Pintu ruangan terbuka tepat ketika Raiza ingin membuka mata. Netranya pun bersitatap dengan mata indah yang kini menunduk mengalihkan pandangan. Raiza mengigit bibir getir. Apakah yang dilakukannya telah benar? Crisy menolak bersitatap dengannya. Suster yang membimbingnya masuk ruangan pun tak membantu wanita itu menaiki ranjang. Malainkan hanya mengeluarkan barang-barang dari nakas pasien. Ia mengemas semuanya, bersiap untuk pergi. "Kau mau ke mana?" tanya Raiza dengan raut bingung. "Mereka bilang kau istriku, jadi bisakah kau tetap di sini agar aku bisa mengingatmu dengan lebih cepat?" Crisy menitikkan air mata. Haruskah ia berdamai sekali lagi. Sekarang suaminya telah bersatu kembali dengan keluarganya. Juga Valeri yang selama ini ia hindari. Lalu jika Crisy memilih bertahan, bukanka

