Part 3

1990 Words
“Permisi….. Eliza….” Eliza menghentinkan langkahnya mendengar suara seorang pria memanggilnya, hari ini tepat 1 minggu ia mengajar di kampus, menjadi seorang dosen, dan selama seminggu itu pula ia sangat sibuk dan tak pernah terpikir bahwa laki-laki dihadapannya saat ini tidak pernah muncul seperti saat ini.   “Maaf, apakah saya harus memanggil Miss Eliza?” ucap pria itu yang tak lainadalah Jonathan.   “Maksud kamu?” tanya Eliza bingung dengan sikap Jonathan yang seolah-olah sedang menyapa teman akrabnya.   “Maaf, saya baru tau bahwa kamu dosen disini, dan ini ada titipan dari Ririn” ucap Jonathan sembari mengeluarkan sebuah kotak sebesar buku dari tasnya, terdapat kartu nama pengirim yang memang dari Ririn sahabatnya. Eliza menerima kotak tersebut yang tak tahu apa isinya, ia memang memberitahu Ririn bahwa ia mengajar di Universitas yang dimana saat ini ia berada.   “Terima kasih, maaf sudah merepotkan, lain kali saya akan kasih alamat saya saja ke Ririn” ucap Eliza tersenyum tipis.   “Tidak merepotkan sama sekali” ucap Jonathan.   “Baiklah saya permisi, mariii” ucap Eliza meninggalkan Jonathan yang sebenarnya masih ingin mengobrol dengan Eliza, namun ia hanya terdiam membiarkan Eliza pergi.   “Assalamualaikum Rin” ucap Eliza menelfon Ririn.   “Waalaikumsalam Zaa, ada ap…..”   “Rinnnn astaghfirullah, kamu kenapa sih pake ngirim sesuatu segala lewat Jonathan? Kenapa ga kirim langsung kerumah aku aja, aku ga enak tau harus ngerepotin orang lain, apalagi dia pria, ga enak diliatin orang” cecar Eliza yang memang sedikit kesal dengan Ririn yang belum sempat menyelesaikan ucapannya tadi.   “Astaghfirullah Zaaa, iya maaf, lagian kemarin aku minta alamat kamu belum kamu bales sampe sekarang, dan setelah aku tahu kamu ngajar dimana aku baru inget kalo Jonathan kuliah juga ditempat kamu mengajar, jadinya aku nitipin ke dia, maafin aku ya, aku ga tau kalo kamu bakalan semarah ini Za” ucap Ririn bingung, ia benar-benar tak menyangka respon Eliza akan seperti ini. Eliza hanya menghela nafas pelan, ia menutup pintu mobilnya dan terdiam sejenak mengucapkan istighfar dalam hatinya.   “Aku sibuk banget kemarin, sama sekali ga sempat pegang HP, entar aku kirimin alamat aku, lagian kamu repot banget sih ngirimin sesuatu segala” ucap Eliza.   “Iya itu tuh sebenernya kado wisuda buat kamu kemaren, tapi baru sempat aku kasih sekarang soalnya waktu itu aku belum punya uang, maaf ya” ucap Ririn, Eliza menghela nafas pelan, ia sendiri tidak terigat untuk memberi apapun untuk Ririn.   “Ya Allah Rin, aku aja ga inget mau kasih kamu kado, malah kamu yang repot banget mikirin kado, kan uangnya bisa kamu pake buat yang lain” ucap Eliza.   “Ga apa-apa Za, anggap aja buat kenang-kenangan karna kamu udah baik banget selama bareng aku, maafin aku ya Za” ucap Ririn.   “Aku udah maafin kamu kok, maaf tadi aku cuma kesel aja, kamu tau kan aku gimana, aku ga enak kalo orang lain sampe lihat aku bicara berdua sama laki-laki, apalagi Jonathan itu punya pacar dikampus ini juga, jadi aku takut aja entar salah paham” ucap Eliza.   “Iya sekali lagi aku minta maaf, lagian setau aku Jonathan itu ga punya pacar, paling cewek yang ngaku-ngaku pacar dia ia banyak banget, ga tau siapa aja yang udah pernah ngelabrak aku dikirain aku pacaran sama Jo, padahal dia itu sahabat aku” ucap Ririn meyakinkan, Eliza pun hanya bisa mengerti. “Yaudah deh ga apa-apa Rin, yaudah aku mau pulang dulu ya, Assalamualaikum” ucap Eliza.   “Waalaikumsalam Za, hati-hati ya” ucap Ririn.   “Okeyyy, byeee” ucap Eliza.   “Byee Zaa” ucap Ririn.   Eliza mematikan telfonnya, lagi-lagi ia menarik nafas pelan, ia membuka kotak kado pemberian Ririn, ia kaget yang melihat isinya yang begitu indah menurutnya, sebuat perhiasan emas lengkap beserta suratnya, ia yang tidak pernah memakai perhiasan begitu takjub dengan isinya.   “Ya Allah Rin, ini yang kamu bilang baru punya duit sekarang” ucap Eliza menepuk dahinya seolah kepalanya begitu berat memikirkan hadiah pemberian Ririn, ia sendiri tak pernah terpikir untuk memberikan Ririn kado.   Eliza pun menutup kembali kotak tersebut, memasukkannya kedalam tasnya, ia menghidupkan mobilnya, namun belum sempat menghidupkannya dari kejauhan ia melihat Jonathan yang berjalan begitu cepat dan melihat seorang wanita yang mengikutinya dengan mulut yang berbicara dan raut wajah yang terlihat seperti orang yang sedang marah.   “Jooo tunggu, aku mau ngomong sama kamu, Jooo!!!!!” teriak Laura yang begitu kesal, sudah beberapa hari ini ia selalu diabaikan oleh Jonathan, ditambah ia beberapa kali melihat Jonathan bicara dengan wanita berhijab yang Laura belum tau itu siapa.   “Jo bisa ga sih kamu dengerin aku ngomong sekali aja” ucap Laura saat dirinya berdiri didepan Jonathan yang berhenti berjalan karena teriakannya.   “Silahkan” ucap Jonathan dengan nada dingin, ia sendiri sud muak dengan perlakuan Laura yang dianggapnya sangat berlebihan.   “Jo kamu anggap aku apa sih? Dulu kamu begitu baik sama aku, aku tau sampe sekarang kamu ga pernah jelasin hubungan kita apa, tapi tolong Jo jelasin semuanya, aku salah apa sama kamu, dan sudah berapa kali aku lihat kamu ngobrol dengan wanita berhijab itu, orang yang sama Jo, hati aku sakit Jo” ucap Laura sedih, ia selalu berharap Jonathan bisa membalas perasaannya, apapun ia lakukan untuk menarik perhatian Jonathan namun yang ia dapatkan hanyalah sebuah harapan yang ia ciptakan sendiri hingga menyakitinya.   “Kita engga pernah punya hubungan apapun Ra, aku baik sama kamu sama seperti teman aku yang lain, aku baik ke mereka juga sama baiknya ke kamu, dan aku ga pernah kasih kamu harapan apapun Ra, kamu sendiri yang nyiptain harapan itu sendiri lalu kamu memberi fakta bahwa aku yang udah nyakitin kamu, aku ga ngerti sama pikiran kamu Ra” ucap Jonathan, ia menghela nafas kasar, lalu pergi meninggalkan Laura begitu saja menaiki motornya lalu pergi dengan begitu cepat. Laura masih terdiam ditempatnya, mencerna semua perkataan Jonathan yang masih belum bisa ia terima, ia tak menyangka Jonathan mengatakan semua itu tanpa memikirkan perasaannya, ia pun mengusap airmatanya yang menetes dan berjalan pelan menuju parkiran mobil.   Eliza menundukkan dirinya ketika melihat Laura berjalan kearah parkiran mobil, ia tak ingin terlihat bahwa ia melihat pertengkaran mereka, terlebih ia tak ingin ikut campur dengan apa yang sudah ia ketahui, ia mendengar sebuah mobil melaju dengan pelan, perlahan ia menegakkan tubuhnya kembali dan melihat sekelilingnya sudah terlihat sepi, ia pun menjalankan mobilnya dengan pelan dan jantung yang msih berdetak dengan begitu cepat.   Eliza melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, memikirkan kembali hal-hal yang akhir-akhir ini selalu menghampirinya, sampai pada saat Eliza mengerem mendadak mobilnya saat merasakan ada yang menabrak mobilnya dari belakang secara tiba-tiba.   Brakkkkkkkkkkkkkkkkk……   “Astaghfirullah” ucap Eliza sembari melihat kaca spion mobilnya, ia pun menggenggam erat setir mobilnya, mengucap istighfar berkali kali, jantungnya seolah berdetak begitu kencang, sampai ia tersadar saat seseorang mengetuk kaca pintu mobilnya. “Mbak bisa keluar dulu?” ucap seorang pengendara yang tid dikenal Eliza, ia pun membuka pintu mobil dan melihat bagian belakang mobilnya remuk ditabrak oleh pengendara mobil juga, Eliza kebingungan melihat suasana begitu ramai.   “Mbakkk, Mbakkk ini saya yang menabrak mobil mbaknya” Eliza melihat seorang pria didepannya yang juga terlihat kebingungan.   “Mbak saya akan tanggung jawab mobil mbak” ucap pria itu lagi, namun Eliza tak menanggapi perkataan itu, dirinya seolah sudah tidak sadar dengan keadaan itu, dan seketika saja semua pandangan Eliza gelap.   “Astaghfirullah” ucap pria itu yang kaget melihat Eliza pingsan.   ***   “Elizaaa” ucap Sitihawa yang melihat anaknya sudah siuman, Eliza yang baru saja membuka matanya melihat sekitar ruangan berwarna putih dan tercium bau obat-obatan yang begitu semerbak.   “Umi, Iza dimana?” tanya Eliza, ia merasakan kepalanya begitu berat.   “Iza dirumah sakit, tadi pingsan dijalan” ucap Sitihawa membantu Eliza yang ingin duduk dan menyandarkan tubuhnya, ia melihat sekelilingnya yang hanya ada ibunya dan juga Syafa.   “Abah kemana?” tanya Eliza.   “Abah sedang mengurus mobil kamu dibengkel, tadi orang yang ga sengaja nabrak kamu yang bawa kamu kesini, terus pas umi tadi telfon dia yang angkat dan ngabarin kalo kamu pingsan, dia nungguin kamu siuman tadi tapi karena mobil kalian sudah diderek ke bengkel, dia ngajak abah ke bengkel buat tanggung jawab semuanya, tadi dokter bilang kamu syok berat makanya sampe pingsan” ucap Sitihawa, Eliza hanya diam dan memejamkan matanya kembali merasakan betapa pusing kepalanya.   “Eliza masih pusing umi” ucap Eliza pelan.   “Makan dulu ya, abis itu minum obat terus istirahat lagi” ucap Sitihawa yang dijawab anggukan oleh Eliza, Eliza pun menerima suapan demi suapan dari sang ibu.   “Kamu istirahat lagi ya, umi dan Syafa yang temenin kamu disini” ucap Sitihawa setelah selesai memberikan obat untuk Eliza, Eliza pun merebahkan kembali tubuhnya dan memejamkan matanya, ia sendiri tida tahu seperti apa rasanya, yang ingin dia lakukan hanyalah memejamkan matanya.   “Assalamualaikum”   “Waalaikumsalam, Abah” ucap Syafa dan Sitihawa.   “Iza belum siuman?” tanya Imron yang baru saja masuk, dan melihat Eliza masih terpejam.   “Iza baru saja istirahat, tadi udah makan dan minum obat, jadi umi suruh istirahat lagi, dia bilang kepalanya masih pusing” ucap Sitihawa.   “Alhamdulillah kalau sudah siuman” ucap Imron.   “Gimana Bahh? Sudah selesai urusannya?” tanya Sitihawa   “Alhamdulillah sudah, nak Ali sudah mengurus semuanya” ucap Imron sembari melihat pria yang bernama Ali tersebut, ia sendiri pun masih syok dengan kejadian yang menimpa dirinya.   “Itu sudah tanggung jawab saya pak, bu, dan sekali lagi saya mohon maaf, jika berkenan saya juga ingin minta maaf ke anak bapak langsung, tapi sepertinya dia sudah tertidur” ucap Ali sungkan.   “Tidak apa nak Ali, kamu sudah bertanggung jawab kami juga sudah berterima kasih, Eliza masih syok jadi sebaiknya dia masih harus istirahat, nak Ali istirahat lah, kamu pasti juga syok dan lelah dengan kejadian hari ini, besok jika Eliza sudah bangun akan umi sampaikan permintaan maaf kamu, Eliza pasti akan mengerti” ucap Sitihawa.   “Umi Iza benar, kami sudah tidak apa-apa nak, ini sudah jam 11 malam, teman kamu juga sudah menunggu diluar, kamu juga butuh istirahat” ucap Imron, Ali merasa lega mengetahui bahwa wanita yang ditabraknya mempunyai keluarga yang begitu lembut.   “Sekali lagi saya mohon maaf, dan terima kasih banyak, dan jika terjadi apa-apa tolong bapak jangan sungkan untuk menghubungi saya, saya akan bantu apapun itu, dan jika nanti ada kesempatan tolong izinkan saya meminta maaf secara langsung dengan anak bapak” ucap Ali tulus, ia benar-benar tidak bisa berbicara apapun lagi melihat keluarga yang begitu harmonis itu.   “In Sya Allah, saya akan menyampaikan pada Eliza” ucap Imron, Ali pun mohon pamit pada mereka dan pergi meninggalkan ruangan itu, mengajak temannya yang sudah membantunya mengurus semuanya.   “Gimana Li?” tanya Hakim teman Ali.   “Alhamdulillah dia udah siuman tadi, tapi pas aku masuk dia uda tidur, mungkin besok aku bakalan jenguk buat minta maaf” ucap Ali.   “Kata dokter gimana, dia baik-baik aja?” tanya Hakim kembali.   “Syok berat, mungkin dia belum pernah kecelakaan sebelumnya jadi seperti itu efeknya” ucap Ali.   “Haduhhhhh” ucap Hakim.   “Sudahlah tak usah kamu fikirkan, semua baik-baik aja kok, besok kita akan lebih sibuk, aku yakin sebelumnya mobil itu baik-baik aja” ucap Ali, mereka pun diam beberapa saat diperjalanan, Hakim membawa mobil dalam keadaan tenang, sesekali ia melirik Ali yang begitu banyak memikirkan sesuatu.   “Perempuan itu cantik ya Li” ucap Hakim membuat Ali terhenyak dari lamunannya, Hakim tersenyum, ia juga yakin bahwa sahabatnya itu sedang memikirkan Eliza.   “Apaan sih” ucap Ali membuat Hakim tertawa.   “Jika suka berjuanglah, sepertinya masih single, keluarganya taat agama, aku akui perempuan itu adalah wanita sholeha, mau sampai kapan kamu mengharapkan yang tidak jelas itu?” ucap Hakim yang membuat Ali tak mampu mengeluarkan kata-kata.   “Sudahlah, tak perlu kamu bahas itu lagi” ucap Ali, ia paham jika berdebat tak akan membuat Hakim berhenti bicara, yang ada hanyalah dirinya yang akan semakin dipojokkan, mereka pun hanya terdiam satu sama lain selama perjalanan.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD