Setelah diskusi yang cukup menegangkan di kantin, Siska dan teman-temannya kembali ke ruang kelas.
Suasana kelas masih terasa berat sampai Pak Dosen masuk dan berdiri di depan podium.
"Gimana? Kalian sudah memikirkan tentang skripsi dan penelitian yang tadi saya bilang?" tanya Pak Dosen sambil menatap seluruh isi kelas.
"Sudah, Pak!" jawab anak-anak serempak, meskipun sebagian besar menjawab dengan nada pasrah.
"Baik. Kalau begitu, kalian akan diberikan libur khusus mahasiswa semester delapan selama dua minggu untuk menyelesaikan skripsi KKN masing-masing," ucap dosen itu, yang disambut hembusan napas lega sekaligus tegang.
Pak Dosen melanjutkan penjelasannya dengan serius. "Pihak kampus memberikan kalian tugas KKN secara mandiri agar kalian terbiasa menyelesaikan masalah sendiri.
Kalian bebas jika ingin berkelompok, tapi di skripsi kalian tuliskan hasil penelitian sesuai kelompok kalian. Misal, penelitian di desa mana, tuliskan hasil kerja bersama, misalnya antara Syifa dan Siska."
Beliau memberikan penekanan penting, "Walaupun tempat penelitiannya sama, ingat ya, rangkuman dalam skripsi harus berbeda. Bahasanya jangan sampai sama persis. Kalian mengerti?"
"Mengerti, Pak!"
"Baik. Jika sudah, kalian bisa bersiap untuk pulang. Persiapkan bahan skripsi kalian mulai besok. Bapak dan pihak kampus memberi waktu libur selama dua minggu. Selama itu, kalian tetap mengerjakan tugas lain melalui sistem daring. Segera rapikan buku kalian dan pulang."
"Terima kasih, Pak!"
Sambil merapikan tasnya, Siska menyenggol lengan Syifa. "Syif, nanti jangan lupa bilang ke abang lo. Jangan telat kalau kita sudah pada kumpul."
Syifa tersenyum lebar sambil mengacungkan jempol. "Iya, tenang aja. Abang gue udah siap. Begitu gue kasih tahu, dia pasti langsung meluncur."
Tiba-tiba, teman-teman yang lain mengerumuni meja Siska. "Sis, sekarang aja deh lo bilang apa yang mesti dibawa, biar kita bisa langsung siap-siap."
Siska menatap mereka dengan tatapan jahil. "Wah, kalian ini semangat banget ya mau healing ke hutan?"
"Ih, Siska! Bener-bener lu ya, nggak ada serius-seriusnya!" keluh salah satu teman mereka yang sudah mulai panik dengan perlengkapan.
Siska tertawa lepas. "Seperti yang gue bilang tadi, nanti gue w******p kalian daftar apa aja yang harus dibawa. Karena sampai rumah, gue harus mikir dulu apa yang paling penting. Haha!"
"Sumpah, Sis! Awas lo ya kalau ngerjain kita," sahut yang lain sambil pura-pura kesal.
"Ya nggak mungkinlah gue ngerjain kalian, kan gue juga ikut di perjalanannya!" bela Siska sambil menyampirkan tas di pundak.
Syifa menengahi sambil menarik tasnya sendiri. "Yaudah, yaudah. Sekarang kita pulang, kelas udah pada bubar semua."
"Bye, Sis!" Syifa dan teman-temannya melambaikan tangan saat mereka keluar kelas.
"Bye, guys!" balas Siska.
Siska berjalan pulang sendirian. Di sepanjang jalan, pikirannya tidak tenang.
Meskipun di depan teman-temannya ia terlihat santai, otaknya terus berputar memikirkan segala kemungkinan.
Ia mulai menyusun daftar di kepalanya: kompas, senter, tenda, alat gali arkeologi, hingga jimat atau apapun yang mungkin bisa membantu mereka jika cerita tentang Hutan Alas Pati itu benar-benar nyata.
siska melempar tasnya ke atas kasur begitu sampai di kamar.
Kamarnya yang penuh dengan buku-buku sejarah dan peta tua terasa sedikit lebih sesak sore ini.
Ia segera meraih ponselnya, jemarinya dengan lincah membuka aplikasi whats app dan mencari kontak Syifa.
Siska: "Siap-siap ya, Syif! Besok nyali lo bakal diuji di sana. Jangan sampai nangis ya, haha!"
Tidak butuh waktu lama sampai ponselnya bergetar.
Syifa: "Ih, sorry ya! Gue nggak takut. Kan ada abang gue. Dia itu bodyguard paling oke sedunia!"
Siska tertawa kecil sambil merebahkan tubuhnya. Ia membayangkan sosok Arlan—sosok yang katanya syifa seorang CEO —mau blusukan di hutan.
Siska: "Cielah, abang terus yang dibanggain. Emangnya abang lo seberani itu? Jangan-jangan dia malah yang pertama minta balik kalau liat ulet bulu 🤣"
Syifa: "Ih, awas lo ya, Sis! Kalau besok lo yang ketakutan, gue tinggalin lo sendirian di tengah hutan biar jadi pengantin penunggu sana! Hahaha!"
Siska: "huhu Ih, jahat banget sih ngancemnya 😛"
Belum sempat Siska membalas lagi, grup w******p Yang Berisi Lima Teman nya sudah meledak dengan pesan dari anggota lainnya yang mulai panik.
"Woi, Sis! Besok apa aja nih yang mesti dibawa? Gue udah di depan toko outdoor nih, bingung mau beli apa."
Siska menggelengkan kepala. Teman-temannya ini memang terlalu bersemangat Padahal Katanya takut haha.
Siska: "Eyy, sabar! Kalian pengen banget ya cepet-cepet healing ke hutan? Pelan-pelan dong nanyanya."
"Sumpah ya, Sis! Lo ngeledek mulu dari tadi. Kita ini panik, ini Alas Pati lho, bukan ke mall"
Siska Tertawa"Lagian Siapa yang bilang si kita mau ke mall haha"
"Sumpahhhh yaaaa sisskaaaaa pesan panjang yang di kirim syifa, mungkin kesall membaca nya"
Siska menarik napas panjang, mengubah posisinya menjadi duduk tegak. Ia harus mulai serius karena keselamatan mereka ada di tangannya."oke oke kita serius nih" balas siska.
Siska: "Oke, Sebelum gue kasih tahu apa aja yang musti dibawa, kita bagi tugas dulu biar di sana nggak luntang-lantung. Gue dan Syifa fokus pada artefak dan penelitian situs. Kalian bertiga fokus pada struktur bangunan dan denah desanya. Oke?"
"Siaaap, Bos!" yang lain nya menjawab: "Iya, oke. Yang penting tugas gue jelas."
Siska: "Sip. Kalian bisa mulai penelitian sesuai tugas masing-masing yang udah gue bagi. Terus, buat perlengkapan kelompok: Besok kalau ada yang punya tenda, bawa ya. Buat persiapan aja."
Syifa: "Ih, bawa tenda? Lo mau camping di sana, Sis? Gue sih ogah tidur di tanah, nanti kalau ada yang ngerayap gimana? Hiiy!"
Siska: "Oiya buku tugas dan lain nya juga jangan sampai ketinggalan. Oke, sampai sini kalian paham? Besok kita ngumpul di rumah Syifa jam 4 pagi."
Semua Mengirim Pesan bebarengan" oke oke"
Siska baru saja merebahkan dirinya di kasur saat ponselnya bergetar. Sebuah pesan pribadi dari Syifa masuk.
Syifa: "Oiya Sis, tadi abang gue minta nomor lu. Katanya mau kasih saran buat persiapan besok."
Siska terkejut,"Hah? Lu kasih nomor gue ke abang lu?"
Syifa: "Iya, abis dia maksa. Katanya penting."
Siska: "Oh ya udah boleh... Emangnya dia mau kasih saran apa?"
Syifa: "Nggak tahu, nanti dia juga bakal chat atau telepon lu langsung kayaknya. Tunggu aja."
Siska: "Oh, ya udah kalau gitu."
"Halo?"
"Ini Arlan." Suara yang berat, dalam, dan sangat tenang terdengar di seberang sana. Siska spontan duduk tegak di pinggir kasur.
"O-oh, Kak Arlan? Dapat nomor gue dari Syifa?"
"Iya. Syifa bilang kamu suruh mereka bawa tenda?" Arlan terdengar mendengus dingin. "Kamu pikir tenda pramuka kalian bakal cukup kalau cuaca buruk di Alas Pati?"
Siska merasa kesal dan berbicara di dalam hati " apa si ni orang, tiba-tiba telfon marah2 sok tau lagi, meskipun Arlan tidak bisa melihat raut wajahnya saat ini.
Siska "Itu cuma buat jaga-jaga, Kak. Kita kan cuma mau riset, bukan mau menetap selamanya di sana."
"Saya sudah siapkan dua tenda military-grade dan semua logistik, meskipun kalian rencananya cuma sehari di sana. Besok jangan bawa barang-barang sampah yang nggak berguna," ucap Arlan tanpa basa-basi.
Siska mencoba membela diri. "Kak, gue udah bagi tugas ke teman-teman yang lain—"
"Tugas penelitian itu urusan kalian," potong Arlan cepat dengan nada yang sangat dominan.
"Tapi urusan keselamatan, itu urusan saya. Saya nggak mau dengar ada yang kelaparan atau kedinginan hanya karena pemimpin kelompoknya cuma mikirin artefak."
Siska terdiam seribu bahasa. Ada rasa kesal luar biasa karena merasa diremehkan. Sumpah ya, ini orang sok iye banget! gerutu Siska dalam hati.
"Iya, Kak Arlan yang paling tahu," sindir Siska pelan dengan nada sarkas.
"Panggil Arlan saja," sahut Arlan datar, seolah tidak peduli dengan sindiran Siska.
"Dan Siska... pastikan kamu pakai sepatu yang benar. Jangan pakai sneakers tipis. Nanti kalau kenapa-napa, nggak ada yang kuat menggendongmu."
Gendong? Wajah Siska mendadak terasa panas. Ia merasa tertantang.
"Siapa juga yang mau digendong! Gue kuat ya!" seru Siska tidak terima.
"Kita lihat besok. Tidur sekarang."
Klik.
Panggilan diputus sepihak. Siska menatap layar ponselnya"Bener-bener ya itu orang... sombongnya selangit!"
Siska menggerutu sambil menatap foto profil w******p Arlan yang sekilas terlihat sangat tampan dengan setelan jasnya. Ia benar-benar tidak menyangka Syifa punya kakak laki-laki se-nyebelin ini.
"Kita lihat besok, siapa yang bakal butuh digendong karena terpeleset," bisik Siska lirih sebelum akhirnya mematikan lampu kamar dan mencoba tidur.