TAKDIR DI TANGAN AYAH

1135 Words
“Nona, aku mohon lain kali jangan berjalan sendirian lagi ya. Aku sangat takut nanti mendapat hukuman dari tuan besar.” Ujar A Mei yang cemas karena tuan besar sudah tahu dan ia harus berlutut memohon ampunan jika tidak mau dipecat. Lily menoleh ke arah gadis pelayannya, raut wajah gadis itu sudah pucat pasi saking takutnya. “Tenang saja, kamu akan baik-baik saja. Ayah sangat menyayangiku, beliau akan mendengarku. Lagipula ini memang bukan salahmu, aku yang ingin jalan sendiri.” Gumam Lily mencoba menenangkan pelayan yang sudah ia anggap sahabat itu. Meskipun terdengar meyakinkan, tetap saja A Mei tidak bisa sepenuhnya tenang. Ia masih terdiam lalu berjalan dengan menundukkan wajah. Tiba-tiba sebuah rangkulan pelan terasa di pundaknya, membuat A Mei menoleh ke sebelah. Ia terkesiap mendapati Lily yang melingkarkan tangannya dengan akrab padanya, seulas senyum A Mei pun mengembang. “Jangan sedih lagi, kamu bisa pegang kata-kataku.” Seru Lily, tersenyum optimis sambil melenggang keluar melintasi gerbang kampus. Sebuah mobil mewah sudah terparkir di depan jalan, bersiap menjemput tuan putri yang tak lagi diijinkan untuk berjalan kaki pulang. Seorang supir sudah berdiri di samping pintu, membungkukkan badannya saat melihat nona yang ia jemput berdiri di hadapannya. “Selamat siang nona, silahkan masuk. Tuan besar meminta saya untuk mengantar anda pulang.” Jelas pria separuh baya itu sebelum mendengar protes dari nonanya. Lily berdecak, menahan kesalnya kemudian segera masuk ke dalam mobil agar tidak mengundang perhatian. A Mei mengikutinya masuk namun ia duduk di depan, persis di samping supir. Sesekali gadis pelayan itu melirik ke belakang, tahu kalau suasana hati nonanya sedang buruk akibat dijemput tanpa persetujuannya. “Lain kali kalau mau jemput, tolong agak jauh dari area kampus ya, paman Jing. Aku tidak mau terlihat mencolok, semua mahasiswa di sana rata-rata berjalan kaki, aku juga harus beradaptasi.” Gerutu Lily. Pria yang dipanggil paman itu tampak serba salah, sambil menyetir ia pun melirik nonanya dari spion tengah. Ingin menunjukkan wajah penuh penyesalannya namun apa daya terhalang oleh tanggung jawabnya. “Maafkan saya nona, saya tidak akan mengulanginya lagi.” Ujar paman Jing penuh sesal. Lily pun trenyuh, tak kuasa melampiaskan amarahnya lagi pada orang yang belum sepenuhnya tahu apa yang ia inginkan. “Ya sudahlah, yang penting sekarang paman sudah tahu.” Jawab Lily kemudian menganggap pembicaraan mereka sudah selesai, ia pun memandang ke luar kaca mobil, menikmati pemandangan jalan yang ia lewati. Dalam keadaan sunyi ini, pikirannya kembali teringat wajah pria bernama Tian Lu . Entah bagaimana caranya ia ingin mencari tahu tentang pria itu. Tidak aku tidak boleh meminta bantuan ayah, nanti ayah malah curiga untuk apa aku mencari tahu tentang seorang pria. Lily segera menepis pikirannya yang langsung tercetus untuk memanfaatkan kekuasaan ayahnya. Masih terlalu dini untuk menceritakan ketertarikannya pada sosok Tian Lu , terlebih Lily tidak tahu bagaimana pendapat ayahnya. Aku akan mencari tahunya, mengandalkan kemampuanku sendiri. Baik A Mei maupun kakak, ibu, ayah, tidak boleh tahu. Timpal Lily lagi, memantapkan hatinya. ⚫⚫⚫⚫ “Ya, gantung di sana saja!” Teriakan bibi Lan terdengar lantang ketika mengatur para pelayan yang tampak sibuk mengontrol kerjaan bawahannya. Wanita tua itu tidak menyadari kehadiran Lily hingga akhirnya suara pelayan dan pengawal yang memberi hormat, menyadarkan bahwa ada nona besar di tengah pelataran paviliun utama. “Selamat siang nona muda.” Sapa Bibi Lan memberi hormat, membungkukkan tubuhnya hingga separuh. Lily hanya tersenyum dan mengangguk, ia benci penghormatan formal tapi tak kuasa untuk melawan aturan yang diterapkan oleh ayahnya. “Berdiri yang tegap saja bibi Lan, aku perlu bertanya sesuatu kepadamu.” Mendengar aba-aba dari sang nona, Bibi Lan pun segera menegapkan tubuhnya kemudian mengangguk patuh. “Terima kasih, nona.” “Sebenarnya ada acara apa di rumah, kenapa semua tampak sibuk mendekorasi paviliun?” Tanya Lily sembari mengedarkan pandangannya ke sekeliling, berharap menemukan jawaban dari penyelidikan matanya namun gagal. Sebelum menjawab rasa penasaran nona itu, Bibi Lan pun ikut melirik sekilas pada para pelayan yang sibuk memasang kain merah dan lampion gantung. “Maaf sebelumnya, saya tidak tahu kalau nona belum tahu tentang kabar bahagia ini. Para pelayan sedang sibuk menghias rumah, kami tengah bersiap mendekorasi ruangan untuk pernikahan tuan muda Chen Ye.” Sepasang mata Lily seketika terbelalak, merutuki dirinya yang ternyata terlalu acuh sehingga tidak mengetahui tentang rencana pernikahan kakak pertamanya. “Kak Chen Ye akan menikah? Wah... terima kasih bibi Lan.” Ujar Lily kemudian dengan penuh semangat berlari masuk ke dalam rumah, saat ini hanya ada satu orang yang ingin ia temui. A Mei enggan mengejar langkah nonanya lagi, ia tahu tujuan Lily dan tidak ingin ikut campur. Bagaimanapun ia pasti akan disuruh menyingkir karena tuan muda dan nonanya akan bicara empat mata. A Mei memilih untuk kembali ke kediaman Lily, menunggu majikannya kembali dengan sendirinya. Langkah kaki Lily berlari cepat, senyumnya lebar dan tak sabar menjamah ke kamar kakak pertamanya. Belum juga sampai di tempat tujuan, ia sudah melihat orang yang dicarinya itu sedang berdiri di taman, menatap gemericik air yang dipenuhi ikan Koi. Lily berjinjit, hendak mengejutkan kakaknya tapi sayang gagal karena Chen Ye sudah menyadari kehadirannya. “Kamu tertangkap!” Seru Chen Ye lantang kemudian tertawa terbahak, apalagi saat melihat ekspresi wajah Lily yang kaget karena suaranya. “Kakak, mengejutkanku saja! Lagian kenapa sih nggak pura-pura tutup mata dengan kedatanganku? Ya aku tahu sih kungfu kakak hebat, jadi bisa peka mendengar langkah kakiku.” Gerutu Lily yang langsung menunjukkan sikap manjanya, sisi lain dirinya ketika berhadapan dengan orangtua serta dua kakak laki-laki yang sangat menyayanginya. Chen Ye menghentikan tawanya, menatap dengan sorot mata teduh pada adik perempuan satu-satunya itu. “Kamu mencariku pasti ingin mengusiliku kan?” Tuding Chen Ye yang sudah bisa membaca gelagat Lily yang tak jauh dari rasa ingin tahu seputar pernikahannya. “Bukan mengusili, tepatnya ingin mengucapkan selamat. Selamat ya kakak pertama, akhirnya akan segera melepas masa lajang, Lily doakan acaranya lancar dan kakak hidup berbahagia dengan nona Lin Xiang.” Seru Lily dengan tulus sembari mengatupkan dua tangannya, memberi ucapan selamat secara formal. Chen Ye malah menyeringai, mengalihkan tatapannya ke arah kolam yang mulai tenang airnya. Separuh semangatnya hilang saat mendengar ucapan selamat dari adiknya. “Bukan Xiang yang jadi pengantinku.” Hanya itu yang terlontar dari Chen Ye, selebihnya ia kembali diam. Lily terperanjat, sontak kepalanya menggeleng kencang seakan ingin menepis apa yang barusan ia dengar. “Tidak mungkin. Kakak bercanda kan? Kakak dan nona Xiang sudah satu tahun pacaran, kalau bukan dengan dia lalu siapa?” Hening. Chen Ye belum sanggup memuaskan batin Lily dengan sebuah jawaban. Sulit untuk diceritakan karena ia saja belum mampu menerima kenyataan. “Kak, apa yang terjadi?” Desak Lily, ia benci suasana hening ini. Helaan napas kasar terdengar dari Chen Ye, menengadah ke atas langit yang seolah menertawakannya. Meskipun cahaya dari langit itu menyilaukan hingga menyipitkan matanya, Chen Ye tidak peduli. “Kita tidak bisa apa-apa, segalanya sudah diatur oleh ayah. Cinta itu tidak penting, tak peduli siapapun yang kita suka, takdir kita ada di tangan ayah. Kamu juga pasti akan tiba gilirannya untuk dijodohkan dengan pria pilihan ayah. Kita tidak bisa mengindarinya.” ⚫⚫⚫⚫
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD