Bab 4: CEO yang Menunggu

1036 Words
Ting! Ting! Ting! Suara notifikasi ponsel yang bertubi-tubi memecah keheningan kamar Siska pagi itu. getaran pesan singkat, suara dering telepon pun mulai bersahut-sautan, membuat suasana kamar yang awalnya tenang menjadi gaduh luar biasa. Siska, yang masih terbungkus rapat di dalam selimut tebalnya, mendadak tersentak. berusaha mengumpulkan nyawa yang masih tertinggal di alam mimpi. dan meraba-raba mencari ponsel nya, Begitu layar menyala, Siska hampir saja melompat dari tempat tidur. "Astaga! Sudah jam berapa ini?!" serunya panik. Melihat angka digital di ponselnya yang sudah menunjukkan pukul 08.00 pagi. Jantungnya serasa mau copot. Rencana awal adalah berkumpul jam 04.00 subuh, dan sekarang udah terlambat empat jam Siska segera membuka deretan notifikasi yang membanjiri layarnya. Syifa: "Sis, lo udah siap? Kita semua nungguin nih!" "Sis, lo udah jalan belum? Jangan bilang lo masih hibernasi ya? "Woi, Siska! Bangun,Jangan bikin kita lumutan di sini" Pesan-pesan itu terus mengalir tanpa henti. Namun, di antara puluhan pesan dari teman-temannya, ada satu nama yang membuat dahi Siska Terkejut. Arlan (CEO Nyebelin): "Siska, kamu ketua grup kan? Jangan bilang kamu begadang semalam makanya telat. Saya, Syifa, dan yang lain sudah menunggu kamu di sini. Cepat datang." Dan di bawah pesan itu, Arlan mengirimkan pesan "P P P P P" yang sangat banyak. Siska mendengus kesal sambil menyingkirkan selimutnya. "Ih, apalagi sih ini cowok? Pake acara spam chat segala. Gara-gara mikirin omongan dia semalam nih gue jadi susah tidur dan bangun kesiangan!" gerutunya sambil bergegas menyambar handuk. Sebelum lari ke kamar mandi, tangannya dengan lincah mengetik balasan di grup w******p. Siska: "Eh, sorry ya guys! Gue ketiduran parah. Sumpah, alarm gue nggak bunyi tadi. Tunggu gue ya, ini gue langsung siap-siap meluncur ke sana!" Sementara itu, di kediaman mewah Arlan dan syifa, suasana sudah mulai terasa membosankan. "Sumpah ya, kebiasaan banget itu anak," gerutu Syifa sambil mengipas-ngipas wajahnya dengan tangan. "Dia yang bikin janji jam empat subuh, eh jam delapan dia baru bangun. Benar-benar ratu karet!" "Gue sampai berdebu ini empat jam nungguin Siska doang," sahut yang lain sambil bersandar lesu. "Awas aja tuh anak kalau sampai sini. Gue ajak baku hantam beneran nanti, hahaha!" Arlan, yang sejak tadi berdiri tenang sambil bersandar di mobil SUV hitamnya, memperhatikan interaksi mereka. dia melipat kedua tangannya di depan d**a, menatap adik dan teman-temannya satu per satu. "Kalian kelihatan senang sekali ya 'perang' sama Siska? Dia itu ketua grup kalian, kan?" tanya Arlan. "Iya, Kak. Sumpah ya, dia itu orangnya nyebelin banget, nggak bisa diajak serius. Kerjaannya bercanda terus, tapi ya emang lucu sih, jadi kita nggak bisa benar-benar marah," jawab syifa sambil tertawa kecil. Mendengar itu, Arlan hanya tersenyum tipis—sangat tipis hingga hampir tidak terlihat. Ada rasa penasaran yang mulai muncul di benaknya tentang sosok gadis yang berani mematikan teleponnya semalam namun sekarang malah membuat satu tim menunggu berjam-jam. "Tapi ya, Kak," ucap syifa, Biar Siska nyebelin begitu, dia itu mahasiswi Arkeologi paling pintar di kampus kita. Jangan salah." Arlan mengangkat sebelah alisnya. "Oh ya?" "Iya, Kak! Banyak hasil penelitian dan karya-karya dia yang dipajang di mading kampus. Dia itu emang passion-nya di situ. Dia suka banget riset ke tempat-tempat horor, persis kayak lokasi yang