Berlalu beberapa hari, River sudah bisa menggunakan kedua kakinya dengan normal. Sistem yang ada telah pulih sebagaimana mestinya. Sampai hari ini pun, dia tidak membiarkan siapa pun masuk ke ruang penelitian kecuali Rana. Nyatanya wanita itu tidak pernah datang bekerja sebagai asistennya.
Mungkin Rana butuh waktu untuk menyendiri, begitu pikirnya.
Potato tidak mempermasalahkan soal dia yang tidak diizinkan masuk, karena bukan hanya sekali River melakukan itu. Dia berpikir kalau sang profesor butuh kefokusan yang tinggi hingga tidak membiarkan dirinya mendekat. Namun, apa yang tidak Potato tahu adalah larangan ditujukan demi melindungi lubang yang belum diperbaiki.
River membutuhkan asistennya untuk melancarkan aksi, seperti kesepakatan mereka tempo lalu. Apa Rana lupa atau tidak berniat lagi bekerja dengannya. Jika memang waktu yang dibutuhkan, dia rasa sudah cukup lama. Apa tidak sebaiknya mereka membicarakan masalah itu?
Pada akhirnya, River pergi menemui wanita yang enggan berinteraksi dengannya. Hanya ketika sarapan saja mereka bertemu setiap pagi dan itu pun Rana sengaja menghindar, meskipun dia mengambil inisiatif untuk mendekat.
Berada dalam suasana hati yang buruk secara tiba-tiba, hanya ada satu kemungkinan yaitu haid. Para wanita akan mengalaminya setiap bulan dan waktunya memang terbilang cukup lama sampai usai. Apa dia membiarkan Rana saja sementara waktu dan pergi menemui Luigi?
Mereka tidak bisa menunggu lagi untuk membereskan masalah lantai yang roboh. Cepat atau lambat, Potato akan mengetahuinya. Sebelum terjadi, dia harus memperbaikinya segera. Mungkin memang itu satu-satunya cara yang bisa dia lakukan untuk sekarang.
River yang berada di depan pintu kamar, sejak tadi ragu untuk mengetuknya. Hingga keputusan akhir dia dapatkan dan hendak berbalik pergi, tetapi tanpa bisa diprediksi pintu di depannya terbuka memunculkan sosok Rana. Wanita itu membelalakkan mata, tampak terkejut mengetahui seseorang sudah berdiri di depan kamar.
Rana ingin berbicara, menanyakan alasan keberadaan River, akan tetapi dia merasa canggung. Jadi, dia hanya memalingkan tatapan dibalut rasa yang tidak karuan.
River melihat raut wajah itu, dia harus berhati-hati saat berbicara pada wanita yang mengalami datang bulan. Bukan karena dia takut, akan tetapi dia mencoba untuk memahami. Meskipun dia tahu kalau akan terasa sangat menjengkelkan, berusaha memahami seseorang yang tidak tahu keinginannya apa.
"Apa kabar? Aku tidak melihatmu beberapa hari ini."
"Maksudmu, tidak melihat asistenmu?"
"Ah, ya, asistenku. Kau tidak betah bekerja bersamaku?"
"Maaf, karena aku sedang tidak enak badan."
"Oh, apa kau sakit?"
Rana memilih untuk tidak menjawab. Dia tidak sakit, dia hanya ingin mengendalikan diri. Tempo lalu sangat memalukan baginya dan dia tidak memiliki muka untuk bertemu dengan River.
"Tidak masalah. Kau bisa datang kapan saja ke ruang penelitian. Gunakan saja waktumu untuk memulihkan diri."
Rana perlahan menaikkan pandangan, sekilas menatap mata River sebelum memalingkannya. "Mengenai lubangnya?"
"Aku akan meminta bantuan Luigi."
Rana tahu kalau mereka tidak boleh melakukannya, membocorkan rahasia pada orang lain. Rahasia cenderung akan terbongkar jika membiarkan satu persatu orang tahu, karena dia mengerti kalau rahasia itu sangat berharga bagi River.
"Kita lakukan saja sesuai kesepakatan. Aku akan menangani masalah listriknya dan sebagai penandanya adalah suara petir."
"Kau berencana menciptakan hujan?"
"Ya. Kita bisa menjadikannya alasan listrik yang mati, dengan begitu Potato tidak akan curiga."
"Itu ide yang bagus."
"Beberapa hari ini, aku sudah mengawasi aktivitas Potato. Ada satu celah untukku bisa mengambil kunci ruang listriknya. Waktu setengah jam masih sangat lama. Maka dari itu, aku akan mencoba membawa mereka keluar dari rumah."
