. Tentu saja kau bisa menghangatkannya, tapi rasanya pasti tidak lagi sama." "S—sebenarnya, aku perlu ke kamar kecil terlebih dahulu." "Oh!" Rana dan Aura sama-sama berseru, serentak bergerak untuk membantu. Justru tindakan mereka membuat suasana menjadi kikuk. "Aku akan melakukannya sendiri," ucap River. Pria yang hendak menyingkirkan selimut segera ditahan oleh Rana. "Tunggu sebentar!" Dua orang lainnya bertanya-tanya alasan kenapa dicegah, tampak jelas dari ekspresi di wajah. Sementara Rana punya alasan tersendiri, pokoknya harus dia yang membantu, bukan kakaknya. "A–aku juga ingin ke kamar kecil. Mungkin kita bisa menyelesaikannya secara bergantian. Jadi, lebih baik aku yang membantumu. Itu akan membuat waktu menjadi lebih efisien, bukan?" "Ide yang bagus," ucap Aura. "Ah, aku melupakan dapur yang berantakan! Kalau begitu, aku akan pergi untuk merapikannya. Jangan lupa untuk menghabiskan sarapanmu, ya, River?" River menganggukkan kepala. "Terima kasih." Setelah sang kakak tidak lagi berada di sana, Rana bernapas lega dan langsung menjauhkan tangannya dari River. "Maafkan aku. Pasti kau sudah menunggu lama. Aku tidak bisa membiarkan kakimu terlihat oleh kakakku. Dia akan memukul bokongku lebih banyak jika tahu." Rana memapah pria itu, lambat-lambat dan penuh pengertian hingga mereka tiba di depan pintu kamar kecil. Di sana dia menunggu River selesai dengan urusannya. Baru kemudian, memapahnya kembali ke tempat semula. "Aura sepertinya sangat suka memasak." River berkata. "Ya, sangat suka, sering kali menghancurkan dapur dengan eksperimennya." "Orang seperti apa dia?" Rana tadinya ingin membantu mengambilkan makanan, tetapi setelah mendengar pertanyaan barusan membuat suasana hatinya langsung berubah. "Aura? Dia ... tentu saja sangat baik. Untuk apa kau menanyakannya?" "Karena aku penasaran." "Oh," Rana tergelak, "kau penasaran tentangnya?" "Benar, terutama padamu. Aku sangat penasaran dengan dirimu yang sebelumnya berasal dari Bumi." Rana menipiskan bibir. "Aura adalah seseorang yang kau lihat sekarang. Dia tipe idaman para pria dan Shaw yang beruntung mendapatkannya. Mereka saling mencintai, tipe pasangan dambaan karena setiap hari selalu dilewati dengan perasaan cinta." "Bagaimana denganmu sendiri?" "Aku? Bukan topik yang menyenangkan jika membahas soal diriku. Yah, keseharianku sangat membosankan. Tidak ada yang istimewa untuk dibagi." "Kekasihmu?" "A—apa?! Aku tidak memilikinya. Lagi pula, siapa yang menginginkan wanita seperti diriku?" "Memangnya kenapa dengan wanita yang seperti dirimu?" "Tidak menarik." River bergumam sebentar. "Ingin aku buatkan benda yang bisa membaca perasaan seseorang? Mungkin saja berguna ketika kau kembali ke duniamu nanti." Rana terbahak, sejurus kemudian berekspresi datar. "Aku tidak berniat jomlo seumur hidup sampai harus dibantu dengan alat seperti itu." "Apa kau sedang meremehkanku? Menolak karya luar biasa seorang profesor di masa depan sama artinya dengan melanggar hukum. Kau bisa terkena pasal pelecehan terhadap karya." Sekali lagi perut Rana bergolak akan tawa. "Kau pikir aku akan percaya dengan ancaman itu? Semua hanya karangan saja, bukan? Setidaknya jika kau ingin dipercayai, buatlah ekspresi yang meyakinkan." River tersenyum. Dia mengarahkan tatapan pada wadah yang masih terisi penuh. Sebenarnya dia tidak berselera makan meskipun sangat penasaran bagaimana rasanya masakan yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Aura pasti memasak makanan Bumi lagi dan seperti yang sudah-sudah, tidak buruk sama sekali. Rana memperhatikan arah ke mana River melihat. "Itu sudah dingin, tapi kau harus menghabiskannya. Jika Aura melihat sisa makanan di piringmu, maka dia akan kecewa. Shaw selalu menandaskan piringnya demi membuat kakakku senang setiap hari, meskipun mulanya masakan Aura tidaklah enak. Dia berlatih sangat keras sampai menjadi seperti sekarang." "Ya, aku harus menghabiskannya. Bisakah kau membantuku untuk menggesernya lebih dekat? Karena aku tidak dapat menjangkau letaknya." Rana segera bangkit, berjalan ke sisi kosong sofa lebar untuk naik dan merangkak. Dia menggeser nampan agar lebih dekat ke sisi River. Namun, tetap saja pria itu harus memutar tubuh susah payah agar dapat menjangkau. Dia sendiri merasa tertekan dengan keadaan yang menyedihkan, sekaligus memiliki tanggung jawab untuk membantu secara tidak langsung, mengingat kesalahan yang telah dia lakukan. "Biar aku yang menyuapimu." Rana terkejut ketika mendongakkan kepala, melihat wajah pucat begitu dekat dalam posisi merangkaknya. "Jaring laba-laba tampaknya akan berguna di saat sekarang." River menipiskan bibir. "Kau bisa membantuku untuk mengambilkannya saja." Rana langsung menundukkan kepala, bergeser untuk duduk lebih nyaman sebelum memberikan mangkoknya. Selagi menunggu River selesai, dia yang harus membantu lagi nantinya bergeser duduk dan bersandar. Dia memeluk lutut, merebahkan kepala di sana, pandangannya jauh ke depan sana. Tidak tahu apa yang dipikirkannya pada saat-saat seperti sekarang. River yang duduk di dekat wanita itu pasti juga memiliki mata. Ada seseorang yang sedang berada dalam suasana tidak bagus dan dia hanya diam saja? Apalagi mereka sudah banyak berinteraksi tentang banyak hal dalam waktu dekat, mereka sudah bisa dikatakan sebagai teman, bukan? Apa yang dia tahu soal pertemanan adalah saling mendengarkan curahan hati masing-masing. "Apa ada yang mengganggumu?" "Tidak." "Kau yakin?" Rana menganggukkan kepala, tentunya tidak dapat disadari jelas oleh River yang duduk di sisi lain. Alhasil, langkah terakhir yang bisa dilakukan adalah menyentuhkan tangan ke punggung wanita itu sebagai cara untuk menenangkan. Merasakan sentuhan itu membuat Rana seketika terlonjak, menghindar dengan segera, kedua matanya membelalak. "Apa yang kau lakukan?! Kenapa menyentuh punggungku?!" River juga sama terkejutnya. Dia memperhatikan tangannya sendiri, terheran-heran dengan reaksi yang didapatkan. "Aku? Aku hanya berusaha untuk menenangkanmu." "Berhenti melakukannya! Justru kau yang membuatku tidak tenang!" Rana bergegas turun dan keluar dari ruang penelitian. Dia tahu kalau reaksinya terlalu berlebihan, dia tahu kalau seharusnya dia tidak bersikap demikian. Namun, kenapa dia lebih memilih untuk pergi dari sana ketimbang meminta maaf karena sudah membentak seseorang yang tidak bersalah? "Rana, ada apa dengan raut wajahmu yang kesal? Sesuatu telah terjadi?" Tidak ada jawaban. Rana hanya berlalu begitu saja dari hadapan kakaknya yang tengah sibuk di dapur. Dia masih saja memikirkan dirinya yang begitu aneh. Sebenarnya, apa yang membuatnya menjadi begitu aneh? Menyentuhkan tangan di d**a, Rana memukulnya pelan. Dia bukan anak kecil lagi, tahu mana yang dinamakan dengan perasaan suka. "Bagaimana bisa aku menyukainya," gumamnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD