Eliza berjalan menyusuri tiap rak buku yang ada di perpustakaan umum yang tak jauh dari kampus, ia melirik jam tangannya yang masih menunjukkan waktu istirahat, sembari menunggu jam masuk ia menyempatkan diri untuk membaca buku, Eliza memilih tempat duduk di sudut dekat dengan jendela yang tidak banyak orang berlalu lalang.
Lembar demi lembar buku itu telah dibaca Eliza dengan begitu tenang sampai ia merasakan kehadiran seseorang yang duduk didepannya namun ia terlalu malas untuk melihat siapa orang itu, ia hanya berfikir bahwa itu adalah orang lain yang juga ingin membaca.
“Sudah sembuh Za?” Eliza kaget mendengar suara seorang pria didepannya, ia langsung meletakkan bukunya dan melihat pria didepannya yang tersenyum begitu lembut, membuat jantung Eliza berdetak tak beraturan.
“Memangnya ada apa dengan saya?” tanya Eliza cuek, ia melanjutkan membaca bukunya setelah ia tahu bahwa pria itu adalah Jonathan.
“Ehmm itu, saya tahu dari mahasiswa kamu bahwa kamu sakit beberapa hari yang lalu” ucap Jonathan dengan salah tingkah.
“Saya baik-baik saja” ucap Eliza, Jonathan hanya terdiam memperhatikan Eliza membaca, hatinya terenyuh melihat wanita didepannya begitu cantik dan tutur katanya yang begitu lembut.
“Tak perlu memandang saya seperti ingin menguliti saya seperti itu” ucap Eliza dengan santai, Jonathan pun kaget dan langsung melihat keluar jendela, ia menggaruk kepalanya yang ia rasa tidak gatal sama sekali.
“Saya baru saja melihat bidadari” ucap Jonathan sambil tersenyum malu, Eliza yang mendengar hal itu hanya bisa terdiam, tak pernah seumur hidupnya ada seorang pria yang begitu santai bicara seperti itu padanya. Eliza menutup bukunya, ia tak lagi konsen untuk membaca semenjak kehadiran Jonathan, ia sendiri sibuk untuk menenangkan jantungnya yang berdetak tak beraturan, ia pun berdiri dari tempat duduknya dan berjalan kearah rak buku, mengembalikan buku yang tadi ia baca ke tempatnya kembali, Jonathan pun hanya mengikutinya dari belakang. Eliza berhenti dan berbalik melihat Jonathan juga seketika berhenti berjalan, berpura-pura seolah ingin mengambil sebua buku.
“Bukannya kamu sedang ada matakuliah?” ucap Eliza membuat Jonathan semakin salah tingkah, ia lupa bahwa Eliza adalah seorang dosen, ia juga menyadari bahwa dirinya begitu malas untuk mengikuti matakuliah.
“Saya suda izin” ucap Jontahan.
“Izin untuk mengikuti saya?” ucap Eliza.
“Iya, Eh bukan itu maksud saya” ucap Jonathan gugup, tak pernah ia segugup ini menghadapi seorang wanita, ia sendiri bingung harus berkata apa lagi. Eliza berjalan meninggalkan Jonathan, ia merasa sangat malas berhadapan dengan seorang pria.
“Eliza tunggu, saya hanya ingin mengenal kamu lebih dekat” ucap Jonathan yang berjalan mengikuti Eliza, Eliza pun berhenti dan tida menyangka ia mendengar ucapan itu dari mulut seorang pria.
“Untuk apa?” tanya Eliza
“Yahh sebagai temanlah, atau sebagai mahasiswa dengan dosen misalnya” ucap Jonathan gugup, ia mengalihkan pandangannya, nyalinya seakan ciut untuk menatap mata Eliza yang begitu meluluhkan hatinya.
“Matakuliah kamu dan saya tida ada hubungannya, dan saya tidak ingin mempunyai teman seorang lai-laki” ucap Eliza membuat Jonathan semakin bingung menghadapi wanita didepannya yang begitu sulit ia takhlukkan, ternyata selama ini ia salah telah menilai Eliza seperti kebanyakan wanita yang selama ini ia dekati.
“Saya sudah banyak mengetahui kamu dari Ririn” ucap Jonathan, Eliza pun seketika diam, jantungnya semakin berdetak tak beraturan, ia pun kembali berjalan meninggalkan Jonathan yang masih memanggil-manggil namanya namun ia tak memperdulikan itu sama sekali.
Jonathan berhenti mengejar Eliza yang begitu cepatnya berjalan, bukan ia tak mampu menggapai wanita itu namun ia sendiri tak tahu harus bicara apalagi jika ia bisa mengejar Eliza. Selama ini Jonathan tidak perna tertarik untuk mendekati wanita muslim apalagi berhijab panjang seperti Eliza, namun sekarang ia sendiri tidak tahu mengapa ia begitu ingin mendekati Eliza.
Eliza duduk dimeja kerjanya, mengatur nafasnya dan juga jantungnya yang masih berdetak tak beraturan, ia melihat sekeliling ruangannya yang masih sepi, ia mengingat kembali semua pembicaraannya tadi dengan Jonathan.
“Astaghfirullah” ucap Eliza menenangkan hatinya.
***
Tok…tok…tok…..
“Masuk” ucap Eliza.
“Kak dipanggil Abah diruang tamu” ucap Syafa, Eliza menghentikan aktivitasnya sejenak.
“Ada tamu Fa?” tanya Eliza sembari melihat jam dinding yang suda menunjukkan pukul 9 malam.
“Iya, mau ketemu kakak” ucap Syafa, Eliza mengerutkan dahinya, berfikir siapa yang malam-malam seperti ini bertamu kerumahnya, ia pun menutup laptopnya dan bangkit dri tempat duduknya, memakai hijabnya dan bersiap akan keluar.
Eliza menapaki satu persatu anak tangga rumahnya, melihat kearah ruang tamu dimana ia bisa melihat Ayahnya sedang mengobrol dengan 2 orang pria yang ia tidak bisa melihat wajahnya karena duduk membelakangi dirinya.
“Nahh ini Eliza” ucap Imron yang melihat Eliza tak jauh dari tempat duduknya, 2 pria yang tak dikena Eliza itupun tak lain adalah Ali dan Hakim yang baru saja sempat untuk menjenguk Eliza.
“Ada apa Bah?” tanya Eliza, ia melihat kearah 2 pria yang tiba-tiba sja berdiri saat melihat dirinya datang.
“Ini nak Ali dan ini nak Hakim temannya, mereka yang waktu itu tak sengaja menabrak kamu” ucap Imron, Eliza pun menghela nafas dan menangkupkan kedua tangannya seolah memperkenalkan dirinya tanpa harus berjabat tangan dan tidak bersentuhan dengan yang bukan muhrimnya, Ali dan Hakim pun melakukan hal yang sama seperti Eliza meski sediki canggung.
“Ayo silahkan duduk” ucap Imron, Eliza pun duduk disebelah Imron, tak lama Sitihawa datang membawa beberapa minuman dan menghidangkan beberapa makanan ringan diatas meja ruang tamu itu.
“Maksud kedatangan saya kesini, seperti yang pada waktu itu saya sampaikan ke Abah dan Umi saat dirumah sakit, bahwa saya akan menemui Eliza langsung, karena pada saat itu Eliza sedang istirahat dan tak sempat bicara langsung” ucap Ali, Eliza yang baru mengetahui hal itupun langsung mengangguk pelan, selama ini ia tau bahwa mereka tidak cerita apapun soal pria didepannya.
“Dan maaf jika saya baru datang sekarang, karena memang ini waktu saya untuk kesini” ucap Ali sopan, ia tidak terlalu pandai dalam menyusun sebuah kata-kata seperti ini, karena ia belum pernah bicara dengan orangtua dari seorang wanita secara langsung.
“Tidak perlu canggung seperti itu nak Ali, Abah mengerti, Eliza pun juga sudah tidak apa-apa” ucap Imron, Hakim pun menyenggol lengan Ali, memberikan isyarat untuk lebih santai, Hakim menyadari bahwa Ali salah tingkah dengan tatapan Eliza yang duduk tepat didepannya.
