Part 2

1531 Words
“Gimana Za?” tanya Farah saat melihat Eliza baru saja keluar dari ruangan rektor kampus, sejak jam 7 pagi tadi Eliza sudah datang ke Universitas Negri Jogja karena sebelumnya Farah yang menyuruhnya untuk datang lebih awal.   “Alhamdulillah diterima Faa” ucap Eliza dengan wajah berbinar, tak lupa ia juga mengucap syukur tanpa henti karena ini adalah impiannya sejak lama, bisa membagikan ilmunya kepada banyak orang.   “Mashaa Allah, Alhamdulillah, selamat ya Zaa, aku seneng banget dengernya” ucap Farah memeluk Eliza.   “Makasih banyak Fa, berkat kamu juga” ucap Eliza.   “Hehe iya dongg, Farahhhhhh” ucap Farah dengan sedikit centil membuat keduanya tertawa.   “Ohh ya kamu sibuk Fa?” tanya Eliza   “Engga kok Za, kenapa? Mau keliling kampus?” tanya Farah yang sudah mengerti maksud Eliza, Eliza pun langsung menganggukkan kepalanya, Farah memberitahukan detail kampus kepada Eliza yang mungkin nantinya mereka akan jarang bertemu, Eliza juga tahu bahwa Farah alumni dari kampus ini jadi Farah pasti tahu betul bagaimana kampus ini fikir Eliza.   “Nahhh ini tempat favorit semua mahasiswa, kantinn” ucap Farah membuat Eliza tertawa.   “Duduk dulu yuk, aku capek” ucap Eliza.   “Aku pesen minum dulu ya” ucap Farah.   Eliza melihat sekitar kampus sembari menunggu Farah kembali, ia melihat banyak sekali orang lalu lalang disana, pandangannya pun tertuju pada seseorang yang sepertinya tidak asing, duduk bersama beberapa orang teman pria dan juga wanita, terlihat begitu akrab saat mengobrol.   “Namanya Jonathan, ketua geng tersebut, mahasiswa tingkat akhir yang sepertinya tidak ingin lulus” ucap Farah sembari memberikan minuman kepada Eliza yang sedari tadi begitu memperhatikan perkumpulan yang tak jauh dari mereka, Farah memaklumi Eliza yang mungkin baru saja melihat Jonathan, wanita mana yang tidak jatuh hati saat pertama kali melihat pria tampan satu itu..   “Kamu menyukainya Za?” tanya Farah yang membuat Eliza kaget.   “Farahhh apaan ihh” ucap Eliza malu.   “Haha, soalnya dari tadi aku perhatikan kamu ngeliatinnya serius banget” ucap Farah.   “Engga semudah itu Faa, memangnya salah kalo aku ngeliat laki-laki?” ucap Eliza.   “Ya engga sih, lagian wajar juga sih kalo kamu suka sama dia, bahkan semua mahasiswi dikampus ini pada tergila-gila sama Jo, ganteng, pengusaha, masih muda, sayangnya sih dia Nonmuslim” ucap Farah.   “Memangnya ada yang salah dengan nonmuslim?” tanya Eliza bingung dengan ucapa Farah.   “Ya engga sih, yang bikin salah kalo kamu sampe suka sama dia, itu yang salah, ditambah lagi dia terkenal laki-laki playboy di kampus ini, aku cuma mau bilang kamu hati-hati aja” ucap Farah, Eliza masih tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Farah tentang sosok pria itu terkenal playboy.   “In Syaa Allah aku bakalan jaga diri dengan baik kok Fa, gausah takut” ucap Eliza tersenyum, mereka pun melanjutkan obrolan mereka, sementara dari kejauhan Jonathan sudah memperhatikan Eliza sejak awal ia duduk di tempat itu.   “Alhamdulillah kalo gitu, btw kamu emang belum kepikiran buat nikah Za?” tanya Farah penasaran, ia hanya berfikir bahwa usia Eliza sudah cukup untuk menikah, ditambah ia juga melihat teman sekolah mereka dulu sudah pada menikah.   “Sebenernya Abah udah punya calon buat dikenalin aku, sempat juga beberapa kali mengkhitbahku saat aku masih kuliah, tapi entah kenapa hati aku belum bisa menerima itu Fa, entahlah akupun tidak tahu kenapa, rasanya aneh jika aku menikah saat aku tidak tahu siapa yang akan ku nikahi dan hati ku belum mencintainya” ucap Eliza, ia bahkan setiap malam memohon kepada allah untuk diberikan pendamping yang terbaik menurut-Nya, ia juga selalu memikirkan nasehat Abahnya yang selalu ingin mengenalkannya dengan seorang pria.   “Terkadang yang baik menurut kita belum tentu baik menurut Allah, tapi In Syaa Allah ridha orangtua adalah ridha Allah Za” ucap Farah. Ia paham sekali apa yang dirasakan Eliza.   “Memangnya selama kamu kuliah di Jakarta, tidak ada satupun pria yang menarik perhatianmu Za?” tanya Farah penasaran, sedikit yang ia tahu bahwa pria di Jakarta sangat banyak yang tampan dan mapan.   “Yang tampan dan mapan banyak Fa, namun aku tidak begitu menginginkan itu, tidak semua yang tampan dan mapan itu memiliki iman yang baik” ucap Eliza, Farah pun mengerti maksud Eliza.   “Aku doakan semoga jodoh yang terbaik akan datang padamu” ucap Farah membuat Eliza tersenyum.   “Aamiin” ucap Eliza.   “Yaudah kita balik yuk, banyak yang harus kamu persiapkan untuk besok kan?” ucap Farah.   “Iya Fa, deg-deg an aku sebenernya” ucap Eliza, mereka pun berjalan dan meninggalkan tempat itu.   “Baca bismlillah sebelum memulai besok” ucap Farah yang dijawab anggukan oleh Eliza.   ***   “Gimana interview kamu tadi Za? Sukses?” tanya Imron disela mereka menikmati makan malam bersama.   “Alhamdulillah lancar Bah, besok Iza sudah mulai perkenalan dan mengurus administrasi, setelah semua selesai baru Eliza bisa mengajar” ucap Eliza senang.   “Alhamdulillah” ucap Imron dan Siti Hawa.   “Syafa, bisa dong setelah lulus kamu daftar ke kampus tempat kak Iza mengajar, biar jangan jauh-jauh” ucap Imron yang membuat Syafa hanya terdiam, Eliza melihat ke arah Syafa yang sepertinya semakin bimbang, ia teringat akan percakapannya dengan Syafa tadi malam.   “Syafaaa belum tidur” ucap Eliza yang membuka pintu kamar Syafa.   “Astaghfirullah kak Iza” ucap Syafa kaget.   “Fa maaf kakak ngagetin ya, kakak lupa ngetuk pintu, abisnya kebuka dikit kakak liat” ucap Eliza berdiri diambang pintu, Syafa yang masih menenangkan jantungnya menyuruh Eliza masuk.   “Ga apa-apa kak, Syafa cuma kaget, masuk gih” ucap Syafa, Eliza pun masuk dan duduk dipinggir tempat tidur, memperhatikan Syafa yang duduk dimeja belajar dan seperti menyembunyikan sesuatu.   “Ada yang kamu sembunyikan Fa?” tanya Eliza yang melihat Syafa begitu gugup, tidak biasanya ia melihat adiknya secanggung itu saat bicara padanya.   “Engga kak” ucap Syafa gugup, ia masih menenangkan jantungnya.   “Faaa” ucap Eliza pelan memegang tangan Syafa, ia tahu adiknya sedang tidak baik-baik saja, Syafa pun langsung memeluk Eliza, ia pun menangis tanpa suara, Eliza mengusap bahu Syafa lembut, entah apa yang membuat Syafa menangis ia pun membiarkan adiknya menumpahkan semua tangisnya. Syafa melepaskan pelukannya pada eliza saat dirinya merasa sedikit tenang, ia mengambil sebuah amplop yang ia simpan dibalik buku diatas mejanya, menyerahkan pada Eliza. Eliza membuka amplop coklat tersebut, melihat sebuat surat pendaftaran kuliah.   “Syafa ini?” tanya Eliza yang dibalas anggukan oleh Syafa.   “Lalu kenapa kamu nangis? Bukankah kamu harusnya bahagia?” tanya Eliza bingung, ia melihat bahwa surat itu adalah formulir pendaftaran kuliah ke Al-Azhar Mesir yang dulu selalu di idamkan oleh Eliza namun ia selalu gagal untuk mendapatkan beasiswa kesana.   “Abah ga pernah setuju kalo Syafa pergi keluar negeri” ucap Syafa sedih.   “Kamu udah ngomong ke umi dan abah?” tanya Eliza yang dibalas gelengan kepala oleh Syafa.   “Lalu kenapa kamu bilang seperti itu, kalau kamu aja belum ngomong apapun ke mereka?” tanya Eliza bingung.   “Syafa ga sengaja pernah denger abah ngomong ke umi, kalo abah pengen setelah kakak balik kerumah ini, Syafa harus kuliah disini juga, abah ga mau kesepian ditinggal anaknya lagi” ucap Syafa yang membuat hati Eliza sedih, ia pun tak mampu menahan air matanya melihat sang adik merasakan sakit seperti ini.   “Maafin kakak Fa” ucap Eliza memeluk Syafa, ia tak tahu bahwa selama ini sang Ayah begitu menginginkan anak-anaknya untuk selalu dekat dengannya.   “Syafa selalu lihat tiap malem Abah selalu masuk ke kamar kakak, Abah sangat merindukan kakak , Syafa ga mau kalo nanti Syafa pergi, Abah akan melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan Abah tiap malam ke kamar kakak, Abah selalu mandangin foto kakak” ucap Syafa terisak, Eliza tidak pernah tahu bahwa ayahnya begitu amat merindukannya seperti itu.   “Kenapa kamu ga pernah bilang ke kakak Fa?” tanya Eliza.   “Syafa ga mau buat kakak sedih dan ga fokus sama kuliah kakak” ucap Syafa yang membuat Eliza semakin sedih.   “Lalu kamu akan membiarkan mimpimu pupus begitu saja Fa?” tanya Eliza yang ingin meyakinkan Syafa bahwa sebenarnya tidak apa-apa jika ia ingin pergi menggapai semua mimpinya.   “Syafa ga apa-apa kak” ucap Syafa tersenyum disela-sela tangisnya, membuat Eliza semakin sedih melihat adiknya begitu kuat.   “Bahhh, apakah tidak ditanya dulu Syafa maunya kemana, mungkin saja Syafa punya cita – cita atau mimpi diluar sana” ucap Eliza membuat Syafa kaget dan sang ayah pun terlihat terdiam mendengarkan kata-kata Eliza, Syafa menggenggam tangan Eliza dan menggelengkan kepalanya, seolah mengatakan untuk tidak melanjutkan semua kata-kata Eliza.   “Iza benar Bah, kita tanya dulu Syafa inginnya kemana” ucap Sitihawa, Imron hanya terdiam sembari menikmati makanannya, ia pun tak ingin menahan putrinya jika ingin menggapai mimpinya, namun ia menyadari semenjak kepergian Eliza beberapa tahun yang lalu sangat membuat dirinya begitu kesepian.   “Syafa ga apa-apa kok Mi, Abah, Syafa belum ada rencana untuk kuliah diluar kota” ucap Syafa tersenyum, namun tidak dengan Eliza.   “Faa” ucap Eliza pelan, Syafa hanya menggelengkan kepalanya pelan dan tersenyum pada Eliza, Syafa menggenggam tangan Eliza seolah mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja. Eliza hanya bisa menahan dirinya untuk tidak lagi bicara, ia sedih dengan keadaan seperti ini, namun ia juga tak bisa memaksakan apapun jika yang ada hanya akan menyakiti semua orang.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD