Part 8

1318 Words
Jonathan berjalan pelan melewati setiap kelas, pikirannya masih melayang memikirkan keluarganya dan sang ayah yang meninggalkannya dan sang ibu hanya karena memilih untuk pindah agama. Jonathan berhenti saat mendengar suara wanita yang sudah begitu lekat ditelinganya, ia memperhatikan wanita yang sedang mengajar didepan mahasiswa dari balik jendela kelas itu, jantungnya selalu berdetak begitu kencang setiap kali menatap mata wanita itu yang tak lain adalah Eliza.   “Kenapa kamu begitu sulit untuk ku gapai” ucap Jonathan pelan, ia begitu terpikat dengan semua hal yang dilakukan oleh Eliza, namun ia juga selalu bisa menahan hatinya untuk tidak membuat wanita itu merasa terganggu akan kehadirannya.   Eliza menyelesaikan matakuliahnya untuk hari ini, ia melihat jam tangannya yang suda menunjukkan pukul 3 sore, ia mengemas buku diatas mejanya setelah memberikan tugas dan materi untuk mahasiswanya, ia pun keluar dari ruangan itu lebih dulu, namun langkahnya terhenti saat ia keluar setelah beberapa langkah dari pintu kelasnya, ia melihat Jonathan yang berdiri diujung jendela kelasnya dan menatap ke dalam ruangan itu. Eliza pun berdesir manakala ia berfikir bahwa sedari tadi ia mengajar diperhatikan oleh Jonathan.   Jonathan menatap kedepan saat setelah mengetahui Eliza keluar dri ruangannya, kini ia menatap Eliza yang terdiam ditempatnya dan menatap dirinya. Jonathan pun menjadi salah tingkah karena sudah ketahuan memperhatikan Eliza yang sedang mengajar, ia melihat Eliza kembali berjalan melewatinya begitu saja tanpa melihat dirinya, Jonathan hanya menghela nafasnya.   “Halo Rel” ucap Jonathan setelah mengangkat telfon dari Aurel.   “Jo aku udah di depan kampus kamu nih” ucap Aurel.   “Aku kan ga suruh kamu jemput aku Rel, aku juga bawa motor” ucap Jonathan.   “Iya tau, tapi tadi tante nelfon minta jemput aku di butik temennya, jadi sekalian aku lewat kampus kamu jadi aku mau ajak bareng, sekalian aku pengen makan bareng kamu sama tante, ayo dongg” ucap Aurel dengan nada manjanya, Jonathan pun tidak bisa menolak jika sudah bersangkutan dengan ibunya.   “Yaudah deh, tunggu sebentar, aku kesana” ucap Jonathan.   Jonathan berjalan kearah mobil Aurel setelah melihatnya, dan lagi-lagi pandangannya teralihkan saat ingin membuka pintu mobil Aurel, ia melihat Eliza yang berjalan bersama temannya sambil berbincang dengan begitu ceria, belum pernah ia melihat Eliza tertawa begitu lepasnya, tanpa sadar Aurel yang berada di dalam mobil pun ikut melihat kearah pandangan Jonathan, hatinya terasa begitu cemburu melihat Jonathan yang tersenyum begitu tulus hanya dengan melihat seorang wanita. Tanpa sadar Aurel menekan klakson mobil hingga menyadarkan Jonathan, Jonathan yang tersadar pun langsung masuk ke dalam mobil dengan rasa canggung.   “Sorry lama” ucap Jonathan, Aurel hanya diam dan melajukan mobilnya.   Eliza yang mendengar suara klakson mobil pun mengalihkan pandangannya dan melihat Jonathan masuk ke sebuah mobil yang didalamnya ada seorang wanita yang pernah dilihatnya sebelumnya, seorang wanita yang sebelumnya dikenalkan oleh Jonathan sebagai kekasihnya.   “Za aku duluan ya, sudah dijemput” Eliza pun tersadar dari lamunannya mendengarkan ucapan temannya yang juga seorang dosen sepertinya.   “Ehh ia, hati-hati ya” ucap Eliza.   “Assalamualaikum”   “Waalaikumsalam” ucap Eliza, ia pun berjalan ke arah mobilnya, pikirannya lagi-lagi terngat dengan Jonathan.   “Astaghfirullah” ucap Eliza menyadarkan fikirannya yang mulai tidak tenang dengan kehadiran pria itu yang selalu saja masuk ke dalam fikirannya.   “Kamu suka sama wanita berhijab itu Jo?” tanya Aurel.   “Kamu bahas apa sih Rel?” ucap Jonathan mengalihkan pembicaraan, ia sendiri malas jika masalah pribadinya selalu ditanya oleh orang lain.   “Aku tau kamu ga suka ada orang lain yang ikut campur dengan masalah pribadi kamu, tapi yang harus kamu tau, semua yang dipendam di dalam hati sendirian rasanya ga enak Jo, engga ada salahnya berbagi jika itu memungkinkan untuk membuat hati tenang” ucap Aurel, Jonathan hanya diam dan mencoba mencermati setiap kata yang diucapkan oleh Aurel, selama ini ia memang ingin berbagi ceritanya kepada orang lain, namun sampai saat ini Jonathan adalah orang yang sangat sulit percaya kepada orang lain.   “Aku bukan orang lain buat kamu dan keluarga kamu Jo, kita udah seperti saudara, bahkan orangtua kita udah sahabatan jauh sebelum kita lahir, kalo kamu butuh teman cerita aku siap jadi pendengar kamu” ucap Aurel tulus, tak masalah baginya jika perasaannya tidak dibalas, yang terpenting untuknya dia adalah orang pertama yang selalu dibutuhkan oleh Jonathan.   “Makasih Rel” ucap Jonathan tersenyum, ia masih memikirkan dengan baik siapa orang yang benar-benar akan menjadi sahabatnya nanti.   ***   “Masih ketemu sama Jonathan?” tanya Farah, Eliza menikmati kopinya dengan begitu santai, mereka bertemu kembali di café biasanya, kali ini Farah membawa Zayn anaknya, Eliza yang mendengarkan pertanyaan itupun kembali memikirkan pertemuannya beberapa hari lalu dengan Jonathan.   “Dua hari yang lalu, dikampus” ucap Eliza.   “Masih ngajak kamu ngobrol?” tanya Farah penasaran.   “Engga, hanya papasan saja, kamu tahu kan saya seperti apa, tidak mau memulai obrolan dengan pria, aku takut Fa” ucap Eliza.   “Setiap kali ketemu dia, jantung aku selalu berdetak lebih kencang dari biasanya, aku sendiri ga tau perasaan apa itu, aku ga pernah rasain seperti yang sebelumnya” ucap Eliza, Farah pun menghela nafas, hal yang selama ini ia takutkan pun akhirnya terjadi, ia sadar bahwa Eliza telah jatuh hati pada Jonathan.   “Itu adalah perasaan jatuh cinta Za” ucap Farah yang tiba-tiba saja membuat Eliza tersedak hingga batuk-batuk.   “Astaghfirullah, ini minum dulu Za” ucap Farah memberi Eliza air mineral.   “Makasih Fa” ucap Eliza mengelus tenggorokannya yang begitu gatal.   “Kamu serius sama ucapan kamu Fa?” tanya Eliza, Farah hanya menganggukkan kepalanya. Eliza menyandarkan tubuhnya di tempat duduknya, ia merasakan seketika kepalanya begitu pusing.   “Selagi kamu masih menguatkan iman kamu In Sya Allah tida akan terjadi apa-apa Za, satu pinta aku, jangan sampe tergoda oleh rayuannya” ucap Farah.   “In Sya Allah Fa” ucap Eliza.   “Permisi Mbak” Eliza dan Farah menoleh saat melihat seorang pria menghampiri mereka, seorang pria yang mengenakan celemek di tubuhnya yang tak lain adalah pegawai café itu sendiri.   “Ada apa mas?” tanya Farah.   “Saya mau ngasih ini, sepertinya buku Mbaknya yang tertinggal, saya sud menunggu beberapa hari untuk memberikan pada Mbak tapi baru sekarang saya lihat” ucap pria itu, mereka pun seketika terdiam akan pesona pria tampan itu, dengan nada bicaranya yang begitu sopan.   “Ehhh iya mas, itu milik saya” ucap Eliza mengambil buku itu, pria tersebut pun tersenyum begitu tulus.   “Alhamdulillah berarti saya tidak salah orang” ucap pria tersebut.   “Maksudnya apa mas?” tanya Farah.   “Maksudnya buku itu memang milik Mbaknya, jadi saya tidak salah orang memberikan buku itu pada pemiliknya” ucap pria tersebut.   “Ohhh gitu” ucap Farah.   “Sekali lagi terima kasih ya mas” ucap Eliza tulus.   “Sama-sama Mbak, saya permisi dulu, silahkan dilanjut” ucap pria tersebut yang langsung meninggalkan mereka, Farah yang masih memperhatikan pria itu pun langsung mendapatkan tepukan di lengannya oleh Eliza.   “Inget sudah punya suami Fa” ucap Eliza tertawa, Farah pun ikut tertawa.   “Astaghfirullah Za, ada ya orang yang cakepnya kebangetan” ucap Farah.   “Kamu ada-ada aja Faa” ucap Eliza.   “Tapi serius deh selama kita sering ketemu disini, baru kali ini aku liat pria itu” ucap Farah.   “Mungkin aja anak baru Fa” ucap Eliza.   “Kalo anak baru ga mungkin dong dia langsung hapal wajah kamu sang pemilik buku” ucap Farah yang membuat Eliza sejenak berfikir.   “Udah ah, ngapain difikirin sih Faa” ucap Eliza yang menampis semua fikirannya.   “Ya kali aja, tatapannya juga beda ngeliat kamu” ucap Farah membuat Eliza tertawa.   “Ya iya beda, kan kamu lagi gendong Zayn, masa dia mau ngelirik istri orang” ucap Eliza tertawa.   “Yahhh dasar” ucap Farah, Eliza pun tertawa.   Dari kejauhan mata itu menatap dengan senyuman dibibirnya, ia telah menemukan apa yang selama ini ia cari, seorang wanita amanah dari sang ayah yang begitu menginginkan wanita itu untuk menjadi pendamping hidupnya, dia adalah Dzaky Ibrahim.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD