Bab 5 : Debat dan Tatapan Tak Sengaja

1023 Words
Begitu pintu tertutup, suasana di dalam mobil terasa sangat berbeda. Wangi parfum Arlan yang maskulin dan berkelas langsung menyerang indra penciumannya. Siska duduk dengan kaku, memeluk tas kecilnya erat-erat. Siska melirik Arlan dari sudut matanya yang masih fokus memundurkan mobil dari garasi. Gue rasa nih cowok juga nggak punya cewek. Mana ada cewek yang mau sama cowok kaku kayak kanebo kering begini, Siska tertawa mengejek di dalam hati. Aduh, lagian ngapain juga ya gue ngurusin hidup dia😂 Saat Siska sedang asyik ngedumel dan melamun sambil menatap ke luar jendela, suara Arlan tiba-tiba memecah lamunannya. "Sis? Sis... Siska?" Siska kaget, hampir saja ia menjatuhkan kompas dan peta di tangannya. "Ha? Ha, iya! Apa?" Arlan meliriknya sekilas dengan tatapan. "Kamu itu ngelamun ya?" "Nggak! Nggak... siapa yang ngelamun? Sok tahu banget sih," balas Siska sambil membuang muka, meski jantungnya berdegup kencang karena tertangkap basah. Arlan terlihat mengangkat satu alisnya, dan menatap siska ekspresi yang entah kenapa terlihat sangat menyebalkan sekaligus tampan di mata Siska. "Emang bener ya kata temen-temen kamu, kalau kamu itu nyebelin." Siska spontan melihat balik ke arah arlan. "Ih, apa sih?! Nggak kebalik apa? Situ kali yang nyebelin!" Mendengar itu, Syifa dan teman-temannya di kursi belakang langsung pecah dalam tawa. Suasana mobil yang tadinya tegang karena keterlambatan Siska mendadak jadi riuh. "Kak Arlan," ucap Syifa sambil menjulurkan kepalanya ke depan. "Udah deh, kalian jangan debat terus. Nanti kalau sering debat gitu, lama-lama jadi cinta lho!" "Cielah! Cie... cie... Siska sama Kak Arlan!" goda teman-temannya yang lain ikut menimpali. Wajah Siska seketika merah padam sampai ke telinga. "Ih, apaan sih Syifa! Ngaco aja lo!" Arlan tidak tertawa, tapi sudut bibirnya tampak sedikit tertarik—sebuah senyum tipis yang sangat tersembunyi. Ia kembali fokus pada jalanan di depan. "Siska, kamu itu petunjuk arah. Tolong jangan ngelamun. Nanti kalau kita nyasar rame-rame di hutan ini gimana?" "Ih, kalau ngomong itu jangan sembarangan! Lagian sinyal juga masih dapet kan di sini?" sahut Siska, mencoba mencari pembenaran. "Ya sudah, kalau begitu pakai itu seatbelt kamu. Ngelamun aja terus sampai lupa keamanan," ucap Arlan memerintah. Siska melirik Arlan dengan tatapan kesal. Ia menarik sabuk pengamannya dengan sentakan kasar. Namun, karena posisinya yang agak sulit, ia harus sedikit memutar tubuhnya ke arah Arlan untuk menarik pengunci sabuk. Mobil SUV hitam itu melaju membelah jalanan pinggiran kota yang mulai sepi. Di dalam kabin, suasana yang tadi riuh mendadak menjadi canggung bagi Siska. Tangannya terus menarik sabuk pengaman yang terasa keras dan macet. Berkali-kali ia mencoba menariknya, namun pengunci sabuk itu seolah enggan bekerja sama. "Ck, ini kenapa sih?" ucap Siska kesal. Tanpa aba-aba, Arlan tiba-tiba menginjak rem dengan cukup dalam hingga mobil berhenti mendadak di pinggir jalan. Tubuh semua orang di dalam mobil tersentak ke depan. ""Aduh! Kenapa sih, Kak?" tanya Syifa dari bangku belakang sambil memegangi jok. "Iya, kenapa berhenti mendadak begini, Kak?" tanya teman yang lain dengan wajah kaget.?" Arlan tidak langsung menjawab adik dan teman-temannya. Ia malah menoleh ke arah Siska dengan tatapan yang sulit diartikan. "Ini Siska dari tadi pasang seat belt aja susah banget," ucap Arlan datar namun terdengar tidak sabar. Siska yang merasa tersudut "Ih, lagian ngapain berhenti sih? Nyetir, nyetir aja!" serunya sambil terus sibuk menarik-narik sabuk pengaman yang macet. Tanpa diduga, Arlan tiba-tiba melepas sabuk pengamannya sendiri dan mencondongkan tubuhnya ke arah Siska. Ia mendekat, meraih ujung sabuk di samping bahu Siska, dan menariknya dengan satu sentakan tenang. Posisi itu membuat wajah Siska dan Arlan tepat berhadapan dalam jarak yang sangat dekat. Siska kaget dan menatap. Hembusan napas Arlan terasa sangat jelas di kulit wajahnya. Ditambah lagi aroma parfum yang khas dari tubuh Arlan menyengat indra penciumannya, membuat jantung Siska berdegup kencang tak karuan. "Cie... cieee!" Syifa dan teman-temannya di belakang spontan bersorak kompak melihat pemandangan di depan mereka. Sorakan itu membuat Arlan dan Siska tersadar. Keduanya langsung sama-sama mengedipkan mata, seolah baru saja terbangun dari sihir sesaat. Arlan segera memasangkan pengunci sabuk itu ke tempatnya. "Nih. Cuma kayak gini aja dari tadi ribet banget," ucap Arlan sambil kembali ke posisi duduknya seolah tidak terjadi apa-apa. "Apaan sih, bukan nggak bisa!" sahut Siska cepat, memalingkan wajahnya ke arah jendela. Di dalam hatinya, Siska sedang bicara dengan pikirannya sendiri. Sumpah, udah ngeselin lagi aja ini cowok! Tapi... hembusan napasnya tadi kok buat gue jadi suka ya? Siska menggelengkan kepalanya pelan. Ih, nggak, nggak! Suka lagi gue. Justru gue kesel banget sama ini cowok! Gara-gara dia, gue jadi nggak fokus. Masa iya gue salting? Nggak mungkin ah! Udah, gue harus fokus dan anggap aja ini cowok nyebelin nggak ada di samping gue. Tiba tiba yifa menepuk bahu Siska. "Sis?" "Ha? Apa?" jawab siska. "Gimana? Nggak sia-sia kan gue ajak abang gue? Ternyata selain bisa jaga gue, dia juga sekalian bisa isi hati lo," goda Syifa sambil tertawa lebar, disusul tawa teman-temannya yang lain. "Hah? Idih! Apaan sih, Syif? Gila kali ya !" Siska protes dengan wajah yang sudah semerah tomat. Arlan melirik Syifa dari spion tengah. "Syifa, kamu bisa ya mikir sampai isi hati orang segala? Jangan-jangan kamu pernah isi hati orang, ya?" tanya Arlan balik menggoda adiknya. Siska yang merasa mendapat pembelaan langsung menimpali, "Nah kan! Sukurin lo, Syif!" "Ada kok, Kak, isi hati aku. Kalau Kakak sendiri gimana? Punya seseorang nggak di isi hati Kakak?" tanya Syifa balik menantang. Arlan hanya menghela nafas. "Oh ya? Siapa orang yang menjadi isi hati kamu itu, Syifa?" "Yeeeuu... belum saatnya Kak Arlan tahu. Gimana kalau pertanyaan ini aku balik tanya ke Kakak?" ucap syifa Arlan terdiam sejenak, tatapannya menerawang ke jalanan di depan. "... Kakak nggak mikirin gitu-gitu, Syifa. Kakak cuma fokus kerja dan biayain kamu sampai jadi seperti Kakak. Kamu kan tanggung jawab Kakak sejak Ibu dan Ayah meninggal." Siska yang mendengarnya langsung terdiam. Hah, really kah? batin Siska. Ada rasa simpati yang tiba-tiba muncul saat tahu sisi lain Arlan yang ternyata memikul beban berat sebagai tulang punggung keluarga sendirian Salah satu teman Siska tiba-tiba mengggoda, "Syif, kalau abang lo ternyata jodohnya Siska gimana?" "Ya gue sih setuju-setuju aja kalau mereka emang saling cinta" jawab Syifa tertawa Siska kaget bukan main. "Heh! Apaan sih? Wah, fix ini sifat gue nular ke kalian ya!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD