“Jadi apa yang harus aku lakukan untuk keluar dari rumah sebentar saja, kakak kedua?” Ye Lily bersemangat dan tak sabaran sehingga mendesak Liam Ye menjelaskan lebih detail rencana mereka. Liam Ye yang bisa melihat binar mata penuh semangat dari adiknya justru tertawa kecil. Ia melambaikan tangannya, mengkode supaya Ye Lily mendekat.
“Kemarilah, ini sangat rahasia dan tidak boleh banyak telinga yang mendengar.” Bisik Liam Ye serius. Ye Lily berdiri dari tempatnya duduk kemudian mendekat pada kakak keduanya, bersiap memasang telinga untuk mendengarkan instruksi lanjutan.
Liam Ye menutupi mulut dengan telinganya, memberi batasan sehingga A Mei yang terbaring di pojokan ikut merasa penasaran dengan tingkah dua majikannya. “Satu satunya cara kamu bisa kabur adalah menyamar. Pakai ini dan perhatikan tingkahmu saat mengikuti aku keluar dari sini. Mengerti!?” Liam Ye mengeluarkan sebuah gumpalan kain yang ia selipkan di dalam bajunya. Ia cukup cerdas mengakali sehingga benda itu tidak mencurigakan ketika dibawa masuk, seakan ia datang dengan tangan kosong.
Ye Lily tertohok, tak menyangka bahwa kakaknya mempersiapkan hal serumit ini hanya untuk menolongnya. Sepasang matanya berkaca kaca, harus diakuinya kebaikan dan perhatian kakak keduanya membuat ia terharu. “Kakak kedua ... Aku tidak akan pernah melupakan kebaikanmu. Suatu saat nanti akan ku balas semua ini. Terima kasih kak.” Gumam Ye Lily dengan bibir yang sedikit bergetar saking harunya.
Liam Ye tersenyum tipis, mendengar kesungguhan adiknya saja sudah membuatnya senang. Ia tak berharap muluk, yang diinginkannya adalah kebahagiaan adiknya. “Sudahlah, jangan membuang waktu lagi. Cepat ganti bajumu dan ikut aku keluar dari sini.” Ujar Liam Ye, hatinya terlalu gengsi untuk menerima pujian yang memang sepatutnya ia terima.
Ye Lily meraih pakaian itu kemudian berlari ke ruang ganti yang ada dalam ruangan itu juga. Tinggallah Liam Ye bersama A Mei di sana, pria itu menoleh ke belakang menatap A Mei yang terlihat penasaran namun tidak berani mempertanyakan apapun. “Kamu pasti ingin tahu apa yang kami rencanakan. Tenanglah, aku akan membawakan teman untukmu. Kamu masih bisa berguna untuk nonamu meskipun berada di kamar. Pastikan kamu bisa melaksanakan tugas dengan baik.” Ujar Liam Ye dengan suara yang sangat pelan namun terdengar tegas.
A Mei menggeleng lemah, ia sama sekali tidak mengerti apa yang diperintahkan untuknya. “Maafkan saya tuan muda, bukan bermaksud membangkang dari perintah anda, tetapi saya tidak mengerti apa yang harus saya kerjakan.” Tanya A Mei polos.
Belum juga Liam Ye menjawab, suara ketukan pintu dari luar terdengar. Liam Ye menoleh ke arah pintu lalu berseru. “Masuklah!” Usai berteriak selantang itu, pandangan Liam Ye serta A Mei tertuju pada pintu yang akhirnya didorong dari luar. Seorang gadis muda sepantaran usia A Mei berjalan masuk dengan anggun, ia menutup kembali pintu kemudian berjalan perlahan mendekati tuannya. A Mei menatap lekat sosok gadis muda itu, tanpa perlu dijelaskan pun ia tahu bahwa gadis itu adalah gadis pelayan yang akan menggantikannya sementara. Penilaian pertama A Mei pun mengakui bahwa gadis muda itu begitu cantik dan polos, ia bisa berfirasat bahwa gadis pelayan itu akan cocok dan sanggup melayani nona mudanya dengan baik hingga ia kembali mampu menjalankan tugas utamanya.
“Pei Fang memberi hormat kepada tuan muda kedua.” Seru gadis muda itu membungkuk hormat. Setiap gerak geriknya yang gemulai itu diperhatikan oleh dua pasang mata yang ada di sana. Ketika ia mendongakkan kepala dan mendapati masih menjadi pusat perhatian, barulah senyuman Pei Fang mengembang sempurna sebagai bentuk keramahannya.
“Mulai hari ini kamu akan melayani nona muda, bekerja samalah dengan A Mei. Tugas pertamamu adalah menjaga A Mei. Kamu harus berpura-pura menjadi nona muda hingga kami kembali. Mengerti!?” Perintah Liam Ye tegas. Gadis muda itu mengangguk patuh.
“Saya mengerti tuan muda.” Jawab Pei Fang.
“Tadi tidak ada yang mengawasimu masuk kan?” Tanya Liam Ye lagi memastikan bahwa tidak ada gerak gerik yang mencurigakan yang diketahui pihak luar.
Pei Fang menggeleng lemah, “Sesuai perintah anda, tidak ada pengawal yang ada di depan dan saya segera masuk ke dalam.”
Liam Ye mengangguk seraya tersenyum sumingrah, rencananya untuk mengalihkan sejenak perhatian pengawal ayahnya pun berhasil. “Bagus. Urusan selanjutnya aku percayakan padamu. Jangan timbulkan kecurigaan dan lakukan seperti yang aku perintahkan.”
“Saya mengerti, tuan muda.” Jawab Pei Fang, kemudian ia melihat ke arah A Mei dan mengangguk pelan. Menawarkan sebuah persahabatan dan kerjasama dengan senyum manis sebagai sapaannya.
Orang yang dinantikan akhirnya keluar dari ruang ganti, ia muncul dengan rupa yang berbeda sehingga membuat tiga pasang mata yang memandangnya menyorot dengan penilaian yang disimpan dalam hati. Ye Lily berjalan mendekati ketiga orang itu, ada sedikit rasa was was dan tak percaya diri, sesekali ia bahkan menundukkan kepalanya. Ia yang setiap hari berpenampilan cantik dan anggun, kini berdandan layaknya pria gagah namun berperawakan tipis dalam balutan seragam pengawal. “Ng ... Apa ini tidak terlalu aneh? Aku rasa akan mudah ketahuan kalau aku bertampang begini. Kakak kedua, apa tidak ada cara yang lebih aman?” tanya Ye Lily yang meragukan kemampuan menyamarnya akan berjalan baik baik saja.
Liam Ye mengamati sejenak penampilan adiknya, ia berdecak kemudian berkomentar. “Hmm ... Apa kamu sudah menggandakan pakaian?”
Ye Lily mengangguk antusias, “Sudah, aku sudah memakai seragam kampusku sebagai dalaman.”
Jawaban itu kurang memuaskan Liam Ye, ia tak menampik bahwa kecemasan adiknya memang bukan tanpa alasan. “Hmm ... Sepertinya badanmu memang terlalu tipis. Kamu seharusnya lebih banyak makan biar lebih berisi.” Gumam Liam Ye separuh bercanda. Alhasil ia mendapat delikan dari Ye Lily yang tidak terima dikritik penampilannya.
“Jadi sekarang bagaimana kakak? Apa kita batalkan saja? Tapi aku sungguh ingin keluar sebentar.” Tanya Ye Lily, ia yang bersemangat dan ia pula yang meragu sekejab. Pandangan matanya bertemu dengan sosok gadis yang belum ia kenali, sontak gadis pelayan yang diperhatikannya memberi hormat dan memperkenalkan diri sebelum ia bertanya.
Liam Ye menengahi perkenalan para gadis, “Dia yang akan membantumu selama A Mei belum sembuh. Untuk hari ini kamu akan pergi tanpa pengawalan dari dia, aku meminta dia untuk tetap di kamar, berpura pura menjadi dirimu. Kamu tidak masalah kan jika harus mengandalkan dirimu sendiri di luaran sana?”
Ye Lily mengangguk mantap, ini kesempatan besar yang tak boleh terlewatkan olehnya. Nyaris tidak ada kesempatan untuknya menikmati kesendirian sebagai gadis biasa, ia selalu dikawal atau setidaknya ditemani oleh A Mei. Meskipun minder dengan penyamaran ini, Ye Lily tetap akan mengambil keputusan untuk melanjutkan misi kabur itu. “Tenang saja kakak kedua, percayalah aku sanggup menjaga diriku.” Ucap Ye Lily menggebu gebu.
“Baiklah, aku juga harus memberimu kesempatan untuk pembuktian. Kamu keluar baik baik, pulang pun harus dengan selamat. Reputasiku sedang dipertaruhkan untuk membantumu.” Jelas Liam Ye mempertegas agar Ye Lily lebih mawas diri di luaran sana. Gadis cantik itu pun mengangguk dengan patuh, ia tidak akan menyulitkan orang yang sudah berbaik hati membantunya.
“Ikuti aku, berpura puralah sebagai pengawalku. Kamu bisa bersikap seperti seorang pengawal bukan?” Tanya Liam Ye.
“Tentu.” Jawab Ye Lily singkat namun senyumnya mengembang. Dengan pakaian pria yang ia kenakan, topi kain yang menutupi kepala dan menyembunyikan rambutnya, Ye Lily akan segera menginjakkan kakinya keluar dengan menanggalkan identitasnya.
Kakak beradik itu berjalan keluar, mengambil sikap masing masing demi menuntaskan peran. Sementara itu kedua gadis pelayan yang ditinggalkan di dalam kamar pun berupaya keras, mereka hanya pesuruh yang menuruti perintah namun tetap merasa bertanggung jawab atas keberhasilan rencana tersebut. “Mohon kerjasamamu kak A Mei.” Ujar Pei Fang yang merasa perlu bersikap hormat kepada seniornya.
A Mei mengangguk mantap, ia merasa akan mudah bersosialisasi dengan rekan barunya. “Kita harus berhasil demi nona muda dan juga tuan muda kedua.”
⚫⚫⚫⚫⚫⚫
Ye Lily merasa debaran jantungnya seakan hendak mencuat dari dalam dirinya, meskipun ia bisa melewati penjaga di depan kamarnya, namun rintangan di depan masih cukup banyak. Liam Ye berjalan di depannya, gestur tubuh pria itu terkesan santai dan terlatih untuk tenang meskipun sedang berbohong. Ye Lily mengepalkan satu tangannya lalu meletakkan di depan d**a, berharap dengan cara seperti itu bisa sedikit menenangkan gejolak batin serta rasa takutnya itu.
‘Sedikit lagi maka aku akan keluar dari gerbang utama.’ Ujar Ye Lily menyemangati dirinya dalam hati. Selama Liam Ye terlihat tenang, ia pun tak perlu merasa cemas berlebihan.
Seorang pengawal datang dari arah depan lalu menghampiri Liam Ye. Usai memberi hormat, pria muda itu mendekati Liam Ye seraya berbisik. Ye Lily mengepalkan kedua tangannya, usahanya untuk bersikap tenang tampaknya sia sia lantaran bisikan pengawal itu membuat Ye Lily berasumsi yang tidak tidak. ‘Gawat ... Apa penyamaranku ketahuan?’ tanya Ye Lily dalam hatinya.
Liam Ye mengerutkan dahi, apa yang disampaikan tangan kanannya bukanlah informasi yang bisa ia abaikan. “Kamu yakin itu sudah valid?” Tanya Liam Ye memastikan ulang.
Pengawal itu menganggukkan kepala, “Benar tuan muda. Ini bisa dipertanggung jawabkan.”
Liam Ye berpikir sejenak, ia dirundung dilema lantaran misinya bersama Ye Lily pun belum juga selesai tapi sepertinya ia tidak bisa berlama lama lagi di sini. Liam Ye membalikkan badannya ke belakang, menghampiri Ye Lily lalu berbisik. “Adik, aku ada keperluan mendesak yang harus segera ku tangani. Apa kamu bisa melanjutkan langkahmu sendiri ke gerbang utama? Jika ada yang menginterogasimu, bilang saja bahwa kamu orang suruhanku untuk keluar membeli sesuatu. Asalkan kamu tidak panik, segalanya akan berjalan baik.”
Ye Lily memucat seketika, sosok tegap yang melindunginya di depan harus pergi sebelum ia benar benar berada di tempat yang aman. Namun semuanya sudah terlanjur terjadi, Ye Lily pun tak mau usahanya sia sia. “Baiklah kak, jangan cemaskan aku. Pergilah selesaikan urusanmu, aku akan bergantung pada kemampuan diriku.” Ungkap Ye Lily sebisa mungkin menanamkan keberanian dan kepercayaan diri.
Liam Ye menatapnya dengan sorot tak tega tapi tidak bisa berbuat banyak juga. “Aku percaya padamu, adikku gadis yang kuat. Pergilah, segera kembali dan jangan buat onar di luar. Semoga usaha kita berhasil.” Liam Ye mengangguk mantap kemudan menyuguhi senyuman semangat untuk adiknya. Ye Lily pun melakukan hal yang serupa dan yakin semua akan berjalan semestinya.
Mereka berdua berpencar, Liam Ye lebih dulu meninggalkan tempat itu. Ye Lily menghela nafas berat, sekuat tenaga mengumpulkan keberaniannya agar ia tidak gentar. Langkah kecilnya bergerak menuju gerbang utama, seharusnya ia berjalan biasa namun entah mengapa ia mulai sabaran. Hatinya terpacu untuk berlari saja, semakin cepat derap langkahnya maka ia akan segera keluar sepenuhnya dari rumah besar itu.
“Hei ... siapa kamu!? Berhenti !!!”
⚫⚫⚫⚫⚫⚫