Semenjak Chen Mei dikeluarkan dari kahyangan, kehidupan di atas langit mengalami perubahan struktur. Posisi Chen Mei yang sebelumnya memegang kekuasaan mengatur hujan di alam semesta, akhirnya digantikan oleh orang yang sebelumnya menjadi dayang Chen Mei. Awalnya banyak pihak yang keberatan dengan keputusan raja langit, namun mempertimbangkan tugas besar yang harus dialihkan sementara sambil menunggu Chen Mei kembali adalah keputusan yang bijak. Itupun dengan catatan, Chen Mei masih bisa kembali ke langit. Jika dalam kehidupannya sebagai manusia, Chen Mei gagal dan menikah dengan manusia maka mungkin saja selamanya dewi itu akan terjerumus dalam lingkaran reinkarnasi.
Kala itu, ketika Xiao Feng sedang mengawasi gerak-gerik Chen Mei seperti yang sering ia lakukan saat senggang, ia berpapasan dengan Chu Mei – dayang pengganti Chen Mei yang kini diangkat menjadi seorang dewi. Chu Mei memergoki tingkah Xiao Feng yang tidak biasa, lalu ikut menunduk ke bawah, melihat apa yang sedang diperhatikan dewi salju itu. Chu Mei mengernyit lalu menatap ragu pada Xiao Feng.
“Bukankah itu inkarnasi dari Chen Mei? Dewi salju, kenapa kamu mengamatinya terus?” Tanya Chu Mei curiga, ia mulai merasa Xiao Feng tidak mungkin tinggal diam dan melihat saja. Pasti ada sesuatu yang ia lakukan untuk sahabatnya.
Xiao Feng tersenyum yang tampak seperti menyeringai, ia memang tidak menyukai Chu Mei sejak dulu. Sikap dayang yang naik pangkat itu semakin melunjak saat menduduki posisi Chen Mei. “Suatu kebetulan bertemu dengan dewi hujan, aku hanya penat dan menatap ke bawah sejenak. Lagipula ini area kekuasaanku, bagaimana dengan kamu? Apa yang dewi hujan lakukan di sini?” Xiao Feng bertanya balik, seolah membalikkan panah yang dihunuskan padanya, ia merasa menang selangkah berkat pertanyaan itu.
Ekspresi wajah Chu Mei berubah, ia tak menyangka mendapat serangan halus dari dewi di hadapannya. Untungnya ia mampu mengendalikan diri dan tetap menyunggingkan senyum manis menghadapi Xiao Feng. “Ah, aku juga kebetulan penat. Tidak disangka malah kelewatan batas dan sampai di daerahmu. Maafkan kelancanganku, dewi salju.” Seru Chu Mei berkata manis di bibir saja.
Xiao Feng hanya tersenyum tipis, dewi baru itu memang belum berpengalaman. Chu Mei mengira levelnya yang baru menetas jadi dewi itu bisa membohongi Xiao Feng yang lebih senior darinya. “Kalau begitu silahkan jalan-jalan, aku mengijinkanmu keliling areaku asalkan kamu tahu batasannya.” Ujar Xiao Feng.
Chu Mei malah tersenyum lalu sedikit menundukkan wajah, gestur tubuhnya mengisyaratkan bahwa ia meminta maaf. “Terima kasih atas tawarannya, namun aku harus segera kembali. Maaf sudah mengganggu keasyikanmu tadi.” Chu Mei berniat balik badan meninggalkan Xiao Feng, namun ia berhenti sejenak dan mengurungkan niatnya.
“Ah, soal dewi Chen Mei… Kabarnya dia lahir membawa benang merah, sepertinya akan sulit baginya menghindari cinta dan jodoh dalam kehidupannnya sebagai manusia. Aku harap kamu tidak menyakiti diri sendiri, jika dia tidak kembali itu bukan salahmu. Jangan sampai kamu mencampuri urusan manusia lalu menyusul nasib Chen Mei yang malang itu.” Ujar Chu Mei dengan seringai puas yang disembunyikan dalam senyum manisnya. Setelah mengatakan saran yang tidak diminta sama sekali oleh Xiao Feng, ia pun segera berbalik dan hendak menyingkir dari hadapan Xiao Feng.
“Hei, tunggu! Aku tahu kekhawatiranmu, kamu takut Chen Mei akan kembali dan menggusurmu kembali ke tempat asalmu kan? Ku harap kamu jangan bermimpi terlalu tinggi, dia pasti kembali.” Pekik Xiao Feng, ia terus menatap Chu Mei yang terkejut mendengar perkataannya.
Chu Mei menelan rasa kesal karena tudingan Xiao Feng, namun ia memilih diam dan segera terbang meninggalkan area kekuasaan Xiao Feng. Kecaman dari sahabat Chen Mei itu tidak bisa disepelekan, tetapi Chu Mei tidak akan tinggal diam. Ia sudah nyaman dengan posisinya sekarang dan tidak akan membiarkan siapapun menggusurnya, sekalipun itu adalah si pemilik posisi itu sebelumnya.
Xiao Feng menatap kepergian dewi hujan yang baru itu, ia merasa sedikit senang dan puas bisa melontarkan kata-kata kecaman yang mengguncang Chu Mei. Sayangnya rasa puas itu tidak bertahan lama, setelah ia menunduk ke bawah menatap apa yang Chen Mei lakukan, hatinya kembali pesimis. Ia pun tahu bahwa Chen Mei ditakdirkan membawa benang merah dari dewa jodoh. Benang yang menghubungkan cinta dan perjodohan bagi setiap manusia dan tidak akan tertukar. Masalahnya kian runyam manakala pandangan Xiao Feng yang tembus melihat benang merah yang bersinar di pergelangan kaki Chen Mei itu sudah menemukan potongan benang lainnya.
Xiao Feng pun pesimis bila Chen Mei bisa menghindari jerat asmara yang memang harus dialaminya, tidak hanya dia namun pada setiap manusia yang lahir membawa benang merah yang diikat di pergelangan kakinya. Apalagi Chen Mei tidak mengingat masa lalunya, bukan mustahil jika ia akan jatuh cinta secara alamiah.
“Bakal jodohmu sudah di depan mata, Chen Mei… Ku mohon jangan jatuh cinta.” Pinta Xiao Feng yang harap-harap cemas memerhatikannya dari atas langit.
⚫⚫⚫⚫
Lily terus memikirkan pria bernama Tian Lu yang telah menolongnya. Berkat dia, Lily berhasil lolos dari tersesat. Namun berkat kekuasaan ayahnya, ia pun tidak mendapatkan hukuman apapun atas keterlambatannya di hari pertama kuliah. Ayahnya menjadi donator terbesar di kampus ini sejak Lily memutuskan akan melanjutkan pendidikan tingkat atas di universitas ini. Hanya perkara sepele seperti ini, apalagi bukan karena kesengajaan maka Lily tidak akan menerima konsekuensi apapun. Malahan panitia pelaksana memohon maaf padanya dan merasa lalai membiarkannya tersesat.
Lily tak menghiraukan segala perlakuan baik karena sungkan itu, yang sekarang ia pikirkan adalah cara mendapatkan informasi tentang mahasiswa bernama Tian Lu itu. Dan ia sudah memilih target, pada siapa ia harus bertanya.
“Hai, kakak … Maaf aku mengganggumu sebentar.” Lily mendekati seorang pria yang duduk menyendiri sambil menikmati sekaleng minuman dinginnya. Pria yang merasa terusik itu melirik malas pada Lily. Saat tahu siapa gadis yang mengusik waktu santainya, pria itu justru canggung dan berusaha seramah mungkin pada Lily.
“Ya, nona Lily. Ada yang bisa kubantu?” Tanya pria itu kaku.
Lily merasa tak nyaman, setiap orang yang ia temui memperlakukannya bak seorang putri. Meskipun memang benar ia adalah putri terhormat di klan Li, namun ini bukan rumahnya, ini kampus yang memiliki aturan sendiri dan tidak perlu menghormatinya setiap saat.
“Santai saja kak, jangan sungkan padaku. Aku hanya ingin bertanya sesuatu padamu.” Ujar Lily.
Pria itu mengangguk, “Silahkan bertanya, nona. Kalau aku tahu pasti aku jawab.”
Lily menghela napas, tetap saja pria itu bersikap formal padanya. “Apa kamu kenal mahasiswa bernama Tian Lu di universitas ini? Aku tidak tahu dia mahasiswa jurusan apa, tapi yang jelas di kuliah di sini juga.”
Pria itu mengernyitkan dahi, “Tian Lu ? Apa dia dari klan Yang? Atau itu hanya nama tengahnya? Ada banyak mahasiswa di sini, aku tidak mengenali nama mereka satu persatu.”
Jawaban pria itu mengecewakan Lily yang sudah berharap lebih. Ia pikir akan sangat mudah mendapatkan informasi tentang Tian Lu . Nyatanya angannya pupus hanya dalam hitungan jam, mungkin ia perlu sedikit berjuang. Tidak hanya mengandalkan orang lain, ia harus memikirkan cara untuk bertemu kembali dengan pria yang mulai membuatnya tertarik.
⚫⚫⚫⚫