River langsung jatuh dalam pelukan. Dia menggunakan tenaga cukup banyak hanya untuk menahan diri agar tidak merosot jatuh. Pastinya sekarang sudah aman, karena hanya tinggal mereka saja di ruang penelitian.
"Tombolnya ...." River berusaha untuk berbicara, menunjuk sofa yang tanpa menoleh ke mana arah telunjuk. "Kita harus menekannya sebelum seseorang datang."
Hal yang tidak diketahui kini, Rana sedang menguatkan diri. River berbicara dekat di telinganya, membuat dia mabuk oleh suara dan embusan napas pria itu. Siksaan macam apa yang sedang dia tanggung ketika dipeluk begini?
"S—sebaiknya kita ke sana bersama-sama."
Rana menyeret pria itu hingga bisa didudukkan di atas sofa, baru dia menekan tombol yang di maksud. Mereka sama-sama mengembuskan napas lega setelah itu, tidak akan ada yang datang lagi secara mendadak dan memergoki rahasia mereka karena aliran listrik pada pintu telah dimatikan.
"Biarkan aku melihat kakimu."
Seketika River membuka jalur akses, memperlihatkan bagian dalam dari kakinya. Semua tidak buruk seperti apa yang ada dalam bayangan. Tidak ada darah di sana, melainkan hanya besi dan semacamnya yang terstruktur.
Rana terkejut, sekaligus takjub. "Aku baru melihat hal yang seperti ini. Kau sungguh-sungguh bagian dari robot."
"Sudah aku katakan, bahwa aku kehilangan kakiku. Dan yang kau lihat sekarang hanya rekaan, bukan yang asli. Mungkin aku bisa menanggalkannya untuk memperlihatkan padamu keadaanku yang sebenarnya."
"Jangan!"
"Kenapa jangan?" River tersenyum. "Kau takut padaku, karena itu terlihat mengerikan?"
"Bukan seperti yang kau anggap. Aku hanya tidak ingin merusak kebahagiaanmu. Aku yakin kau tidak sungguh-sungguh ingin memperlihatkannya. Itu hanya akan membuatmu berpikir kalau aku sedang menertawakanmu atau mengasihanimu selanjutnya atas tindakan-tindakanku. Lebih baik tidak usah memperlihatkannya. Aku tidak ingin kehilangan dirimu yang sekarang.
Lagi pula, siapa yang peduli dengan itu? Menjadi bagian dari robot juga tidak masalah, bahkan kau terlihat seperti pahlawan super. Bahkan, aku juga menginginkannya, menjadi robot yang luar biasa!"
River tertawa kecil. "Aku tidak salah, kata-katamu memang merupakan keajaiban."
Rana menipiskan bibir. "Sekarang, bagaimana kita menutupi lubang di lantai? Kau tidak benar-benar berpikir kalau meja itu akan tetap di sana dengan mempertahankan alasan sebagai sebuah seni, bukan?"
"Tentu tidak. Itu adalah alasan yang sangat konyol. Kau tahu kalau aku berusaha menyembunyikan soal ruang bawah tanah pada mereka."
"Dan kini bertambah satu orang lagi yang mengetahui rahasiamu. Tenang saja, karena aku tidak akan menyebarkannya pada siapa pun." Rana mengatupkan bibirnya, menarik tangannya dari ujung bibir ke ujung bibir yang lain seperti sedang mengunci ritsleting di mulutnya.
"Kalau begitu, karena rahasia ini sudah menjadi milik kita berdua, maka bantu aku agar tidak ada orang lain lagi yang tahu."
Milik kita berdua? pikir Rana.
Sejenak Rana melupakan tentang jantungnya yang berdegup kencang. Sekarang mereka berbagi rahasia berdua, dia dan River saja. Haruskah dia bersyukur akan hal itu? Bolehkah dia egois dengan tetap dekat di sisi River sampai jalan pulang untuknya ditemukan? Jujur saja, dia ingin menikmati waktu-waktu yang tersisa selama itu.
"Bantu aku menggeser mejanya."
Sibuk melamun sampai tidak tahu kalau River ternyata sudah berada di dekat lubang. Pria itu berusaha mencari cara, tampak dari raut wajah yang berkerut dahinya. Sangat lucu melihat River sedang berpikir keras.
"Itu tugas yang mudah."
Rana segera membantu, menggeser meja serta menyingkirkan karpet. Tidak dikira jika mereka akan kewalahan menghadapi lubang yang tidak begitu besar ini.
