FATAMORGANA?

1017 Words
Lily menoleh ke pintu yang terbuka dengan wajah sumingrah, ia tak menyangka kakak keduanya akan hadir di sini tepat waktu. Tepat di saat kemunculan dewi yang sangat cantik yang pernah Lily ceritakan pada kakaknya. Kini ia punya kesempatan membuktikan bahwa yang dikatakannya bukan isapan jempol semata. “Kakak, kamu lihatkan sekarang? Ini dewi yang aku maksud dalam mimpiku.” Lily menunjuk Xiao Feng yang berdiri kaku di sebelahnya. Liam Ye sama terkejutnya dengan Xiao Feng, matanya bahkan tak berkedip menatap sosok wanita dengan tubuh berkelap-kelip sinar dan kecantikan yang tidak bisa dideskripsikan dengan kata-kata lagi. Luar biasa cantik dan sempurna bahkan Liam Ye merasa belum pernah melihat wanita secantik itu. “Adik… Kemarilah.” Ujar Liam Ye yang sadar dari rasa terkejut dan rasa takjubnya berubah menjadi rasa takut. Ia khawatir wanita cantik itu punya niat jahat pada adiknya. “Eh?” Lily bingung melihat sikap Liam Ye yang tiba-tiba cemas dan menjulurkan tangan padanya menyuruhnya mendekat. Xiao Feng tersenyum tipis, ia bisa membaca isi hati anak laki-laki itu. Kecemasan yang wajar dirasakan oleh manusia biasa. Xiao Feng pun punya rencana lain sebelum ia kembali ke langit. “Mungkin ini belum waktunya, baiklah Chen Mei… Aku akan datang lagi ketika kamu sudah bisa mengerti. Jaga dirimu Chen Mei, dan lupakan semuanya. Aku perintahkan kalian berdua lupakan kejadian hari ini, kalian tidak pernah bertemu denganku. Kalian hanya main dan nyasar ke gubuk ini.” Ujar Xiao Feng kemudian meniupkan sihir yang terbang menghampiri Lily dan Liam Ye. Seketika itu Lily dan Liam Ye bak orang yang hilang kesadaran. Mereka berdua berdiri mematung menatap Xiao Feng yang menghilang dalam gumpalan asap putih. Lily bergeming tanpa bisa berkata apapun, dirasakannya ada sebuah tepukan ringan di pundaknya. “Adik, kenapa kamu main sejauh ini? Ayo kita pulang, ayah dan ibu panik mencarimu.” Gumam Liam Ye lembut. Ia tersenyum pada adik kecilnya yang masih tampak kebingungan. Tanpa membantah, Lily mengangguk dan bersedia ikut pulang dengan Liam Ye. Pertemuan dengan Xiao Feng seolah tak pernah terjadi, dan kedua anak kecil itu tidak pernah mengungkit kejadian hari itu sekalipun ditanya oleh kedua orang tua mereka. Namun di hari itu, ada satu orang yang menaruh curiga besar pada Liam Ye dan Lily. Apalagi laporan yang diterimanya dari pengawal mata-mata, membuat rasa penasaran Chen Ye kian menjadi-jadi. “Lily… Sepertinya kamu menarik, adik kecilku.” ⚫⚪⚫ Dua belas tahun kemudian …. “Nona, berhenti … Jangan berlari terus, aku tidak bisa mengejarmu.” Teriak A Mei, pelayan setia yang usianya dua tahun di atas Lily. Semenjak kecil mereka sudah besar bersama, A Mei melayani nona muda itu dengan baik sebagai pelayan, kakak, sekaligus sahabat bagi Lily. “Jangan mengejarku kalau begitu, kamu jalan saja. Aku tunggu di depan gerbang kampus.” Pekik Lily yang kegirangan menyambut hari pertamanya sebagai mahasiswa. Lily tumbuh sebagai gadis yang berprestasi cemerlang, memiliki bakat yang luar biasaa terutama dalam bidang seni, dan ia punya kebaikan hati yang sangat menonjol. Tanpa sepengetahuan orangtuanya, ia selalu menyisihkan uang sakunya untuk membantu gelandangan dan fakir miskin yang ia temui di jalan. Uang saku dari seorang nona kaya yang bernilai fantastis, uang satu hari dari ayahnya bisa menghidupi satu keluarga miskin selama satu bulan. Ia dibesarkan dalam aturan yang cukup ketat, dan memang seperti itulah kehidupan orang terkemuka yang harus tahu tata karma dan segala yang bersifat mengikat. Itulah sebabnya Lily begitu bersemangat menyambut fase hidupnya yang baru, ketika menginjak usia delapan belas tahun dan memperoleh kebebasan mengecap pendidikan di luar rumah. “Aku menyesal mengikuti kemauanmu, nona. Seharusnya kita diantar supir saja, tapi kamu memaksa jalan kaki. Kalau tuan dan nyonya tahu, aku bisa dihukum gantung.” Pekik A Mei dengan napas tak beraturan. Lily menoleh lalu tertawa kecil, tenaganya masih penuh sedangkan A Mei sudah seperti orang kehabisan tenaga dan kalah perang. “Ayolah, jangan berlebihan. Orangtuaku tidak sekejam itu, aku berjanji tidak akan membuatmu kesulitan. Kalau ketahuan mereka, biar aku yang hadapi. Tapi sekarang aku duluan ya, sampai ketemu di sana. ” Lily lanjut berlari, teriakan A Mei tak lagi digubrisnya. Ia sangat yakin kedua orangtua yang begitu menyayanginya tidak akan berani memarahinya meskipun ia salah. Lily pandai memenangkan hati ayah dan ibunya, begitupula terhadap saudara laki-lakinya. Kemunculan Lily di muka publik berhasil menarik perhatian sekitar, apalagi gadis itu dengan lincah berlari seolah ia adalah sang penguasa. Beberapa orang yang sudah menyadari statusnya pun berhenti sejenak lalu membungkuk saat Lily lewat. Mendapati perlakuan seperti itu membuatnya canggung, Lily pun berhenti lalu membalas dengan membungkuk lebih dalam. Ketika ia menegakkan kembali tubuhnya, keseimbangan tubuh Lily goyah karena sandungan batu. Nyaris saja ia ambruk, namun beruntungnya ada sepasang pundak kokoh yang menjadi sandaran punggungnya. “Nona tidak apa-apa?” Tanya seorang pria yang baru saja berbenturan dengan Lily. Lily terpana sejenak, ia belum pernah berdiri dalam jarak sedekat ini dengan pria selain kepada saudara laki-lakinya. Lily menggeleng cepat, ia sedikit salah tingkah karena tatapan teduh si pria. “Tidak apa-apa … Ng ….” Lily agak canggung, ia bergegas memisahkan diri dari pria asing itu. Si pria hanya tersenyum tipis kemudian menundukkan wajah sekali sebagai tanda ia undur diri. “Kalau begitu, saya permisi dulu nona.” Lily tak menjawabnya, pun ketika pria itu semakin berlalu. Hanya punggung kekarnya yang diperhatikan oleh gadis itu dalam diam. Sebuah perasaan yang familiar namun sulit dijelaskan ketika melihat pria itu. “Sepertinya kenal tapi siapa ya?” Gumam Lily bingung. Hingga pria itu tak tampak lagi setelah belokan jalan, Lily masih bergeming. A Mei akhirnya bisa mengejar nonanya, “Nona nunggu aku ya? Terima kasih … Aku nyaris jatuh gara-gara mengejarmu.” Ujar A Mei, ia baru sadar bahwa Lily sedang melamun. Apapun yang dikatakannya tadi hanya seperti angin lalu. “Nona? Kamu mendengarku?” Tanya A Mei. Lily tersadar dari lamunannya, ia menggelengkan kepala sebentar kemudian mengajak pelayannya pergi dari sana. “Ayo, nanti terlambat.” ⚫⚪⚫ Sementara itu dari kahyangan, Xiao Feng berdebar-debar melihat kejadian barusan. Semenjak Chen Mei lahir kembali, ia senantiasa jadi pengawas dari langit. Memperhatikan sahabatnya dan terus menahannya agar tidak jatuh cinta. “Gawat, ini akan jadi masalah baru untuk Chen Mei kalau sampai dia jatuh cinta.” Ujar Xiao Feng dengan raut ketakutan, ia tak akan membiarkan sahabatnya tersesat dalam lingkaran reinkarnasi dan lupa jalan kembali ke tempat asalnya. ⚫⚪⚫⚪ Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD