“Aaaww....” Jerit A Mei tak lagi sanggup menahan diri dari rasa sakit ketika luka bakar di kaki kanannya diolesi obat oleh tabib. Di saat itu juga Lily ikut meringis, seakan bisa merasakan kesakitan yang tengah menyiksa pelayan setianya. Lily memberi kekuatan dengan memegangi pundak A Mei saat tabib hendak mengoleskan obat lagi.
“Tahan sebentar lagi nona, jika tidak segera diobati, luka ini akan melepuh dan lebih sulit disembuhkan lagi.” Jelas tabib itu, tak berniat menakuti tetapi memang seperti itulah protokol yang harus ia lakukan.
A Mei meringis, ia memilih tidak melihat apa yang akan tabib itu lakukan. Nyeri dan perih di kakinya sudah mati rasa saja sensasinya. Lily semakin tidak tega, hatinya terlalu rapuh untuk menjadi saksi penderitaan orang terdekatnya. “A Mei, dengarkan apa kata tabib. Kamu harus fokus pada penyembuhan, setelah itu... Setelah kamu sembuh, aku janji akan mengabulkan apapun permintaanmu.” Ujar Lily ikut menyemangati dengan cara yang ia bisa.
Liam Ye yang berdiri diam dalam ruangan itu tiba-tiba didekati oleh pengawalnya. Ia dibisikkan sesuatu yang membuat tuan muda itu manggut-manggut tanda mengerti. Liam Ye mengangkat satu tangannya, memberi isyarat agar pengawal itu boleh meninggalkan ruangan ini. Sementara itu, ia menatap ke arah adik bungsunya yang belum juga menguasai diri agar bersikap rileks. Liam Ye berjalan mendekat, kehadirannya pun diketahui oleh Lily yang seketika itu pula menoleh ke arahnya.
“Kakak kedua, terima kasih sudah peduli pada orangku.” Lirih Lily, tanpa melepaskan pegangan tangannya di pundah A Mei, ia pun mengutarakan rasa terima kasihnya dengan sebuah anggukan kepala yang pelan.
Liam Ye tersenyum lembut, “Adik, kamu tidak perlu seformal itu. Sudah sewajarnya aku menolongmu, kita ini bersaudara. Kita dapat saling mengandalkan. Jangan cemas, A Mei pasti akan segera sembuh. Aku mau ke depan sebentar, kabarnya ibu akan datang membesukmu. Aku akan menjemputnya di depan gerbang.”
“Ibu... Ah, aku sungguh tak enak hati. Gara-gara kejadian ini, waktu istirahat orangtua kita terganggu.” Lily menundukkan kepala, sesal yang mendalam pun menyiksa perasaannya.
Sebuah sentuhan pelan mendarat di pundaknya, persis apa yang dilakukan Lily kepada A Mei. Tanpa perlu menoleh pun, Lily tahu bahwa Liam Ye lah yang sedang menyemangatinya dengan kontak fisik. “Jangan sering menyalahkan dirimu, itu kejelekanmu sejak dulu. Segala hal yang terjadi di luar kuasamu, bukanlah tanggung jawabmu. Jangan bebankan diri dengan terus merasa bersalah atas apa yang tidak kamu lakukan. Mengerti?” Ujar Liam Ye begitu bijak dan menenangkan. Nasehat yang ternyata cukup manjur untuk menghibur hati adik bungsunya. Liam Ye langsung mendapatkan balasannya saat itu juga, senyuman yang teramat manis dari adik perempuan satu-satunya itu.
Lily mengangguk mantap, senyumnya pun masih mengembang sempurna di bibirnya. Walaupun dari raut wajahnya terlihat masih ada beban, tetapi senyum itu bisa sedikit membiaskan kecemasan berlebihannya. “Aku akan mengingat saranmu kak. Pergilah jemput ibu dulu, aku tidak akan menyita waktumu.”
Liam Ye tersenyum, kali ini ia bisa merasa lega untuk meninggalkan Lily sejenak. “Tunggu di sini, aku tidak akan lama. Nanti di depan ibu, sebisa mungkin tahan dirimu. Kamu tahu sendiri bagaimana sifat ibu kita. Jangan membuatnya bertambah panik.” Pinta Liam Ye dengan suara lembutnya.
Lily mengangguk setuju, ia cukup tahu diri untuk tidak menambah beban pikiran ibunya. “Aku mengerti kakak.”
Ruangan kamar kembali hening sejenak setelah Liam Ye keluar, entah mengapa semua kompak membungkam hingga suara pekik kesakitan A Mei terdengar. Ye Lily sontak menoleh ke sumber suara, sorot mata cemasnya terpancar keluar, ia pun bergegas menghampiri gadis pelayannya. “Apa masih lama mengobati lukanya?” Tanya Ye Lily kepada tabib yang masih berkutat dengan luka A Mei.
