“Jonathannn” Jonathan berhenti berjalan menuju kamarnya, ia melihat seorang wanita berjalan menghampirinya. Wanita itu pun dengan girang langsung memeluk Jonathan yang masih mengingat siapa wanita didepannya itu.
“Ya ampun Jo, kamu tinggi banget sekarang, kamu masih inget aku kan?” ucap wanita itu, Jonathan melihat ibunya berjalan dengan wajah tersenyum.
“Itu Aurel Joo, kelihatannya kamu udah lupa sama sahabat kecil kamu” ucap sang ibu membuat Jonathan tersadar bahwa wanita cantik didepannya adalah Aurel Christiani, sahabat kecilnya Jonathan yang sempat pindah saat mereka masih SD, dan wajar saja jika Jonathan sudah lupa dengan wajah wanita itu. Yang membuat Jonathan takjub adalah wanita itu begitu cantik dengan tubuh mungilnya dan rambut hitam panjang.
“Aurell” ucap Jonathan masih tida percaya, beberapa tahun ini ia memang sempat mencari keberadaan Aurel di media sosial, namun tak pernah ia temukan.
“Lama banget sadarnya Jo” ucap Aurel cemberut.
“Kalian ngobrol ya, tante tinggal dulu, Jo ajak Aurel keliling rumah ya, dia baru aja balik dari Singapur, katanya kangen sama kamu makanya langsung kesini” ucap sang ibu membuat Jonathan sala tingkah.
“Tante apaan ihh” ucap Aurel, Jonathan hanya menghela nafas pelan melihat kelakuan ibunya yang selalu saja berusaha menjodohkan mereka sejak kecil.
“Gimana kuliah kamu?” tanya Aurel, mereka pun berjalan menuju taman bunga yang berada disebelah rumah Jonathan, terlihat taman yang begitu terurus, mawar merah yang menjadi kesukaan ibu Jonathan berjejer rapi taman kecil itu.
“Baik-baik aja” ucap Jonathan yang masih tidak menyangka dengan kehadiran Aurel saat ini.
“Aku dengar dari tante kamu sering bolos, padahal harusnya kamu uda wisuda dari beberapa tahun yang lalu” ucap Aurel membuat Jonathan menghela nafas melihat tingkah ibunya yang selalu saja bicara soal dirinya pada orang lain.
“Orangtua kamu gimana kabarnya?” tanya Jonathan mengalihkan pembicaraan, ia malas jika harus membahas soal kuliahnya yang sebenarnya memang suda tak ingin ia lanjutkan.
“Mamah sama papa baik-baik aja kok, mereka masih menetap di Singapur” ucap Aurel.
“Lalu kamu, kenapa balik?” tanya Jonathan.
“Aku kangen sama kamu” ucap Aurel membuat Jonathan terdiam, ia sendiri tak pernah berusaha menaruh hati pada Aurel, meskipun dulu mereka begitu tak terpisahkan saat kecil.
“Hanya itu alasan kamu balik kesini?” tanya Jonathan.
“Haha, engga lah, aku becanda kok, aku mau nerusin kuliah aku disini, sekaligus mau ambil alih bisnis papa yang di Jogja, kebetulan bisnis itu beberapa bulan ini lagi down jadi papa suruh aku yang handle, kata papa juga kamu kan banyak usaha jadi aku mau belajar juga, kalo kamu ga keberatan” ucap Aurel membuat Jonathan paham, ia sendiri pun masih canggung untuk mengobrol sebagaimana biasanya, ia merasa bahwa mereka sudah bukan anak kecil seperti dulu lagi.
“Boleh kok, bilang aja kamu butuh apa nanti soal bisnis kamu, nanti aku bantu” ucap Jonathan membuat hati Aurel berbunga, ingin sekali ia mengatakan bahwa ucapannya tadi bukanlah bercandaan, bahwa dia serius sedang merindukan Jonathan sahabat kecilnya yang tak pernah ia lupakan.
“Rumah ini ga pernah berubah ya, masih cantik kaya dulu, ayunan itu juga masih ada” ucap Aurel melihat ayunan yang dulu sering mereka gunakan untuk bermain, Jonathan menatap ayunan yang dimaksud oleh Aurel, ingatannya kembali ke masa itu, dimana mereka suka berebut untuk menaikinya duluan.
“Yah, dulu kamu yang selalu pura-pura nangis tiap kali aku yang naik ayunan itu duluan, giliran dikasih malah ngeledek” ucap Jonathan tertawa, Aurel pun ikut tertawa mengingat kembali masa kecil mereka, pada akhirnya 2 sahabat yang lama terpisah itupun kembali akrab dengan mengingat semua masa kecilnya.
“Terus, siapa pacar kamu sekarang Jo?” tanya Aurel, sedari tadi mengobrol dengan Jonathan hanya kalimat itu yang ingin sekali dilontarkannya, tak hanya soal masa kecilnya, Aurel juga ingin mengetahui kehidupan Jonathan, setelah melihat Jonathan saat ini perasaan Aurel sudah tak bisa ia bendung, perasaannya masih sama sejak dulu.
“Aku ga punya pacar” ucap Jonathan membuat Aurel tersenyum, hatinya terenyuh mendengarkan semua kata-kata itu.
“Kalo yang lagi deket sama kamu?” tanya Aurel kembali, ia sadar pertanyaan itu akan membuat Jonathan risih, namun apa dayanya yang tak bisa menahan semua keinginannya itu.
“Ada pertanyaan lain?” ucap Jonathan, ia sedikit risih jika ada seseorang yang selalu ingin tahu dengan kehidupan pribadinya, sekalipun itu sahabatnya bahkan keluarganya, ia tak ingin orang lain selalu ikut campur tentang privasinya.
“Maaf, aku cuma pengen tau aja” ucap Aurel gugup, ia menyesal telah melontarkan pertanyaan itu, namun dibalik itu dia bahagia sudah mengetahui bahwa Jonathan tidak mempunyai pacar.
“Aurel masuk yuk, kita makan dulu, Joo ajak Aurel amsuk yaa” ucap ibu Jonathan.
“Iya tantee” ucap Aurel, Jonathan pun berdiri dari tempat duduknya, diikuti oleh Aurel, namun bukannya ikut duduk ke meja makan, Jonathan justru pergi ke kamarnya dan mengabaikan panggilan sang ibu yang mengajaknya makan bersama dengan Aurel.
“Makan yuk, gausa nungguin Jonathan, dia kalo sudah masuk kamar ga bakalan mau keluar lagi” ucap Rania ( Ibu Jonathan ).
“Terus dia ga pernah makan malem Tan?” tanya Aurel penasaran.
“Makan entar kalo laper, paling tenga malem, atau engga kalo mau nongkrong baru keluar” ucap Rania, Aurel hanya terdiam mengetahui kebiasaan Jonathan yang tidak seperti saat kecil dulu.
“Semenjak Tante pisah sama Om, Jo emang lebih suka mengurung diri, paling tidak suka urusan pribadinya diusik” ucap Rania, ia begitu sedih dengan keadaan anaknya saat ini, namun ia juga tak ingin memaksakan apa yang ingin dilakukan Jonathan, ia hanya berharap yang terbaik untuk anak satu-satunya itu.
“Jo ga pernah ketemu lagi sama Om?” tanya Aurel.
“Masih ketemu sampe sekarang, tapi diluar, tidak pernah dirumah ini lagi” ucap Rania tersenyum, meski dalam hatinya ia pun begitu rapuh, mengenang kembali bahwa dulu keluarganya begitu sempurna.
“Maaf ya Tante, Aurel ga bermaksud bikin tante sedih” ucap Aurel yang merasa iba dengan keadaan keluarga itu.
“Ga apa-apa sayang, Tante ngerti kok, kamu sering-sering yah main kesini, biar ada temen Tante” ucap Rania menggenggam tangan Aurel lembut, ia begitu senang melihat Aurel datang, sedikit mengurangi rasa kesepiannya.
“Pasti Tante” ucap Aurel tersenyum sembari melanjutkan makanannya.
“Masakan Tante ga pernah berubah ya, masih enak seperti dulu” ucap Aurel, Rania tersenyum hangat mendengar ucapan itu.
“Makasih loh udah muji masakan Tante, udah lama ga ada yang ngomong seperti itu” ucap Rania.
“Tante bisa aja” ucap Aurel tertawa kecil. Mereka pun mengobrol dengan begitu asiknya, Jonathan yang melihat dari balik pintu kamarnya pun tersenyum hangat melihat sang ibu bisa tertawa lepas seperti itu saat mengobrol dengan Aurel, entah sudah berapa lama ia tak melihat senyuman sang ibu seperti itu.
“Kamu uda mutusin mau tinggal dimana?” tanya Rania pada Aurel.
“Belum Tan, untuk sementara ini Aurel tinggal dirumah Bu De Aurel, mereka juga baik banget sama Aurel, pas Aurel dateng mereka yang antusias banget buat nyuruh Aurel tinggal dirumah mereka aja, makanya Aurel ga enakan mau cari tempat tinggal yang lain” ucap Aurel.
“Syukurlah kalo gitu, sekarang juga banyak kejahatan, rawan kalo perempuan tinggal sendiri, lebih baik seperti itu Rel” ucap Rania.
“Iya sih Tan, hehe” ucap Aurel.
***
“Umi, Abahh kemana? Dari pulang kerja tadi Iza ga lihat Abah” tanya Eliza yang duduk di meja makan, ia melihat jam dinding suda menunjukkan pukul 7 malam.
“Abah ke pondok pesantren milik temen Abah, yang waktu itu pernah diceritain ke kamu, ada masalah dengan pengiriman buku yang dikirim anak buah Abah, jadi Abah mau ngecek langsung kesana, mungkin besok atau lusa Abah balik, sekaligus ingin silahturahmi katanya” ucap Sitihawa, Eliza hanya mengangguk mengerti.
“Sering kejadian seperti ini Mi?” tanya Eliza.
“Baru kali ini aja, umi juga ndak paham soal itu” Eliza mengerti dengan keadaan itu, ia sendiri tida penah ingin tahu dengan usaha yang dimiliki oleh sang ayah, ia juga berfikir suda saatnya jika ia membantu sang ayah yang sudah mulai tua.
“Faa, gimana ujiannya? Lancar?” tanya Eliza pada Syafa yang baru datang ke meja makan.
“Alhamdulillah lancar kak” ucap Syafa tersenyum.
“Alhamdulillah” ucap Eliza, ia kembali menatap wajah Syafa yang akhir-akhir ini selalu terlihat ceria, ia berfikir bahwa sang adik masih sering larut dengan kesedihannya, namun ia masih tidak berani untuk menanyakan hal itu lagi.
Mereka pun makan malam dengan suasana yang hening, tidak seperti biasanya ada sang ayah yang selalu mengajak mereka ngobrol saat sedang makan, bahkan makanan yang enak itu terasa hambar untuk Eliza disaat seperti ini, ia tak tahu harus berbuat apa untuk adiknya yang begitu ia sayangi. Eliza melihat Syafa makan dengan begitu cepat dan pamit untuk pergi ke kamarnya dengan alasan ingin belajar untuk ujiannya, rasa sedih begitu menyelimuti hatinya.
“Umi” panggil Eliza pelan.
“Ada apa Za?” tanya Sitihawa.
“Syafa baik-baik aja kan Mi?” tanya Eliza membuat Sitihawa bingung dengan pertanyaan anaknya.
“Maksud kamu?” tanya Sitihawa.
“Boleh Iza cerita sesuatu?” ucap Eliza yang dijawab anggukan oleh Sitihawa.
“Apa umi mengizinkan kalo Syafa pengen kuliah ke luar kota? Atau bahkan keluar Negri?” tanya Eliza membuat Sitihawa mengerti akan pertanyaan itu, ia sendiri pun sebenarnya sudah mengetahui akan keinginan anak terakhirnya itu.
“Sudah lama Umi tahu kalo Syafa ingin kuliah ke Kairo, bahkan sebelum kamu balik kesini Za, beberapa kali juga Umi bicara dengan Abah, tapi kamu tahu sendiri Abah kamu gimana, jika sudah berkata A maka harus A, tidak bisa diubah menjadi B, jika bukan keinginannya sendiri untuk mengubah itu” ucap Sitihawa membuat Eliza kaget dengan ucapan sang ibuyang suda mengetahui semua keinginan anaknya.
“Umi selalu tahu dengan keinginan anak-anak Umi, Umi mengerti saat ini kamu kaget mendengarkan ini, umi sudah pernah melihat formulir itu dikamar Syafa saat Umi membersihkan kamarnya, Umi memang salah tidak bertanya langsung padanya dan langsung bertanya pada Abah, Umi tidak tahu harus berbuat apa Za” ucap Sitihawa sedih.
Eliza hanya terdiam dan kembali melihat pintu kamar Syafa yang sudah tertutup, ia paham bagaimana perasaan Syafa saat ini, ia sudah bertekad pada dirinya sendiri untuk membantu mewujudkan semua keinginan Syafa, apapun yang terjadi Syafa harus mewujudkan semua mimpinya, tekad Eliza dalam hatinya.