Lily sampai di universitas dengan perasaan takjub, begitu banyak orang dan semua mengenakan almamater yang sama dengannya. Bedanya, ia mahasiswi baru yang akhirnya diijinkan merasakan kehidupan orang biasa. Kampus yang ia pilih bukanlah kampus nomor satu di Beijing, cukup sulit meyakinkan kedua orangtuanya agar mengijinkan anak gadis satu-satunya itu masuk ke universitas nomor tiga. Alasan Lily memilih kampus yang lebih dominan diisi oleh orang-orang kalangan menengah ke bawah, karena ia bosan merasakan fasilitas mewah yang ia nikmati sejak lahir. Kemilau harta ayahnya tidak membuatnya bangga dan merasa bahagia, ia justru ingin merasakan kehidupan orang biasa yang harus berjuang untuk hidup.
“A Mei, ingat ya di sini aku tidak mau diperlakukan seperti di rumah. Kita urus urusan masing-masing. Aku ke gedung selatan dulu, denah kelasku di sana.” Ujar Lily tanpa menghiraukan reaksi A Mei yang keberatan dengan keputusan sepihaknya. Lily mengamati sekeliling berdasarkan secarik kertas peta yang menggambarkan seisi kampus itu.
Lily tidak menyadari bahwa ia berjalan semakin menjauhi petunjuk dari peta. Langkahnya bukan menuju gedung bagian selatan tetapi ke area terlarang di gedung kampus. Firasat gadis itu merasa buruk, ia mulai ragu melangkah di jalan yang ia pilih.
“Ini aneh, kenapa sampai sejauh ini tidak terlihat bangunan? Kenapa malah banyak semak-semak?” Lily bertanya sendiri, ia rupanya tidak cekatan membaca petunjuk jalan. Selama ini hanya mengandalkan kemampuan pelayan dan orang terdekatnya, ia tidak belajar mandiri. Namun apesnya ia harus tersesat di hari pertama kuliah, dan tepat waktu adalah keharusan mutlak mahasiswa baru.
Lily melirik jam di ponselnya kemudian wajahnya mengernyit bingung, sudah dipastikan ia akan terlambat. Lebih parah lagi, di kawasan ini tidak ada sinyal. Ponselnya tidak berguna saat ini, ia tidak bisa menghubungi A Mei untuk meminta tolong. Tiba-tiba ada rasa sesal, mengapa ia terlalu arogan dan percaya diri sanggup mengenali lingkungan baru ini. Dan ternyata ia masih perlu waktu beradaptasi, ia tidak tahu pasti di mana arah timur, barat, utara dan selatan.
“Apa yang harus kulakukan sekarang? Oh Dewa, oh Dewi … Apa kalian ada? Tolong bantu aku yang tersesat ini.” Lily melontarkan doa, hatinya yakin begitu saja mengharapkan bantuan dari langit. Ia menatap ke atas, awan putih dan langit biru yang cerah, hatinya begitu tenang hanya dengan mendongak ke sana. Sejak kecil, Lily suka melihat langit, terutama saat hujan turun. Rasanya hujan dan dirinya bersatu bahkan seolah ia bisa mendengarkan bisikan hujan.
“Nona, kenapa kamu berada di sini?”
Suara berat dari seorang pria mengejutkan Lily. Suara yang terdengar familiar bagi Lily namun ia lupa persisnya di mana ia mendengar suara itu. Sampai ketika ia menoleh dan mendapati siapa pemilik suara itu, barulah Lily tahu bahwa dia adalah pria yang beberapa saat lalu menolongnya.
“Aku … aku tersesat.” Ujar Lily malu-malu, mengakui kelemahan di hadapan orang asing tentu sangat memalukan. Menurunkan gengsinya sebagai nona terhormat yang terlahir dengan bakat dan kecerdasan. Ketika ia piawan melakukan berbagai hal dan menonjol di bidang seni, nyatanya Lily tetap gadis yang punya kekuranga, salah satunya adalah tidak bisa menghapal jalan. Lily meremas pelan kertas yang ia pegang sejak tadi. Reaksinya memancing perhatian pria itu yang kemudian meminta kertas itu dengan isyarat anggukan dan tatapan meyakinkan.
Pria itu mengernyitkan dahi ketika membaca petunjuk dalam kertas denah itu. “Kamu mahasiswi baru fakultas seni musik? Gedung kampusmu terletak di selatan, harusnya kamu mengambil jalan lurus di persimpangan pertama tadi. Sekarang kamu berada di area hutan terlarang kampus. Ayo, ku tunjukkan jalan keluarnya.” Pria itu memimpin jalan, membiarkan Lily tercengang sejenak mengamatinya dari belakang.
“Ayo ….” Pria itu menoleh karena tahu Lily masih berdiri terdiam di tempat tadi.
Lily tersadar dari rasa bingung sekaligus senangnya. Ia bingung karena entah kebetulan atau tidak, di saat ia mengalami kesulitan justru pria itu yang muncul. Rasa senangnya pun tidak berlebihan, ia tak menyangka bertemu kembali dengan pria penyelamatnya secepat ini. Lily mempercepat langkah agar tidak ketinggalan.
“Kamu sudah terlambat, nanti bilang saja kamu tersesat. Mereka mungkin bisa sedikit pengertian.” Ungkap pria itu, ia melirik Lily dengan ekor matanya.
Lily mengangguk paham, sebenarnya hukuman di masa perkenalan mahasiswa ini tidak menakutkan baginya. Ia yakin dengan pasti, tidak ada yang berani menyentuhnya. Sehelai rambutnya yang rontok saja, tuan besar Yu Wen tak segan membuat perhitungan pada siapapun yang berani mengusik anaknya. Meskipun Lily enggan memanfaatkan nama besar ayahnya namun ada kalanya ia perlu perlindungan dari kekuatan ayahnya tersebut.
Pria itu cukup betah terdiam, Lily menatap heran padanya. Mungkinkah pria itu tidak kenal siapa identitas Lily? Jika benar, mungkin Lily sedikit bersimpati padanya karena berhati tulus membantu Lily.
“Kakak, apa kamu kuliah di sini juga?” Lily memberanikan diri bertanya, ia merasa aneh dengan perjalanan tanpa percakapan padahal jelas ia tidak sendiri.
“Iya.” Jawab pria itu singkat dan tanpa menoleh.
Lily mengernyit, sesingkat itukah yang bisa pria itu jawabkan? Mengapa tidak ada embel-embel lainnya? “Ng… Apa kamu juga tersesat? Kenapa bisa keliaran di sekitar hutan terlarang?” Lily tidak tanggung-tanggung menyodorkan banyak pertanyaan sekaligus. Ia penasaran bagaimana respon pria itu sekarang, mustahil pria yang belum ia ketahui namanya itu akan menjawab singkat lagi.
“Ya, begitulah.” Kilah pria itu cuek dan singkat.
Jawaban itu sungguh menohok hati Lily, ada kesal bercampur kecewa yang ia rasakan sekarang. Pikirannya jauh menerawang, mungkinkah ia terlihat tidak menarik bagi lawan jenis sehingga pria itu terkesan acuh namun dan hanya sekedar membantu, tanpa berharap timbal balik lebih. Lily berharap pria itu mengajaknya berkenalan, setidaknya ia tahu siapa nama pria penyelamatnya. Tetapi dengan sikap dingin dan cuek itu, rasanya berlebihan jika ia terlalu berharap sekarang.
Mereka kembali fokus pada langkah kaki masing-masing, Lily lebih banyak menunduk dan menatapi batu kerikil untuk mengalihkan pandangannya pada punggung kekar pria di depannya. Semakin ia melihatnya, semakin ingin ia mengajaknya bicara. Tetapi gadis itupun tidak siap dengan jawaban singkat yang terkesan pelit bicara itu. Untuk saat ini diam memang paling baik. Gumam Lily menghibur dirinya sendiri.
“Kampusmu ada di depan sana, tinggal jalan lurus saja pasti sampai.” Pria itu menunjuk sebuah bangunan besar dan tinggi yang tampak dari tempat mereka berdiri. Jaraknya masih lumayan jauh jika ditempuh dengan jalan kaki, namun Lily sudah kembali bersemangat.
Gadis itu mengangguk seraya memamerkan sepasang lesung pipinya yang dalam dengan sebuah senyuman manis. “Sekali lagi terima kasih banyak atas bantuanmu, kak. Kalau saja aku boleh tahu namamu ….” Ujar Lily lirih ketika ia mengucapkan permintaan itu.
Pria itu masih berdiri di depan Lily, iapun tidak berminta membalikkan badan untuk sekedar berbicara dengan posisi bertatapan dengan lawan bicaranya. Ia justru melambaikan tangannya lalu mulai melangkah meninggalkan Lily yang masih berharap mendapatkan sebuah nama darinya.
Ketika melihat pria itu menarik diri, Lily menunduk sedih. Perasaannya tak rela harus berpisah begitu saja, tanpa ada kepastian akan pertemuan selanjutnya. Ya … Tanpa disadari, Lily mulai berharap akan bertemu kembali dengan pria itu.
“Tian Lu .”
Tiba-tiba pria itu menyebutkan sebuah nama, suara itu berhasil mengembalikan senyum Lily dalam sekejab. Lily yakin pasti itu adalah nama pria itu, dia akhirnya menyebutkan namanya.
“Aku Ye Lily. Kakak sampai jumpa lagi, kak Tian Lu .” Pekik Lily girang, ia tak peduli balasan dari pria itu hanya lambaian tangan sekejab dan langkah yang kian menjauh. Dalam hati gadis itu, ada satu keyakinan bahwa masih ada pertemuan selanjutnya dengan pria itu. Jodoh mereka pasti masih berlanjut.
⚫⚫⚫⚫
Bersambung