Hancurnya Hati Orang Tua

521 Words
Haru bahagia sedang menyelimuti Keluarga besar Cakra dan Bey. Menyambut kedatangan seorang bayi laki-laki mungil yang bernama Arya Cakra Bawana. "Duh lucu ya bayinya" "Akhirnya Ayah mendapatkan cucu laki-laki" "Beruntung Shifa, Ia bakalan jadi menantu kesayangan Ayah" "Udah lahir penerus Ayah selanjutnya" "Uhhh sini tante gendong, gemess mau gigit" terdengar bisik-bisik keseruan dikeluarga besar Cakra. "Ga nyangka Shifa bakal jadi Ibu" "Iya padahal kemaren kayanya masih suka manjatin pohon hihi" "Semoga Arya tumbuh jadi anak yang Sholeh ya Dek" "Kamu harus lebih semangat lagi, udh punya Arya sekarang" "Mas Ari mu kemana? kok ga ada?" "Iya ya? padahal Istrinya lagi melahirkan" "Kerja kali, udh jangan ngomongin orang" "klo Istri lagi melahirkan kan bisa izin" "Suami apaan kaya gitu" Terdengar juga keseruan dikeluarga besar Bey Semua orang terlihat bahagia walau ada celetukan ga enak dan sedikit pertanyaan yang kadang membuat Shifa mengelus sabar dadanya dan tersenyum kecut. "Kemana Anakmu Cakra?" tanya Bey menarik tangan Cakra keluar ruangan. "Dia lagi ada urusan pekerjaan" jawab Cakra menutupi sesuatu. "Kamu pikir aku anak kemaren sore!!sebenarnya apa yang terjadi?? jelaskan padaku!" ucap Bey kesal setelah memperhatikan banyak luka kering disekitar tangan Shifa. "Nanti akan aku jelaskan Bey, jangan disini, jangan merusak hari bahagia Shifa dan cucu kita" ungkap Cakra menenangkan Bey. "Aku tunggu penjelasanmu Cakra!" lalu bey melepaskan tangannya dan kembali masuk duduk disamping anak kesayangannya. Cakra hanya menatap kosong memandangi Bey dan Shifa, biar gimanapun semua ini akibat ulahnya memaksakan pernikahan Ari dan Shifa yang sekarang akhirnya berantakan. Sore hari nya mereka satu per satu meninggalkan Shifa dan Bayi kecilnya, hingga hanya tersisa Cakra, Bey dan Shifa saja. "Sampai jam segini, suami mu masih belom keliatan sayang?" tanya Bey lembut kepada anaknya. "Hhmm Mas Ari sedang ada kerjaan Pah" jawabnya tersenyum kikuk lalu menatap Cakra menunggu jawaban dari Ayah Mertuanya. Shifa tidak tau percakapan Cakra dan Bey diluar tadi, Ia menatap bingung Ayah mertuanya hanya tertunduk tidak menjawab apapun. "Apa yang kamu sembunyikan Shifa?" tanya Bey sedih melihat anaknya menyembunyikan sesuatu. Shifa hanya tertunduk diam tidak bisa menjelaskan. "Nak, apa kamu disakiti Suami mu?" Bey coba menyelidiki anaknya dengan sabar. Orang tua mana yang tega melihat anak kesayangannya disakiti orang lain, apalagi dengan bekas luka yang jelas terlihat oleh matanya. "Shifa gpp, Papah ga usah khawatir ya" jawabnya memegang erat tangan Bey meyakinkan. "Saya janji akan merawat Shifa dan Arya seperti anakku sendiri" ucap Cakra yang tak tega melihat Bey dan Shifa saat itu. "Merawat??!! Ini yang kau bilang merawat Cakra??" Bey menarik pergelangan tangan anaknya lalu menunjukan bekas luka dan beberapa memar terlihat jelas berbekas di kulit putih Shifa.  Shifa tersentak kaget, bagaimana bisa Papahnya mengetahui bekas luka yang dari tadi Ia tutupi agar tidak terlihat olehnya. Dan Cakra, tidak bisa menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Bey mencoba menahan emosi melihat luka yang membekas di tangan Shifa. "Ayo Nak ceritakan pada Papah apa yang terjadi, ga perlu kamu menyimpan itu semua sendirian, ada papah disini, kamu tau kan papah akan selalu menjagamu?" jelas bey sedikit mengeluarkan air mata. "Gpp Pah, percaya sama Shifa ya, klo ada apa-apa pasti aku cerita sama papah" ucapnya lalu mencium tangan Bey lembut. "Yaudh klo gitu Papah pulang ya sayang, Cakra titip anakku" Bey pamit dan berpesan kepada Cakra. Shifa menatap punggung Papahnya tersebut dengan tatapan sendu. "Maafkan aku Pah, aku ga mau Papah pikiran" sebutnya dalam hati. Cakra mengusap lembut punggung menantunya, "Sabar Nak, Ayah pasti menjaga kamu seperti Papah menjagamu"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD