Tahanan Rumah

1028 Words
“Tuan besar, mungkin saja benda ini hanya sebagai pancingan dari pihak lain.” Ujar pengawal rahasia itu memberanikan diri untuk berpendapat. Robert Ye melirik tajam ke arahnya, “Maksudmu ini sebuah jebakan untuk memfitnah pemilik plakat ini? Apa ada yang sekeji itu bersiasat di belakangku? Aku justru merasa bahwa petunjuk ini tepat, dia mungkin tak memprediksi bahwa orang suruhannya begitu ceroboh meninggalkan jejak.” Gumam Robert Ye yang mengikuti firasatnya. Sulit baginya untuk mempercayai siapapun begitu saja, terlebih orang di dekatnya pun mulai menunjukkan sikap yang mencurigakan. Pengawal itu membungkuk hormat, “Maafkan saya tuan besar, saya akan menuruti perintah anda dan tidak akan mengeluarkan asumsi pribadi lagi.” Ungkap pengawal itu penuh penyesalan. Robert Ye menghela nafas kasar, malam selarut ini pun ia belum bisa beristirahat. Banyak yang harus ia pikirkan dan semua itu menyangkut anak-anaknya. “Besok sampaikan perintahku pada nona muda. Aku melarangnya keluar rumah untuk sementara, tanpa pengecualian. Dan juga seleksi secara rahasia orang orang yang pantas menjadi pengawal nona muda. Aku tidak bisa mempercayai orang orang di sini sepenuhnya. Mengerti!?” Perintah Robert Ye tegas. Pengawal itupun membungkukkan badan dengan hormat, “Mengerti tuan besar.” ⚫⚫⚫⚫ Pagi harinya di kediaman Liam Ye.... Ye Lily sudah terbangun begitu awal, tempat dan suasana baru membuat ia merasa sedikit canggung. Kendati tubuhnya merasa lelah, tetap saja sulit baginya untuk tertidur. Alhasil ia terjaga sepanjang malam dengan keadaan mata yang terpejam tapi tak berhasil masuk ke alam mimpi walau sedetik pun. A Mei tidur pulas di bawah, gadis pelayan itu bersikeras menolak untuk tidur satu ranjang dengannya. Meskipun Ye Lily tidak mempermasalahkan itu, tetap saja gadis pelayan itu cukup tahu diri dan batasan dengan nona mudanya. Hari sudah berganti lembaran baru, Ye Lily pun beranjak dari ranjang dengan satu semangat baru. Seporak porandanya kejadian tadi malam, nyatanya terlewati juga. Kini ada suntikan semangat baru yang membuat senyuman Ye Lily mengembang, setidaknya ia bisa menghilangkan kejemuhan sejenak dengan berangkat kuliah. Syukur syukur dapat bertemu dengan pria penolongnya kemarin. ‘Tian Lu... Apa aku bisa bertemu denganmu nanti? Hmm... apapun caranya aku harus mendapatkan informasi tentang dia.’ Seru Ye Lily mendadak begitu bersemangat hanya dengan membayangkan wajah pria yang baru dikenalnya kemarin. “Nona... anda sudah bangun?” Suara parau A Mei yang khas orang baru bangun tidur itu mengalihkan perhatian Ye Lily. Sontak Ye Lily menoleh ke belakang dan melihat A Mei agak kepayahan untuk bangun. Ia langsung menghampirinya, mencegah agar gadis itu tidak menyulitkan dirinya sendiri. “Aduh... Sakit sekali. Badanku terasa seperti remuk seluruh tulangnya.” Keluh A Mei sembari meringis, ia tidak menyangka akan sesakit itu badannya di keesokan hari. Yang terluka memang kakinya tetapi imbasnya terasa di sekujur tubuh. Ye Lily memegangi pundak A Mei, menahannya agar tidak beranjak dari sana. “A Mei, kamu istirahat saja sampai benar benar pulih.” “Tapi nona... mana mungkin aku membiarkan nona sendirian? Tidak... Aku harus bangun, aku masih kuat melayani nona.” Seru A Mei begitu keras kepala memaksakan dirinya padahal ia sudah mengukur kemampuannya yang tak bisa melaksanakan tugasnya dengan becus jika ia nekad menuruti kehendaknya. Ye Lily menggelengkan kepala, senyum manisnya mampu menenangkan hati A Mei yang bergelora. “Masalah itu tidak perlu kamu pikirkan. Kakak kedua pasti sudah menyiapkan pengganti sementaramu. Tenang saja, hanya sampai kamu benar benar pulih dan siap kembali bekerja untukku. Aku tidak akan mengganti posisimu dengan orang lain, sekalipun kerjanya becus.” Jawab Ye Lily mencoba meyakinkan A Mei, ia bisa menebak keresahan hati gadis pelayan itu yang cemas jika posisinya tergusur permanen jika sampai ada yang jauh lebih baik melayani Ye Lily. A Mei terdiam, matanya mulai berkaca kaca saking terharunya. Ia tak menyangka bahwa nonanya begitu mengerti akan dirinya. Tanpa perlu dikatakan saja, nona muda itu tahu apa yang ditakutkan A Mei. “Ah, baiklah kalau begitu nona. Saya bisa tenang sekarang. Terima kasih nona, saya sangat bersyukur bisa menjadi pelayan nona.” “Kembali istirahat saja, nanti tabib pasti datang memeriksamu lagi. Aku harus bersiap siap ke kampus, kita urus diri kita masing masing.” Ujar Ye Lily, ia pun bergegas membalikkan badan hendak melakukan aktivitas pribadi untuk membersihkan diri. A Mei tersenyum senang, “ Baiklah nona. Semoga hari anda menyenangkan.” Seru A Mei bersemangat. Ketika hendak melangkahkan kaki menuju kamar mandi, sebuah suara dari luar pintu menyita perhatian dua gadis di dalam kamar. “Surat perintah dari tuan besar untuk nona muda.” Ye Lily terkesiap, pagi pagi seperti ini justru tamu pertama yang mengunjunginya bukanlah kakak keduanya melainkan surat perintah dari ayahnya. Bahkan sejak kejadian kebakaran semalam, ayahnya belum datang melihat keadaan Ye Lily. Sekarang pria penguasa itu justru mengutus pengawalnya untuk menyampaikan perintah. Ye Lily belum tersadarkan dari lamunannya hingga suara A Mei terdengar. “Biar saya yang bukakan pintu untuk mereka nona.” Ujar A Mei berusaha bangun namun sayangnya ia gagal saat injakan pertama, tubuhnya malah lunglai dan tersungkur jatuh ke lantai. Ye Lily yang melihatnya langsung berlari menghampiri dan membantu A Mei duduk dengan posisi yang benar. “Jangan memaksakan diri, aku bisa melakukan itu sendiri. Kamu harus rebahan dengan posisi kaki yang lebih tinggi, ikuti saran tabib agar kakimu tidak semakin membengkak.” Perintah Ye Lily, kemudian ia bergegas menuju pintu, menyambut orang orang suruhan ayahnya yang entah datang untuk membawa perintah apa. Pintu terbuka, menampakkan satu pengawal ayahnya yang didampingi oleh kakak keduanya – Liam Ye. Melihat ada orang yang dikenalnya dengan baik ikut mendampingi orang suruhan ayahnya, Ye Lily merasa sedikit lega. Ia pun mengangguk hormat kepada pria muda yang disapanya kakak kedua itu. Ye Lily melebarkan daun pintu, ia berjalan masuk ke dalam kamar dan secara otomatis mengijinkan utusan tuan besar serta Liam Ye untuk masuk. Pengawal itu membungkuk hormat kepada Ye Lily sebelum menyatakan maksud kedatangannya. “Hormat kepada nona muda, saya datang membawa perintah dari tuan besar. Sehubungan dengan kejadian yang menimpa kediaman nona muda, maka tuan besar mengambil sikap untuk lebih melindungi keselamatan anda. Tuan besar memberi titah agar nona muda tidak beraktivitas keluar dari kediaman tuan muda kedua sampai batas waktu yang belum ditentukan.” Jelas pengawal itu dengan lantang. Ye Lily tercengang, keputusan ayahnya lagi lagi menjadi pukulan besar baginya. Ia disekap di dalam rumah, kebebasannya dikungkung layaknya tahanan. “Tidak! Aku harus masuk kuliah. Ini hari keduaku, aku tidak boleh bolos.” Tolak Ye Lily tegas. Air mukanya tampak serius, ia tidak main main dengan perlawanannya. ⚫⚫⚫⚫
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD