Sejak tadi Raiza memberenggut kesal. Pasalnya ia terus melihat interaksi Devan dan istrinya yang membakar api cemburu. Devan melayaninya bak seorang ratu, malah mengabaikan dirinya yang tak bisa berbuat apa-apa karena kedua tangan yang patah. Sekarang, setelah Devan pergi, Crisy malah enggan memejamkan mata, ia terus membaca buku dalam genggaman, mengabaikannya, juga menolak untuk tertidur. Padahal Raiza sangat ingin mencuri ciuman dari wanitanya yang terlelap. Detak jam dinding terus mengiringi kebungkamannya, pun wajahnya yang masih memberenggut masam. Sekali lagi ia menoleh pada Crisy, kemudian mendengkus. "Hei, kenapa dari tadi kau hanya sibuk membaca buku, bicaralah padaku." "Namaku bukan Hei, lagipula tak ada yang harus kubicarakan, pembicaraan kita tak akan nyambung." "Tapi ..

