Bab 39: Perubahan Rencana

1046 Words
Kalau memang benar apa yang dikatakan Potato mengenai gelang bunglon, maka dia harus meminta penjelasan pada orang yang memberikannya. Namun, sekarang bukan waktu yang tepat untuk menuntut penjelasan karena waktu semakin terdesak. Rana harus menyelesaikannya satu persatu, dimulai dari rencana mereka mengenai ruang bawah tanah. "Rana!" Seruan itu mengejutkannya, menarik diri untuk menolehkan kepala dengan cepat. Dia kenal dengan sosok yang menunjuknya sebagai nenek moyang di halaman kota. Tetapi dia dapat bersyukur karena panggilan itu tidak terdengar lagi, justru Pushi kini memanggil namanya. "Oh, apa yang kau lakukan di sini?" "Apa lagi? Tentu saja memberikan keranjang berisi buah ini pada profesor. Para penduduk memanen buah-buahan di ladang mereka dan semua tampak segar. Profesor sangat menyukai buah apel dan kebetulan sekali sekarang sedang musim panennya. Kau harus tahu, bahwa kami tidak memakai cara modern untuk merawatnya dan apel yang seperti itu sangat disukai oleh profesor." "Aku baru tahu kalau kalian lebih memilih untuk menggunakan cara lama ketimbang cara modern yang lebih efektif." Pushi mendekat, lalu berkata dengan nada rendah, "Ini rahasia kalau apa yang ada di waktu lampau bukanlah sebuah sejarah bagi Stardust, melainkan sebuah kejahatan." "Kejahatan?" "Ssstt, suaramu harus dikecilkan saat membahas tentang hal-hal yang tabu." Pushi memperhatikan sekeliling sebelum berbisik kembali, "Atau para pemerintah akan menangkapmu dan menjadikanmu sebagai objek penelitian. Jangan sampai isi pikiranmu dibedah oleh mereka hanya demi mendapatkan rahasia yang tersimpan di dalam kepalamu." Rana berkata dengan nada rendah pula, "Tapi kenapa mereka menyebutnya sebagai kejahatan?" "Di Stardust, inovasi adalah segalanya dan menggunakan cara lama merupakan bukti tanda tidak menghargai kemajuan teknologi. Satu informasi lagi yang harus kau tahu, bahwa kami sangat mendukung profesor yang memiliki ideologi berbeda." "Pushi bermulut besar." Suara itu adalah milik Potato yang memergoki dua orang tengah membicarakan masalah dunia dan juga profesor. "Kebetulan Potato muncul. Kami membutuhkan bantuan supermu untuk memindahkan batu besar." "Memindahkan batu?" Rana tercengang sendiri. Sebenarnya robot apa yang diciptakan River sampai-sampai bisa mengangkat pintu yang berat dan sekarang batu besar? "Seseorang baru saja pindah ke mari dari kota lain. Mereka hendak membeli lahan untuk dibangun sebuah rumah. Sepertinya mereka orang kaya, bermaksud mendirikan bisnis di kota kita. Aku sudah merekomendasikanmu, karena tahu pasti kalian sedang membutuhkan biaya, bukan?" Mengetahui akan dibayar membuat Potato langsung setuju. Waktu yang pas di saat mereka memang membutuhkannya. Tawaran itu menjadi sebuah jalan baru bagi Rana untuk membawa robot yang berpotensi merusak rencana keluar dari rumah. Tersisa Aura yang harus dia singkirkan. "Bisakah Rana memberikan buah yang ada di dalam keranjang ini pada profesor?" tanya Potato. Rana segera mengambil alih keranjang tersebut. "Serahkan tugas kecil ini padaku." "Jangan lupa mencucinya terlebih dahulu." Pushi menambahkan. "Tentu saja. Setiap buah harus dicuci terlebih dahulu sebelum dimakan. Aku akan memastikan apel-apel ini bersih sebelum sampai ke tangan profesor. Dan ... Potato, apa kau akan membantu di lapangan dengan membawa kunci ruang listrik? Jangan sampai kau menjatuhkannya, karena itu sangat berharga untuk kelangsungan listrik di rumah kita." "Kenapa tidak meninggalkannya sebentar?" Pushi mengusulkan. Potato menyerahkannya pada Rana tanpa ragu, baru kemudian mereka pergi ke lahan yang dimaksud. Sebaiknya Rana bergerak cepat karena waktu setengah jam tidaklah lama. Lantas, dia mencari ada di mana keberadaan sang kakak. Tanpa dikira takdir sangat berpihak pada Rana. Saat ini Aura tengah tertidur di kamar, tampaknya wanita hamil tidak memiliki tenaga banyak sehingga membutuhkan waktu beristirahat di siang hari. Dia benar-benar tidak perlu membujuk untuk membawa Potato serta Aura keluar dari rumah. Apalagi dia juga tidak perlu menciptakan petir sebagai penanda bahwa aliran listrik sudah dimatikan. Rana bergegas menuju ruang penelitian, menjelaskan situasinya pada River. Setelah itu, baru dia pergi menuju ruang listrik dan mematikan alirannya. Tidak menunggu lama untuk melihat aktivitas di rumah mereka berhenti berfungsi. Pada saat itu pula River bergerak. Mendapatkan tenaga listrik yang cukup untuk memulihkan lantai. Tidak perlu membeli bahan bangunan, karena listrik mampu mengolah reruntuhan yang roboh menjadi bahan mentah. Seperti yang dia katakan bahwa rencana mereka harus dilakukan dengan cepat. *** Potato dapat melihat lahan yang sudah dekat, akan tetapi dia merasa ada kejanggalan terjadi. Entah itu apa, dia tidak dapat mencari jawabannya, seperti akan ada hal yang terjadi pada rumah mereka. "Mereka semua sudah menunggumu, Potato. Pekerjaan benar-benar terhambat karena batu besar itu." Pushi berkata, menunjuk orang-orang yang ada di ujung sana. Potato mendengarkan dalam keadaan masih memikirkan kegelisahan. Ketika Pushi berjalan lebih dulu, dia memutuskan dengan segala pertimbangan mengutus Moko kembali ke rumah agar menjadi pengirim informasi penting padanya. "Moko langsung bangun saat Potato memanggil." Lalat jantan itu beterbangan ke sana-ke mari, menyatakan kebahagiaannya. "Moko sudah bertekad untuk mengabdikan diri pada penyelamatnya. Lalu, tugas apa yang ingin Potato berikan?" "Aku hanya ingin kau mengawasi rumah." "Siap, laksanakan!" Moko terbang menuju rumah yang tidak asing baginya. Hal pertama yang ingin dipastikannya tidak melakukan hal buruk adalah River. Jika ada sesuatu yang janggal pada profesor itu, dia sangat senang karena akan menjadi masalah. Bukan berarti dia ingin membuat masalah, akan tetapi dia dan River adalah musuh dan sudah sepantasnya senang jika hal buruk terjadi pada profesor tersebut. Belum lama mengepakkan sayap, Moko harus terlempar ke arah lain. Dia melihat dua ekor nyamuk tengah bertengkar. Tidak tahu alasannya karena sengaja atau tidak, yang pasti Moko sudah terusik dengan tingkah dua makhluk jelek itu. "Aku sudah katakan bahwa kita tidak bisa menghadapi kemarahan profesor jika bertemu nanti. Jangan lakukan hal yang buruk hanya karena perasaanmu padanya. Koloni kita bisa saja musnah jika kau benar-benar melakukan tindakan konyolmu ini. Pikirkan keluargamu dan juga kami saudaramu." Nyamuk yang berusaha menghentikan adalah George. Rosa bersikeras terhadap keinginan egoisnya. Dia tetap berusaha menghindar dari serangan George, tidak ingin dihentikan mau pun digoyahkan. Sementara Moko yang melihat dan mendengar hanya bisa menggelengkan kepala. "Kalian sangat bodoh jika bertengkar hanya karena makhluk bernama River." Rosa berhenti menghindar, menoleh pada lalat yang melipatkan tangan di d**a. "Memangnya apa yang kau tahu, lalat busuk?" "Aku tahu segalanya." Moko mengedikkan dagu, menunjukkan kesombongan di sana. "Pergerakannya sampai apa yang dilakukan, aku tahu semuanya!" "Kalau begitu, perlihatkan buktinya pada kami. Kau hanya lalat busuk yang kebetulan lewat dan mengaku kenal dengan profesor, bukan? Berkata tahu segalanya? Jangan bercanda! Calon masa depanku tidak memiliki teman seperti dirimu!" Moko menjadi emosional karenanya, dia langsung berkata, "Aku tahu segalanya, termasuk dua orang wanita yang tinggal bersamanya!" Rosa beringsut, menunjukkan harapan yang sudah pupus. "Jadi, benar? Bukan hanya satu, tapi dua?" "Kendalikan dirimu, Rosa!" George berseru.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD