“Kebakaran!” Teriakan dari para pengawal dan pelayan di kediaman Lily pun terdengar nyaring, menyuarakan kepanikan dan berharap pertolongan. Beberapa di antara para pengawal bergegas mendatangi Lily, hendak membawa nona muda itu keluar dari paviliunnya yang sudah terkepung api.
“Kenapa tiba-tiba bisa ada api sebesar ini?” Lily ditarik oleh A Mei untuk mencari jalan keluar, tempat mereka berdiri pun sudah mulai dijalari api merah. Atap bangunan itu sudah menyala dan mereka berdua masih ada di sekitar sana. Lily masih terlihat bingung, tak habis pikir dengan kejadian yang begitu mendadak dan di luar perkiraannya.
“Nona, kita harus cepat keluar dari sini, para pengawal kewalahan memadamkan api. Sangat berbahaya jika nona masih di sini.” Ujar salah satu pengawal yang berhasil sampai di tempat Lily, wajahnya terlihat hitam terkena asap yang mulai tebal dan hitam.
Lily terbatuk, nafasnya mulai tak leluasa lagi menghirup oksigen. Gumpalan asap tebal sudah mendominasi tempat itu sedangkan penanggulangannya masih belum maksimal. Lily setengah berlari menuju gerbang paviliunnya, api pun sudah menjalar ke bagian itu namun masih bisa dilewati. Mereka berlomba dengan api, memilih menghindari titik yang sudah tidak aman lagi ditempati. Namun ketika langkah sudah mendekat pada gerbang, sebuah balok yang telah rapuh dilahap api itu jatuh.
“Awas nona!” Pekik A Mei yang lebih dulu menyadari bahaya di depan mata itu. Gadis pelayan itu dengan reflek mendorong tubuh Lily.
Lily tersentak kaget, satu tangannya reflek terjulur hendak meraih A Mei, ia merasa sanggup melakukan sesuatu untuk membantunya namun yang terjadi tangannya justru ditarik oleh pengawal yang lebih sigap mengamankannya. Lily terhindar dari timpukan kayu balok itu tapi tidak dengan A Mei, suara pekikan kesakitan gadis itu terdengar pilu.
“Aaarrghhh!” Jerit A Mei dengan badan yang meliuk sakit, balok kayu itu menimpa kaki kanannya. Ia terkulai di halaman, meskipun masih sadarkan diri namun tenaganya sudah terkuras untuk melangkah pergi menyusul nonanya.
“Cepat tolong A Mei, jangan pedulikan aku. Bawa dia segera kemari.” Perintah Lily pada pengawal di dekatnya, ia sendiri sudah berada di luar area kebakaran. Posisinya sudah cukup aman namun kekhawatirannya masih belum reda. Pengawal itu menuruti perintahnya, berlari cepat untuk menggendong A Mei keluar.
Di belakang sudah berdatangan pengawal yang berinisiatif memberikan bantuan, namun Lily tidak peduli, ia terus mengamati kobaran api yang membumi hanguskan kediamannya. Jemari tangannya bergerak, ada letupan dalam hati yang begitu kuat, Lily merasa dirinya mempunyai kemampuan yang lebih untuk menolong, tapi tidak tahu apa yang sebenarnya ia miliki. ‘Apa dewa dewi di langit sungguh ada? Jika ada... Bisakah mendengarkan permintaanku? Beri pertolongan pada kami agar api itu cepat padam.’ Lirih Lily dalam hatinya, mengutarakan permohonan yang begitu tulus. Lily tak sanggup melihat penderitaan di sekitarnya, gejolak yang tengah berkutat dalam benaknya seakan mendesak ia untuk bertindak, tidak tinggal diam dan meminta dilindungi. Ia merasa bukan pribadi yang lemah dan hanya bisa bergantung pada orang di dekatnya, namun kenyataannya ketika ia ingin melakukan tindakan itu, justru ia tersadar bahwa ia memang tidak punya kemampuan apa-apa. ‘Apa aku memang terlahir untuk menjadi lemah? Kenapa rasanya aku sanggup menolong mereka, tapi tidak ada yang bisa aku lakukan juga?’ Lily bergeming, perasaannya diliputi kesedihan yang mendalam. Hanya berdiri sebagai penonton yang mendengar jeritan, tangisan dan kepanikan orang tanpa bisa melakukan hal yang lebih untuk menolong.
“Adik, kamu baik-baik saja? Apa kamu terluka?”
Lily terkesiap, sontak ia menoleh ke belakang untuk melihat si pemilik suara familiar itu. “Kakak, aku baik-baik saja. Tapi mereka....” Lirih Lily menggantung kata-katanya, ia menatap kedalaman sepasang netra kakak keduanya, menyorotkan pedih yang tak sanggup ia ungkapkan.
Liam Ye menepuk pundak Lily pelan, memberinya dorongan semangat dan menenangkan hati adik perempuannya. “Jangan cemaskan itu, bantuan sudah datang, sebentar lagi pasti bisa teratasi. Kita pergi saja dari sini, tidak bagus berada di tempat ini terlalu lama. Ayo, ke kediamanku saja.”
Lily menggeleng cepat, menolak ajakan kakak laki-lakinya itu. “Tidak kak, pelayanku terluka. Aku harus membawa dia pergi juga dan mengobatinya.” Ujar Lily seraya menunjuk ke arah A Mei yang tengah dipapah oleh pengawal yang menyelamatkannya.
“Dia melindungiku, harusnya mungkin aku yang tertimpa kayu balok panas itu.” Timpal Lily sedih, tatapannya terus melekat pada dua orang yang berjalan mendekatinya. Liam Ye pun melihat ke arah yang sama, merasa prihatin melihat orang terdekat yang biasanya melayani Lily itu terluka.
Lily berjalan cepat menghampiri A Mei, meraih tangan gadis pelayan itu dan menggenggamnya dengan gusar. “Kita harus segera mengobati lukamu.” Ujar Lily melihat celana panjang yang dipakai A Mei yang robek akibat insiden yang menimpanya. Wajah A Mei terlihat pucat, menahan sakit yang membuat ia sesekali terlihat meringis.
“Ng... Aku tidak apa-apa nona, yang penting nona selamat. Syukurlah....” Ujar A Mei berusaha tetap tenang dan tersenyum walaupun terlihat jelas bahwa senyumnya tampak sangat dipaksakan hanya demi menenangkan hati Lily.
Liam Ye menggelengkan kepala, tak bisa berpangku tangan melihat penderitaan orang. “Sudahlah, jangan buang waktu lagi. Ayo bawa dia ke kediamanku sekarang, nanti akan ku panggilkan tabib untuk mengobati lukanya. Lebih cepat lebih baik.” Ujar Liam Ye kemudian menarik tangan Lily agar beranjak dari sana. Nona muda itu menurut, membiarkan kakak laki-laki yang paling akrab dengannya itu menuntunnya pergi.
‘Aku tetap tak bisa tenang, membiarkan pengawal dan pelayan yang lain masih terjebak api. Andai aku punya kekuatan lebih, andai aku punya keberanian... Apa aku memang hanya terlahir untuk menerima nasib yang sudah ditentukan untukku?’ Lirih Lily, hatinya dipenuhi beragam pertanyaan yang entah harus dicari ke mana jawabannya.
⚫⚫⚫⚫
“Api sudah berhasil dipadamkan tuan, tapi kabar buruknya ada dua pelayan yang terjebak kobaran api dan tidak terselamatkan. Tubuh hangus mereka masih ada di halaman paviliun, kami akan segera menyiapkan pemakamannya setelah titah dari anda.” Lapor seorang tangan kanan Yu Wen yang ia utus untuk menyelidiki kebakaran.
Yu Wen mengepalkan tangannya, geram, marah dengan kejadian yang begitu tiba-tiba itu. Sama sekali tidak terpikir olehnya, tempat tinggalnya yang begitu terjaga ketat itu masih bisa terjadi hal yang tidak diinginkan bahkan menimbulkan korban. “Segera kubur mereka, berikan pemakaman yang layak dan beri keluarga mereka santunan. Setelah itu lanjutkan penyelidikan, cari tahu penyebab kebakaran itu. Kenapa api sebesar itu bisa menyala di saat jam orang istirahat, sepertinya ini bukan faktor kebetulan. Aku rasa ada yang sengaja ingin mencelakai Lily.” Ujar Yu Wen tegas, hatinya pun kian gusar memikirkan motif di balik insiden di kediaman putrinya. Semua terasa janggal, ia baru saja berselisih paham dengan putrinya, namun justru terjadi hal buruk, seakan ingin melenyapkan nyawa Lily dengan kebakaran itu.
⚫⚫⚫⚫