“Maaf Bahh, hehe” ucap Ali gugup, Eliza pun tersenyum melihat tingkah pria didepannya yang terlihat begitu akrab.
“Saya tidak apa-apa sebenarnya, saya hanya mendengar cerita sedikit dari adik saya tentang waktu itu, jadi saya sudah memaafkan, dan sebenarnya kalian juga tidak perlu repot-repot datang kesini jika hanya ingin meminta maaf, karena saya sudah memaafkan, saya juga minta maaf jika pada saat itu merepotkan kalian karena tiba-tiba pingsan, yah memang saya belum pernah mengalami hal seperti itu” ucap Eliza, Ali pun tertegun mendengar semua yang diucapkan Eliza, seolah baru saja mendengar sebuah puisi yang begitu indah. Hakim yang memperhatikan hal itu pun lagi-lagi menyenggol lengan Ali, ia melihat temannya sedang berada di awang-awang.
“Apaann sih Kim?” ucap Ali berbisik, ia kesal dengan kelakuan Hakim yang mengganggunya sedari tadi.
“Haha, sudah-sudah kalian tidak usah bertengkar, silahkan diminum” ucap Imron yang tertawa melihat tingkah mereka berdua. Imron melihat kearah Eliza yang sedikit memperhatikan pria didepannya, ia pun tersenyum menyadari betapa anggunnya putrinya itu.
“Maaf Bahh, teman saya memang begini, tidak bisa melihat wanita cantik” ucap Hakim, Imron pun tertawa mendengar hal itu.
Eliza hanya diam mendengarkan Ayahnya sedang berbincang dengan pria dihadapannya itu, ingin rasanya ia pergi dari mereka namun ia menghormati Ayahnya dan juga tamunya, tatapan Eliza pun tertuju pada Syafa yang sedang belajar diruang tv tak jauh dari ruang tamu, ia pun memperhatikan Syafa yang sesekali melihat kearah tv dan sesekali kearah buku ditangannya.
“Terima kasih banyak ya Bahh, maaf merepotkan, kami permisi dulu ya Bahh, Eliza” ucap Hakim yang melihat Eliza sedang menatap kearah lain.
“Izaaaa” panggil Imron lembut.
“Ehh iya Bahh, Astaghfirullah, maaf” ucap Eliza yang langsung berdiri, ia melihat kedua pemuda itu sedang berpamitan dengan ayahnya.
“Kami pamit dulu ya” ucap Hakim pada Eliza.
“Iya hati-hati dijalan, terima kasih sudah datang” ucap Eliza canggung, Ali dan Hakim pun mengucapkan banyak terima kasih kepada Imron dan juga Sitihawa yang masih memperlakukan mereka dengan sangat baik.
“Eliza cantik banget ya Li” ucap Hakim sesaat setelah mereka didalam mobil diperjalanan pulang.
“Bahagia banget punya keluarga lengkap kaya gitu, Adeknya juga ga kalah cantik, orangtuanya baik banget lagi, taat agama” ucap Hakim, Ali hanya diam mendengarkan, pikirannya masih melayang entah kemana.
“Hmmm ya gitu kalo udah kesambet cewek cantik, ngelamun terus” ucap Hakim yang membuat Ali tersadar.
“Apaan sih lo, ga perlu ngebandingin hidup kita sama mereka, jelas beda bangetlah” ucap Ali, ia kembali memikirkan hidupnya yang tak pernah merasakan kasih sayang orangtua bersama Hakim, mereka hidup dan besar dilingkungan panti asuhan, bahkan hingga mereka sukses seperti sekarang tak luput dari didikan di panti asuhan.
“Andai Eliza mau sama gue” ucap Hakim.
“Dihhh, ngayal lo” ucap Ali membuat Hakim tertawa, ia melihat wajah cemburu dari Ali.
“Lo juga dari tadi ngelamunin Eliza kan, jujur aja lo” goda Hakim, Ali pun salah tingkah dan tak menanggapi Hakim yang terus berusaha menggodanya.
“Nyetir aja yang bener, males gue nanggepin elu” ucap Ali, Hakim pun hanya tertawa melihat tingkah Ali yang sudah bisa seperti biasanya.