Chu Mei tampak tidak tenang di istananya, pertemuan singkat dengan Xiao Feng membuat hatinya gusar, terus terpikir tentang perkataan dewi salju itu. “Jika Chen Mei bisa melewati hukumannya dengan baik, dia akan kembali dan aku mungkin akan kembali menjadi dayangnya lagi. Tidak, aku tidak boleh membiarkan itu terjadi.”
Dewi pengganti itu enggan menyimpan rasa penasarannya terlalu lama, ia pun terpancing untuk melakukan hal yang sama seperti Xiao Feng. Ia berjalan keluar dari istananya, berdiri di taman persik yang luas dan sepi. “Aku akan pastikan kondisinya di bawah sana.” Seru Chu Mei kemudian menggerakkan tangannya, menyapu awan dengan kekuatan sihirnya lalu membuka mata batinnya untuk mencari sosok manusia Chen Mei. Tidak sulit baginya untuk menemukan siapa yang dicari, dalam sekejap ia sudah melihat Chen Mei tengah beradu mulut dengan seorang pria paruh baya. Tapi bukan itu yang Chu Mei ingin ketahui, ia menajamkan inderanya, menelisik hingga ke dasar perasaan manusia biasa itu.
“Hmm... menarik, sepertinya dia sudah mulai jatuh cinta.” Gumam Chu Mei seraya menyunggingkan senyuman puas. Sepertinya ia tidak perlu repot turun tangan karena Chen Mei sendiri yang akan mempersulit dirinya untuk bisa kembali ke kahyangan.
“Baiklah Chen Mei, perjuangkan cintamu. Aku akan membantumu dari sini. Nikmati saja kehidupan duniawi dan lupakan tentang asal usulmu di langit.” Chu Mei tak pernah tersenyum selepas ini, ia pun kini tahu apa yang harus ia lakukan untuk mengamankan posisinya. Sebisa mungkin ia akan membantu Chen Mei untuk melanggar lagi hukumannya.
⚫⚫⚫⚫
“Jadi benar, ayah hanya mementingkan bisnis dan menjadikan kami alat lewat perjodohan? Aku tidak bisa terima, ayah! Tidak akan bisa!”
Amukan yang diutarakan Lily dengan lantang itu sangat menguji kesabaran Yu Wen. Pria paruh baya itu mengepalkan tangannya, menahan agar emosinya tidak meledak karena terpancing oleh kekesalan putrinya. Ia hanya bisa mengepalkan tangan, berharap emosi putrinya segera surut tanpa perlu ia menimpali dengan kata-kata yang pastinya akan menyakitkan hati seorang gadis.
“Aku tidak mau berakhir seperti kak Chen Ye. Aku akan menentukan sendiri siapa jodoh pilihanku, harap ayah menghargai keputusanku.” Timpal Lily mulai melunak, ia berdiri kemudian membungkuk hormat. Sikap bungkam ayahnya diartikan sebagai pertanda baik, Lily yakin bahwa ayahnya sedang mempertimbangkan keputusannya.
“Lily undur diri, jaga kesehatan ayah.” Lanjut Lily setelah menegakkan tubuhnya lagi, ia berbalik badan hendak keluar dari aula utama.
“Tunggu!”
Sepatah kata yang terdengar tegas itu menahan langkah Lily lebih jauh, hati gadis itu mulai gusar, bisa merasakan bahwa apa yang hendak ayahnya sampaikan bukanlah hal baik untuk didengar. Namun ia tak bisa menghindarinya sekarang, semua sudah terlanjur dimulai. Lily membalikkan lagi badannya hingga bisa melihat langsung raut wajah tegas ayahnya.
“Jangan bilang kalau kamu sudah jatuh cinta! Ayah tidak akan setuju dengan pria yang bukan pilihanku! Jadi ayah harap kamu jangan buang waktu dan melelahkan hatimu sendiri untuk mencintai orang yang bukan jodohmu.” Tegas Yu Wen, serius dengan apa yang ia lontarkan.
Lily tak menyadari bahwa ia sedang menggelengkan kepalanya, sepasang mata indahnya pun terasa panas seakan didesak untuk mengeluarkan tetesan bening. Tapi sekuat tenaga ia tahan, bukan saatnya untuk menunjukkan kelemahan. “Ayah, selama ini aku selalu mendengarkanmu, ayah mengatur segalanya untukku, tapi aku mohon untuk urusan ini tolong biarkan aku sendiri yang menentukan pilihanku.” Jawab Lily lirih.
“Menurutiku? Bahkan kamu membujukku untuk kuliah di kampus kecil itu, padahal jelas kamu tahu ayah berharap kamu belajar di kampus nomor satu di sini. Apa itu yang namanya menurut? Ayah sudah cukup banyak memberimu kelonggaran tapi tidak untuk masalah jodoh. Keputusan ayah sudah mutlak, camkan itu!” Yu Wen berpaling, enggan menatap wajah melas anak gadisnya yang ia anggap sebagai kelemahan.
Lily tak sanggup berdiam diri lagi, air matanya sudah sangat mendesak untuk ikut andil. Bulir hangat itu berjatuhan dengan deras, tak terkontrol lagi saking ia terlukai oleh ultimatum ayahnya. “Lily mohon maaf sudah banyak mengekang dari kehendak ayah, tetapi... sama halnya dengan sikap keras ayah, Lily juga tetap pada prinsip. Urusan siapa pria yang akan ku nikahi kelak, harus yang Lily cintai dan kenal dengan baik. Lily undur diri, harap ayah jaga kesehatan.”
Kali ini kepergian Lily tidak dicegah lagi oleh Yu Wen. Pria itu pun mengepalkan tangannya di saat hatinya berkecamuk seakan memancingnya untuk melontarkan balasan. Percuma berdebat saat ini, keras melawan keras maka sama-sama akan retak. Yu Wen menimbang kata-kata Lily, persyaratan yang diajukan anak gadisnya itu sebenarnya cukup sederhana. Namun sulit untuk mengenalkan lebih awal calon suaminya, sampai saat ini ia belum menemukan pria incaran yang sepadan untuk diangkat sebagai satu-satunya menantu pria. Di sisi lain, Yu Wen takut kalau Lily sudah jatuh cinta entah dengan siapa. Mungkin itu pula penyebabnya gadis itu sangat berkeras hati melawannya sekarang.
“Pengawal!” Teriak Yu Wen saat ia yakini Lily sudah pergi dari tempat ini. Tak lama dua orang pria yang dipanggilnya pun menghadap seraya memberi penghormatan.
Yu Wen berbalik badan, menatap tajam pada dua ajudan kepercayaannya. “Segera utus pengawal rahasia untuk membuntuti nona muda, cari tahu siapa pria yang mendekatinya.”
“Siap tuan besar.”
⚫⚫⚫⚫⚫
Chen Ye membaca buku sastra koleksinya dengan santai di sebuah pendopo kediamannya. Sejak Lily berlalu dari tempatnya, ia pun memutuskan untuk melanjutkan kesendirian di taman ini. Menikmati ketenangan sebelum ia akan disibukkan dengan kehidupan pernikahan. Seorang pengawal menghampirinya, memberikan penghormatan sebelum menyampaikan maksud kedatangannya.
“Bagaimana?” Tanya Chen Ye seraya melirik malas dengan ekor matanya, pandangannya tetap fokus kepada buku di tangannya.
“Nona muda menyambangi aula utama, menurut informasi orang dalam kita, terjadi perdebatan hebat antara nona muda dan tuan besar.” Ujar pengawal itu dengan suara yang pelan, antisipasi jika ada yang mendengar pembicaraan mereka.
Chen Ye tertawa keras, buku yang ia baca pun langsung ditutup dan ditaruh di atas meja. Tawanya belum kelar, ia sungguh menikmati situasi panas yang terjadi antara ayah dan anak gadis kesayangannya itu. “Bagus... sungguh reaksi yang sangat bagus. Aku hanya perlu diam, melempar umpan lalu ikan itu masuk dalam perangkap. Tidak perlu mengotori tangan sendiri, sudah ada yang membantuku melakukannya. Lalu apa yang terjadi?” tanya Chen Ye lagi setelah ia puas tertawa dan kembali serius.
“Tuan besar mengutus pengawalnya untuk mengawasi nona muda.” Lanjut pengawal itu.
Chen Ye tersenyum seringai, beberapa kali kepalanya mengangguk mantap. “Bagus, biar dia saja yang dicurigai. Jalankan rencana selanjutnya!” perintah Chen Ye tegas.
“Siap tuan muda!”
⚫⚫⚫⚫