Mengigit ujung pulpen dengan bibirnya, Raiza menatap kosong dengan memangku tangan di atas meja. Beberapa saat lalu, pertama kalinya Crisy menelpon mendahuluinya dan menangis. Gadis itu sesenggukan. Diabaikan sang ibu membuatnya jauh lebih terluka ketimbang perlakuan Devandra padanya. "Kenapa semua jadi sekacau ini," gumamnya. Menimbang sejenak tindakan apa yang harus dilakukannya, Raiza pun menelepon sekertarisnya melalui telepon yang ada di atas meja. Tak lama hentakan heels dua belas centi sang sekertaris terdengar memasuki ruangan. "Jein, bisa kau berikan salinan jadwal meetingku dan rencana kunjunganku hingga beberapa hari ke depan?" "Tentu, Pak," sahut Jein sopan. "Apa perlu saya print? Atau kirim langsung ke komputer, Bapak?" "Kirimkan saja. Aku menunggu." "Baik." Gadis itu p

