Petunjuk Pelaku

1043 Words
“Ye Lily memberi hormat kepada ibu.” Seru Ye Lily dengan sikap hormatnya di saat wanita yang berstatus ibu kandungnya datang. A Mei pun melakukan hal yang sama dalam keterbatasan geraknya. Ia menundukkan kepala, tak berani menatap wajah wanita berkuasa itu. Wanita paruh baya berwajah lembut dan cantik itu menghampiri Ye Lily, menyentuh pundaknya demi menuntunnya berdiri. “Putriku, apa kamu terluka? Ibu sangat mencemaskanmu.” Ujar Xi Er, dari nadanya terdengar jelas ia begitu khawatir. Bahkan ia langsung mendatangi putrinya saat mendengar kabar buruk itu, meskipun ia sudah tertidur. Untung saja ia cukup peka mendengar suara ribut saat pengawal mendatangi kamar utama yang ditempatinya bersama Robert Ye. Xi Er ikut terjaga dan bergegas demi mengecek keadaan putri bungsunya secara langsung. “Aku baik baik saja, maaf sudah membuat ibu khawatir.” Jawah Ye Lily merasa bersalah. Ia tahu pasti jam tidur kedua orangtuanya dan yakin bahwa kejadian ini sudah mengganggu istirahat mereka. Ibu dan anak itu saling berpegangan tangan, sementara itu tatapan Liam Ye pun terfokus pada mereka. Xi Er cukup peka menyadari tengah ditatap oleh putranya, ia pun meresponnya dengan sorot mata teduh. “Ah, apa penyebab kebakarannya sudah diketahui?” Tanya Xi Er kepada Liam Ye. Liam Ye menggeleng pelan, “Belum ibu. Orangku masih terus menyelidiki. Tapi aku yakin jika ayah pasti akan segera turun tangan. Ibu tidak perlu terlalu cemas lagi, yang penting adik baik baik saja.” Ujar Liam Ye ikut menghibur hati ibunya agar tenang. Ye Lily mengangguk setuju, membenarkan apa yang kakaknya katakan. “Yang kakak kedua katakan benar, ibu tidak perlu khawatir. Aku merasa tidak enak karena sudah mengganggu istirahat ibu.” Sesal Ye Lily. Xi Er malah menggelengkan kepalanya, “Ibu mana bisa tenang sebelum memastikan langsung keadaanmu. Ya sudahlah, bagus kalau kamu tidak apa apa. Untuk sementara waktu sambil menunggu paviliunmu diperbaiki, ada baiknya kamu tinggal di tempat kakakmu. Dia akan menjagamu, ibu jauh lebih tenang kalau begitu.” “Baik ibu, aku akan mengawasi adik.” Jawab Liam Ye patuh. Ye Lily pun merasa tak punya pilihan lain. Mungkin sebaiknya memang seperti ini, berada dalam pengawasan orang terdekat agar ia bisa sedikit lebih tenang. “Ah, ibu dengan kamu berselisih paham dengan ayahmu? Apa benar itu, putriku?” Xi Er malah mengungkit sesuatu yang tak ingin dibahas oleh Ye Lily. Apa boleh buat, pertanyaan itu sudah terlontar saking ia penasarannya ingin tahu dari sisi Ye Lily. Ye Lily agak menundukkan pandangannya, kejadian tak mengenakkan saat itu terpaksa harus ia kenang lagi. “Maafkan aku ibu. Aku terbawa emosi begitu tahu kakak pertama akan berakhir dengan nasib perjodohan. Aku terpaksa menentang ayah karena aku pun tidak mau senasib dengan kakak pertama. Kehidupanku bisa saja diatur ayah, tapi tidak dengan perasaanku. Aku merasa berhak menentukan dengan siapa aku akan serius dan menikah. Ibu, apakah aku salah?” Lirih Ye Lily, raut wajahnya terlihat jelas bahwa ia memang sedang merasakan kesedihan yang mendalam. Xi Er membungkam sejenak, tanpa perlu mempertanyakan perasaan putrinya, ia sudah bisa merasakan tekanan berat yang tampak dari sorot wajah cantik Ye Lily. “Putriku, ibu rasa ini bukan saat yang tepat untuk membahas masalah ini. Hari sudah malam dan kamu sudah melakukan banyak hal. Sebaiknya kamu istirahat dulu, pulihkan tenagamu. Bila perlu besok tidak perlu masuk kuliah, nanti ibu akan urus ijinmu.” Ye Lily menggeleng dengan cepat, menolak permintaan ibunya. “Tidak ibu, aku tidak mau mengorbankan pendidikanku. Besok hari kedua aku belajar di kampus baru, aku ingin lebih mengenal tempat itu. Aku mohon ibu tidak perlu mencemaskan masalah ini, aku akan baik baik saja seperti biasanya.” Pinta Ye Lily mencoba untuk terus meyakinkan ibunya, akan gawat jika ibunya mengatakan sesuatu kepada ayahnya dan mereka sepakat untuk membiarkan Ye Lily di rumah untuk sementara waktu. “Tapi A Mei sedang terluka, dia juga harus istirahat untuk memulihkan diri. Ibu tidak akan tenang kalau kamu pergi tanpa pengawasan.” Xi Er masih tetap pada pendiriannya, rasa cemasnya yang berlebihan baginya terasa wajar, mengingat Ye Lily adalah putri satu satunya. Ye Lily menghela nafas kasar, ia mengalihkan pandangan kepada gadis pelayannya. Memang benar satu satunya pelayan yang paling dekat dengannya tengah terluka, akan sangat mustahil jika ayah dan ibunya membiarkan ia pergi tanpa pengawasan. Ditambah dengan kejadian kebakaran ini, Ye Lily khawatir jika perhatian kedua orangtuanya akan menjurus menjadi posesif. “Aku akan mencari pelayan pengganti sampai A Mei pulih. Ibu bisa tenang, aku akan mengurus masalah ini.” Jelas Ye Lily tetap mengupayakan agar keinginannya terwujud. Xi Er tampaknya harus berbesar hati membiarkan Ye Lily melakukan apa yang ia senangi. Melihat semangat yang terpancar dari binar matanya, Xi Er merasa tak kuasa menghalangi niat Ye Lily untuk berangkat kuliah. “Baiklah, pastikan kamu tetap aman. Ibu juga akan mengutus pengawal untuk melindungimu.” “Ah jangan! Aku tidak mau terlihat mencolok di sana ibu.” Tolak Ye Lily dengan cepat, membayangkan harus diikuti terus oleh pengawal pria saja membuatnya merasa mual. Justru ia ingin sedikit kelonggaran di tempatnya menimba ilmu, untuk apa harus terus dibayang bayangi pengawalan ketat seperti itu. “Ibu, serahkan saja kepadaku. Aku akan melindungi adik dari kejauhan. Itu tidak akan membuat adik merasa tak nyaman. Bagaimanapun akan jauh lebih baik tidak terlihat mencolok di tempat umum. Aku bisa memahami perasaan adik, dan aku akan membantunya.” Timpal Liam Ye yang akhirnya menengahi tawar menawar ibu dan anak itu. Xi Er tersenyum lega, ia menatap putranya dengan sorot yang begitu lembut. “Syukurlah, mendengar kamu akan bertindak langsung, membuat ibu merasa tenang. Entah mengapa firasat ibu terasa aneh, seperti ada hal buruk yang akan terjadi. Ibu takut kejadian malam ini hanya permulaan, jangan sampai ada yang mempunyai kesempatan untuk melukai Ye Lily. Ibu percayakan keselamatan adikmu kepadamu.” Ungkap Xi Er kemudian membelai pundak putranya, menaruh harapan besar kepada pria muda bertubuh atletis itu. Liam Ye mengangguk patuh, “Aku mengerti ibu.” ⚫⚫⚫ Sementara itu di paviliun utama, seorang pengawal mata mata menghampiri Robert Ye secara tersembunyi. Mereka berada di ruang rahasia demi mengungkapkan sesuatu yang tak boleh diketahui orang lain. Pria pengawal itu membungkuk hormat sebelum mengutarakan maksud kedatangannya. “Apa kamu sudah mendapatkan yang aku minta?” tanya Robert Ye serius. “Sudah tuan besar. Saya menemukan benda ini terbaur dalam puing reruntuhan bangunan.” Jawab pengawal itu kemudian menyerahkan sesuatu yang dimaksudnya kepada Robert Ye. Setelah benda itu berpindah ke tangan tuan besar, dahi Robert Ye seketika mengerut. Ia terkejut mendapati benda yang cukup dikenalinya. “Hmm... plakat ini... bukankah seharusnya tidak ada di kediaman Ye Lily?” ⚫⚫⚫⚫⚫
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD