Part 10

2011 Words
Laura membuka matanya, ia hanya melihat ruangan yang serba putih, entah sudah berapa lama ia tertidur, ia merasakan kepalanya begitu sakit, bahkan tenggorokannya yang terasa begitu kering, ia melihat sekelilingnya yang tidak ada siapapun.   “Lauraaa” ucap Lasmi yang tak lain adalah ibu Laura. Ia baru saja menebus obat untuk sang anak, ia melihat Laura yang sudah membuka matanya.   “Mamaahhhh” ucap Laura pelan.   “Kamu sudah bangun nakkkk” ucap Lasmi, ia pun segera memanggil dokter untuk memeriksa anaknya yang sudah tertidur selama 2 hari, ia begitu senang melihat sang anak sudah terbanagun dari tidur panjangnya.   “Keadaannya sudah stabil, ibu tolong dipantau terus keadaannya, jangan sampai melewatkan makan dan obatnya agar lekas pulih” ucap dokter tersebut, Lasmi pun mengangguk dengan begitu sigap.   “Terima kasih dok” ucap Lasmi, ia pun mengantar dokter tersebut keluar dari ruangan itu.   “Raaa, mamah bawain bubur kesukaan kamu, Laura makan ya nakk” ucap Lasmi, ingin rasanya ia memeluk Laura dan menangis, namun itu semua ia tahan agar Laura bisa segera pulih. Lasmi pun menyuapin Laura yang sedari tadi hanya diam dan menerima suapan demi suapan  itu.   “Maafin Laura Maahhhh” ucap Laura pelan disela suapan yang diberikan oleh Lasmi, ia pun tak kuasa untuk menahan airmatanya yang menetes begitu saja, rasa bersalahnya begitu besar kepada sang ibu.   “Mamah sudah maafin kamu sayang, kamu cepat sembuh ya, biar kita bisa liburan lagi ke rumah oma” ucap Lasmi tersenyum dan menahan air matanya agar tidak jatuh.   “Apakah Jo yang bawa Laura kesini?” tanya Laura, Lasmi hanya mengangguk.   “Apakah dia yang menghubungi mamah?” tanya Laura kembali, Lasmi pun kembali mengangguk.   Laura begitu merasa sedih, apa yang dilakukannya sudah diluar kendalinya, hanya karena penolakan Jonathan ia sampai merus dirinya sendiri yang selama ini selalu ia jaga dengan baik, ia sudah menghancurkan harapan ibunya yang selama ini begitu menyayangi dirinya.   “Laura mencintai Jonathan mah, Laura juga yang sudah menghancurkan hidup Laura sendiri, Laura benar-benar minta maaf” ucap Laura terisak, Lasmi pun langsung memeluk putri kesayangannya itu, ia tak sanggup membayangan semua yang telah dilakukan oleh Laura.   “Jangan membenci Jonathan mahh, dia ga pernah salah, Laura yang salah, Laura yang ga bisa kendaliin diri Laura” ucap Laura kembali.   “Sudah cukup nakk, mamah tetap menyayangi kamu mau seperti apapun kamu, kamu tetap anak mamah, kamu akan tetap jadi kesayangan mamah, dan mamah tidak akan pernah membenci Jonathan” ucap Lasmi yang sudah tak mampu menahan tangisnya. Lasmi melepaskan pelukannya, ia kembali menatap wajah putrinya dan mengusap lembut airmatanya yang menetes,ia pun tersenyum pada Laura seolah mengatakan bahwa dirinya amat sangat menyayangi Laura.   “Kita pindah ya, kita mulai hidup baru lagi, lupakan semua kenangan kamu disini, mamah janji akan merawat kamu dengan baik, dan tak akan mamah biarkan siapapun menyakiti kamu lagi, mamah janji” ucap Lasmi, Laura memejamkan matanya dan menganggukkan kepalanya, ia ingin pergi sejauh mungkin meninggalkan semua yang menyakitkan di kota itu.   “Dokter tidak ada bilang apapun soal Laura Mah?” tanya Laura, sebenarnya ia tak ingin membahas ini, namun ia tak bisa menutupi semuanya, apalagi sejak ia sadar dan tahu bahwa dirinya sedang mengandung.   “Kamu tidak perlu menikah jika tidak ingin, mamah yang akan merawat kamu dan juga anak kamu, mamah ikhlas” ucap Lasmi membuat Laura semakin sedih, ia begitu terkejut mendengar semua ucapan sang ibu yang tela mengetahui keadaan dirinya namun masih bisa memaafkannya. “Maafin Laura mahh, Laura benar-benar minta maaf” ucap Laura menangis dipelukan ibunya, ia menumpahkan segala sesaknya dibahu sang ibu, ia menyesal melakukan hubungan terlarang itu, ia menyesal telah merusak dirinya sendiri hanya karena sakit hatinya pada Jonathan.   ***   Jonathan berjalan dengan d**a yang penuh emosi, ia masuk ke dalam diskotik, mencari seorang pria yang tak lain adalah temannya sendiri, Bimo adalah pria yang suda merusak Laura, bukti-bukti pun sudah dikumpulkan oleh Jonathan selama 2 hari ini dibantu oleh sang ayah, ia tak menyangka bahwa teman kuliahnya yang begitu sering kumpul bareng bersamanya dan teman yang lain yang sudah tega merusak dan m*****i Laura, bahkan menghamili Laura.   Jonathan mengepalkan tangannya dengan begitu keras, mencari keberadaan Bimo diantara kumpulan orang-orang yang berada didalam diskotik itu, tak lama mencari ia pun menemukan pria itu yang dilihatnya sedang duduk diapit oleh dua orang wanita dengan pakaian yang begitu minim. Dengan amarahnya yang sudah memuncak Jonathan menarik kerah baju Bimo, ia pun langsung menghujamkan kepalan tangannya ke wajah pria itu.   Buuuukkkkkkkkkkkkkkk..   Pukulan keras itu mendarat dengan begitu keras di pipi Bimo, pria itu pun langsung tersungkur, dua wanita tadi teriak dengan begitu keras dan menghebohkan tempat itu, Jonathan yang masih dikuasai amarah tak hentinya memukuli Bimo yang sempoyongan akibat pukulannya dan pengaruh minuman keras. Belum puas Jonathan memukuli Bimo, penjaga diskotik pun datang dan menyeret mereka berdua, penjaga itu mendorong mereka berdua keluar dari diskotik itu.   “Brengsekkkkkkk” ucap Jonathan yang kembali memukuli Bimo.   “Jo cukuppppp, sudah cukup Jo” ucap Julian yang menghampiri sang anak, ia pun menahan Jonathan agar tidak lagi memukuli Bimo.   “Kita selesaikan saja di kantor polisi, kamu tak perlu menghajarnya seperti ini” ucap Julian.   “b******n lu Jo, apa maksud lu haaaaa!!!!” ucap Bimo yang sedikit tersadar bahwa yang memukulnya adalah Jonathan temannya sendiri.   “Lu bilang gue b******n, terus lu harus gua sebut apa? Binatang?!!!!! Haaaaa??!!!!” ucap Jonathan emosi, ia pun berjalan menghampiri Bimo dan mengeluarkan sebuah amplop coklat ditangannya, ia membuka dan mngambil isi dari amplop itu dan melemparkan ke wajah Bimo, Bimo yang tida tahu dengan maksud Jonathan pun mencoba duduk dan melihat apa yang dilemparkan oleh Jonathan.   Bimo melihat foto-fotonya beberapa hari lalu bersama dengan Laura dan foto-foto 1 bulan terakhir saat bersama dengan Laura, bahkan sebuah percakapan di WA terpampang jelas disebuah kertas yang sudah di print, semua percakapan mesranya bersama dengan Laura, hingga bukti bahwa Laura meminta tanggung jawab atas kehamilannya.   “Jo iniiii” ucap Bimo yang tak menyangka bahwa Jonathan bisa mendapatkan itu semua.   “Tega lu ya, temen sendiri lu rusak dan dengan gampangnya lu bilang bahwa elu ga mau tanggung jawab atas anak itu, kalo bukan papa gua, udah mati lu sekarang” ucap Jonathan.   “Jo itu bukan anak gua” ucap Bimo membuat Jonathan kaget dan emosinya pun memuncak kembali, namun Julian dengan sigap menahan Jonathan agar tidak memukul pria itu lagi.   “Gua emang pernah tidur dengan Laura, tapi gua selalu pake pengaman, maaf Jo, waktu itu Laura mabuk berat karena dia sempat ngomong ke gua kalo dia cinta banget sama elu, dan dia juga bilang kalo ternyata cintanya lu tolak, lu tau kan dari dulu gua suka sama Laura, gua sakit hati denger kalo dia suka sama lu. Malem itu gua jual Laura ke temen gua dalam keadaan mabuk bakan ga sadarkan diri, dan gua yakin itu yang bikin Laura hamil” ucap Bimo, Jonathan yang tidak tahan dengan ucapan Bimo pun langsung menghujamkan kembali pukulan sekeras kerasnya pada pria itu. Hatinya begitu sakit mendengarkan semua perkataan Bimo. “b******n luuuuu!!!!!” ucap Jonathan.   “Sudah cukup Jo” ucap Julian menahan Jonathan, Julian langsung memberi isyarat kepada temannya yang seorang polisi untuk memborgol Bimo dan membawanya ke kantor polisi.   “Biar kita selesaikan di kantor polisi saja, kita cukup menghubungi ibunya Laura” ucap Julian.   “Bawa dia ke rumah sakit, aku mau dia berlutut minta maaf dihadapan ibunya Laura” ucap Jonathan, Bimo masih sadar mendengar ucapan Jonathan, ia hanya diam dan merasakan sakit disekujur tubuhnya akibat amukan Jonathan.   Jonathan mencengkram baju Bimo dan membawanya masuk ke dalam rumah sakit, dikawal oleh Julian dan seorang temannya yang polisi, Bimo pun tak bisa berkutik dengan keadaan tangannya yang sedang di borgol. Jonathan membuka pintu kamar rawat Laura, ia pun mendorong Bimo hingga terjatuh dilantai kamar itu, Laura dan ibunya pun kaget dengan kedatangan Jonathan secara tiba-tiba membawa Bimo.   “Jonathan” ucap Laura pelan, ia pun melihat pria yang tersungkur di dekat ranjangnya, melihat seorang pria yang babak belur dan tangan yang telah di borgol, ia pun tersadar setelah melihat pria itu menatapnya.   “Bimo” ucap Laura kembali.   “Ada apa Jo?” tanya Lasmi.   “Minta maaf dan katakan semuanya, setidaknya itu akan meringankan hukuman lu di pengadilan” ucap Jonathan, Bimo pun mencoba berdiri dengan sekuat tenaganya ia menundukkan kepalanya dan begitu merasa malu.   Bimo menceritakan semua kejadian dan semua perbuatannya terhadap Laura, Lasmi yang mendengarkan itu pun menutup mulutnya seolah tak mempercayai dengan apa yang sudah dikatakan oleh Bimo, begitu kejam perbuatan yang dilakukan Bimo terhadap Laura. Laura yang mendengarkan itu pun hanya terdiam dan menangis, ia tak menyangka Bimo tega melakukan hal itu kepadanya yang selama ini sudah ia anggap sebagai kakaknya sendiri.   Bimo bersujud di kaki Lasmi dan meminta maaf atas perbuatannya kepada Laura, ia telah menyadari semua perbuatannya yang salah, Lasmi hanya menangis meratapi betapa malang nasib anak yang begitu ia sayangi itu. Julian dan temannya pun segera membawa Bimo untuk di periksa lebih lanjut, terlebih mereka juga mengetahui bahwa Bimo juga seorang p**************a yang sudah lama mereka cari.   Jonathan begitu lega melihat Bimo yang sudah ditangkap, namun ia juga masih merasakan begitu sakit dengan keadaan Laura akibat ulah Bimo. Laura mengelus pundak sang ibu yang masih terisak, Lasmi menggenggam tangan Laura begitu lembut, begitu sakit hatinya mendengarkan semua yang terjadi pada anaknya.   “Mah, Laura minta izin sebentar untuk bicara dengan Jo” ucap Laura setelah melihat sang ibu suda menenangkan dirinya, Lasmi menatap kearah Jonathan yang sedari tadi masih diam dan berdiri dekat pintu. Lasmi pun mengangguk dan meninggalkan mereka berdua, Jonathan berjalan mendekati Laura dan duduk di kursi dekat dengan tempat tidurnya.   “Makasih banyak ya Jo, udah bantuin aku, makasih udah nenangin mamah aku kemaren” ucap Laura tersenyum, hati Jonathan semakin sakit melihat senyuman itu, ia benar-benar tak bisa membayangkan kehidupan Laura setelah ini.   “Tak perlu membayangkan gimana kehidupan aku setelah ini, aku akan baik-baik saja” ucap Laura membuat Jonathan kaget.   “Aku minta maaf, maaf karena aku kamu jadi seperti ini” ucap Jonathan merasa bersalah.   “Kamu ga salah Jo, aku yang salah, fikiranku diluar kendali sampe ga bisa mikir gimana caranya jadi orang yang ikhlas” ucap Laura.   “Apa yang akan kamu lakuin setelah ini?” tanya Jonathan. “Aku akan pergi sama mamah, ninggalin kota ini, memulai hidup baru bersama mamah, dan juga anak aku” ucap Laura.   “Kemana?” tanya Jonathan, Laura hanya menggelengkan kepalanya.   “Aku ga tau Jo, sejauh mungkin sepertinya” ucap Laura, Jonathan menghela nafasnya, ia menghargai semua keputusan Laura.   “Kalo perlu apapun, atau suatu saat kamu butuh bantuan, dimana pun itu, kasih tau aku, aku siap bantu kamu” ucap Jonathan.   “Termasuk nikahin aku?” ucap Laura membuat Jonathan kaget.   “Hahaha, aku hanya bercanda Jo, tak perlu syok seperti itu” ucap Laura membuat Jonathan terdiam.   “Aku tidak akan menikah Jo, aku ingin membesarkan anakku hanya bersama mamah, aku sudah ikhlas dengan keadaan aku sekarang, doakan yang terbaik untukku ya Jo” ucap Laura memegang tangan Jonathan, Jonathan pun kembali menggenggam tangan Laura, mungkin ia tak bisa membalas perasaan Laura, tapi ia hanya ingin menguatkan Laura yang memang sedang membutuhkan kekuatan untuk dirinya sendiri.   “Maafin aku yang bener-bener ga bisa balas perasaan kamu Ra” ucap Jonathan, Laura pun mengangguk dan tersenyum pada Jonathan.   “Aku ngerti Jo, ga apa-apa Jo, aku tau kamu menyukai wanita berhijab itu, pria mana yang tidk menyukai wanita secantik itu dan aku juga tau wanita yang bernama Aurel bukanlah siapa-siapa kamu” ucap Laura.   “Kamu tahu dari mana Aurel bukan siapa-siapa aku?” tanya Jonathan.   “Kamu bukan pria yang begitu mudah ditakhlukkan, dan tak semudah itu kamu mengenalkan seorang wanita sebagai pacar kamu kalau bukan terpaksa” ucap Laura, Jonathan pun tersentuh dengan kata-kata itu.   “Makasih banyak Ra” ucap Jonathan.   “Perjuangkan apa yang memang harus diperjuangkan Jo, apa yang sudah melekat dihati kamu jangan sampai membuat kamu menyesal” ucap Laura, Jonathan pun tersenyum mendengarkan kata-kata yang begitu dewasa dari Laura, ia yakin bahwa Laura sudah memaafkan dirinya sendiri dan sudah menerima kenyataan dengan baik. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD