Siska berjalan cepat menyusul langkah teman-temannya menuju kantin.
Namun, langkahnya tertahan saat melihat Syifa sedang memegang ponsel dengan wajah memelas.
Siska memutuskan untuk diam sejenak, tanpa sengaja menguping percakapan itu.
"Halo, Kak? Kakak bisa kan ikut aku KKN? Penelitian ke desa horor gitu, Kak, buat bahan skripsi aku. Aku kan sebentar lagi lulus, Kak... plisss," rengek Syifa.
Siska samar-samar mendengar suara berat dan berwibawa dari balik telepon. "Bukannya sudah ada teman-temannmu, Syifa?"
"Iya Kak, emang. Tapi kita juga nggak ada kendaraan. Kalau nyewa kan lumayan ribet," Syifa terus merayu.
Jeda sejenak, hingga akhirnya Syifa berseru girang. "Oke! Kalau gitu kakak kabarin aja kapan berangkatnya nanti ke rumah, ya? Nanti aku kasih tahu lokasinya. Siap, Bos CEO! Hehe."
Siska yang mengintip dari jauh langsung membelalakkan mata. Hah? CEO? Batinnya terheran-heran.
Baru tahu dia kalau Syifa punya kakak seorang CEO. Atau itu cuma lawakan mereka saja? Siska tertawa kecil membayangkan seorang bos besar masuk ke hutan.
"DOR!" Siska menepuk bahu Syifa dari belakang.
"Ih, Siska! Bikin kaget aja deh!" Syifa mengusap dadanya sementara Siska tertawa terbahak-bahak.
"Hayo, habis telepon gebetan ya?" goda Siska.
"Ih, apa sih! Nggak ya, gue habis telepon abang gue. Kasih tahu dia biar ikut KKN kita," jawab Syifa.
"Bagus dong kalau gitu! Kita tinggal prepare aja. Yaudah, yuk samperin anak-anak yang lain. Gue lupa bilang lokasi desanya tadi," ajak Siska sambil menarik tangan Syifa.
Di meja kantin yang panjang, Siska mengumpulkan kelima sahabatnya. "Guys, guys, sini dulu duduk bentar. Ada yang penting."
"Ada apa, Sis?" tanya mereka serempak.
"Gue tadi lupa kasih tahu kalian soal lokasi desa yang bakal jadi bahan KKN kita nanti."
"Oiya ya, di mana, Sis?" tanya mereka penasaran.
Siska menarik napas panjang, menatap satu per satu mata sahabatnya. "Lokasinya ada di Hutan Alas Pati. Warga di sana menganggap hutan yang dulunya desa itu sudah jadi sarang kuntilanak."
Seketika, raut wajah ceria di meja itu lenyap. Semua muka berubah menjadi pucat pasi.
"Apa, Sis? Hutan Alas Pati? Lo serius kita bakal penelitian di sana?" salah satu dari mereka gemetar. "Nggak ada tempat yang lebih 'enak' gitu?"
"Iya, Sis," sahut yang lain menimpali.
"Menurut gue, yang dapet banget feel horornya cuma di situ," jawab Siska santai, menunjukkan keteguhan hatinya.
Syifa menelan ludah dengan susah payah. "Gue sering liat berita tentang Alas Pati, katanya banyak yang mati di sana, Sis. Lo yakin itu nggak ngebahayain kita?"
"huff Lagian ya, yang kalian lihat di berita atau di film-film itu cuma karangan produser nggak sih?" Siska menyandarkan punggungnya di kursi kantin sambil bersedekap.
"Secara, kita itu kan nggak tahu aslinya di sana gimana." ucap siska
Syifa menggeleng cepat, wajahnya masih pucat. "Ya emang sih, gue lihatnya kebanyakan di film. Tapi gue juga pernah riset sendiri, Sis! Emang bener kok banyak yang mati di sana. Bahkan orang-orang di sana kalau meninggal nggak dikubur, tapi ditaruh gitu aja di dalam rumah kayu."
Siska tertawa lepas mendengar penjelasan sahabatnya. "Haha! Fix sih, lo bener-bener korban film, Syif!" Siska mencondongkan tubuhnya ke tengah meja.
"Seperti yang gue bilang tadi, kita semua nggak ada yang tahu keadaan di sana, kan? Siapa tahu tempatnya sudah lebih 'ramai' atau nggak semengerikan yang orang bilang?"
Teman-temannya saling berpandangan, masih ragu. "Ya iya sih... tapi emang beneran nggak ada tempat yang lebih 'enak' gitu selain hutan?" keluh salah satu dari mereka.
Siska menyeringai jahil. "Ada? Tapi di rumah masing-masing mau?"
"Yeuuu! Siska ini masih aja bercanda, heran gue!" seru mereka hampir bebarengan, disambut gelak tawa Siska yang renyah.
"Lagian ya, kita nggak usah terlalu percaya riset Google, Gemini, atau apapun itu sebelum kita terjun langsung. Itu prinsip gue," tegas Siska sambil melipat tangan di d**a. Menurutnya, sebagai calon Arkeolog, data primer di lapangan jauh lebih berharga daripada sekadar artikel internet.
Syifa menatap Siska dalam-dalam, teringat sesuatu. "Katanya lo pernah mimpi ada di sana? Menurut mimpi lo, di sana keadaannya gimana, Sis?" tanya Syifa penasaran.
Siska terdiam sejenak, bayangan pekat dalam mimpinya melintas sekilas. "Ya, menurut gue di mimpi itu emang serem sih, tapi kurang jelas juga kan? Namanya juga mimpi.
Makanya gue harus terjun langsung buat mastiin kebenarannya," jawab Siska dengan nada yang lebih tenang namun penuh tekad.
"Gue yakin nggak akan kenapa-napa. Kita penelitian juga nggak perlu lama-lama. Sampai pagi, siangnya kita langsung pulang," bela Siska.
"Lo nggak takut kita kesasar apa, Sis? Namanya juga hutan, pasti luas banget!"
Siska tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana. "Ayolah, plis! Kalian nggak usah parno gini deh. Masalah takut kesasar kan kita bisa pakai penunjuk jalan, kompas, atau apapun itu. Kita ini Arkeolog!"
Syifa menghela napas panjang, menatap teman-temannya yang lain. "Yaudah, kita semua ikut aja deh, bener nggak?"
"Iya... tapi kalau ada apa-apa gimana, Sis?" tanya yang lain masih ragu.
"Semakin kalian mikir macem-macem, semakin takut. Udah, percaya sama gue, nggak bakal kenapa-napa!" tegas Siska meyakinkan.
Akhirnya, dengan berat hati mereka mengangguk. "Yaudah kalau gitu. Kalau bukan buat bahan kelulusan, gue sih ogah ya!"
⁷
Siska tertawa puas. "Yaudah kalau gitu kita harus semangat, oke guys?"
"Iya, Siskaaaa cantik!" jawab mereka bebarengan, disambut gelak tawa Siska yang memenuhi kantin.
Melihat keteguhan hati Siska, teman-temannya saling berpandangan. Rasa ragu itu perlahan tertutup oleh rasa solidaritas.
"Jadi gimana? Kalian siap?" tantang Siska sekali lagi.
"Yaudah, oke. Kita ikut lo aja, Sis," jawab mereka pasrah namun mulai merasa bersemangat.
"Gitu dong! Inget ya, besok kumpul di rumah Syifa. Jangan telat!" seru Siska penuh kemenangan.