“Jadi kamu yang namanya Eliza?” ucap Laura yang berdiri menyender di pintu mobilnya, ia melihat Eliza yang baru saja keluar dari mobilnya, sudah beberapa hari ini dia selalu memantau Eliza dan mencari tahu semua tentang wanita berhijab itu yang sudah beberapa kali ia lihat bicara dengan Jonathan.
“Atau saya harus memanggil kamu ibu dosen? Atau ibu Eliza? Miss Eliza?” ucap Laura dengan gaya yang membuat Eliza terheran, ia tak mengerti dengan maksud Laura seperti itu.
“Maksud kamu?” tanya Eliza, ia bingung dengan Laura yang tiba-tiba saja menodongnya dengan perkataan seperti itu, ia tahu bahwa wanita ini yang sering dilihatnya sedang ribut dengan Jonathan.
“Sudahlah jangan pura-pura b**o, kamu kan yang buat Jonathan menjauh dari saya? Saya dan Jonathan sudah lama berhubungan, jadi saya minta tolong sama kamu untuk ngejauhin pacar saya!!” ucap Laura yang membuat hati Eliza sedikit teriris.
“Astaghfirullah, saya tidak pernah merebut siapapun, apalagi dekat dengan pria, itu tidak benar” ucap Eliza.
“Bohongg!!!! Sudah saya perhatikan beberapa kali kalian selalu bertemu berduaan dan bicara begitu dekat, jangan kamu fikir saya tidak tahu apapun soal itu” ucap Laura emosi.
“Kamu salah paham, saya tidak pernah mendekati Jonathan, saya mengenalnya hanya karena dia teman baik dari sahabat saya, dan itu hanya kebetulan karena teman saya menitipkan kado untuk saya melalui Jonathan, saya bahkan tidak tahu apapun selain daripada itu” ucap Eliza yang membuat Laura terdiam, ia sejenak berfikir tentang apa yang diucapkan oleh Eliza, namun lagi-lagi emosinya tidak menghiraukan semua perkataan itu.
“Saya tidak percaya dengan semua perkataan kamu, saya hanya mengingatkan kamu untuk tidak lagi mendekatinya, kalau tidak kamu akan tahu apa yang akan terjadi!!” ucap Laura mengancam Eliza.
“Kalau tidak apa Laura??!!!” Laura berhenti berjalan yang tadinya ingin meninggalkan Eliza, Eliza pun menatap dan melihat Jonathan berjalan menghampiri mereka berdua, namun yang mengalihkan pandangan Eliza bukanlah Jonathan, melainkan seorang wanita yang berjalan disamping Jonathan, wanita cantik dan mungil.
“Jonathan” ucap Laura gugup saat melihat bahwa Jonathan tiba-tiba saja datang.
“Kalau tidak apa? Kamu akan apakan Eliza? Haaaa?!!!” ucap Jonathan yang membuat Laura tak berkutik, Eliza hanya bisa diam dan melihat mereka berdua.
“Kamu seharusnya malu bicara seperti itu didepan dosen, dan kamu harusnya sadar bahwa apa yang dikatakan oleh Eliza benar adanya, saya yang mengajaknya bica duluan, dia memang tidak tahu apapun tentang saya, saya mengenalnya karena teman baik saya adalah sahabat baiknya, tidak salah kan jika saya mengenalnya? Hmmmm? Kamu siapa berani ikut campur tentang kehidupan saya, kamu bukan siapa-siapa saya Laura, kamu harus ingat itu” ucapan Jonathan yang begitu menusuk membuat Laura tidak bisa berkata apapun lagi.
“Iniiiiii, namanya Aurel, dia pacar saya” ucap Jonathan yang langsung merangkul bahu Aurel, Aurel yang kaget hanya diam dan melihat tangan Jonathan yang merangkul bahunya secara tiba-tiba, Eliza yang melihat itu pun seketika langsung istighfar dalam hati, ia tak tahu harus sedih atau senang mendengar semua perkataan Jonathan yang membelanya, namun hatinya terasa begitu sakit mengatakan bahwa wanita itu adalah pacar Jonathan.
“Joo kamu?” ucap Laura yang sudah menahan airmatanya.
“Maaf saya permisi” ucap Eliza yang sudah tidak tahan dengan keadaan itu, ia pun langsung pergi meninggalkan mereka yang masih berdebat, ia berjalan menyusuri lorong kampus itu, bukan untuk menuju keruangannya, melainkan ia pergi kearah toilet yang tak jauh dari ruangannya.
“Pergilah, dan jangan pernah mengganggu hidup saya lagi” ucap Jonathan, Laura yang mendengar itu pun langsung pergi meninggalkan pria yang dicintainya itu, hatinya begitu sakit menerima kenyataan yang baru saja ia lihat dan dengar langsung. Jonathan yang melihat Laura pergi pun langsung melepaskan rangkulannya pada Aurel.
“Maafin aku Rel” ucap Jonathan. Aurel hanya tersenyum, ia sadar perkataan Jonathan tadi hanyalah sebuah perkataan saja untuk menjauhi Laura.
“Ga apa-apa kok, aku ngerti” ucap Aurel tersenyum, namun hatinya merasa sedih bahwa perkataan Jonathan tadi tidaklah seserius hayalannya.
“Itu tadi Laura, cewek yang selalu ngejar-ngejar aku, entah kenapa dia begitu terobsesi untuk jadi pacar aku, aku sama sekali ga ada rasa ke dia, makanya aku ngomong seperti itu biar dia jauhin aku” ucap Jonathan sedikit gugup.
“Kalo yang berhijab tadi?” tanya Aurel yang penasaran, ia lihat sendiri bagaimana pandangan Jonathan dengan wanita berhijab yang tak lain adalah Eliza, begitupun Eliza yang begitu berbeda memandang Jonathan.
“Dia dosen aku, sebenarnya umur kami sama, hanya saja kamu tahu sendiri gimana kuliah aku, dia sahabatnya temen aku, seperti yang aku bilang tadi kami kenal karena teman aku itu, memang beberapa kali aku mengajak dia ngobrol karena ada keperluan” ucap Jonathan, Aurel sudah mengenal Jonathan dan bagaimana dengan sikapnya jika menyukai seseorang, dan Aurel paham jika Jonathan telah jatuh hati dengan wanita berhijab itu, Aurel juga menyadari bahwa wanita itu begitu anggun dan cantik, lelaki mana yang tidak menyukainya jika sedang berhadapan denggan wanita itu.
“Kamu menyukainya Jo?” tanya Aurel.
“Kamu ngomong apasih Rel? Udah ah, aku mau masuk dulu ya, kamu tunggu di kantin aja ya, aku gak lama kok, abis itu kita ketemu papa aku” ucap Jonathan yang langsung pergi meninggalkan Aurel, Aurel hanya tersenyum simpul.
Jonathan berjalan dengan langkah yang cepat, dari kejauhan tak sengaja ia melihat Eliza yang berjalan begitu pelan, memegang sebuah buku ditangannya. Eliza yang menatap kedepan pun tak sengaja tatapannya bertemu dengan Jonathan, ia berhenti sejenak dan melihat Jonathan berlari menghampirinya, Eliza melihat ke belakang namun tak ditemukan siapapun dan sudah dipastikan pria itu akan menghampiri dirinya. Ingin rasanya ia berbalik dan pergi menjauh dari pria itu namun apa daya Eliza karena pria itu kini sudah berada tepat didepan matanya.
“Eliza” ucap Jonathan.
“Maaf saya sibuk” ucap Eliza yang berjalan meninggalkan Jonathan, namun dengan sigap pria itu menutup jalannya.
“Dengarkan penjelasan aku, Plissss” ucap Jonathan, ia merasa bersalah atas apa yang dilakukan Laura kepada Eliza yang tidak tahu apapun soal kehidupannya.
“Penjelasan untuk apa? Saya hanya tahu nama kamu saja, tidak dengan kehidupan kamu, jadi untuk apa penjelasan itu?” ucap Eliza marah, ia benar-benar lelah dengan keadaan yang seolah memaksanya harus mengetahui semuanya, padahal kenyataannya ia tidak ingin kenyataan apapun.
“Saya hanya ingin minta maaf ke kamu, kamu benar, kamu tidak tahu kehidupan saya, begitupun saya yang tidak tahu kehidupan kamu, tapi izinkan saya meminta maaf atas apa yang dilakukan Laura pada kamu, maaf jika perbuatannya mengganggu kamu, maaf jika perkataannya tidak sopan kepada seorang dosen yang seharusnya menjadi panutan untuk mahasiswinya, maaf itu semua salahku” ucap Jonathan tulus.
“Saya sudah memaafkan kamu dan Laura, tolong jangan pernah mengganggu hidup saya lagi” ucap Eliza, Jonathan hanya terdiam mendengar semua kalimat itu, Eliza pun pergi meninggalkan Jonathan yang masih terdiam ditempatnya.
Jonathan menatap Eliza yang berjalan meninggalkannya, hingga menghilang dari penglihatannya, ia memegang dadanya, jantungnya berdetak begitu cepat, sebuah perasaan yang tak pernah ia rasakan selama hidupnya, ia pun ingin menjauhi wanita itu, namun hatinya terus menggerakkan dirinya untuk terus mendekati wanita berhijab itu, ia sendiri tidak tahu mengapa sekarang begitu lemah jika bersangkutan dengan Eliza.
***
Eliza duduk dengan santai disebuah cafe yang sudah beberapa kali ia kunjungi, selain tempat yang nyaman, rasa minuman dan juga makanan yang menjadi favorit Eliza, duduk didekat jendela beserta sebuah novel ditangannya yang tak pernah ketinggalan, ia melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 4 sore, ia sedang menunggu Farah yang sudah janjian untuk bertemu sejak beberapa hari yang lalu.
“Assalamualaikum Za, maaf ya telat, aku nitipin Zayn dulu tadi kerumah mamah aku” ucap Farah yang baru saja datang, ia pun duduk didepan Eliza.
“Waalaikumsalam, ga apa-apa kok Fa, lagian kenapa ga kerumah kamu aja sih, kan kamu ga perlu nitipin anak kamu ke mamah kamu” ucap Eliza.
“Niatnya juga gitu tadi, tapi mamah aku yang minta Zayn kerumah, udah kangen sama cucunya” ucap Farah, Eliza hanya tersenyum senang mendengarnya.
“Jadi gimana pekerjaan kamu? Nyaman?” tanya Farah.
“Yah begitulah Fa, aku nyaman sebenernya sama pekerjaan aku, tapi ada sesuatu yang sedikit menggangguku” ucap Eliza.
“Memangnya kenapa?” tanya Farah sembari minum kopi pesanannya. Eliza pun cerita pada Farah mengenai dirinya dan juga Jonathan yang kerap kali mencoba mendekatinya, ia sendiri tidak tahu bagaimana dengan perasaannya sendiri kepada pria itu.
“Lalu kamu bagaimana Za?” tanya Farah.
“Bagaimana apanya Fa?”
“Ya perasaan kamu ke dia gimana?” tanya Farah yang membuat Eliza bingung.
“Aku engga tau Fa” ucap Eliza.
“Dari awal kita ke kampus waktu itu, beberapa kali aku lihat Jonathan memperhatikan kamu, dan ternyata benar kan dugaan aku, dia deketin kamu, kayanya dia beneran jatuh hati sama kamu Za” ucap Farah, Eliza yang mendengar itu tak tau harus berkata apa.
“Tapi dia sudah punya pacar Fa, bahkan dia ngenalin ke aku pacarnya itu” ucap Eliza bingung.
“Nah itu dia, dia mau bikin kamu cemburu, dan lihat gimana respon kamu ke dia saat kamu tahu dia punya pacar” ucap Farah yang membuat Eliza mengerti, dia sendiri tidak mengerti dan tida paham untuk masalah seperti itu.
“Aku bener-bener ga ngerti masalah seperti itu Fa, kamu tahu sendiri aku gimana” ucap Eliza.
“Iya sih” ucap Farah.
“Kamu jangan sampe jatuh hati sama dia ya Za” ucap Farah.
“Bukannya aku ikut campur dengan urusan pribadi kamu Za, tapi coba kamu fikir kalo dia jatuh hati sama kamu, terus kamu juga jatuh hati sama dia, mau dibawa kemana hubungan kalian, Abah kamu gimana? Kamu juga bilang sudah banyak pria yang khitbah kamu lewat Abah, aku ga nakut-nakutin kamu Za, aku Cuma ga mau kamu ngerasaian gimana sakitnya cinta beda agama” ucap Farah, Eliza pun terdiam dengan semua perkataan Farah yang mulai dia mengerti, ia pun membenarkan semua perkataan Farah tentang dirinya.
“Rosario dan Tasbih tak akan pernah bisa bersatu Za” ucap Farah yang benar-benar membuat Eliza terdiam, Farah benar, selama ini ia tak pernah menolak hatinya saat Jonathan selalu mencoba mendekatinya, bahkan seminggu tak melihat Jonathan ia selalu merasa begitu sepi dengan kampus itu.
“Lalu aku harus bagaimana Fa?” tanya Eliza sedih, ia pun semakin takut dengan perasaannya yang semakin lama akan semakin nyaman dengan kehadiran Jonathan.
“Sudah minta petunjuk sama Allah Za?” tanya Farah, Eliza hanya menggelengkan kepalanya, selama ini ia tak pernah meminta petunjuk Allah hanya untuk masalah perasaannya, karena ia sendiri percaya dengan takdir Allah yang akan selalu indah.
“Coba minta sama Allah Za, aku mungkin bisa menasehati kamu, tapi aku tidak bisa megubah apa yang sudah menjadi takdir kamu Za” ucap Farah memegang tangan Eliza, Eliza pun tersenyum, begitu beruntung ia berteman dengan Farah yang keimanannya begitu baik.
“Makasih banyak Fa, selama ini aku terlalu cuek dengan perasaan aku sendiri sampai aku tak pernah minta hal itu kepada Allah, yang aku fikirkan hanyalah akhirat dan orangtuaku saja” ucap Eliza.
“Masya Allah Za, itu bahkan lebih baik dibandingkan dengan yang selalu mikirin duniawi” ucap Farah.
“Tapi cobalah minta petunjuk pada-Nya, In Sya Allah akan ada jawabannya nanti” ucap Farah kembali.
“In Sya Allah Fa, akan aku lakukan” ucap Eliza tersenyum.
Eliza hanya mengucap syukur dalam hatinya, bahwa ia selalu dipertemukan dengan orang-orang yang selalu mengingatkannya dengan Allah, bukan soal jatuh hati kepada siapa yang ia takutkan, tapi soal keimanan siapa yang membuatnya jatuh hati. Eliza sadar, jatuh hati kepada iman yang berbeda jauh lebih sulit daripada jatuh hati dengan iman yang sama, ia tahu bahwa cinta itu adalah suci yang datangnya dari Allah, ia pun sadar bahwa Allah Sang Maha Pembolak-Balik Hati.