Rana menghitung detik demi detik berlalu, masih lima belas menit sejak listrik dimatikan. Berulang kali dia sudah memastikan kalau Aura tidak terbangun. Dia juga berharap bahwa Potato akan berada di luar lebih lama.
Tiba-tiba Rana tersentak ketika sesuatu menyakiti kulit. Mulanya dia berpikir bahwa hanya sekali saja dirinya merasakan, akan tetapi setelah itu seperti tidak ada habisnya. Dia mulai mencari tahu alasan di balik rasa sakit bercampur gatal, lalu menemukan dua ekor nyamuk yang pernah dilihat sebelumnya.
Bukan sembarangan nyamuk sampai bisa membuat Rana tidak sadarkan diri, meninggalkan bekas gigitan dalam jangka waktu yang tidak singkat. Setelah berlaku buruk padanya, bagaimana bisa mereka datang kembali? Terlebih bukannya mengucapkan kalimat permintaan maaf, justru menggigitnya seperti pertama kali bertemu.
"Berhenti! Apa yang kalian lakukan tiba-tiba?!" Rana berusaha menyingkirkan, mengibaskan tangannya ke segala arah.
"Kau tidak akan bisa menghentikanku untuk kali ini." Rosa yang paling bersemangat, bergelantungan sambil terus menahan moncong yang menancap, berayun-ayun ke sana ke mari seperti jemuran yang diterbangkan angin, berniat mengisap darah sampai ke sari pati.
"Sialan! Aku harus menghitung waktunya!"
Ketika dua orang wanita tengah bertengkar, George dan Moko menggelengkan kepala. Hanya karena seorang lelaki saja, harus mengalami pertengkaran, padahal masih banyak ikan di lautan. Lebih tepatnya, masih banyak nyamuk di dunia. Rosa tidak sepatutnya menyukai makhluk yang berbeda, masih ada George dengan kesetiaannya.
Di sisi lain, Rana memikirkan sang kakak yang mungkin saja bisa terbangun dengan serangkai teriakannya. Dia harus menghentikan robot nyamuk dengan segera. Tetapi bagaimana caranya agar dia tidak lagi digigiti?
Sebelum Rana mengambil keputusan, pertolongan tanpa sengaja datang dari makhluk yang serupa. George menggunakan kekuatannya untuk menarik Rosa dengan kuat, sedangkan Moko ikut serta membantu lantaran tidak ingin keributan lebih lama terjadi.
Kita sendiri tahu pemicu pertengkaran yaitu Moko yang mengatakan informasi mengenai sang profesor dengan tujuan menyombongkan diri. Sayangnya, bukan reaksi yang dia harapkan setelah itu.
Rana berhasil terlepas dari gigitan nyamuk. Dia hendak memberikan pukulan, menangkap mereka yang tiba-tiba berjumlah lebih dari satu. Bahkan, dia tidak sempat untuk memikirkan dari mana asalnya tiga ekor nyamuk—termasuk Moko yang dianggap sebagai nyamuk—atau memikirkan apa yang diinginkan darinya.
"Aku akan menangkap kalian, mengurung kalian di oven karena sudah menggangguku!" Rana semakin membabi buta, tidak tahan lagi, tidak peduli lagi.
Tidak adanya tindakan dari para nyamuk menjadi celah bagi Rana untuk menghitung waktu kembali. Sudah berapa lama dia meninggalkannya? Mungkin sekitar lima menit? Jika memang begitu, maka masih ada waktu 10 menit lagi untuk dia menunggu di depan ruang listrik.
Rana menggaruk leher, entah kenapa begitu gatal. Mereka yang melihat pun merasa janggal dengan sikap aneh itu, menggaruk-garuk tanpa henti. Sementara Rosa yang mengetahui penyebabnya hanya terkekeh geli, rencananya berhasil dan membuat dia puas.
George memperhatikan senyum jahat itu rupanya dan dia sepertinya tahu penyebabnya. "Rosa, kau tidak benar-benar memberikannya racun gatal, bukan?"
"Racun gatal?" Moko bertanya.
George menganggukkan kepala. "Racun gatal memiliki efek yang buruk. Orang yang mengalaminya tidak akan berhenti menggaruk, bahkan jika itu harus sampai terluka."
"Itu keadaan darurat. Potato harus mengetahuinya!" seru Moko.
George terbang untuk menghalangi jalan lalat. "Jangan! Kami mohon agar hal ini tidak diketahui oleh Potato, terlebih lagi profesor. Rosa sedang emosional sekarang dan tanpa sadar membuat kegaduhan. Hal terpenting sekarang adalah mencari jalan keluar bagaimana menghentikan efek dari racun gatal."
"Aku tidak pernah mendengar istilah racun gatal sebelumnya. Kalau begitu, bagaimana cara kita untuk menyembuhkannya?"
"Aku harus mencari satu wanita lagi." Rosa tidak menampilkan ekspresi bersalah, mungkin sudah termakan oleh api kecemburuan.
"Mungkin, pertama-tama yang harus kita lakukan adalah menghalangi niat jahat Rosa." George berkata.
Jika disandingkan kekuatan seorang wanita dengan kekuatan dua orang pria, maka Rosa tidak bisa menghindar. Dia diseret menuju oven, lalu dikurung di sana. Tentu saja mereka tidak menyalakannya, karena hanya bermaksud untuk mengurung saja sampai emosi Rosa benar-benar reda.
Mereka meninggalkan nyamuk yang menyerang kaca oven, membentur-benturkan diri, dan berteriak untuk segera dilepaskan. Namun, sekarang bukan saatnya untuk merasa kasihan. George dan Moko terbang ke sisi yang lain, tempat di mana Rana berada. Wanita itu masih saja menggaruk-garuk.
"Hanya kau yang tahu mengenai racun gatal, karena berasal dari bangsamu. Aku hanya bisa membantu saja dan berharap tindakan kalian tidak menyulitkan Potato. Tapi jika usahamu gagal, maka aku tidak akan berdiam diri lagi. Potato yang akan turun tangan."
"Aku akan mengisap racun gatalnya."
"Jika kau mengisapnya, lalu apa yang akan terjadi?"
"Racun itu akan berpindah padaku."
"Apa?! La—lalu, bagaimana denganmu? Racun yang berpindah akan memberikan efek, bukan?"
"Semua demi Rosa agar tidak ketahuan oleh profesor." George bertekad walau ekspresinya pahit.
Moko memukul kepala nyamuk yang sedang mempertontonkan sebuah drama kisah cinta antara dua ekor nyamuk. Dia sungguh membenci kasih sayang yang seperti itu dan tangannya gatal untuk memukul.
"Aw, kenapa kau memukul kepalaku?"
"Karena kau sangat bodoh! Apa yang kau sebut sebagai cinta dengan mengorbankan salah satu dari kalian?"
"Hei, siapa namamu?"
"Kau bisa memanggilku Moko."
"Baiklah, Moko. Kau harus tahu kalau cinta itu butuh pengorbanan."
"Tidak ada pengorbanan di dalam cinta. Itu hanya kebodohan, seperti dirimu rela mati demi nyamuk wanita yang menyukai pria lain. Jadi, kau rela berkorban demi mempertahankan cinta yang bodoh? Ingatlah, bung! Kau adalah seorang pria tampan dan baik hati, ada banyak nyamuk di dunia Stardust, kenapa hanya berfokus padanya saja yang tidak pernah melirik ke arahmu? Percayalah, jika kau mengorbankan nyawamu sekarang, maka tidak akan ada gunanya."
"Bagaimana kau bisa tahu?"
"Apanya?"
"Bahwa aku tampan dan baik hati."
Moko mengerutkan dahi, tidak tahu kalau ternyata George akan besar kepala ketika dia memuji sedikit saja. "Sekarang lakukan sesuatu pada Rana sebelum keadaannya bertambah buruk."
"Dengar, bung. Meskipun ada banyak nyamuk di dunia ini, akan tetapi tidak ada yang seperti Rosa. Dan aku sadar mengenai diriku yang bodoh." George langsung terbang menurun, melakukan apa yang menjadi risiko atas pilihannya.
Moko ingin mencegah, sayang sekali dia tidak bisa berbuat apa-apa pada pria yang begitu bodoh itu. George sudah mengambil keputusannya untuk mengorbankan diri demi pujaan hati, logika yang tidak dapat dia mengerti.
"Cinta memang buta," gumamnya.
Setelah berhasil mengisap racun gatal, apa yang akan terjadi pada George selanjutnya? Jika Rosa tahu mengenai pengorbanan itu, maka bagaimana dia akan menanggapinya?