River menganggukkan kepala. "Aku serahkan padamu. Jika rahasia kita berhasil, aku akan mentraktirmu."
Rana tidak menyetujui mau pun menolak. Dia memutuskan untuk pergi menjalankan rencana lebih dulu. Sekarang Aura seperti biasa sibuk di dapur, sedangkan Potato masih belum dia temukan.
"Aura, setiap hari bekerja di dapur, apa kau tidak bosan?"
"Tidak, Rana. Aku sangat menyukainya. Di sini, ada banyak benda yang unik dan tidak ada di Bumi. Aku memiliki banyak waktu untuk mencobanya. Mungkin saja, jika kita kembali ke Bumi nanti, aku bisa menciptakan beberapa di antara mereka."
"Itu sama artinya dengan mencuri ide."
Aura menghentikan pekerjaannya, menatap adiknya dengan gelisah. "Apa benar begitu? Jadi, aku tidak bisa melakukan itu?"
Rana tidak sampai berpikir kalau kakaknya akan menanggapi dengan serius. Dia hanya ingin mencari celah untuk bisa membawa Aura keluar.
"Tidak masalah jika kita meminta izin pada River. Dia adalah orang yang baik. Kau tahu itu, bukan?"
"Tentu saja. River adalah orang yang baik."
"Ngomong-ngomong, ada di mana Potato? Aku tidak melihatnya lagi sejak pagi tadi."
"Potato ada di luar, menyirami tanaman." Aura berekspresi gelisah lagi. "Aku tidak tahu apa yang terjadi sampai membuat suasana hatimu menjadi buruk, tapi aku yakin bahwa kita akan baik-baik saja. Kau pasti sangat rindu pada rumah, bukan? Aku pun sama dan River sedang mencari jalan keluar untuk itu. Bersabarlah sebentar lagi."
Ternyata Aura salah persepsi, menganggap bahwa kejadian petir menyambar-nyambar adalah karena dia ingin segera kembali pulang. Di samping itu, bagaimana kakaknya bisa tahu kalau suasana hatinya tidak baik saat membahas tentang Potato yang menyiram tanaman?
"Memangnya apa yang terjadi?" tanya Rana kemudian.
"Potato harus membeli benih baru, karena semua tanaman mati dan layu."
Rana tidak memantau pergerakan Potato lebih jauh dari itu. Dia hanya berhenti sampai tahu di mana saja Potato akan meninggalkan kunci.
"Benarkah begitu? Aku sama sekali tidak menyadarinya."
"Potato telah menyelesaikan semuanya. Dia sangat teliti dan cakap mengatur segala yang ada di rumah ini."
"Kalau begitu, aku akan pergi melihatnya. Biar bagaimana pun, ini adalah kesalahanku dan sudah sewajarnya untuk meminta maaf." Entah dari mana kata-kata itu berasal, Rana hanya ingin memfokuskan diri pada rencananya.
Rana melihat Potato yang baru saja selesai menyirami tanaman. Benar apa yang disampaikan bahwa tanaman mati dan layu. Tidak terlihat lagi bunga yang mekar seperti pemandangan beberapa hari lewat.
"Oh, Potato! Maafkan aku, karena telah membuat tanaman profesor menjadi seperti ini."
"Tidak masalah, Rana. Semua sudah beres. Setelah ini, Potato berharap bahwa gelang bunglon dapat dikendalikan dengan baik. Meskipun terlihat seperti kemampuan sepele, akan tetapi Rana harus tahu kalau gelang itu dapat mengubah kekuatannya sewaktu-waktu."
"Apa maksudnya dengan mengubah kekuatannya sewaktu-waktu?"
"Suatu keadaan bisa membuat efeknya menjadi lebih besar. Tentu tidak mudah untuk menciptakannya, karena semua tergantung suasana hati manusia yang dapat berubah-ubah."
"Aku sama sekali tidak mengerti. River tidak pernah mengatakannya."
"Memang sebaiknya begitu. Profesor sepertinya tidak ingin Rana terluka, jadi tidak memberitahukannya secara detail. Lagi pula, tujuan Rana datang ke mari untuk kembali pulang, bukan? Gelang bunglon tidak akan selamanya berada di tangan Rana, karena harus dikembalikan."
Rana diam seribu bahasa, memikirkan pengalaman dirinya ketika mengenakan gelang bunglon. Penjelasan River mengatakan kalau kemampuannya hanya untuk menurunkan dan menghentikan hujan, sedangkan dia sudah melihat kalau gelang bunglon dapat mengendalikan cuaca, skalanya akan menjadi lebih banyak dan berkemungkinan menjadi lebih besar.