Tabib itu mengangguk hormat kepada nona muda di hadapannya. “Sebentar lagi selesai, nona muda. Saya akan segera membalut luka, besok malam harus dibuka untuk diobati lagi dan jangan sampai luka mengenai air.” Jelas tabib itu kemudian segera menyelesaikan tugasnya. Dengan telaten ia menurunkan kaki A Mei setelah membalurkan obat.
Ye Lily tersenyum lega saat melihat proses itu sudah kelar. “Syukurlah, semoga bisa segera membaik. Terima kasih tabib Xiao.” Ucap Ye Lily ramah.
“Ini sudah tugas saya, kalau begitu saya undur diri dulu nona muda.” Jawab tabib itu membungkuk hormat dan berlalu.
Tinggallah dua gadis muda yang berbeda status itu saling memandang. “Aku sudah membaik nona, maaf sudah membuatmu khawatir.” Lirih A Mei merasa tidak enak hati lantaran kondisinya membuat nona muda itu tidak tenang.
Ye Lily ikut duduk di kursi sebelah A Mei, terlihat ia menggelengkan kepalanya, menolak permintaan maaf itu. “Sudah sepantasnya aku cemas, kamu orang terdekatku. Kamu jadi begini juga karena melindungi aku. Kita istirahat di sini dulu sementara waktu, lagipula kediamanku tidak layak huni lagi. Aku harap tidak banyak korban akibat insiden ini.” Lirih Ye Lily penuh harap.
A Mei sedikit kepayahan saat menggerakkan tubuhnya, bukan hanya kaki saja sumber rasa sakitnya tetapi sekujur badannya terasa seperti remuk dipukul benda keras. “Ng... Nona sebaiknya jangan banyak pikiran. Ini semua insiden yang tidak diharapkan, kalaupun ada korban, saya harap nona jangan menyalahkan diri sendiri.” Pinta A Mei yang punya pengertian dan begitu mengenal sifat Ye Lily yang mudah merasa kasihan dan kerap menyalahkan dirinya sendiri.
Ye Lily menarik nafas panjang, mencoba menenangkan diri dari sekelumit pikiran buruknya. “Entahlah, aku merasa ini cukup aneh. Kenapa kejadian ini terjadi di saat hubunganku dan ayah agak memburuk?” Ye Lily memilin ujung baju yang dikenakannya, pikirannya tidak menentu meskipun ia enggan larut dalam sesuatu yang belum tentu benar.
A Mei menggeleng pelan, “Mungkin ini tidak ada hubungannya dengan masalah anda dan tuan besar, nona. Mungkin saja ini memang musibah akibat kecerobohan orang-orang di kediaman anda. Tuan besar pasti tidak akan tinggal diam, saya yakin kasus ini pasti akan segera diselidiki.”
Ye Lily terdiam sejenak, memikirkan apa yang A Mei katakan dan ada benarnya. Ia pun menyunggingkan senyuman lebar. “Kamu benar, sepertinya aku terlalu berburuk sangka. Kalau memang ingin memberikan bentuk protes kepadaku, tidak mungkin juga ayah berani bertaruh hingga mengorbankan orang-orang yang tidak bersalah. Ayah bukan tipe pimpinan seperti itu.”
Pembahasan itu pun menemui titik akhirnya ketika suara derap langkah kaki seseorang terdengar nyata. Bukan hanya satu dua orang, melainkan banyak yang mendatangi kamar Ye Lily saat ini. A Mei berusaha berdiri untuk menyambut tamu istimewa yang berkunjung itu namun kondisi kakinya tidak mendukungnya berdiri tanpa bantuan orang lain. “Ah....” A Mei meringis kesakitan dan terduduk lagi di bangkunya.
Ye Lily menoleh ke arahnya dengan cemas, “Sudahlah, kamu duduk saja. Aku yakin ibu juga bisa memaklumi kondisimu.” Jelas Ye Lily mencoba menenangkan A Mei yang gusar lantaran takut dianggap tidak menghormati nyonya besar.
Serombongan orang yang dimaksud pun semakin mendekat, Ye Lily tidak punya banyak waktu lagi untuk bicara dengan pelayannya. Mereka sudah mengambil sikap masing-masing, menyambut dengan hormat nyonya besar yang datang menjenguknya.
“Nyonya besar tiba....” Pekik seorang pengawal dengan lantang, dan spontan semuanya membungkuk hormat kepada orang nomor dua di kediaman Ye ini.
⚫⚫⚫⚫⚫