Ternyata Dia

1643 Words
Ye Lily gelagapan, belum apa apa saja ia sudah kepergok oleh pengawal yang melintas. Bukannya berhenti dan menuruti teriakan pria itu, Ye Lily justru tetap nekad berlari sekencangnya menuju gerbang utama. Liam Ye sudah mengaturkan segalanya, menyuap penjaga gerbang agar meloloskan orangnya, namun tetap saja bukan berarti semua bisa berjalan sesuai keinginan mereka. “Berhenti aku bilang!” Pekik suara pria itu terdengar lantang, namun nyatanya tak mempan untuk membuat orang yang dimaksudnya menjadi patuh. Orang mencurigakan itu justru seakan menantangnya sehingga ia terpaksa harus mengerahkan kemampuan terpendamnya untuk menghadang orang yang entah sekutu atau musuh itu. Pria itu melompat ke udara, tubuh lenturnya bersalto dengan posisi mengambang. Sebuah gerakan yang cukup indah, andai ada yang mengabadikannya lewat kamera. Tapi sayangnya kondisi aneh itu membuat lingkungan sekitar terasa sepi, hanya ada mereka berdua, serasa dunia ini disetting untuk mereka. Sedikit lagi langkah Ye Lily akan sampai ke gerbang, namun gerakan gesit pria itu lebih cepat menghalaunya di depan. Nyaris saja Ye Lily tidak bisa menahan dirinya, untung saja gerak reflek kakinya yang mendadak berhenti tepat waktu itu menyelamatkan ia dari tubrukan dengan tubuh pria di hadapannya. ‘Gawat ... Aku benar benar tamat ....” Lirih Ye Lily dalam hatinya, ia menundukkan pandangan, tak kuasa membiarkan orang lain melihat wajah aslinya yang sedang menyamar. “Kamu pengawal di sini? Kenapa gerak gerikmu mencurigakan? Hei ... Aku bertanya padamu.” Seru pria itu mencoba melihat wajah tersangka yang berhasil dicegatnya. Hati Ye Lily bergetar mendengar suara itu, saking tercengangnya sampai sampai ia terbengong dan lengah. ‘Suara itu terdengar familiar. Ini ... Apa dia adalah ....’ Belum juga batin Ye Lily melanjutkan dugaannya, tangan pria itu lebih cepat menyentuh dagunya. Meskipun diserang tiba-tiba tetapi Ye Lily justru merasa berdebar ketimbang takut. Dalam hitungan detik, dua pasang mata mereka saling beradu. Ye Lily terbelalak kaget, firasatnya benar, ia tidak salah mengenali suara pria itu. Bukan hanya Ye Lily yang terperangah, bahkan Tian Lu yang tak menyangka akan bertemu nona muda yang dikawalnya pun ikut mematung. Tak terbersit sedikit pun dalam benaknya bahwa pertemuan pertama mereka di rumah ini justru dalam situasi dan penampilan seperti ini. Tanpa perlu dijelaskan pun, Tian Lu tahu bahwa Ye Lily sedang menyamar menjadi seorang pengawal. Tetapi untuk apa gadis itu melakukan semua ini? “Nona muda, apa yang anda lakukan? Kenapa memakai pakaian seperti ini?” Tanya Tian Lu setengah berbisik, bagaimana pun juga ia bertanggung jawab terhadap nona muda itu. Sejak ia menerima tawaran pekerjaan dari tuan besar, Tian Lu tidak bisa mengelak untuk lebih peduli kepada nona cantik itu. Ye Lily menundukkan wajah, pertanyaan itu membuatnya kembali pada kenyataan bahwa permainan yang ia mulai belum selesai. “Ng ... Aku ....” kata kata Ye Lily tersendat. ‘Tapi aku tidak bisa jujur padanya, tidak mungkin aku bilang kalau aku nekad menyamar hendak kelaur dari rumah demi menemui dia di kampus. Andai aku tahu dia ada di rumahku, aku tidak akan melakukan hal aneh yang mempermalukan diriku di depannya.’ Timpal Ye Lily dalam hatinya yang penuh penyesalan. Tian Lu mengerutkan dahi, tak bisa menebak kata kata yang tersendat itu. Terlebih ia memang tidak tahu apa yang terjadi sebelumnya, yang pasti ia tidak bisa membenarkan tindakan nona muda itu sekarang. “Kamu kenapa? Apa yang mau kamu katakan?” Tanya Tian Lu lagi, setengah mendesak agar Ye Lily mengatakan yang sebenarnya. “Tidak ... Aku tidak jadi keluar. Ng ... Aku akan kembali ke kamarku.” Ujar Ye Lily, ia merutuki dirinya yang mendadak canggung berdekatan dengan Tian Lu. Padahal sebelumnya ia sangat menggebu gebu ingin menemuinya di luar sana, hanya saja terasa aneh bila ia bertemu dengan keadaan yang bukan menjadi dirinya sendiri. Ye Lily merasa malu, pria itu pasti berpikiran buruk tentangnya gara gara penampilan memalukan ini. Tian tersenyum tipis dan Ye Lily melihatnya. Senyuman itu bagaikan maut bagi hati Ye Lily yang rapuh, hanya dengan reaksi kecil itu saja mampu membuat detak jantungnya tidak normal. “Kalau begitu aku akan mengawalmu kembali, nona muda.” Ye Lily mengerutkan dahi, masih tak mengerti dengan tindakan Tian Lu yang kelewat sopan kepadanya. “Tunggu dulu! Aku tidak paham, mengapa kamu ada di rumahku? Bukankah seharusnya kamu harus kuliah, kakak senior?” Selidik Ye Lily dengan sepasang mata yang memincing tajam. Belum sempat Tian Lu menjawabnya, dari arah belakang ada seorang pengawal yang menatap ke arah mereka. “Hei kalian sedang apa? Siapa di sana?” Justru Tian Lu lah yang sedang dipertanyakan lantaran ia terlihat seperti orang asing yang berkeliaran di rumah yang penjagaannya ketat. Ye Lily tersentak kaget, spontan ia menundukkan pandangan, berusaha melindungi dirinya agar tidak kepergok oleh pengawal yang sesungguhnya dan entah berpihak kepada siapa. Tian Lu menyadari tingkah Ye Lily yang terlihat was was itu, ia pun bisa menebak bahwa nona muda itu ketakutan dan berusaha melindungi drinya agar tidak ketahuan. Tian Lu berjalan ke depan, dengan tubuh kekarnya, ia menutupi Ye Lily yang berdiri mematung dan tak berani menoleh ke arah belakang. “Perkenalkan, saya Tian Lu, pengawal baru di sini yang diperintahkan oleh tuan besar untuk melindungi nona muda. Mohon kerjasamanya.” Seru Tian Lu memperkenalkan diri dengan membungkuk hormat kepada pria yang sama sama seorang pengawal. ‘Hah? Dia jadi pengawalku? Ayah merekrut dia untukku? Yang benar saja? Apa ayah tahu kalau aku menyukainya?’ Beragam spekulasi muncul dalam benak Ye Lily, ini terlalu mendadak, terlalu kebetulan dan masih sulit diterima olehnya. Pengawal itu tersenyum seringai, perhatiannya tetap tertuju pada pengawal bertubuh kecil yang tidak berlaku hormat kepadanya. Tian Lu seperti menyadari tatapan sarat curiga yang tertuju pada Ye Lily, ia pun bersikeras menutupinya dengan menciptakan gerakan tubuh yang wajar agar tak mengundang curiga. “Hei ... pengawal yang ada di belakangmu itu ... Kenapa dia diam saja?” Gertak pengawal itu, tetap tak melepaskan sorotannya pada orang yang ada di belakang Tian Lu. Badan Ye Lily terasa panas dingin, ia tahu tengah dilindungi oleh Tian Lu, namun sikap diamnya justru memancing kecurigaan pihak lain. Nona muda itu berpikir keras, ia tidak bisa terus begini dan menciptakan masalah pada pria yang tak bersalah. Tian Lu malah meliriknya dengan tenang kemudian kembali berujar, “Oh ... ini pengawal yang diperintahkan tuan besar untuk menunjukkan padaku setiap tempat di lingkungan rumah ini. Maaf jika membuatmu merasa terganggu, aku sudah paham dengan area ini. Kami akan berpindah tempat sekarang, selamat bertugas kembali, kawan.” Ujar Tian Lu seraya mengangguk pelan, senyum ramahnya ternyata sanggup meyakinkan pengawal itu untuk bungkam. Tian Lu menoleh ke belakang kemudian menyentuh pundak tipis Ye Lily dengan perlahan. “Ayo, kita harus segera pergi dari sini.” Bisik Tian Lu mengingatkan Ye Lily bahwa mereka tidak boleh menyia nyiakan kesempata kabur ini. Ye Lily mengangguk pelan, kemudian dengan pandangan menunduk, ia berjalan pergi beriringan dengan Tian Lu yang menutupinya dari samping. Ketika berpapasan dengan pengawal itu, Ye Lily reflek menunduk sehingga tatapan si pengawal terus tersorot padanya. Untung saja Tian Lu begitu brilian mencairkan suasana dengan obrolan basa basi kepada Ye Lily, seakan mereka mulai akrab dan Tian Lu bisa berkomentar tentang lingkungan rumah elit klan Ye itu dengan bangga. Kendati Ye Lily tidak menanggapinya namun Tian Lu tetap berkelekar sehingga mereka melewati pengawal itu dan bisa menghela nafas lega. “Huft ... Nyaris saja!” Keluh Ye Lily, takut bukan main. Ia yakin keningnya sekarang sudah dipenuhi dengan bulir keringat, bukan hanya karena pakaian dobelnya yang membuat ia gerah, tapi juga suasana tegang yang membuat ia tidak bisa rileks. Tian Lu melirik ke arahnya, tersenyum tipis seraya menggelengkan kepala. Seharusnya mereka menjaga jarak ketika berdekatan, tetapi dengan tampang Ye Lily yang tidak menunjukkan kharismatik nona muda, ia pun punya kesempatan mendekat tanpa perlu terbatasi oleh status. “Aku masih tak habis pikir, apa yang kamu lakukan dengan pakaian seperti itu? sebenarnya kamu mau ke mana tadi jika aku tidak menggagalkanmu?” Tanya Tian Lu seraya berbisik. Ye Lily melirik tanpa menolehkan kepala, ekor matanya bisa menangkap sosok tampan di sebelahnya meskipun tidak terlalu jelas. “Panjang ceritanya, yang pasti aku harus segera sampai ke kamarku dengan selamat. Jika kamu memang pengawalku, ini akan menjadi tugas pertamamu. Kawal aku sampai aku berhasil kembali ke kamarku dengan selamat.” Ujar Ye Lily, ia tetap mempertahankan rahasia itu untuk dirinya sendiri. Ketimbang harus mempermalukan diri lagi di hadapan pria yang entah mengapa begitu menarik bagi Ye Lily. “Baiklah, tugas pertama diterima, nona muda.” Jawab Tian Lu bersemangat. Ia pun mengawal dan menjaga Ye Lily, sementara gadis itu yang menuntun jalan menuju kamarnya. Ketika berdekatan, Ye Lily beberapa kali kepergok tengah mencuri tatapan ke arah Tian Lu. Sontak membuat Ye Lily serba salah dan gelagapan lantaran merasa ketahuan. Sementara Tian Lu hanya bisa tersenyum tipis melihat tingkah nona itu. Bisa dikata mereka tengah malu malu namun saling memendam rasa ingin tahu. Ketika berjalan di sebuah lorong sepi, Ye Lily kembali tergugah untuk bertanya lebih detail. Bagaimanapun ia tetap penasaran mengapa kakak seniornya mau menjadi pengawalnya. “Siapa yang merekrutmu ke sini? Perasaan tidak ada pengumuman lowongan pengawal, tapi kenapa kamu bisa diterima sebagai pengawalku? Ah ... Atau jangan jangan sejak kemarin, kamu diam diam sudah menjadi mata mata ayahku? Kejadian di kampus itu juga, apa kamu membuntutiku?” Tian Lu tersenyum tipis, akan lancang baginya jika ia tertawa kecil. Sungguh sebuah ujian berat baginya, di saat ia merasa dihadapkan dengan situasi yang lucu, justru tawanya dilarang keras untuk terdengar. Atau dia akan disebut lancang menyinggung perasaan nona mudanya. “Nona ... Jika saya menjawab dengan jujur, apa anda akan percaya? Semua ini mungkin kebetulan, mungkin juga sudah ditakdirkan. Tapi yang pasti, aku tidak sedang membuntutimu, kemarin memang kebetulan aku melihatmu tersesat. Dan hari ini pun, aku tidak tahu mengapa tuan besar memilihku menjadi pengawalmu. Aku membutuhkan pekerjaan ini, jadi tidak ada salahnya kan menerimanya? Apa anda keberatan jika aku menjadi pengawal anda?” Perasaan Ye Lily semakin tak karuan, pria bernama Tian Lu itu sungguh lihay mencuri perhatiannya. Bukan hanya parasnya yang menawan, tetapi pesonanya, kesopanannya serta cara ia memperlakukan dirinya, semua terasa sangat berkesan. “Aku ....” Ye Lily menyimpan jawaban jujurnya di dalam hati, tidak untuk diperdengarkan kepada pria yang menjadi pengawal barunya itu. ‘Aku tidak akan keberatan ... Hanya saja ini terasa seperti mimpi. Kamu mendekat ketika aku mencarimu. Apa ini yang dinamakan takdir?’ ⚫⚫⚫⚫⚫
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD