Part 44

1615 Words

Pria itu duduk di atas kursi roda dalam diam. Memandang bagaimana dedaunan melambai di taman dekat rumahnya. Sementara Mey Chan menungguinya dalam diam. Devan enggan untuk berlatih. Sejak kemarin, saat Crisy meninggalkannya, semangatnya menguap sirna. Hari ini ia harus berlatih dengan Mey Chan karena Valeri meninggalkannya untuk bekerja. Lagipula meski Valeri ada di sana, pun ia tetap enggan untuk berlatih. "Kenapa tak coba menghubunginya, Tuan?" Devan menoleh pada Mey Chan yang menatapnya. "Kau tahu apa yang terjadi di antara kami, ya?" Gadis berpakaian maid itu tersenyum. "Siapa pun bisa melihat dengan jelas bagaimana kau sangat menyayangi Crisysian. Yang aku tak mengerti hanya, kenapa kalian begitu menahan diri?" Senyum tipis mengembang di wajah tampan Devandra. "Hidup telah menje

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD