Hari ini adalah hari dimana setahun sebelumnya Shifa dan Ari menikah.
Dengan sebuah harapan dari Cakra berharap agar Shifa dapat merubah sifat Ari ternyata harapan belaka.
Tepat setahun pula Shifa menjadi bulan-bulanan kekesalan Suaminya itu. Luka lebam disekujur tubuhnya sudah biasa Ia rasakan, air mata sudah tak terhingga membasahi hari-hari yang dilaluinya tanpa pernah mengeluh.
Hanya Cakra yang setia menemani, merawat dan menyemangati menantunya itu.
"Shifa udah ga kuat Yah.." keluhnya sambil meringis menahan sakit yang sedang diobati Ayah mertuanya itu.
"Maafkan Ayah Nak, Maafkan anakku Ari" hanya itu yang selalu diucapkan Cakra bersedih, tak tega melihat luka membiru disekitar mata Shifa.
Shifa yang mendengar kalimat dari mulut Cakra hanya bisa tertunduk lemas.
"Sabar Nak, kamu harus kuat, pikirkan anak yang sedang kamu kandung" Cakra menasehatinya.
Shifa sedang hamil besar, usia kandungannya hampir mencapai 9 bulan. Cakra yang mengetahui kehamilan Shifa begitu bahagia, ditambah Dokter bilang calon cucunya adalah seorang laki-laki.
Sejak saat itu Cakra terus menjaga Shifa agar kelak cucunya dapat dilahirkan dengan selamat, maklum cucu laki-laki memang sangat dinanti olehnya.
walau kadang harus bertengkar dengan anaknya, sempat merasakan bogem mentah dan tersungkur, Cakra tetap berusaha menjaga Shifa dan calon cucunya itu.
Cakra yang sudah memasuki umur 58 Tahun.
Tidak lagi sekuat dulu harus terima perlakuan kasar Ari karena kesalahan mendidik dimasa lalunya terpaksa Ia terima.
Pernah beberapa kali Shifa mencoba menggugurkan kandungannya itu, berharap darah daging hasil pernikahannya dengan Ari tidak terlahir kedunia.
Tapi Tuhan punya rencana lain, berbagai cara yang Shifa lakukan tidak membuat Bayi tersebut gugur.
"Mungkin dengan lahirnya anak kalian, Ari akan sadar akan kesalahannya kepada mu Shifa" harap Cakra lalu berdoa.
Shifa hanya memeluk erat Ayah yang sering membelanya ketika Ari mulai mengamuk.
"Kamu kelak akan menjadi pembeda didalam keluarga dan sekitarmu, kamu akan terang dan bercahaya, membawa kebahagiaan dan kehormatan. Kamu adalah hadiah dari Tuhan" Batin Cakra mengusap lembut perut Shifa yang bengkak membesar.
Hari yang dinantikan datang, Shifa mengalami kontraksi, membuat air ketubannya pecah.
"aaaahhhhhhhh!! Mas Ari!!! tolong Mas!" teriak Istrinya menahan sakit yang luar biasa.
Ari yang mendengar teriakan Shifa, hanya berhenti sejenak menegaskan, lalu melangkah santai meninggalkan rumahnya.
Beberapa bulan belakangan ini, Ari memang berubah, tidak lagi peduli dan perhatian kepada Istrinya.
Kabar tak sedap yang beredar ditelinga Shifa, Ari tengah jatuh hati kepada gadis kampung sebelah.
setiap malam Ari pulang dalam keadaan mabuk, tercium bau Minuman keras dari mulutnya, diselingi makian yang terucap untuk Istrinya keras.
Melihat Ari yang tidak menggubrisnya, Shifa memutuskan berjalan kerumah Ayah mertuanya, Cakra.
"Aagghhhh!! Ayahh!! Tolong!!" Shifa mengadu kesakitan didepan halaman rumah Cakra.
Terdengar langkah berat yang berlari dari dalam rumah,
"Yaampun Shifaa!! kamu kenapa Nak? Mana Suami mu??" Cakra kaget menantunya berdiri dihalaman rumahnya, dengan wajah pucat lesu, dan tetesan darah yang membasahi kedua kakinya.
"Shifa udah ga kuat Yah, bawa Shifa kedokter! Aaggrrhh!!" ucap Shifa lalu terjatuh.
Dengan sigap Cakra berlari memeluknya tepat sebelum Shifa menghantam tanah.
Sesampainya di Rumah Sakit,
Shifa langsung ditangani oleh Dokter dengan cepat.
"Maaf Pak, apakah bapak suaminya?" tanya seorang Dokter kepada Cakra.
"Ssaa..yyaa.. Ayahh..nyaa Dok" jawab Cakra terbata khawatir dengan keadaan Shifa.
"Maaf Pak, Kami tidak bisa melakukan Operasi tanpa persetujuan dari Suami Ibu Shifa" Sahut Dokter itu tegas. Lalu "Apa Bapak mau menanggung semua resikonya sebagai pengganti Suami Ibu Shifa?" menjelaskan Prosedur Operasi Sesar.
"Gpp Yah.. Aahhh.. Mas Ari tidak tau ada dimanaa, aku udah ga kuat lagii" ucap Shifa terbata menahan sakit.
"Baik Dok, Saya akan bertanggung jawab" jawab Cakra pelan.
Setelah menanda tangani beberapa prosedur dokumen, akhirnya Dokter mengoperasi Shifa.
Beberapa Jam Kemudian.
Cakra menunggu dengan penuh rasa khawatir dan cemas mengenai Menantu dan Calon Cucunya.
"Oek! Oek! Oek!"
terdengar nyaring tangisan seorang Bayi.
Cakra dapat bernapas lega sekarang, mendengar tangisan cucunya.
Ada rasa haru saat itu, sampai tak kuasa cakra mengeluarkan air mata bahagia.
"Akhirnya Kamu lahir Nak, Anak yang dijanjikan" Batinnya dengan perasaan bahagia.