George telah berhasil menapaki kakinya. Dia masih belum bisa menyeimbangkan diri akibat pergerakan menggaruk-garuk. Kalau terus seperti ini, maka dia akan salah sasaran menancapkan moncongnya.
George terbang ke arah yang lain. Dia berdiri di dekat lubang telinga dan berkata, "Tenanglah, Nona. Aku hanya ingin membantumu. Hirup napas dalam-dalam dan hembuskan perlahan. Kau pasti bisa meredam rasa gatal yang sekarang tengah menggerogoti."
Rana pastinya bisa mendengarkan suara itu. Dia berusaha untuk melakukan apa yang diminta, hanya itu yang bisa dilakukannya kini.
"Bagus, ya, begitu. Sekarang singkirkan tanganmu, biarkan aku membantumu. Kau harus sebisa mungkin menahannya. Ini tidak akan lama. Aku akan membuat rasa sakit itu berkurang sehingga kau dapat merasa aman."
Tangan yang perlahan menyingkir menjadi kesempatan bagi George untuk bertindak. Dia segera beranjak dan menapaki kulit leher kembali. Moncongnya harus siap dengan sekali tusukan saja dan dia akan mengisap racun gatal.
Oh, apa dia akan benar-benar mati setelah ini? Tidak. Dia tidak boleh menyerah dan mundur, pikir George.
Tepat saat George ingin menusuknya, seseorang datang menghalangi. Dia melihat sosok yang ditakuti, yang harus dihindari, yang tidak boleh dia lawan karena harus memikirkan bangsanya.
"P—profesor River."
"Singkirkan dirimu!"
George langsung menyingkir. Rana yang menahan diri untuk tidak menggaruk sudah berada di ambang batas, tetapi belum sampai menjangkau leher, River menahannya dengan kuat. River meraih kunci yang ada pada Rana sejak tadi, melemparkannya pada nyamuk dan lalat yang kepayahan menyambutnya.
"Nyalakan listriknya, Moko." Setelah berkata dengan nada dingin, River membawa Rana pergi bersamanya.
Nyamuk dan lalat sendiri keberatan, kunci ruang listrik memang berat. Mereka membuka pintu semampu mereka, menarik tuas agar listrik kembali hidup. Di sisi lain, Moko baru sadar akan sesuatu yang janggal baginya.
"Kenapa listrik di rumah ini bisa mati? Dan kenapa kuncinya ada pada Rana? Apa karena Potato yang menyerahkannya?" Moko bergulat dengan pikiran sendiri.
"Listriknya sudah menyala."
Perhatian Moko teralih, pertanyaan di pikiran langsung lenyap. "Semua karena ulah kalian, aku harus melakukan apa yang River perintahkan. Seumur-umur, baru kali ini aku melakukannya dan kau harus tahu kalau rasanya sangat menyebalkan!"
"Aku rasa juga tidak betul-betul siap untuk mengorbankan diri tadi kalau bukan profesor yang mencegahku."
"Itu bagus. Kau sudah kembali ke jalan yang lurus. Sekarang bantu aku menutup pintunya. Aku harus pergi mengabarkan situasi pada Potato."
"Apa kau juga akan mengadukan kami?"
"Tentu saja. Kalian adalah biang keladi dari semua permasalahan ini. Andai kalian tidak muncul, mungkin pekerjaanku tidak akan seberat ini. Dan aku tidak perlu melakukan apa yang River katakan!"
Listrik menyala mengartikan bahwa aktivitas kembali berlangsung. Apa yang tidak diketahui adalah oven yang tidak sengaja ditinggalkan Aura dalam keadaan menyala, perlahan suhunya menjadi naik. Rosa yang masih berada di dalam sana menanti dengan gelisah, berharap seseorang datang dan membantunya keluar dari hawa yang mulai panas.
***
River menyuntikkan penawar dari racun gatal, meredakan rasa gatal yang dialami Rana. Semua lenyap tidak bersisa dalam satu waktu. Bagaimana gigitan nyamuk bisa begitu gatal? Rana seperti terhipnotis untuk terus menggaruk.
"Aku harus menghukum mereka. Peringatan saja sepertinya tidak cukup untuk membuat mereka jera."
"Memangnya, apa yang mereka lakukan padaku?"
River menaikkan sebelah alisnya. "Mereka memberikanmu racun yang dapat memberikan efek gatal tidak terhingga. Aku tidak tahu kalau kesepakatan kami akan mereka gunakan untukmu."
"Apa nyamuk di masa depan begitu canggih sampai dapat memberikan racun pada mangsanya?" Rana menggosok lehernya yang terasa panas.
"Nyamuk adalah makhluk terbelakang, mereka tidak berkembang atau maju. Karena itu aku memanfaatkannya dengan membuat kesepakatan. Jika mereka berhasil menyelesaikan tugas, maka aku akan memberikan mereka sesuatu untuk mengembangkan bangsanya. Racun gatal adalah salah satu penemuanku dengan meracik darah manusia dan kotoran lalat yang difermentasikan. Itu akan memberikan efek gatal yang sulit untuk diredakan."
Rana berekspresi pahit. "Maksudmu, yang masuk ke dalam darahku, yang mereka berikan padaku ...."
"Maafkan aku. Kau harus mendengarnya."
Rana menundukkan kepala dalam-dalam. "Darahku tidak lagi bersih karena bercampur dengan kotoran lalat yang difermentasikan. Aku ... kotor."
River mengurut pelipisnya. "Sekarang tidak masalah lagi. Semua akan berakhir keesokan pagi ketika kau membuang air. Kotoran tetaplah kotoran. Untuk racunnya sendiri sudah disterilkan."
"Kotoran tetaplah kotoran. Bisa-bisanya kau berkata seperti itu padaku!"
"Aku tahu kalau itu akan sangat mengejutkanmu. Semua sudah berakhir sekarang dan kau lihat lantai yang sebelumnya roboh di sana?" River menunjuk hasil dari kerja keras mereka. "Rahasianya berhasil ditutupi." Dia berkata dengan nada gembira.
Sementara Rana tidak mengubah ekspresinya sama sekali. Dia masih sulit menerima kenyataan yang didengarnya mengenai racun gatal. Apa yang dipikirkan River ketika menciptakan ramuan mengerikan itu?
"Aku turut bersuka cita mendengar rahasia kita dapat ditutupi dengan baik." Rana bangkit dari duduknya, lalu berkata dengan miris, "Dan asistenmu ini membutuhkan cuti untuk sementara waktu."
"Oh, baiklah." River tidak mencegah ketika wanita yang membantunya berlalu pergi. "Kau memang butuh waktu untuk menenangkan diri."
Ucapan River dibalas dengan suara pintu yang menutup. Sekarang kegelisahannya sudah mereda dan tersisa satu pekerjaan penting lagi yang harus diselesaikan yaitu menghukum para pembuat onar!
***
Berteriak-teriak seperti orang gila ternyata membutuhkan tenaga. Rosa tidak sanggup lagi dan dia hanya bisa mengetuk kaca. Pikiran mengenai memberi pelajaran pada dua wanita yang tinggal bersama River sepertinya juga tersingkirkan akibat hawa yang panas.
"Ada orang di sana? Tolong, keluarkan aku dari sini!"
Dapur begitu sepi tanpa ada satu orang pun yang melewatinya. Ke mana perginya semua orang? Apa dia benar-benar akan mati terkurung di dalam oven? Itu tidaklah lucu!
"Aku sudah tidak kuat lagi."
Pandangan mata teralih pada George yang kini sedang berbincang akrab dengan seekor lalat. Dia menemukan harapan baru dan secepatnya dia mengetuk pintu kaca kembali, kali ini dengan sisa seluruh kekuatannya.
"George, cepat keluarkan aku dari sini! Oven ini sepertinya menyala dan aku tidak sanggup terus berada lama di sini. Aku sudah kepanasan!"
Sayangnya, teriakan tidak terdengar oleh George. Perbincangan mengenai cinta memang sangat menarik untuk dibahas. Mereka sama-sama melupakan tugas masing-masing yang harus menginformasikan pada Potato tentang kondisi rumah dan juga mengeluarkan Rosa dari tempat kurungan.
"Hei, lihatlah ke mari! Aku melambai-lambaikan tangan agar kalian melihat ke arahku! Cepat, keluarkan aku dari tempat ini! Aku mohon!"
Jeritan Rosa masih tidak dihiraukan, sementara rasa panas sudah begitu mengusik. Apa dia akan mati dalam keadaan matang?