Part 1

3155 Words
Eliza berjalan dengan senyum merekah diwajahnya yang tak pernah pudar sejak turun dari panggung yang berdiri megah di lapangan kampusnya, acara wisuda yang masih berjalan, ia berjalan menghampiri keluarganya yang menunggunya, banyak buket bunga ditangannya yang sulit ia bawa, ucapan selamat yang mengalir terus, ia telah menyelesaikan S2 nya dengan sangat cepat, semua perjuangannya selama ini sudah terbayarkan, Eliza sangat bersyukur dan bahagia memiliki keluarga yang selalu mensuportnya dalam pendidikan.   “Kak iza selamat yaaa” ucap Syafa adik Eliza yang masih SMA, ia memeluk kakaknya dengan penuh bangga.   “Makasih ya adikku tersayanggggg” ucap Eliza.   “Abahhhhh” ucap Eliza memeluk sang Ayah yang sedaritadi begitu memperhatikan anaknya yang begitu anggun.   “Eliza, anak abahh, selamat ya nakk” ucap sang ayah, ia sangat menyayangi putri sulungnya tersebut.   “Makasih Abah, makasih banyak buat semua doa Abahh untuk Izaa” ucap Eliza.   “Selamat yahh anak Umi” ucap sang Ibu menyambut pelukan hangat Eliza, ia tak mampu membendung airmatanya, masih tak menyangka anaknya sudah dewasa.   “Makasih Umiiiii” ucap Eliza, ia tak hentinya mengucap syukur kepada Allah yang sudah melancarkan segalanya.   Eliza pamit sementara kepada keluarganya untuk menghampiri teman – temannya, untuk mengucapkan selamat sekaligus salam perpisahan, karena setelah ini ia akan pulang ke kampung halamannya sesuai dengan permintaan orangtuanya, ia mengabadikan banyak foto untuk ia kenang nantinya.   “Elizaaa selamat yaahhhh” ucap Ririn sahabat Eliza.   “Makasih banyak Rin, kamu juga selamat yahhh” ucap Eliza memeluk Ririn, tak terasa beberapa tahun menimba ilmu bersama, mereka akan berpisah sebentar lagi.   “Jangan lupain aku ya Zaa, kapan aku main ke Jogja kamu harus nemuin aku” ucap Ririn menghapus airmatanya, ia tahu bahwa hari ini juga Eliza akan pulang ke kampung halamannya dengan keluarganya, rasa sedih yang tak bisa ia bendung membuatnya menangis tak hentinya, baginya Eliza adalah sosok yang begitu berarti untuknya, ia tak hanya menjadi sahabat untuk Ririn, namun juga bisa menjadi kakak untuk dirinya.   “Inshaa Allah Rin, aku ga akan lupain kamu, jika atas izin Allah, kita pasti akan bertemu lagi” ucap Eliza membuat Ririn semakin sedih, semua kata nasihat yang Eliza berikan untuknya selalu membuat hatinya luluh.   “Jaga diri kamu baik baik ya, ingat pesanku, jangan pernah kamu lepaskan lagi hijab yang sudah kamu kenakan ini” ucap Eliza, ia mengingat kembali saat pertama ia bertemu dengan Ririn yang masih membuka auratnya, keadaan keluarga Ririn yang berantakan membuatnya salah pergaulan, namun Eliza bisa membantu Ririn menuju jalan yang benar, ia sangat berharap Ririn bisa selamanya seperti sekarang yang sudah banyak berubah.   “Inshaa Allah Za, makasih banyak, ini semua berkat kamu, aku ga tau kalo dulu ga ketemu kamu Za” ucap Ririn.   “Semua itu sudah takdir Allah Rin” ucap Eliza tersenyum, ia pun merasakan sedih yang mendalam.   ***   Eliza berjalan keluar kost nya yang sudah beberapa tahun ia tempati selama menempuh pendidikan, membawa kopernya keluar dari rumah yang dipenuhi kenangan bersama sahabat – sahabatnya yang begitu baik, menatap kembali rumah yang dipenuhi kenangan manis. Setelah pamit dengan ibu kostnya yang sudah ia anggap seperti ibunya dan juga teman – teman satu kostnya.   “Aku pamit ya Rinnn” ucap Eliza memeluk erat Ririn.   “Maafin aku kalo banyak salah ke kamu Zaaa, aku sedih banget kamu pergi” ucap Ririn yang tak lagi mampu menahan airmatanya seperti saat di kampus tadi.   “Insya Allah kita akan bertemu lagi, suatu hari nanti Rin, dan kamu pasti bakalan nemuin temen baru nanti ditempat kerja kamu, jangan sedih” ucap Eliza, ia sendiri pun merasakan kesedihan yang begitu mendalam.   Mereka saling melepaskan pelukan, Ririn pun memberi salam kepada orangtua Eliza, ia ikhlas melepaskan kepergian Eliza dan berjanji akan menemui Eliza di kampung halamannya suatu hari nanti, ia pun merasakan betapa bahagianya mempunyai keluarga utuh seperti Eliza, tidak seperti dirinya yang sedari dibesarkan oleh kakaknya yang sekarang sudah tiada.   “Zaa, kamu sudah punya planning akan melamar pekerjaan dimana?” tanya Imron abah Eliza.     “Sudah Bahh, kemarin temen sekolah Eliza nawarin untuk menjadi dosen ditempat dia juga mengajar di Universitas itu, dia bilang sedang membutuhkan dosen tetap” ucap Eliza.   “Universitas mana?” tanya Imron.   ‘Universitas Negri Jogja Bahh” ucap Eliza.   “Wahhh bagus itu, tadinya Abah mau nawarin kamu ngajar di salah satu pesantren milik temen Abahh, kalo kamu mau” ucap Imron.   “Insya Allah nanti Eliza coba Bahh” ucap Eliza.   “Seminggu yang lalu, ada seseorang yang ingin mengkhitbah kamu Za” ucap Siti Hawa sang ibu.   “Siapa mi?” tanya Eliza kaget, selama ia pergi untuk kuliah baru kali ini orangtuanya mengatakan bahwa ada pria yang ingin mengkhitbahnya.   “Kalau kamu tidak keberatan, Abah dan umi akan mengundangnya kerumah” ucap Siti Hawa, Eliza terdiam dan berfikir sejenak, selama ini dia ingin sekali menikah dengan seorang pria pilihannya sendiri, ingin sekali ia merasakan jatuh cinta seperti kebanyakan orang, namun hingga saat ini ia tak pernah merasakan jatuh hati kepada seseorang, padahal di kampusnya tak sedikit yang ingin memikat hatinya melalui teman – temannya, bahkan melalui sahabatnya Ririn, namun entah mengapa ia belum bisa menerima mereka.   “Bukannya Eliza menolak Mi, tapi sejujurnya Eliza belum ingin memikirkan hal itu, maafin Eliza, jika Abah berkenan tolong sampaikan kepada pemuda itu untuk tidak menunggu Eliza, takutnya ia tak sanggup jika ingin menunggu Eliza” ucap Eliza lembut, ia tak ingin menyakiti hati pria itu, tak ingin juga menyakiti hati orangtuanya. Imron dan Siti Hawa pun hanya saling tatap, mereka berdua tau bahwa keinginan Eliza selalu kuat, mereka tak bisa memaksa namun mereka juga tak ingin diam saja, mereka juga sudah menginginkan Eliza untuk menikah, kenyataannya sudah banyak pria yang datang kerumah hanya untuk ta’aruf dengan Eliza dan mereka selalu mengatakan bahwa Eliza masih ingin menempuh pendidikan, dan baru sekarang mereka mengatakan pada Eliza hanya ingin mendapatkan jawaban seperti apa yang diinginkan oleh anak mereka.   “Yasudah tidak apa - apa jika kamu memang belum siap, Abah dan Umi tidak memaksa, apapun yang ingin kamu lakukan asalkan itu masih dijalan Allah, Insya Allah doa Abah dan Umi selalu menyertaimu nak” ucap Siti Hawa tersenyum. Eliza hanya diam dan menatap keluar jendela mobil yang sedang menempuh perjalanan itu, fikirannya beralih jauh entah kemana, ia selalu berdoa dan berharap suatu hari nanti Allah membuatnya jatuh hati kepada seorang pria yang juga jatuh hati kepadanya tanpa melihat kelebihan ataupun kekurangan yang dimilikinya. *** Eliza masuk ke kamarnya dan merapikan semua barang – barangnya yana ia bawa dari Jakarta, ia melihat semua detail kamarnya yang tidak pernah berubah sejak ia meninggalkan kamar itu untuk pertama kalinya, ia begitu merindukan semuanya.   “Kak Za” Eliza menoleh, melihat Sfaya dipintu kamarnya, Eliza tersenyum dan menyuruh adiknya masuk.   “Masuk Fa” ucap Eliza, Syafa masuk dan duduk dipinggir tempat tidur Eliza, ia memperhatikan sang kakak merapikan setiap bajunya dan memasukkan ke dalam lemari.   “Besok kakak ada rencana pergi gak?” tanya Syafa.   “Belum ada Fa, cuma kemarin janjian sama temen kakak mau ketemuan buat bahas kerjaan, tapi belum pasti jadi atau engga, emang kenapa?” ucap Eliza.   “Syafa mau minta temenin kakak cari buku, sekalian jalan – jalan, udah lama banget Syafa ga pergi keluar” ucap Syafa, Eliza paham akan keadaan sang Ayah yang terlalu sibuk, begitupun sang ibu.   “Yasudah besok kita pergi ya, kalo pun besok kakak jadi ketemu temen kakak, bareng kamu aja sekalian” ucap Eliza tersenyum, Syafa yang begitu merindukan Eliza pun tersenyum bahagia.   “Makasihhh ya kak, Syafa kangen banget tauuu” ucap Syafa memeluk perut Eliza, Eliza tersenyum melihat tingkah Syafa yang tidak pernah berubah.   “Kakak juga rindu kalian” ucap Eliza.   “Ehmmm jadi gimana dengan pria yang ingin melamar kak Za?” tanya Syafa.   “Kakak belum ingin memikirkan itu Fa, entahlah, mungkin untuk saat ini belum” ucap Eliza.   “Padahal kalo umur Syafa udah seperti kakak, Syafa mau sama laki – laki itu” ucap Syafa merebahkan tubuhnya, ia mengingat kembali bagaimana seorang pria datang kerumahnya hanya untuk melamar sang kakak yang belum pernah bertemu sekalipun.   “Memangnya ada apa dengan pria itu?” tanya Eliza.   “Huhhhhh susah jelasinnya, yang pasti dialah laki – laki yang suatu saat Syafa inginkan untuk jadi suami Syafa” ucap Syafa membuat Eliza tertawa geli, bagaimana mungkin siswi SMA seperti Syafa sudah memikirkan pernikahan sedangkan dirinya masih ingin menikmati hidupnya.   “Terus kenapa ga kamu minta ke abah kalo kamu yang mau sama pria itu” ucap Eliza sambil tertawa, dan terus merapikan semua barang – barangnya.   “Syafa kan masih sekolah, lagian kakak tau sendiri abah gimana, kalo kakak ketemu laki – laki itu, Syafa yakin kakak pasti bakalan suka” ucap Syafa membuat Eliza terdiam, akankah hal itu terjadi fikirnya.   “Sebenarnya ada seseorang yang kakak fikirin” ucap Eliza mengingat kembali kejadian beberapa bulan lalu.   “Seriusan kak, siapa? Seperti apa rupanya?” tanya Syafa antusias.   “Eliza ya?” sapa seseorang menghampirinya, Eliza melihat pria itu berdiri didepannya dengan mengenakan pakaian biasa, memegang sebuah tas dan juga buku ditangannya yang ia fikir pria itu  adalah seorang mahasiswa. “Iya benar” ucap Eliza dengan nada bingung.   “Ohh benar dugaan saya, saya Jonathan teman Ririn, dia nitip buku ini untuk kamu” ucap pria tersebut, Eliza dengan perasaan bingung menerima buku dari pria tersebut dengan memandangi buku yang baru saja ia ingat, itu adalah titipan Eliza pada Ririn yang sedang berada di kota Malang.   “Iya saya ingat, Ririn kemana?” tanya Eliza.   “Ririn belum bisa pulang, masih ada urusan di Malang, saya teman sekolahnya dan kebetulan kemarin ketemu di Malang dan memang ada urusan di sini, jadi Ririn menitipkan ini pada saya” ucap Jonathan, Eliza tersentak dari lamunannya tatkala memandangi wajah pria tersebut bicara, ia pun segera mengucap istighfar.   “Terima Kasih sudah repot untuk mengantarkan buku ini pada saya” ucap Eliza salah tingkah, Jonathan menatap lucu wajah gadis didepannya.   “Tak apa, sama sekali tidak merepotkan untuk saya” ucap Jonathan.   “Dan kalau begitu saya permisi dulu, masih ada urusan” ucap Jonathan.   “Ehh maaf saya lupa nyuruh kamu duduk” ucap Eliza semakin salah tingkah, ia bahkan sampai lupa menyuruh pria itu untuk duduk atau sekedar menawarkan untuk minum.   “Tidak apa apa, lain kali saja” ucap Jonathan tersenyum.   “Baiklah, sekali lagi terima kasih” ucap Eliza berdiri, Jonathan pergi dengan senyuman diwajahnya, belum pernah ia bertemu seorang wanita lucu seperti Eliza.   Eliza kembali duduk dan mengamati Jonathan yang semakin menghilang dari pandangannya, ia pun kembali merutuki kebodohannya, pandangannya teralihkan saat Eliza mendengar HP nya berdering, Eliza melihat panggilan masuk dari Ririn.   “Assalamualaikum Rin” ucap Eliza.   “Waalaikumsalam Zaa, gimana udah dapet titipan aku dari Jo belum?” tanya Ririn, Eliza menghela nafas.   “Ya Ampun Rin, kenapa harus dititipin ke orang sih? Aku kan jadi ga enak, lagian aku udah bilang bakal nunggu sampe kamu balik” ucap Eliza kesal.   “Aku belum tau kapan balik Za, lagian kali aja kamu butuh banget buku itu, sekalian juga temen baik aku kebetulan lagi ada urusan ke Jakarta, jadi yaudah aku nitipin dia dan maaf ya Za aku kasih foto kamu ke dia biar dia ga kerepotan nyariin kamu” Eliza menepuk dahinya pelan mendengar semua penjelasan Ririn, ia tak tahu lagi harus bicara apa kalau sahabatnya itu sudah bicara panjang lebar.   “Ehh iya, btw Jonathan ganteng ga?” tanya Ririn.   “Maksud kamuuu?” ucap Eliza yang sudah mengerti arah pembicaraan Ririn, ia pun mengingat kembali pertemuannya tadi dengan Jonathan.   “Yaa kali aja” ucap Ririn pelan.   “Rinnnnnnn” ucap Eliza yang membuat Ririn tertawa.   “Hehehe, iya dehhhh Zaa, becanda, aku tau kok, dia juga seorang Nasrani, ga mungkin lah kamu suka apalagi sampe nikah sama kamu” ucap Ririn yang membuat Eliza terdiiam, ia sendiri baru sadar bahwa pria yang baru bertemu dengannya tadi seorang nasrani.   “Yasudah ga apa apa Rin, kalo gitu aku mau balik dulu ya, udah sore juga” ucap Eliza.   “Baik Zaa, Assalamualaikumm” “Waalaikumsalam” ucap Eliza menutup telfon Ririn.   “Kakkkkk Izaaa” ucap Syafa sembari menggoyangkan tubuh Eliza yang sedari tadi melamun.   “Haaa kenapa Faa?” ucap Eliza kaget.   “Astaghfirullah” ucap Eliza kembali.   “Kakak ditanyain malah ngelamun, ngelamunin laki-laki itu ya kak?” tanya Syafa antusias.   “Apaan sihh Faa, engga kok, lagian kakak baru ketemu sekali, itu juga udah lama banget, Cuma kepikiran aja kok, ga lebih” ucap Eliza salah tingkah, sejujurnya ia sendiri selalu memikirkan pria itu, ia sendiri pun tidak tahu kenapa, ingin rasanya mencari tahu tentang pria itu namun ia malu akan dirinya yang seorang muslimah jika harus dirinya yang tergila gila akan seorang pria.   ***   “Farahhh” ucap Eliza menghampiri seorang wanita yang dikenalnya sejak SMA, seorang teman yang tidak begitu dekat namun tak pernah lelah untuk saling berkabar, ia juga seseorang yang beberapa waktu lalu ingin memberikan Eliza pekerjaan, mengajar disalah satu kampus sebagai seorang dosen.   “Elizaa, ya ampunn kamu ga berubah yaa” ucap Farah memeluk Eliza, ia senang bisa bertemu lagi dengan teman lamanya itu, seseorang yang ia sendiri sangat mengagumi sosok Eliza.   “Memangnya aku harus berubah seperti apa Faa?” tanya Eliza, mereka pun tertawa bersama.   “Ehh iya silahkan duduk, ini adik kamu Za?” tanya Farah melihat Syafa yang sama cantiknya dengan sang kakak.   “ Iya ini Syafa adik aku” ucap Eliza, mereka pun berbincang dengan begitu asik mengenang semua masa masa saat masih sekolah.   “Ohh ya kemarin aku sempat ketemu sama anaknya pak kyai Abdullah” ucap Farah membuat Eliza bingung.   “Siapa?” tanya Eliza   “Kamu lupa Za? Santri yang dulu pernah ngirim surat ke Fikri yang sekarang jadi suami aku buat dititipin ke kamu” ucap Farah, Eliza kembali mengingat masa itu namun ia masih saja tidak mengingat kejadian itu.   “Aku ga inget Faa” ucap Eliza   “Kak Eliza emang suka gitu kak Farah, kalo urusan laki mahh kak Eliza suka lupa ingatan, coba nanyain soal pelajaran pasti masih inget tuhh” ucap Syafa membuat Farah tertawa.   “Syafaaaa, ga gitu juga kali” ucap Eliza malu.   “Sebenernya aku juga udah lupa Za, tapi pas kebetulan aja kemarin aku ke restoran dan ternyata anak pak kyai itu pemiliknya sekaligus dia juga yang mengelola, dan dulu itu seinget aku Fikri pernah cerita kalo pria itu suka sama kamu, terus nitipin surat ke Fikri buat dikasih ke kamu tapi kamunya malah nolak dan buang surat itu” ucap Farah yang membuat Eliza menghela nafas, ia baru saja ingat kejadian itu dimana hal itu membuatnya disorakin oleh teman sekelasnya yang membuatnya malu dan membuang surat itu.   “Astaghfirullah aku baru inget Fa, karna satu kelas nyorakin aku makanya aku buang itu surat” ucap Eliza tertawa.   “Tuh kan kamu sihhhh, tapi pria itu masih single kok Zaaa” ucap Farah menggoda Eliza yang membuatnya tersipu malu.   “Apaan sih Fa, udah ah gausah dibahas lagi” ucap Eliza, Farah hanya tertawa melihat Eliza yang masih saja dingin jika membahas soal pria.   “Ohh ya ini surat lamaran kerja aku udah lengkap, sekalian tadi aku bawa” ucap Eliza menyerahkan map coklat yang isinya surat lamaran kerja lengkap sesuai yang diminta oleh Farah.   “Aku cek dulu yahh, besok kalo aku telfon buat dateng ke kampus bisa kan Zaa?” tanya Farah.   “Insha Allah bisa Fa” Farah mengangguk dan melanjutkan melihat berkas Eliza.   Pandangan Eliza tertuju pada sosok yang sepertinya pernah dilihatnya, pria itu adalah Jonathan yang sedari tadi juga sudah memperhatikan Eliza dari jauh, Eliza kaget manakala tatapan mereka saling tertuju, jantung Eliza berdetak begitu cepatnya, ia pun segera mengalihkan pandangannya kearah lain.   “Sayangg, sayangggg, sayanggggg”   “Ehhhhh iya kenapa” ucap Jonathan yang kaget lengannya digoncangkan oleh Laura, seorang wanita yang baru dikenalnya sekaligus begitu menyukainya   “Kamu ngelamunin apa sih?” tanya Laura kesal, ia selalu merasa cemburu ketika ada wanita lain yang selalu saja ingin menarik perhatian Jonathan.   “Engga kok, tadi aku kaya liat temen aku, ternyata bukan” ucap Jonathan berbohong, nyatanya ia masih saja memperhatikan Eiza dari kejauhan, wanita yang pernah ia temui di Jakarta dulu, sosok wanita yang masih saja terus hinggap di pikirannya.   “Cewek?” tanya Laura kesal.   “Engga kok sayang” ucap Jonathan, sejujurnya ia sudah bosan dengan tingkah laku Laura yang setiap detik selalu mengawasinya, ia sendiri pun bingung dengan perasaannya yang sulit sekali serius dengan seorang wanita.   Laura masih memasang wajah yang cemberut dan kesal dengan Jonathan yang tidak pernah menunjukkan kasih sayangnya semenjak mereka jadian beberapa minggu yang lalu, ia selalu merasa bahwa Jonathan selalu berbeda dengan pria lain namun nyatanya sama saja.   “Aku mau ke toilet sebentar ya” ucap Jonathan yang langsung berdiri dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan Laura yang baru saja ingin bicara.   “Dasar buaya” ucap Laura kesal.   “Permisiii, Eliza” panggil Jonathan, ia mengikuti Eliza yang menuju kearah toilet dan menunggunya didepan pintu toilet wanita, Eliza pun kaget melihat pria itu berdiri didepannya.   “Kamu masih inget aku? Jonathan teman Ririn, waktu itu kita ketemu di Jakarta” ucap Jonathan menjelaskan.   “Ada apa?” tanya Eliza, ia gugup dan ingin sekali pergi dari keadaan canggung itu, ia pikir pria itu sudah melupakannya ternyata ia salah.   “Ohh tidak apa apa, aku pikir salah orang, hanya ingin memastikan bahwa itu kamu” ucap Jonathan yang semakin membuat jantung Eliza berdetak sangat cepat.   “Maaf saya harus pergi, permisi” ucap Eliza meninggalkan Jonathan yang masih mematung ditempatnya, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, merutuki kebodohannya kenapa harus mengikuti wanita itu sampai disini.   Laura menatap kesal dengan apa yang dilihatnya barusan, kecurigaannya sejak tadi terbukti bahwa Jonathan sedang memperhatikan wanita lain yang membuat rasa cemburunya semakin menjadi, ia tak pernah melihat tatapan Jonathan seperti itu terhadap wanita lain, dan apa yang ia lihat sekarang sangat jauh berbeda dengan biasanya, seorang wanita berhijab yang mampu mengalihkan Jonathan, ia pun segera mengingat jelas wanita berhijab itu diingatannya manakala suatu hari wanita itu yang akan menghancurkan hubungannya dengan Jonathan.   “Fa maaf ya, kayanya aku harus balik” ucap Eliza yang merasa tidak enak.   “Kak Iza sakit? Kok pucat mukanya?” tanya Syafa.   “Engga tau tiba tiba ga enak aja” ucap Eliza yang sebenarnya juga tidakk tahu dengan keadaannya sendiri, semenjak bertemu dengan pria itu fikirannya kacau entah kemana.   “Yasudah engga apa kok Za, Fikri juga udah jemput aku didepan kok” ucap Farah.   “Maaf ya Fa, aku jadi ga enak” ucap Eliza.   “Tak apa Za, besok kita ketemu di kampus ya” ucap Farah.   “Inshaa Allah Fa, makasih banyak ya udah mau bantu” ucap Eliza sembari mereka berjalan menuju tempat parkir.   “Sama sama Za” ucap Farah, ia pun pamitan karena melihat Fikri sudah membunyikan klakson mobilnya.   “Aku duluan ya, Assalamualaikum” ucap Farah   “Waalaikumsalam, hati hati Fa” ucap Eliza dan Syafa.    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD