“Nona, makan dulu sedikit. Anda belum makan apapun sejak tadi siang.” Berulang kali sudah A Mei membujuk Lily untuk mengisi sedikit makanan ke dalam perutnya.
Semenjak pulang dari aula utama, Lily langsung mengurung diri di kamar. Perdebatan yang ia lakukan kepada ayahnya tidak membuahkan hasil seperti yang ia harapkan. Justru dari itulah mata Lily terbuka bahwa apa yang dikatakan Chen Ye memang benar, cepat atau lambat ayahnya pasti akan menyeretnya dalam perjodohan paksa.
“Kamu makanlah, jangan hiraukan aku! Aku tidak akan mati hanya karena tidak makan satu malam.” Lagi-lagi penolakan yang dilontarkan oleh sang nona. Hatinya masih terlalu sakit untuk menerima kenyataan, atau mungkin ia enggan menerima kenyataan itu sampai kapanpun. Lily tengah berpikir harus melakukan sesuatu agar tidak bernasib sama dengan kakak pertamanya.
A Mei malah bersujud, memperlihatkan wajah sedihnya demi kesungguhannya mengkhawatirkan majikannya. “Nona, saya tidak akan bangun sebelum nona makan. Saya bersungguh-sungguh dengan ucapan saya.” Ujar A Mei penuh tekad, ia tahu sekarang Lily terkejut melihat sikap nekadnya.
Lily menggeser posisinya yang semula terbaring, kini bangun dan duduk di tepi ranjang. Menatapi A Mei yang sama kerasnya dengan dirinya, gadis pelayan itu menundukkan wajah sembari bersimpuh. Sepasang tangannya mengepal, menahan berat tubuhnya saat dalam posisi berlutut. Lily menghela napas, pelayannya memang paling pintar memberi ancaman.
“Mei, aku sungguh tidak berselera makan. Daripada kamu berlutut memohonku untuk itu, lebih baik kamu duduk dan dengarkan keluh kesahku. Saat ini yang paling aku perlukan hanya teman bicara, bukan makanan.” Gumam Lily dengan nada lemah.
A Mei menengadah, menatap lekat wajah nonanya yang memang terlihat sendu. Sorot mata nona cantik itupun tampak redup. Hatinya trenyuh, seakan terkoneksi untuk merasakan kegundahan yang ia pendam. “A Mei siap mendengarkan apapun yang nona katakan.” Ungkap pelayan muda itu menunjukkan kepatuhannya.
Lily tersenyum tipis, tangan kanannya menepuk sisi di sebelahnya yang kosong. Mengkode A Mei agar beranjak dari posisi berlutut dan menempati ranjang di sebelahnya untuk duduk. “Kemarilah, jangan sungkan padaku. Aku perlu bicara dengan pelan, ini rahasia.” Gumam Lily, setengah bercanda karena ini hanyalah triknya agar A Mei tidak menolak perintahnya.
“Baiklah nona.” Jawab A Mei kemudian berdiri dan menuruti kehendak Lily. Dua gadis itu duduk saling berhadapan, menatap pijaran sinar mata yang terlalu jauh berbeda, yang satunya tak bisa menyembunyikan keresahan, yang satu lagi tampak penasaran.
Lily menghela nafas kasar, ia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Rasa hati yang masih berat ketika harus menceritakan kegundahannya dengan menatap netra lawan bicaranya. “Mei, aku tidak pernah merasa sesedih ini, apa aku jahat kalau aku menyalahkan ayahku? Apa aku akan dianggap anak durhaka kalau aku melawan kehendak ayah?” Lirih Lily, sejak tadi perasaan itu terus mengusiknya, antara marah, kecewa, sedih, dan mendekati rasa putus asa.
A Mei menundukkan kepalanya, sebagai bawahan sebenarnya ia cukup tahu diri dan aturan untuk tidak mencampuri urusan majikannya. Apalagi sampai membicarakan tuan besar di rumah ini, jika terdengar yang lainnya, itu akan mendatangkan masalah bagi A Mei. “Ng... Nona... Saya tidak berani menjawabnya. Ini pembahasan yang serius jika menyangkut soal tuan besar, saya sungguh tidak berani lancang berkomentar.” Jawab A Mei, wajahnya menunjukkan penyesalan, betapa ia ingin mengutarakan pendapatnya namun tidak tepat jika membicarakan hal ini di dalam kediaman tuan Li. Tidak ada yang bisa menjamin tembok tidak bertelinga di sini.
Lily mengendus kesal, satu satunya orang yang bisa ia ajak bicarapun tidak berani bersuara. “Ya sudahlah lupakan saja, kita bicara yang lain saja.” Gumam Lily terlihat tak puas namun enggan memaksakan kehendaknya.
A Mei mendongakkan kepala memberanikan diri untuk menatap wajah cantik nonanya. “Ah, nona bolehkah saya lancang bertanya?”
Lily menatap heran pada A Mei, tidak biasanya pelayan setianya itu inisiatif mengajukan pertanyaan. “Hmm... Apa yang mau kamu ketahui? Tanyakan saja, tidak perlu sungkan, di sini hanya ada kita berdua.”
“Itu... Saya lihat nona tidak seperti biasanya, keberanian nona membuat saya kagum. Apa mungkin nona menyukai pria itu?” Tanya A Mei berhati-hati, takut menyinggung perasaan Lily sehingga ucapannya sedikit terbata.
Lily terkesiap, pertanyaan yang bahkan sangat sulit ia jawab karena menyangkut perasaan yang ia pun belum berani menafsirkannya. Lily jelas tahu siapa yang dimaksud A Mei, hanya dialah yang tahu siapa yang berinteraksi dengannya sepanjang hari di kampus. “Aku... Tidak tahu....” Lirih Lily, reflek jemari tangannya mencengkeram bajunya, meremas kuat di bagian d**a hingga sedikit tertarik piyama tidurnya.
“Ah... Maafkan saya nona, pertanyaan saya membuat anda bingung.” A Mei tak enak hati, ketika ia hendak berlutut, Lily justru menahannya.
“Tidak perlu minta maaf, aku tidak bingung karena kamu. Aku justru bingung pada diriku sendiri. Perasaan ini aneh, kenapa juga aku harus sangat marah pada ayahku dan entahlah di saat itu wajah pria itu terlintas di benakku. Mei... Apa aku aneh? Apa aku mulai tidak waras? Perasaan ini tidak bisa aku artikan, belum pernah aku selancang ini kepada ayah, hanya karena tidak rela jika aku dijodohkan dengan pria lain. Mengapa di saat itu, aku justru teringat pria itu dan merasa sakit di sini?” Lirih Lily, wajahnya menampakkan gurat sedih. Beban dalam benaknya sedikit lega ketika ia bisa mencurahkan keresahannya dalam bentuk kata-kata, saat ini ia sangat ingin didengarkan, dan A Mei lah yang paling tepat menjadi pendengarnya.
“Nona jangan terlalu beban memikirkan yang belum pasti, seiring waktu saya yakin akan ada jawabannya. Nona hanya perlu memberi sedikit waktu, biarkan mengalir apa adanya, nanti pasti nona akan memahami perasaan apa itu.” Ujar A Mei lembut, ia sangat mengerti apa yang dirasakan nonanya meskipun bukan ia yang mengalaminya.
Lily takjub mendengar kata-kata A Mei yang tidak biasanya. Netranya menatap gadis itu lekat, menyusul decak kagumnya yang terlontar memujinya. “Mei, kamu terdengar hebat. Ternyata kamu bisa berkata bijak, seperti orang tua saja.” Celetuk Lily yang mulai kembali tertawa, ia cukup terhibur dengan sikap pelayannya.
“Nona... Saya belum tua.” Protes A Mei, naun begitu ia melihat tawa lepas dari nonanya, hatinya ikut terhibur. Setidaknya ia yakin kondisi hati Lily sudah mulai membaik, mungkin saja sebentar lagi ia bisa membujuknya untuk makan malam.
Aroma asap pekat mulai mengganggu penciuman dua gadis yang ada di dalam kamar. A Mei mengendus dan segera berdiri, merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan sekitarnya. Lily pun reflek melakukan hal yang sama dengan A Mei. Bergegas meraih penutup tubuh yang lebih tebal untuk menutupi piyama tidurnya. “Sepertinya ada yang tidak beres, kita harus selidiki di luar.” Ujar Lily mengajak A Mei keluar dari kamar. Gadis pelayan itu pun mengangguk, kemudian segera membuka kunci pintu dan menggeser daun pintu itu.
Kedua gadis itu terbelalak kaget saat mendapati di depan sana api tengah melahap kediaman mereka. “Kebakaran!”
⚫⚫⚫⚫