"Apa yang akan kita lakukan selanjutnya?" tanya Rana tidak sabar.
"Aku memerlukan Luigi untuk memperbaikinya."
"Kalau kau memanggilnya, maka akan ada satu orang lagi yang tahu mengenai rahasiamu. Kita tentu tidak bisa mengambil risiko itu."
"Luigi dan aku yang menciptakan ruang bawah tanah. Dia membantuku, jadi sudah pasti tahu mengenai rahasiaku."
"Tunggu sebentar. Maksudmu, Luigi sudah tahu mengenai rahasia di ruang bawah tanah?"
"Lebih tepatnya dia tahu mengenai ruang bawah tanah, tentang apa yang ada di dalamnya sama sekali tidak tahu. Aku memintanya untuk merahasiakan."
"Baiklah. Aku mengerti sekarang. Lalu, jika kita meminta bantuannya untuk memperbaiki lantai ini, bisa dipastikan kalau dia akan tahu, bukan?"
"Benar sekali."
"Tidak, tidak. Kita tetap tidak bisa mengambil risiko besar itu. Rahasia kita berdua akan terancam!" Rana menggigit jarinya ketika berkata, mondar-mandir dengan raut wajah serius, memikirkan apa ada cara lain yang lebih baik.
River justru mengerutkan dahi melihat sikap yang begitu serius itu. "Sepertinya kau lebih menyukai rahasia daripada aku sendiri yang memilikinya."
Ekspresi serius langsung memudar. "Oh, aku tanpa sadar melakukannya. Apa itu sangat berlebihan? Aku hanya ingin menjaga rahasia kita berdua dari orang banyak. Selain meminta Luigi, apa ada cara lain yang bisa membantu kita?"
River diam sejenak, memikirkan cara lain yang di maksud. "Aku punya—"
Rana langsung menghamburkan diri, memegang kedua tangan pria di depannya begitu erat, tidak memedulikan tongkat yang jatuh. Tatapan mata begitu berbinar seolah telah mendapatkan harapan yang selama ini dicari-cari.
"Pakai cara itu saja!" serunya.
River yang sedikit terkejut itu pun berkata, "Tapi ... kita harus mematikan aliran listrik di rumah ini dan memusatkannya di satu tempat."
"Berapa lama?"
"Kurang lebih membutuhkan waktu satu jam."
"Tidak bisakah lebih cepat dari itu?"
"Setengah jam adalah waktu yang paling cepat."
Rana menganggukkan kepala, kincir-kincir di kepalanya mulai berputar. "Jika kita mematikan listrik di rumah ini, maka apa yang akan terjadi?"
"Aktivitas akan mati sementara waktu. Itu mustahil untuk kita lakukan, karena Potato yang menangani masalah kelangsungan listrik di rumah ini. Dia memegang kunci ruangannya."
"Aku akan mengambil kunci ruangan itu dari Potato."
"Kau yakin? Potato tidak seperti yang kau lihat. Dia begitu disiplin seperti ibuku. Kita akan ketahuan jika salah langkah sedikit saja."
"Tenang saja. Kau tidak perlu khawatir mengenai listriknya. Lakukan saja apa yang harus kau lakukan agar rahasia kita menjadi aman."
"Baiklah. Jika kau yakin, maka aku juga harus yakin. Aku mengandalkanmu."
Rana menganggukkan kepala dengan semangat membara. Pada saat itu pula River condong ke depan hingga harus memeluk kembali. Tiba-tiba berjarak dekat, tentu membuat Rana tidak dapat berpikir realistis.
"Kau lupa bahwa aku masih belum pulih betul?"
Rana hendak membantu mengambilkan tongkat, akan tetapi niatnya urung. Dia ingin berada di posisi itu lebih lama kalau boleh berkata jujur.
"Apa itu sakit?"
"Tidak. Aku hanya kelelahan, karena harus mengeluarkan tenaga ekstra akibat menahan beban tubuhku. Tanpa kaki buatan, aku sulit melakukan aktivitas, ditambah sudah terbiasa menggunakannya membuat aku lupa bagaimana rasanya bergerak tanpa kaki."
Rana menyentuhkan tangannya di punggung lebar itu, mengusapnya dengan lembut. Dia ingin berkata bahwa semua akan baik-baik saja, akan tetapi menurutnya lebih baik dengan cara begini, berpelukan tanpa kata, membiarkan apa yang menjadi kegundahan lenyap semua.