sekarang mau kita kunjungin ini," ucap syifa. "Jadi... perjalanan ke desa ini idenya Siska?" tanya Arlan lagi. "Iya, Kak.," jawab mereka serentak. Arlan terdiam sejenak, menatap ke arah gerbang rumahnya. "Agak ekstrem sih ide Tempatnya." ucap arlan. Tak lama kemudian, Siska datang Naik ojol Siska Berlari dengan terengah-engah, menggendong tas kerilnya yang besar dengan susah payah. Rambutnya sedikit berantakan karena terburu-buru. "Sori... sori banget guys, gue te-te-lat..." ucap Siska terbata-bata karena ngos ngosan. Siska kemudian melirik ke arah Arlan yang sedang memperhatikannya dengan tatapan intens.Dan Bicara Dalam hati, Sumpah, ini cowok emang ganteng banget kalau dilihat langsung, tapi tetap aja nyebelin! Lihat mukanya yang sombong itu, idih, sok iye banget! "Sis! Siska! Woi!" Syifa melambaikan tangan di depan wajah Siska. "Eh, eh... iya? Apa?" Siska tersentak dari lamunannya. "Malah ngelamun lagi! Lu tuh janji jam berapa? Lihat nih, matahari udah di atas kepala!" Syifa menunjuk langit. "Iya, maaf... gue beneran ketiduran. Tadi gue bilang kan, alarm gue tiba-tiba nggak bunyi. Kayaknya hp gue error," Siska mencoba membela diri.. "Heleh! Alasan klasik itu mah, Sis!" sorak teman-temannya yang lain sambil tertawa. Melihat Siska yang sedang dirundung teman-temannya, Arlan akhirnya bergerak. Ia menegakkan tubuhnya dan mematikan ponsel yang sedari tadi ia pegang. "Sudah, jangan banyak bicara lagi. Kita sudah kehilangan banyak waktu," potong Arlan tegas, membuat semua orang seketika diam. Ia melirik Siska dingin. "Masuk ke mobil sekarang. Saya nggak mau sampai sana pas matahari sudah terbenam." "Ganteng-ganteng kok galak banget," bisik Siska pelan agar tidak terdengar Syifa. "Lo bilang apa, Sis?" tanya Syifa curiga. "Enggak! Gue bilang... ayo berangkat!" sahut Siska cepat-cepat sambil membetulkan posisi tasnya. SUV hitam itu pun keluar dari garasi, siap membawa mereka menuju kegelapan Hutan Alas Pati yang sudah menunggu. Setelah semua barang masuk ke bagasi, Syifa tiba-tiba menepuk pundak Siska, memberikan isyarat agar sahabatnya itu duduk di kursi depan, tepat di samping Arlan yang sudah bersiap mengemudi. Syifa "Sis, lo duduk di depan ya? Lu kan yang bawa petunjuk arahnya, pegang jam kompas dan peta juga kan?" tanya Syifa sambil mendorong pelan bahu Siska. Siska tersentak, "Ehhh? Nggak, nggak! Jangan gue dong, Syif!" tolaknya cepat. Membayangkan harus duduk berdua saja di barisan depan bersama pria kaku itu selama berjam-jam sudah cukup membuat Siska gerah. Namun, teman-temannya yang lain justru menimpali dengan kompak. "Udah, Siska! Biar abangnya Syifa nanti nggak ribet kalau semisal kita hilang sinyal di jalan. Lo kan yang paling paham petanya." Siska "Eh, hilang sinyal itu kan nanti kalau sudah masuk ke dalam hutan Desa Alas Pati. Nggak mungkinlah sepanjang perjalanan ini langsung hilang sinyal!" "Udah, ngikut aja kenapa sih, Sis? Ribet amat," ucap yang lain sambil tertawa dan mulai masuk ke kursi belakang, mengunci posisi mereka agar Siska tidak punya pilihan lain. "Ih, ya udah, ya udah!" Siska akhirnya menyerah dan masuk ke pintu depan dengan wajah ditekuk. Siska mulai ngedumel lagi dalam hati. Sumpah, males banget gue harus sedekat ini sama cowok sombong ini. Tapi... kalau dilihat-lihat dari samping, wajahnya bikin pengen dimiliki. Eh, apa sih?! Siska, sadar! Nggak kebayang kalau punya cowok kayak begini, sama orang lain aja berani marah-marah terus.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD