"Dari mana kamu?" tanya Ari geram yang menunggu Istrinya pulang kerumah.
"Main dirumah tetangga!" jawab Shifa malas melihat suaminya itu.
"Kamu Istri Mas! Kewajiban kamu melayani suami, ngerti?" bentaknya kesal karna istrinya terlihat tidak senang dengan pertanyaannya.
"Melayani suami?? kamu bisa pinta itu sama mbak Rini Mas!" Shifa pun akhirnya meledak mendengar Ari menyebut tentang kewajiban Istri.
Ari menghampiri Shifa, dan "Plakk" tangan besarnya mendarat dipipi Istri kesayangannya.
"Kamu jangan pernah membahas masalah Rini lagi!!" dalam hatinya Ari menyesal telah menampar Shifa, tapi Ia juga sudah tidak kuat setiap hari Istrinya itu selalu saja mempermasalahkan tentang kesalahannya dulu.
Shifa hanya diam mematung, merasakan panas di pipi mulai menjalar hangat. "Aku benci kamu mas! aku benci!" shifa mengutuk Ari didalam hatinya.
"Mas ga mau denger kamu keluar dari rumah lagi, ngerti?" perintahnya kepada Shifa lalu Ia pergi meninggalkan rumah.
Setelah melihat Ari sudah tidak dirumah, Shifa yang dari tadi mencoba menahas air matanya agar tidak turun. Akhirnya mengalir deras.
Shifa menangis sejadi-jadinya, membanting apapun yang ada dihadapannya. Ia menyesal telah menerima perjodohannya dulu.
Dia membenci Ari dan Cakra karna telah membohonginya, merebut kebahagiaan masa mudanya, kebebasannya.
terlihat tangan dan kakinya mengeluarkan darah segar akibat pecahan kaca mengenai dirinya.
Ingin rasanya Ia pergi meninggalkan rumah kembali pulang bersama Bey papahnya. Sosok yang selalu menyayanginya, menjaganya dan tidak pernah memukul dirinya.
"Aku kangen Pah, aku menyesal tidak menuruti ucapanmu dulu, maafin Shifa.." ucap Shifa lirih masih terus menangis.
"Shifa, buka pintunya Nak.." terdengar khas pemilih suara berat itu memanggil namanya didepan pintu.
"Ayah? tunggu sebentar Yah.." teriak Shifa dari dalam rumah, lalu menyeka kasar air mata yang membasahi pipinya. Mengambil sapu lalu membereskan bekas pecahan perabotan rumahnya.
Shifa kemudian berlari menuju pintu rumahnya dan membuka pintu tersebut.
Sosok Cakra menunggu dengan sabar didepan pintu rumahnya terlihat membawa beberapa bungkus plastik besar ditangannya.
"Ayah tumben kemari, ada apa?" sapa Shifa lalu mengambil plastik yang dipegang oleh Cakra dan mempersilakan Ayah mertuanya untuk masuk kedalam rumah.
Cakra yang memperhatikan Shifa dari tadi melihat mata menantunya itu bengkak akibat menangis, beberapa luka memar dipipi, tangan dan kakinya membuat Shifa sedikit meringis kesakitan.
"Kamu kenapa Nak?" tanya Cakra menyelidiki.
Shifa hanya menggelengkan kepala lalu menunduk malu dan menahan rasa sakit dan perih akibat luka itu.
"Kamu ambil Air hangat sama kotak obat Ayah dibelakang" Cakra menyuruh menantunya dengan nada yang lembut.
"Baik Ayah.." jawabnya lalu pergi kebelakang.
kemudian kembali membawa apa yang sudah Cakra pinta tadi dan duduk disampingnya.
Shifa melihat Ayah Mertuanya membersihkan dan mengobati luka yang Ia dapatkan tadi,
Cakra memang sangat ahli dalam merawat dan mengobati orang.
Sangat berbeda dengan Ari, anaknya.
Cakra sangat sabar dan telaten. Nada bicaranya lembut menyentuh hati.
"Maafkan Ayah Nak.." Suara Cakra memecah keheningan saat itu.
"Semua gara-gara Ayah, kamu harus menanggung semua ini. Ayah harap kamu mengerti dan bisa memaafkan Ayah." ucap Cakra menyesali keputusannya.
"Ayah ga menyangka, Ari akan berbuat sekeras ini. Itu karena dia sangat menyayangi kamu Shifa. Tolong beri Ari kesempatan sekali lagi agar dia bisa berubah, Ayah yakin kamu bisa mengubahnya menjadi lebih baik" pesannya kepada Shifa.
Malam itu Shifa merasa Cakra sungguh-sungguh meminta maaf padanya. Sehingga membuat Shifa luluh, rasa dendam terhadap Cakra perlahan hilang dari lubuk hatinya.
"Iya Yah, Shifa udah memaafkan Ayah.." Jawabnya pelan lalu tersenyum.
"Terima kasih Nak.. Ayah berharap kamu terus kuat menghadapi Suami mu, sampai dia berubah. Ayah akan terus menjagamu dan cucu Ayah nanti" janjinya kepada Shifa.
Setelah Cakra selesai mengobati luka Shifa, Ia pamit dan meninggalkan Menantunya dirumah.