Valeri memasukkan barang-barang milik Raiza. Sekarang kakaknya sudah diperbolehkan untuk pulang dan melakukan pemeriksaan rutin seminggu sekali, sampai gip-nya dilepaskan. Sementara di sisi lain Crisy sudah mematung bingung, antara harus ikut atau tidak. Pakaiannya sendiri sudah dikemas dengan rapi. "Ayo, Kak," ajak Valeri dengan wajah ceria. Raiza menoleh istrinya. Ada nyeri yang menyusup dalam hatinya melihat wanita itu hanya menunduk. Ini akan jadi hal yang sangat menyakitkan bagi Crisysian. Namun, jika ingin rencananya berhasil, mereka berdua harus sama-sama berkorban. "Ayo, Cris. Biar Pak Udin membantumu membawa tas pakaiannya." "Aku ...." Crisy mengatupkan rahangnya. "Hana akan menjemputku jadi kalian pergilah." Akhirnya kata-kata itu terlontar juga. "Apa yang kau katakan? Bagai

