Part 9

1699 Words
“Cari siapa?” tanya Rania sembari melihat penampilan wanita muda di depannya, yang sedari tadi mengetuk pintu rumahnya, ia pun tak mengenal siapa wanita itu yang terlihat seperti orang yang sedang mabuk.   “Jonathannya ada?” ucap wanita itu yang tak lain adalah Laura. Rania melihat ke dalam rumahnya, melihat Jonathan yang sedang bebincang dengan Aurel.   “Kamu siapa?” tanya Rania kembali.   “Saya mau ketemu Jonathan” ucap Laura sempoyongan mencoba masuk rumah Jonathan namun malah mendorong Rania sampai terjatuhh.   “Akhhhhhhhhhh” teriak Rania yang kesakitan karena tangannya tergoreng handle pintu.   “Mamahhhhhh” ucap Jonathan kaget melihat ibunya terjatuh, ia pun langsung berlari menghampiri ibunya.   “Mamah ga apa-apa?” tanya Jonathan, sang ibu yang kaget hanya menunjuk Laura yang pingsan dengan mulutnya yang mengeluarkan busa.   “Astagaaaa, Lauraaaaa” ucap Jonathan kaget. Aurel yang mendengar keributan pun segera menyusul mereka, namun lagi-lagi dia terkejut melihat pemandangan didepannya.   “Joo dia kenapaaaaaa” ucap Aurel.   Jonathan segera mengeluarkan kunci mobilnya, ia menggendong Laura ke mobilnya, ia bingung dengan keadaan Laura yang seperti itu, Jonathan pun segera mengingat kembali kapan terakhir kali ia bertemu dengan Laura, sudah lebih dari 1 bulan yang lalu bahkan tak penah melihat Laura di kampus, padahal yang ia tahu Laura begitu rajin masuk kuliah.   Jonathan membawa Laura kerumah sakit sendirian, ia meminta Aurel untuk menemani ibunya yang sedikit syok. Jonathan menghentikan mobilnya dan memanggil perawat rumah sakit untuk membantunya membawa Laura, jantungnya berdetak begitu cepat, takut dengan apa yang akan terjadi pada Laura.   “Joooooo” Jonathan melihat Aurel berlari kearahnya, ia sedang menunggu dokter keluar dari ruangan UGD yang menangani Laura.   “Aurel, kenapa kamu kesini? Mamah gimana?” tanya Jonathan panik.   “Tante yang nyuruh aku kesini, ini tas nya Laura tadi ketinggalan dirumah, mungkin aja ada Hp nya buat hubungi keluarganya, Tante udah tenang kok, kamu ga perlu khawatir” ucap Aurel, Jonathan segera mengambil tas itu dan membukanya, ia pun mengambil Hp milik Laura dan mencari kontak keluarganya yang bisa dihubungi.   “Makasih Rel” ucap Jonathan, ia pun duduk dan mengecek satu per satu kontak yang ada di Hp Laura, matanya tertuju pada satu nama yaitu orangtua Laura.   Jonathan menghela nafas lega setelah memberi kabar ke orangtua Laura yang segera datang untuk melihat keadaan Laura, namun Jonathan masih khawatir dengan keadaan Laura yang masih berada di UGD. Aurel duduk disamping Jonathan, memperhatikan wajah Jonathan yang terpejam, hatinya berdesir melihat wajah tampan itu.   “Lauraaaa” ucap seorang wanita paruh baya yang baru saja datang, Joonathan pun membuka matanya, meski belum pernah melihat ibu Laura ia tau pasti itu adalah ibunya.   “Tante ibunya Laura?” tanya Jonathan.   “Iya saya ibunya, kamu yang telfon saya tadi?” tanya wanita itu. “Iya Tante, saya yang telfon tadi, saya Jonathan” ucap Jonathan, wajah wanita itu pun berubah seketika saat mendengar nama Jonathan, raut wajahnya berubah menjadi amarah.   Plaaakkkkkkkk…..   Sebuah tamparan yang begitu keras oleh wanita itu pada Jonathan, Jonathan pun kaget mengapa ibunya Laura menamparnya begitu keras, Aurel yang kaget pun langsung berdiri dan memegang pundak Jonathan.   “Jadi kamu yang sudah merusak anak saya, kamu yang sudah membuat Laura seperti iniiiiii” teriak histeris wanita itu pada Jonathan, Aurel yang mencoba melepaskan tangan wanita itu dari baju Jonathan pun ikut terkena imbasnya, wanita itu mencengkram bahu Aurel dengan keras dan mendorongnya sampai terjatuh.     “Aaaaaaaakkkkkkkhhhhhh” teriak Aurel memegang perutnya yang terkena kursi.   “Aurellllll” teriak Jonathan yang langsung sigap menolong Aurel, Jonathan membantu Aurel duduk di kursi, ibu Laura yang melihat itu pun terdiam sejenak dengan apa yang dilakukannya.   “Jooo sakit bangetttttttt” ucap Aurel masih memegang perutnya, tak lama kemudian datang perawat yang mendengar keributan itu, satu orang mencoba menenangkan ibu Laura, dan dua orang perawat mencoba membantu Aurel, mereka membawa Aurel untuk diperiksa karena ia begitu kesakitan.   Jonathan pun izin kepada Aurel untuk tidak menemaninya dan Aurel pun mengizinkannya, Jonathan berdiri jauh dari ibu Laura yang duduk terdiam didepan kamar UGD.   “Satu bulan yang lalu saya melihat Laura pulang begitu larut malam dalam keadaan begitu berantakan, saya tidak pernah melihat anak saya seperti itu selama hidup saya, hati saya begitu sakit melihatnya seperti itu, sejak saat itu pula sikapnya berubah begitu drastis, selalu melawan saya, pergi dengan teman-temannya yang saya tidak kenal sama sekali, dan sudah 3 hari ini dia tidak pulang kerumah” ucap wanita itu sedih, Jonathan yang mendengarkan hal itu pun langsung syok dengan penuturan sang ibu, selama ia mengenal Laura pun tak pernah ia melihat keburukan dari Laura, hanya beberapa hari terakhir setelah ia menolak ungkapan cinta dari Laura yang membuatnya melihat sisi keburukan Laura.   “Saya sudah mencarinya selama 3 hari ini, dan saya menemukan foto dan nama kamu di kamar Laura, bahkan setiap lembar buku yang berserakan di kamarnya tertulis nama kamu” ucap kembali wanita itu.   “Saya sudah satu bulan tidak pernah bertemu dengan Laura, bahkan mendengar soal Laura dari teman-teman kampus pun tidak, tadi tiba-tiba saja dia datang ke rumah saya dengan keadaan sudah seperti ini, saya sendiri tidak tahu darimana dia mendapatkan alamat rumah saya, saya bahkan tidak pernah mengajaknya untuk ke rumah saya, saya sama sekali tidak tahu apapun dengan keadaan Laura selama ini” ucap Jonathan membuat wanita itu sedikit kaget.   Wanita itu menutup wajahnya dan menangis terisak, Jonathan yang melihat itu pun berjalan menghampiri wanita itu dan memeluknya, ia mencoba menenangkan wanita itu yang terus menangis, dari kejauhan Aurel melihat pemandangan itu, meskipun merasakan sakit hati atas tindakan wanita itu terhadapnya namun ia tetap tidak bisa marah terhadap seorang ibu.   “Orangtua Laura?” tanya seorang dokter yang baru saja keluar dari ruangan UGD, wanita itu pun langsung berdiri.   “Yahh saya mamahnya Laura dok” ucap wanita itu.   “Mari ikut saya ke ruangan” ucap Dokter itu.   “Joo kamu sebaiknya temenin ibunya Laura, biar aku yang jaga disini” ucap Aurel.   “Kamu yakin udah ga apa-apa?” tanya Jonathan.   “Aku udah ga apa-apa Jo, pergilah” ucap Aurel. Jonathan pun melihat ibu Laura yang menyetujui untuk dirinya ikut bersama wanita itu, Aurel pun duduk di kursi tunggu, ia masih merasakan perih dengan perutnya, tangannya yang diperban akibat luka goresan pun ikut terasa perih.   “Laura sudah melewati masa kritisnya, dan akan segera di pindahkan ke ruang rawat, dia overdosis akibat kelebihan minum obat tidur, entah dengan sengaja atau percobaan bunuh diri saya tidak tahu, yang pasti dia minum melebihi dosis” ibu Laura hanya terdiam dan menangis mendengar semua penuturan dokter tersebut.   “Terlebih, dia juga mengalami depresi berat, dan alhamdulillah bayi yang ada di dalam kandungannya masih bisa diselamatkan” ucap dokter tersebut membuat wanita itu begitu syok mendengarnya, Jonathan pun ikut kaget dengan penuturan dokter tersebut.   “Anak saya hamil dok?” tanya wanita itu tidak percaya.   “Yahh, anak ibu hamil, dan saya sarankan kepada bapak sebagai suaminya harus lebih memperhatikan istri bapak, jangan sampai hal seperti ini terulang kembali, itu bisa membahayakan dirinya dan juga anaknya” ucap dokter tersebut menatap Jonathan, ia pun tidak percaya bahwa dokter tersebut menganggap dirinya sebagai suami dari Laura.   “Maaf dok, dia bukan suami anak saya” ucap ibu Laura membuat dokter dan Jonathan kaget.   “Ehmmm maaf jika saya salah, ini saya berikan resep dan segera ditebus” ucap dokter itu memberikan secarik kertas resep kepada ibu Laura.   ***   “Kamu udah ga apa-apa kan Rel?” tanya Jonathan saat mereka baru tiba dirumah Aurel.   “Ga apa-apa kok, cuma luka dikit, berapa hari juga sembuh” ucap Aurel menunjukkan tangannya yang diperban.   “Istirahat ya, jangan mikirin hal tadi lagi, maaf kalo udah buat kamu jadi kaya gini” ucap Jonathan.   “Kejadiannya juga ga terduga kok, jadi ga apa-apa Jo” ucap Aurel tersenyum, Jonathan mengusap lembut kepala Aurel, Aurel yang merasakan itu pun langsung berdesir hatinya, belum pernah ia melihat Jonathan yang semanis ini memperlakukannya.   “Jadi apa kata dokter soal Laura tadi?” tanya Aurel.   “Dia mencoba bunuh diri dengan meminum obat tidur” ucap Jonathan.   “Secinta itukah dia sama kamu Jo?” ucap Aurel, Jonathan hanya menggelengkan kepala.   “Aku engga tau, selama ini aku kenal dia sebagai pribadi yang baik, namun aku ga tau jika akhirnya bakal seperti ini, Laura juga hamil” ucap Jonathan, Aurel pun kaget mendengar pernyataan itu.   “Apaaaaa?”   “Yahh dia hamil, dan aku juga ga tau siapa ayah dari anak yang dikandungnya” ucap Jonathan, Aurel tak menyangka akan seperti itu efeknya hanya karena merasa sakit hati ditolak oleh orang yang dicintai.   “Lalu kamu bakal lakuin apa?” tanya Aurel.   “Aku akan bantu ibunya Laura untuk cari laki-laki itu” ucap Jonathan, Aurel merasa lega karena tidak mendengar bahwa Jonathan yang akan bertanggung jawab atas bayi yang dikandung Laura tersebut.   “Kalo kamu mau, aku bisa ngomong ke pak de buat bantu, kamu tau kan pak de polisi” ucap Aurel.   “Untuk saat ini tidak usah dulu, karena ibunya Laura minta jangan dulu ada ikut campur polisi, ibunya pengen diselesaikan secara keluarga” ucap Jonathan, Aurel pun mengerti dengan keadaan yang dirasakan ibunya Laura.   “Kalo kamu perlu bantuan aku, aku juga bisa bantu kamu” ucap Aurel.   “Aku ga mau membahayakan kamu lagi” ucap Jonathan.   “Tapi kalo kamu mau, kamu bisa nemenin mamah aku aja dirumah, itu lebih baik daripada harus ikut aku, takutnya bahaya” ucap Jonathan, ia sendiri tahu bahwa kondisi yang ingin dia lewati bukanlah hal yang mudah.   “Baiklah” ucap Aurel.   “Yasudah, masuk gihh, aku mau balik” ucap Jonathan.   “Kamu hati-hati ya” ucap Aurel tersenyum, Jonathan hanya menganggukkan kepalanya.   Jonathan pun pergi, Aurel tersenyum tersipu mengingat perlakuan Jonathan tadi, ia pun kembali memegang kepalanya sembari berjalan masuk ke dalam rumah.   “Senyum-senyum sendiri, awas gila lohhhh” Aurel pun tersentak mendengar suara itu.   “Ihhhhhhh bu De, ngintippp yaaaaa” ucap Aurel malu.   “Hahahaha, lagian siapa juga yang tidak jatuh hati kalo ngeliat Jonathann”   “Dasar genitttt, udah tuaaa jugaaa” ucap Aurel, ia memang begitu dekat dengan keluarga itu, sedari kecil pun ia sudah dianggap anak oleh keluarga itu yang memang tidak mempunyai seorang anak perempuan, dengan kehadiran Aurel suasana rumah itu menjadi berbeda.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD