Seperti pagi kemarin dan kemarinnya lagi, suasana di rumah Devandra selalu saja sepi seperti kuburan. Hanya suara denting sendok yang beradu menjadi pengiring acara sarapan pagi minggu itu. Valeri yang lelah dengan kebungkaman itu pun menghela napas. Meminum jus dari gelasnya terlebih dahulu baru berbicara. "Dev, hari ini minggu, aku libur bisakah kita jalan-jalan?" Devandra mengacuhkanya. Ia masih tetap menyantap hidangan di hadapannya. "Dev, aku bicara padamu." "Kau bisa jalan-jalan sendiri. Kau gadis mandiri, tak butuh pria cacat sepertiku untuk menemani." "Dev." Gadis itu kembali menghela napas. "Sebentar lagi kita akan menikah, kumohon berhentilah bersikap sedingin dan seketus ini padaku." Meletakkan saputangan setelah mengelap bibirnya, Devan pun kini menatap Valeri serius. "J

