Rana bersenandung ketika melahap patty hangatnya. Entah kenapa sarapan pagi itu sangat lezat di lidah, mungkin karena menikmati sambil membayangkan rahasia besar yang dimilikinya berdua saja dengan River. Terasa begitu menyenangkan baginya dan berharap bahwa kedekatan mereka akan bertahan lama.
Tetapi dibandingkan dengan itu semua, dia jadi teringat akan perkataan River mengenai ruang bawah tanah. Rahasia yang mereka sembunyikan adalah sebuah pertentangan, di luar nalar, dan tidak ada yang dapat menerimanya. Rana belum menemukan maksud dari perkataan itu.
Haruskah dia menanyakan pada River yang kini tengah menghabiskan sarapan bersama mereka? Pada saat seperti ini, dia merasa kalau dirinya yang terperosot jatuh ke ruang bawah tanah adalah perjalanan sia-sia. Bagaimana bisa dia tidak memperhatikan dengan cermat apa yang ada di sana kecuali katak yang sempat mengagetkannya waktu bersembunyi?
"Kau ingin dibuatkan satu patty lagi? Makanmu sangat lahap, bahkan bersenandung. Aku jadi berpikir bahwa kau sangat menyukainya." Aura berkata setelah memperhatikan sang adik cukup lama.
Rana memperhatikan semua yang duduk di satu meja. Perhatian tertuju padanya seolah dia sedang melakukan sesuatu yang menarik. Hanya River yang kembali pada sarapannya setelah meliriknya sekilas, pria itu tidak tertarik sama sekali mengenai dirinya.
Rana bisa melihat dengan jelas, bahwa di sini yang jantungnya berdetak hanya dia seorang. Melihat sikap yang biasa saja, bahkan setelah mereka berpelukan berulang kali, sudah bisa dipastikan kalau River tidak menganggapnya lebih daripada tamu sementara atau sebatas teman saja.
"Tidak. Aku sudah cukup dengan satu patty ini." Rana berucap lesu, menundukkan kepala, dan menggigit potongan terakhir dari roti.
Meskipun bertanya-tanya akan perubahan sikap, Aura tidak menuntut jawaban. Tidak lama setelah semua selesai, dia bangkit bersama Potato yang membantu membersihkan meja. River sendiri membawa dirinya beranjak ke sisi dapur untuk mencuci tangan. Ada Aura di sana yang menguasai tempat pencuci piring, bergeser ketika River datang.
"Padahal, kita memiliki mesin pencuci piring otomatis. Kau tidak perlu bersusah payah menggunakan cara lama untuk mencucinya." River berkata.
"Jika kita menggunakan cara yang praktis, maka tubuh tidak akan bergerak. Apalagi bagi wanita hamil sepertiku, pergerakan sangat diperlukan. Lagi pula, bukan sesuatu yang berat mengerjakan tugas rumah selagi melakukannya dengan senang hati."
"Terima kasih, karena sudah membantu Potato."
"Aku tidak melakukan banyak. Tapi aku sangat menghargai ucapanmu."
"Aku bisa merasakannya." Potato tiba-tiba menyelipkan perkataannya di tengah percakapan. "Kalian memiliki kecocokan satu sama lain. Melalui getaran suara, aku mendapatkan sebuah gelombang unik, menemukan klasifikasi data mengenai ramalan."
Aura tertawa. "Apa di tahun sekarang, ramalan masih menjadi sebuah tren?"
"Ini bukan ramalan yang sama seperti yang ada di zamanmu, Aura. Semua berdasarkan fakta, data dibandingkan untuk menemukan kecocokan dari kemampuan yang dimiliki, aktivitas sehari-hari, pengelolaan pikiran, dan hal lainnya sebagai pertimbangan. Di sini kalian dikatakan sebagai couple goal di tahun ini jika memutuskan untuk bersama."
River tertawa, tentu tidak menganggap obrolan mereka sebagai sesuatu yang serius. Dia beranjak pergi dan tanpa sengaja melihat Rana yang melemparkan muka darinya. Tidak tahu kenapa wanita itu terlihat sangat kesal sekarang.
Rana segera bangkit dari kursinya, beranjak keluar rumah dan berjongkok di dekat tanaman. Dia ingin memfokuskan diri agar hujan turun, akan tetapi ingatannya tidak dapat dipungkiri ke mana larinya sekarang.
Potato terkadang bisa begitu menyebalkan. Suasana apa yang dilihatnya tadi? River begitu lepas tertawa dan tidak membantah soal ramalan tersebut. Dan lagi, kenapa dia harus merasa tidak senang dengan bualan tidak berdasar? Dia tidak pernah bersikap seperti ini sebelumnya.
Sudah berusaha keras untuk menciptakan hujan, tetapi tidak ada yang terjadi dan membuat Rana memeriksa pergelangan tangan. Pantas saja begitu sulit, karena dia baru menyadari bahwa gelang bunglon belum dikenakan. Dia lupa setelah tadi melepaskannya ketika hendak mandi.
Sekarang Rana harus berlari masuk ke kamar, memasang kembali gelangnya, lalu tanpa memedulikan tiga penghuni yang asyik mengobrol, dia menghampiri tanaman dan kali ini pasti akan berhasil. Benar saja kalau tetesan air jatuh membasahi.
Rana yang tempat berdirinya tidak di tempat yang teduh, langsung memundurkan diri, mencapai tempat teduh. Pekerjaan barunya ini, menyiram tanaman ternyata tidak begitu buruk, terlebih melihat bagaimana daun yang kering menjadi basah, seperti dirinya sedang memberikan minuman pada tumbuhan yang kehausan. Dia juga tidak sabar menunggu bunga-bunganya mekar.
Tindakan Rana yang begitu sibuk, padahal biasanya tidak melakukan apa-apa ternyata menarik perhatian River. Dia datang melihat wanita yang begitu senang dengan turunnya hujan buatan. Pemandangan yang indah bisa melihat tanamannya terawat dengan baik.
"Aku sudah lama tidak memperhatikan mereka."
Rana terkejut mendapati seseorang tiba-tiba saja datang, apalagi orang itu adalah River. "Hmmm, ya," ucapnya malas.
Meskipun sikap Rana begitu dingin baginya, tetapi River menanggapi biasa saja dan datang untuk melihat tanamannya lebih dekat. Mereka berdiri di tepi dinding sembari melihat ke arah tanaman yang basah.
Tiba-tiba suara petir menyambar, angin di sekitar mereka berubah kencang. Pemandangan yang indah sudah berubah menjadi bencana tidak diinginkan. Kalau terus begini, maka tumbuhan yang dirawat sedemikian baiknya bisa rusak.
Rana sendiri tidak tahu kenapa suasananya tiba-tiba gelap. Apa itu karena suasana hatinya yang buruk setelah River datang? Dia harus memikirkan hal menyenangkan agar cuacanya membaik, tetapi apa?
Pelukan hangat mereka kemarin? Bau River yang begitu menyenangkan? Atau senyuman manis berlesung pipi yang selalu mengikutinya setiap malam?
Perlahan petir yang menyambar berkurang, hujan berhenti dari derasnya, dan angin tidak lagi berembus kencang. Rana dapat mengendalikan pikirannya dengan baik. Untuk sementara waktu suasana berubah menjadi tenang.
Hanya untuk sementara waktu sebelum petir menyambar kembali. Rana kewalahan untuk menghentikan pikirannya mengenai River yang mungkin saja memiliki orang lain di dalam hati sehingga tidak berekspresi apa-apa ketika melakukan interaksi dekat dengannya.
Tiba-tiba sentuhan di tangan membuat Rana menolehkan kepala. River menggenggam tangannya dan langsung melenyapkan hujan menggelegar tadi. Justru berubah menjadi cuaca yang hangat.
"Aku sarankan untuk tidak menggunakan gelang bunglon ketika suasana hatimu buruk. Tanamanku menjadi rusak karenanya."
Rana berekspresi datar, nyatanya tangan mereka yang saling menggenggam demi tanaman semata. "Kalau begitu, aku akan mengembalikannya padamu dan mengambilnya lagi saat suasana hatiku benar-benar membaik."
"Memangnya apa yang membuat suasana hatimu menjadi buruk? Aku pikir dirimu berada jauh dari duniamu sekarang dan permasalahanmu juga tinggal di sana sampai kau kembali. Aku tidak mengerti kenapa kau yang begitu senang saat sarapan tadinya, mendadak mengalami hari yang buruk."
Rana ingin mengungkapkan kegelisahan hati, tetapi mulutnya sulit untuk mendeskripsikan apa yang dia rasakan. "Itu karena, karena perutku sakit!" Pada akhirnya, dia mengatakan hal yang bertentangan.
"A—apa?"
Rana tidak tahu lagi. Dia tidak tahu harus berkata apa, tidak tahu harus bersikap bagaimana, tidak tahu harus memberikan alasan apa. Jadi, dia memutuskan untuk beranjak dari sana meninggalkan River dan tanamannya. Saat masuk ke dalam rumah, dia berpapasan dengan Potato yang menyebalkan secara tidak sengaja.
"Sudah selesai menyiram tanaman, Rana? Potato mendengar suara petir di luar rumah. Apa semua baik-baik saja?"
"Bagaimana dengan ramalanku?"
"Ramalanmu?"
"Ramalan aku dan River, apakah memiliki kecocokan?"
"Apa itu membuatmu penasaran? Baiklah. Berikan aku waktu sebentar untuk menganalisisnya." Potato sibuk sendiri dengan pengetahuannya, melihat layar yang membuka di depan mata, membaca data-data terkait. "Di sini tertulis bahwa kecocokan kalian hanya sebanyak enam puluh lima persen saja."
Rana mencebik. "Apa di tahun ini ramalan masih menjadi sebuah tren? Menyebalkan!" ucapnya, kemudian berlalu pergi.
Potato memandang dengan heran, bertanya-tanya mengenai sikap Rana yang begitu aneh. Sepertinya tidak dia saja yang keheranan karena River yang berada tidak jauh juga terlihat tidak mengerti.