River memperhatikan pintu begitu lama, tidak ada tanda-tanda seseorang akan muncul. Ternyata hari ini pun tetap sama, Rana tidak datang untuk melihat keadaannya. Kenapa dia merasa seperti ada yang kurang karena hal itu?
"Acara pelelangan tidak lagi diadakan dalam waktu dekat. Sepertinya para saudagar kaya tengah mempersiapkan diri untuk acara yang akan diselenggarakan pihak akademi. Kau tahu, kalau acara inovasi yang diselenggarakan satu tahun sekali itu banyak dinantikan. Kali ini, apa kau juga tidak ikut menonton penampilan mereka?"
Tidak ada jawaban. Entah sejak kapan, River yang rajin datang ke acara inovasi setiap tahun dengan semangat berkobar-kobar, kini sudah tidak lagi terlihat. Pria yang digemari para penduduk itu lebih memilih menghadiri acara pelelangan ilegal.
"Pihak acara pelelangan menanyakan tentang karyamu terakhir kali. Dia berkata seseorang tertarik untuk membeli. Aku belum mengonfirmasi lagi, apakah tawarannya akan tetap berlaku. Apa keputusanmu?"
"Bagaimana dengan kondisi keuangan kita, Potato?"
"Masih cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Tapi aku tidak yakin kita bisa membeli peralatan tempur di meja penelitian. Kita baru saja membayar utang pada Luigi, tidak mungkin memberikan beban lagi karena aku yakin kau tahu bahwa tokonya sekarang masih memiliki utang yang harus dilunasi."
"Berapa tawarannya untuk bola ajaib?"
"Sekitar empat angka, kemungkinan besar akan turun menjadi tiga angka karena acara inovasi. Aku berharap tidak sampai menuju dua angka."
Empat angka saja masih belum cukup membantu. River harus mencapai angka tertinggi yaitu tujuh. Di sisi lain, dia juga tidak bisa berharap lebih dalam kondisi pasca jatuh dari ketinggian. Sekarang sudah beberapa hari sejak dia tidak menggunakan akal pikirannya untuk bekerja.
River membawa kedua kakinya menapak, berusaha untuk berjalan, tetapi masih kesulitan. Kalau begitu, bagaimana dia bekerja? Sedangkan dia harus berjalan ke sana ke mari. Tidak mungkin juga terus dipapah karena akan sangat memuakkan berada di kondisi seperti itu.
"Apa yang sedang coba kau lakukan?"
River gemetaran saat kedua kaki menapak, dia terjatuh duduk kembali. "Airnya butuh diisi," ucapnya.
Potato melihat gelas yang kosong. "Tunggu di sini. Aku akan mengisinya. Jangan lakukan apa pun sampai aku kembali atau kau akan menerima akibatnya." Dia segera memutar roda kakinya untuk pergi.
River sengaja mencari alasan agar robot yang menjelma sebagai pengasuhnya tidak lagi berada di ruang penelitian. Dia kemudian menekan sebuah tombol yang terdapat di bawah sofa sehingga pintu tidak dapat lagi dibuka. Hanya dia yang tahu mengenai tombol cerdik itu.
River berusaha bangun kembali, bersusah payah untuk berdiri. Padahal, kemarin tidak begitu sulit, akan tetapi sekarang dirinya seperti lumpuh. Apa mungkin karena Potato sedang memaksimalkan pemulihan sehingga hilang tenaga menjadi efek samping dari operasi itu?
***
Rana masih mempertimbangkan tentang dirinya yang ingin meminta maaf. Selama itu, dia sengaja memberikan jarak pada pria yang berhasil membuat jantungnya berdetak cepat. Dia harus kembali menjadi Rana yang tidak memikirkan tentang seorang pria, dia harus kembali menjadi wanita yang hidupnya membosankan.
Rana berdiri tegak, menghirup dan menghela napas panjang. Hari ini sudah cukup untuk kegalauan seorang diri. Lantas, dia keluar dari kandangnya untuk menuju ruang penelitian. Pada saat itu pula dia melihat Potato yang sibuk di dapur, menarik diri untuk datang mendekati.
"Apa itu untuk River?"
"Benar."
"Bagaimana dengan keadaannya? Apa sudah jauh lebih baik?"
"River akan sembuh dalam waktu dekat. Untuk sementara waktu masih membutuhkan bantuan orang lain jika berjalan setelah operasi besar yang dilakukan kemarin."
"Oh, benarkah? Ternyata aku ketinggalan banyak hal."
Potato diam tidak bergerak, memandangi Rana begitu lama. "Bisakah Rana membujuk River untuk datang ke acara inovasi? Dia selalu pergi sebelumnya, tapi tiba-tiba tidak lagi. Potato sangat sedih melihat semangatnya yang semakin lama semakin memudar."
"A—aku tidak yakin untuk itu. Bukankah dia lebih mendengar perkataanmu? Sedangkan aku hanya orang asing yang berniat pulang secepatnya. Bagaimana dia bisa mempercayaiku?"
"Rana benar-benar berpikir seperti itu? Potato pikir kalau kita semua sudah berteman, duduk di meja makan yang sama, melalui hari yang berat bersama-sama. Potato tidak berpikir kalau kalian adalah orang asing, karena rumah ini tidak lagi sepi semenjak kedatangan kalian. Potato sangat senang dan berharap kita bisa bersama selamanya."
"I—itu ...." Rana tidak tahu kalau Potato akan menganggap kehadirannya seperti itu. Dia tahu kalau robot tidak memiliki perasaan, akan tetapi apa yang dilihatnya tadi? Sungguh mengharukan sampai-sampai membuat matanya berkaca-kaca.
"Potato akan mengantarkan minuman untuk River."
Rana melihat kepergian robot itu, segera berkata, "Tunggu, temanku! Aku ikut!"
Sampai di depan ruang penelitian, Potato kebingungan lantaran pintu tidak dapat dibuka, padahal sebelumnya baik-baik saja.
"Jangan bilang kalau pintu ini rusak." Rana yang menyadari situasi serupa berkata.
Potato memberikan nampan pada Rana, kemudian memindai dengan mata untuk mendapatkan alasan dari pintu yang tidak bisa dibuka. Menurut pemindaian, tidak ada yang rusak, semua berjalan sebagaimana mestinya, kecuali fungsinya yang dimatikan.
"Sepertinya River telah mematikan aliran listrik di pintu ini. Kita tidak dapat masuk ke dalam."
"K—kenapa River mematikan aliran listriknya? Apa dia ingin menghemat pengeluaran?"
"Tidak, Rana. Listrik di dunia Stardust diberikan secara gratis."
Rana terkejut bukan main. "Bahkan, aku tidak tahu biaya tunggakan kami setelah pergi begitu lama dari Bumi."
"Bukan saatnya untuk terkagum-kagum. Cepat, cari cara agar pintu ini bisa dibuka."
"Bagaimana? Aku tidak memiliki apa-apa untuk membantu." Rana meletakkan nampan di lantai dengan segera, dia sepertinya menemukan ide cemerlang.
"Apa yang akan Rana lakukan?"
Rana sudah berada jauh dari pintu, bersiap-siap untuk tenaga besar. "Memangnya apa lagi? Tentu saja aku akan membuka pintunya."
Pada akhirnya, dengan sekuat tenaga Rana berlari mendekati pintu hingga hampir dekat jaraknya, dia menghempaskan tubuhnya. Namun, apa yang terjadi adalah dia menemui kesialan karena pintu tiba-tiba terbuka lebar.
Rana yang tidak bisa dikontrol gerakannya pun terjerembap. Pemandangan yang luar biasa tentunya, ditambah River yang kondisinya juga sama setelah berusaha untuk berjalan. Mereka jatuh di lantai dan sama-sama kesakitan.
Potato dengan instingnya langsung mengangkat dua anak manusia itu dan membaringkannya di sofa lebar. Usai terjatuh, tidak ada dari mereka yang dapat bergerak lantaran adrenalin terpacu membuat rasa sakit lenyap untuk sementara waktu.
"Aku tidak akan menoleransi tindakanmu setelah memberikan peringatan berulang kali, River."
Dua orang yang menjadi korban atas tindakan sendiri memperhatikan Potato mondar-mandir. Sebenarnya sudah berlangsung cukup lama untuk melihat pemandangan itu, membuat Rana pusing karena tanpa sadar matanya terus mengikuti.
"Aku tidak tahu kalau Potato akan bertahan begitu lama dengan omelan yang sama," bisik Rana.
"Jangan heran. Aku menciptakannya sambil memikirkan ibuku yang selalu mengomel berhari-hari hanya untuk satu masalah."
"Maksudmu, kita akan terus seperti ini berhari-hari? Cepatlah, lakukan sesuatu untuk menghentikannya. Kepalaku sudah pusing dan telingaku juga pegal mendengarnya. Aku—"
"River!"
Bahu dua orang yang berbaring sama-sama tersentak. Mereka sudah seperti kucing yang mencuri ikan. Dibandingkan hal itu, selanjutnya apa yang akan dilakukan Potato?