Seiring dengan teriakan Chen Mei yang terhempas ke dalam lorong gelap tak berujung, saat itulah masa terakhir ia mengingat kehidupan masa lalunya. Ketika ia mendarat dalam sebuah kantong sempit dan basah, tubuh mungilnya kini berusaha mendorong diri untuk keluar dari sana. Perjuangannya melewati lorong sempit itu sebanding dengan perjuangan seorang wanita yang berusaha mengeluarkannya dari rahim.
“Oaakk …” Tangisan bayi menggema di seisi ruangan.
Seorang wanita yang berpeluh keringat di sekujur tubuh terutama dahinya tersenyum lega mendengar suara tangisan pertama dari anaknya. Ia menatap lemah ke arah perawat yang sedang melakukan pemeriksaan pada bayinya serta membersihkan tubuh mungil itu.
“Selamat nyonya, bayi anda perempuan. Dia sangat cantik seperti anda.” Ucap seorang dokter wanita yang membantu persalinan secara normal pada nyonya itu.
“Terima kasih, dokter.” Lirih nyonya. Tenaganya belum juga pulih namun ia sudah mendapatkan suntikan semangat berkat persalinan lancar ini.
Seorang pria kisaran usia empat puluh tahunan masuk dengan wajah sumingrah, ia langsung menghampiri wanita yang baru saja melahirkan itu. Raut wajah yang sangat bahagia dan penuh rasa terima kasih karena wanita itu telah berjuang melahirkan buah hatinya. “Sayang, terima kasih atas perjuanganmu. Bayi kita secantik kamu Xi Er.” Ujar pria itu kepada istrinya yang bernama Xi Er.
Xi Er tersenyum lemah namun perhatian dari suaminya memberi sedikit dukungan semangat padanya. “Akhirnya kita punya anak perempuan. Apa kamu sudah punya nama untuknya, Yu Wen?”
Pria bernama Yu Wen itu tampak berpikir, “Dia adalah anak perempuan yang sekian lama kita tunggu, kita sudah punya dua anak laki-laki dan akhirnya satu anak perempuan.” Gumam Yu Wen, ia mendekati perawat yang masih menggendong bayi perempuannya kemudian meminta agar bayi itu diberikan padanya.
Yu Wen membawa bayinya ke dalam dekapan Xi Er, pasangan suami istri itu serasa pasangan baru yang berbahagia atas kelahiran anak pertama. Euphoria yang tidak berlebihan mengingat itu adalah bayi perempuan pertama mereka dan mungkin akan menjadi satu-satunya.
“Lihat senyumnya, dia punya sepasang lesung pipi. Dia benar-benar cantik, wajahnya begitu berseri. Kita harus memberinya nama yang indah sesuai kecantikannya.” Ujar Yu Wen penuh semangat.
Xi Er mengangguk setuju, “Kau benar, dia sangat cantik. Melihat senyumnya membuat kita merasa sangat bahagia, dia adalah pemberian langit yang sangat istimewa. Suamiku, bagaimana kalau kita beri nama Lily (**)?”
Yu Wen tampak berpikir, “Lily? Anugerah indah? Ya, dia memang anugerah terindah dari langit untuk kita. Nama yang bagus, aku setuju denganmu Xi Er.”
Bayi yang merupakan titisan dari Chen Mei itu kembali dalam gendongan ayahnya, bayi mungil berwajah ranum, bersih, terlihat sangat cantik bagaikan dewi, kini sepenuhnya menjelma menjadi manusia. “Mulai sekarang kamu adalah kebanggan kamu, Ye Lily.”
Semenjak itu kehidupan Chen Mei sebagai manusia dimulai, terlahir sebagai satu-satunya putri di keluarga tersohor Li Yu Wen. Penguasa yang memiliki kekayaan, terkemuka dan menjadi orang nomor satu di kotanya. Ia dibesarkan dengan limpahan kasih sayang, serba berkecukupan bahkan berlebihan. Dikelilingi para saudara laki-laki yang tampan dan mengasihinya. Sejak kelahiran Lily, bisnis Yu Wen semakin berkembang pesat, kini kekuasaannya melebar hingga ke beberapa kota kecil yang berhasil ia takhlukkan dalam bisnis.
⚪⚫⚪
Enam tahun kemudian….
Seluruh penghuni kediaman tuan Li Yu Wen digemparkan dengan hilangnya nona muda mereka yang baru berusia enam tahun. Seisi rumah yang luas bak istana itu sudah dicari hingga ke tempat terselubung namun tak satupun yang menemukan di mana keberadaan Lily.
“Ayah, aku minta ijin keluar dari rumah. Sepertinya aku tahu adik Lily pergi ke mana.” Ujar Liam Ye, kakak kedua Lily yang tiba-tiba teringat sesuatu. Wajah antusiasnya meyakinkan ayahnya bahwa ia tahu tempat persembunyian nona kecil itu.
Yu Wen mengerutkan dahi, di belakangnya beberapa pengawal sigap mendampingi pencarian yang dikerahkannya. “Baik, pergilah dengan beberapa pengawal handalku. Pastikan kalian membawa pulang Lily.” Perintah Yu Wen menaruh percaya pada putranya.
Perbincangan ayah dan anak itu mendapat sorotan dari Li Chen Ye, putra pertama Yu Wen sekaligus kakak pertama Lily. Tatapan sinisnya pada Liam Ye menandakan betapa ia tidak menyukai adiknya itu. Terlebih jarak usia mereka tidak terpaut jauh sehingga kerap bertengkar jika berselisih pendapat, termasuk dalam usaha meraih perhatian orangtua mereka.
Chen Ye mengekori langkah Liam Ye dengan mata tajam, ia mengangkat tangannya sebagai kode pada pengawal di belakangnya. “Ikuti mereka diam-diam, cari tahu apa yang mereka lakukan dan jangan sampai ketahuan.” Perintah Chen Ye.
Pengawal itu mengangguk patuh kemudian meninggalkan tuannya dan menyamar sebagai pengintai. Mereka membuntuti tuan muda Liam Ye yang bergerak cepat menuju kota yang berjarak tak jauh dari kediaman mereka.
Liam Ye yakin adiknya pasti pergi bermain ke tempat persembunyiannya lagi. Meskipun terdengar aneh, tetapi hilangnya Lily kali ini sedikit memaksa Liam Ye untuk percaya tentang mimpi yang diceritakan Lily beberapa hari lalu. Tentang sebuah tempat di dekat kota, sebuah gubuk tak berpenghuni dan tentang kemunculan seorang dewi di hari pertama turunnya salju. Dan salju pertama memang turun tadi subuh, beberapa jam sebelum Lily dinyatakan hilang.
Sampailah Liam Ye di gubuk yang persis diceritakan Lily, melihat bangunan tua itu membungkam Liam Ye beberapa saat. Kini ia dipaksa percaya mimpi adiknya bukan sekedar bunga tidur, memang terdapat sebuah gubuk dengan ciri yang sama dengan cerita Lily.
“Kalian tunggu di luar, biar aku yang masuk sendirian. Jika ada bahaya, aku akan melempar kode agar kalian masuk memberi penyelamatan. Tapi jika tidak, jangan ada satupun yang masuk dan tunggu aku keluar.” Perintah Liam Ye. Ia mewanti-wanti saja, takut jika dongeng dalam mimpi Lily terbukti benar bahwa ada dewi yang datang bermain dengannya. Maka ia tidak akan melanggar janjinya pada Lily untuk menjaga rahasia ini. Rahasia yang diucapkan oleh anak berumur enam tahun kepada kakaknya yang berusia sebelas tahun.
Semula Liam Ye ragu dan merasa sedikit takut ketika berdiri di depan pintu gubuk dari kayu yang terlihat lapuk. Ia menghela napas, mencoba menguatkan diri dan mendorong sekuat tenaga pintu kayu lapuk itu. Dan… Mata Liam Ye nyaris mencuat keluar dari kelopak, menyusul mulut yang spontan ternganga melihat hal menakjubkan dengan mata kepalanya.
Decit pintu yang dibuka dari luar itu mengagetkan Lily, namun setelah melihat siapa yang datang menyusulnya, raut wajah takutnya berubah sumingrah. Ia bersyukur dengan kedatangan anak laki-laki itu dan akhirnya ia punya kesempatan membuktikan bahwa ceritanya bukanlah dongeng semata. Tetapi rasa senang dan penuh harap itu tidak berlaku pada sosok yang kepergok oleh Liam Ye. Sosok seorang dewi dengan paras luar biasa cantik itu tak menginginkan kehadirannya diketahui manusia. Ia sama terkejutnya dengan laki-laki yang dipanggil kakak oleh Lily itu. Dan dewi itu tak lain adalah sahabat lama Lily, dialah dewi salju Xiao Feng.
⚪⚫⚪