Part 7

1311 Words
Tok..tok…tok…   “Masuk” Eliza membuka pintu ruangan yang biasa dipakai sang ayah untuk bekerja.   “Boleh Eliza masuk Bahh?” tanya Eliza yang melihat kedalam ruangan dari balik pintu.   “Masuklah nak” ucap Imron sembari meletakkan buku yang sedang dibacanya ke atas meja. Eliza pun masuk dan menutup kembali pintu ruangan itu, ia duduk didepan sang ayah.   “Ada apa? Tumben mau masuk kesini” ucap Imron.   “Iza pengen bicara sesuatu Bah” ucap Eliza.   “Iza pengen ngomongin soal Syafa Bah” ucap Eliza lagi, Imron diam sejenak lalu menghela nafas, ia sudah tahu ke arah mana yang akan dibicarakan oleh Eliza.   “Apa yang harus Abah dengar?” tanya Imron.   “Tolong izinkan Syafa pergi ke Kairo Bah” ucap Eliza menahan hatinya, ia begitu takut akan kemarahan sang ayah, namun ia juga tak bisa diam saja melihat Syafa seperti itu, menghentikan semua mimpinya hanya karena sang ayah.   “Untuk apa jauh-jauh ke luar negri hanya untuk menuntut ilmu jika disini saja bisa menuntut ilmu yang sama dengan yang diluar sana, yang terpenting itu adalah niatnya” ucap Imron.   “Tapi Bah, tidak ada salahnya jika inginnya pergi kesana, mungkin saja kan disana lebih bisa belajar banyak daripada disini, cukup Eliza yang menuruti permintaan Abah untuk tidak pergi juga ke Kairo, tolong jangan Syafa Bah” ucap Eliza sedih, ia mengingat kembali bagaimana dulu usahanya untuk pergi ke Kairo namun ditentang keras oleh sang ayah, meski pada akhirnya ia hanya diizinkan pergi ke Jakarta.   “Abah hanya tidak ingin anak-anak Abah jauh dari orangtuanya” ucap Imron sedih, ia sendiri pun tak ingin egois menahan semua impian anak-anaknya, namun ia juga tidak ingin jauh dari anak-anak kesayangannya.   “Abah tidak pernah jauh dari anak-anak Abah selagi kami masih ada dihati Abah, anak-anak Abah hanya ingin menggapai impiannya, bukan meninggalkan Abah” ucap Eliza sedih, Imron hanya diam ditempat duduknya, ia memang membenarkan semua perkataan Eliza, namun hatinya selalu tidak rela jika anaknya pergi jauh darinya.   “Bahhh” panggil Eliza lembut, ia melihat sang ayah yang diam dan menunduk, ia juga tahu ini memang berat untuk ayahnya, namun ia juga tidak ingin sang adik tak bisa menggapai impiannya.   “Abah mengizinkan” ucap Imron sembari menatap keluar jendela, begitu berat hatinya untuk mengucapkan kalimat itu, Eliza yang mendengarkan itupun tersenyum bahagia dan tak terasa airmatanya pun jatuh.   “Serius Bahh?” tanya Eliza memastikan bahwa sang ayah suda ikhlas untuk melepaskan anaknya pergi. Imron hanya menganggukkan kepalanya, Eliza pun langsung memeluk ayahnya dan menangis dipelukan itu, ia sangat bersyukur mempuanyai orangtua sehebat itu.   “Terima kasih Bahhh” ucap Eliza, Eliza pun berdiri dari tempat duduknya, ia ingin segera memberitahu pada Syafa tentang kabar baik itu, Eliza berjalan menuju kamar Syafa dan segera membuka pintu kamar Syafa.   “Faa” ucap Eliza yang melihat Syafa sedang duduk ditempat tidurnya, Eliza pun berjalan kearah Syafa dan langsung memeluk adiknya itu, Syafa pun membalas pelukan Eliza dengan begitu erat, Syafa menangis dipelukan Eliza.   Syafa sudah mendengar semua percakapan kakaknya dengan sang ayah ketika tak sengaja ia melihat Eliza yang masuk ke ruang kerja ayahnya, Syafa pun mendengar semua pembicaraan dari balik pintu yang tak tertutup dengan sempurna itu.   “Makasihh kak, makasih banget kakak udah wujudkan impian Syafa” ucap Syafa disela tangisnya, Eliza yang heran pun langsung melepaskan pelukannya dan menatap Syafa.   “Syafa udah denger semuanya tadi diruang kerja Abah, Syafa ga nyangka ternyata kakak begitu peduli dengan Syafa, Syafa juga baru tahu kalo sebenarnya kakak juga punya impian untuk pergi kesana” ucap Syafa membuat Eliza begitu terharu.   “Masya Allah kamu bisa mewujudkan impian kamu Fa” ucap Eliza kembali memeluk adiknya.   “Syafa janji ga akan ngecewain kalian, In Sya Allah Syafa akan belajar dengan baik” ucap Syafa.   “Alhamdulillah” ucap Eliza.   ***   “Gimana kabar mamah kamu?” Jonathan menahan hatinya mendengar kalimat yang diucapkan oleh sang ayah, ia pun melihat ke arah Aurel yang duduk disampingnya.   “Aku minta waktu sebentar buat bicara sama papa" ucap Jonathan pelan pada Aurel, ia tak ingin masalah keluarganya didengar oleh orang lain, meskipun Aurel sudah mengetahui permasalahan keluarganya. Aurel tersenyum lembut pada Jonathan, ia pun mengangguk dan pergi dari tempat itu menunggu Jonathan di mobil yang berada di tempat parkir restoran tempat mereka bertemu.   “Mamah baik-baik saja” ucap Jonathan, ayahnya pun tersenyum.   “Baguslah jika seperti itu” ucap Julian, ia sedikit canggung setiap kali bertemu dengan putranya itu.   “Papa tau semuanya tak akan bisa menjadi seperti dulu lagi, papa Cuma berharap kamu bisa menjaga ibumu dengan baik, papa tau dia sangat senang dengan kehadiran Aurel” ucap Julian tersenyum, Jonathan hanya mengangguk dan membenarkan ucapan ayahnya itu.   “Aurel gadis yang baik, jagalah dia dengan baik seperti kamu menjaga ibumu” ucap Julian kembali.   “Jonathan akan menjaga mereka dengan baik, papa ga perlu khawatir” ucap Jonathan.   “Boleh Jo cerita sesuatu?” ucap Jonathan.   “Silahkan” ucap Julian.   “Kenapa papa dan mamah pisah?” tanya Jonathan, pertanyaan yang selalu ingin ia ketahui jawabannya sejak dulu, namun ia masih belum paham hingga saat ini.   “Ibumu tidak memberitahumu?” tanya Julian.   “Sanggupkah Jo bertanya ke mamah disaat mamah selalu menangis setiap kali mendengar tentang papa? Seegois itukah kalian? Pisah tanpa memberitahukanku kenapa, bertahun-tahun aku harus cari jawaban itu sendiri dan sampai saat ini yang aku tahu hanyalah kenapa” ucap Jonathan, ingin sekali ia marah dengan orangtuanya, namun kasih sayang orangtuanya dulu yang selalu mengubah pandangannya untuk tidak sesekali membenci mereka.   “Papa minta maaf Jo, tapi tidakkah kamu akan membenci Papa jika papa ceritakan semuanya?” ucap Julian, Jonathan hanya menunduk tak mengerti.   “Papa mualaf Jo” ucap Julian, kalimat yang dari dulu hingga sekarang yang ingin sekali ia ucapkan pada Jonathan, namun tidak pernah sanggup untuk ia ucapkan. Jonathan terdiam menahan hatinya yang seketika seperti dihantam oleh sebuah batu.   “Maaf papa baru sanggup mengatakan ini sekarang, saat papa mengutarakan keinginan ini pada ibumu, dia hanya bisa menangis, satu-satunya cara agar dia tak semakin sakit hanyalah dengan cara kami berpisah, maafkan papa Jo” ucap Julian, Jonathan kaget dengan kenyataan yang baru saja ia dengar.   “Ibumu adalah seseorang yang begitu baik, satu-satunya wanita terbaik yang pernah papa kenal, maaf jika papa menyakiti kalian Jo” ucap Julian kembali, Jonathan hanya bisa terdiam, tak satu kata pun yang mampu ia ucapkan.   “Mungkin selama ini kamu berfikir papa meninggalkan kalian karena papa menikah lagi, atau karena wanita lain, sama sekali tidak Jo” ucapan Julian yang semakin membuat Jonathan sedih.   “Kamu tidak perlu menjawab apapun, papa tahu ini berat buat kamu, tidak apa-apa jika kamu ingin membenci papa, kamu baik-baik ya, jaga ibumu dengan baik, papa permisi” ucap Julian menepuk lembut bahu Jonathan, ia pun memandang sekali lagi wajah sang putra kemudian pergi meninggalkannya, ia mengusap airmatanya yang sedari tadi ia tahan, tak sanggup ia menangis didepan putra kesayangannya itu.   Jonathan menatap kepergian sang ayah dengan penuh kesedihan, ia sadar betapa sulitnya mencintai seseorang dengan keyakinan yang berbeda, ia merasa bahwa ia tak sanggup menerima kenyataan yang baru saja ia terima, inikah alasan mengapa selama ini ia selalu bertemu dengan sang ayah diluar, sekalipun tak pernah ayahnya mengajaknya bertemu dirumah yang saat ini ditinggali oleh sang ayah.   Aurel menatap Jonathan yang diam dan dingin sejak dari restoran tadi, ia sendiri tak berani menanyakan perihal percakapannya dengan ayahnya tadi, ia hanya melihat Jonathan terus menatap kedepan saat sedang menyetir mobil.   “Makasih ya Jo, kamu ga mampir dulu?” ucap Aurel saat mereka tiba dirumah Aurel.   “Lain kali aja, aku masih ada urusan” ucap Jonathan.   “Ohh yaudah deh, kamu hati-hati ya” ucap Aurel yang dibalas anggukan oleh Jonathan, ia pun turun dari mobil Jonathan dan melihat Jonathan yang langsung pergi meninggalkannya, Aurel pun masih penasaran dengan sikap Jonathan yang tiba-tiba saja dingin terhadapnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD