bc

Saat Musim Gugur Melupakan Nama Kita

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
forbidden
friends to lovers
drama
mystery
campus
office/work place
like
intro-logo
Blurb

Semua orang mengira hubungan terlarang selalu dimulai karena hasrat.

Mereka salah.

Hubungan ini justru dimulai karena sebuah penelitian.

Dr. Adrian Mahendra, dosen muda berusia 35 tahun, terkenal sebagai akademisi paling dingin di Fakultas Humaniora. Ia tidak pernah mendekati mahasiswa, tidak pernah memberi nilai istimewa, bahkan terkenal keras terhadap siapa pun.

Di balik reputasi sempurnanya, Adrian menyimpan luka yang membuatnya bersumpah tidak akan pernah lagi mencampurkan perasaan dengan dunia akademik.

Hingga muncul Aruna Pradipta.

Mahasiswi tingkat akhir berusia 23 tahun yang nyaris gagal lulus karena memilih mengurus seorang ibu penderita Alzheimer daripada mengejar IPK.

Aruna bukan mahasiswi tercerdas.

Bukan pula yang tercantik.

Namun ia selalu mengajukan pertanyaan yang membuat Adrian kehilangan kemampuan menjawab dengan logika.

Mereka dipertemukan sebagai dosen pembimbing dan mahasiswa skripsi.

Semuanya berjalan profesional.

Sampai sebuah penelitian membawa mereka ke kota kecil yang menyimpan sejarah kelam.

Di sana mereka menemukan jurnal tua, surat cinta puluhan tahun lalu, dan rahasia yang ternyata berhubungan dengan keluarga mereka sendiri.

Perasaan yang semula hanya rasa hormat berubah menjadi sesuatu yang tidak boleh ada.

Mereka mencoba menjauh.

Tetapi semakin jauh melangkah, semakin banyak kebenaran yang mempertemukan mereka kembali.

Yang membuat semuanya lebih rumit…

Hubungan itu bukan sekadar melanggar etika.

Melainkan membuka konspirasi akademik, dendam keluarga, dan kematian misterius seorang profesor dua puluh lima tahun silam.

chap-preview
Free preview
Perempuan yang Datang Terlambat
Hujan turun sejak sebelum matahari benar-benar tenggelam. Butiran air memukul atap gedung Fakultas Humaniora Universitas Nusantara dengan ritme yang pelan namun tak pernah berhenti, membuat koridor tua berlantai granit itu dipenuhi gema langkah kaki mahasiswa yang bergegas pulang. Bau tanah basah bercampur aroma buku-buku tua dari perpustakaan yang berdiri tepat di seberang gedung menciptakan suasana yang aneh—sunyi, tetapi hidup. Di lantai tiga, sebuah ruang seminar masih menyala. Lampu putih menerangi meja panjang yang dipenuhi tumpukan proposal skripsi. Jam digital di dinding menunjukkan pukul 17.48. Sidang proposal seharusnya telah selesai hampir satu jam yang lalu. Namun satu nama masih belum dipanggil. Dr. Adrian Mahendra menutup map terakhir di hadapannya sambil melepas kacamatanya. Lelaki berusia tiga puluh lima tahun itu mengusap pangkal hidungnya sebentar, kemudian menatap kursi kosong di depan meja penguji. "Sepertinya mahasiswa terakhir tidak akan datang," ujar salah seorang dosen penguji. Adrian tidak segera menjawab. Tatapannya tetap tertuju ke pintu. "Kalau lewat lima belas menit, langsung dinyatakan gugur saja." Nada bicaranya datar. Tanpa emosi. Tanpa kemarahan. Justru karena terlalu tenang, setiap kata yang keluar dari mulutnya terdengar lebih tegas. Reputasi Adrian sudah dikenal hampir seluruh mahasiswa. Ia tidak pernah menerima alasan. Tidak pernah memberi nilai belas kasihan. Dan tidak pernah mengubah aturan hanya karena seseorang menangis di depannya. Di kampus, mahasiswa memiliki julukan khusus untuknya. Hakim Musim Gugur. Karena setiap mahasiswa yang dibimbingnya selalu berkata bahwa bertemu Adrian terasa seperti berjalan melewati hutan musim gugur—indah dari kejauhan, tetapi dingin ketika benar-benar memasukinya. Ketukan sepatu terdengar dari ujung koridor. Semakin dekat. Semakin cepat. Pintu ruang seminar tiba-tiba terbuka. Seorang perempuan masuk sambil terengah-engah. Rambut hitam panjangnya sedikit berantakan karena hujan. Ujung jilbab krem yang dikenakannya basah. Tas kanvas cokelat menggantung miring di bahunya. Ia membungkuk dalam-dalam. "Maaf... maaf saya terlambat." Ruangan menjadi hening. Semua mata mengarah kepadanya. Adrian melihat jam di dinding. "Lima puluh delapan menit." Perempuan itu mengangguk pelan. "Saya tahu, Pak." "Kenapa terlambat?" Tidak ada nada menghakimi. Hanya pertanyaan sederhana. Namun justru itulah yang membuat banyak mahasiswa gugup. Perempuan itu mengangkat wajahnya. Namanya Aruna Pradipta. Mahasiswi semester akhir. IPK tiga koma enam. Aktif dalam penelitian sejarah budaya. Tidak pernah memiliki catatan pelanggaran. Namun hari ini ia datang hampir satu jam terlambat. Aruna menarik napas perlahan. "Ibu saya hilang." Semua orang saling berpandangan. "Sebelum berangkat ke kampus, ibu keluar rumah tanpa saya sadari. Beliau mengidap Alzheimer. Saya mencari beliau sampai ke terminal, pasar, dan masjid sekitar rumah." Suasana berubah. Salah satu dosen perempuan tampak menghela napas pelan. "Tadi tetangga menelepon. Ibu sudah ditemukan. Karena itu saya langsung ke sini." Aruna tidak menangis. Tidak meminta belas kasihan. Ia hanya berdiri sambil menggenggam map proposal yang sudah sedikit basah. Adrian memperhatikannya beberapa detik. "Ceritamu mungkin benar." Aruna mengangguk. "Tapi aturan tetap aturan." "Saya mengerti." "Kamu tahu konsekuensinya?" "Saya harus mengulang sidang semester depan." "Ya." Jawaban itu keluar tanpa jeda. Tidak ada ruang untuk negosiasi. Dosen lain tampak ingin mengatakan sesuatu, tetapi Adrian lebih dulu menutup map di hadapannya. "Sidang selesai." Aruna kembali membungkuk. "Terima kasih sudah mendengarkan penjelasan saya." Kalimat itu membuat Adrian mengangkat kepalanya. Mahasiswa biasanya akan memohon. Berjanji. Bahkan ada yang menangis. Tetapi perempuan ini... Ia justru mengucapkan terima kasih. Lalu berbalik pergi. Koridor terasa lebih dingin setelah hujan mulai reda. Aruna berjalan perlahan sambil memeluk mapnya. Dadanya sesak. Bukan karena sidang yang gagal. Melainkan karena ia merasa telah mengecewakan ibunya. "Kalau Ayah masih ada..." Kalimat itu berhenti di bibirnya. Sudah hampir tujuh tahun ayahnya meninggal. Sejak saat itu, dunia mereka hanya berisi dua orang. Dirinya. Dan ibunya. Tak jauh dari tangga, seorang perempuan berambut pendek melambaikan tangan. "Nuna!" Aruna menoleh. "Nala." Nala menghampirinya sambil membawa dua gelas kopi. "Gimana?" "Gagal." "Dia nolak?" Aruna mengangguk. "Padahal alasanmu jelas." "Beliau cuma menjalankan aturan." Nala mendengus. "Kalau aku jadi dosennya, pasti langsung kasih kesempatan." Aruna tersenyum tipis. "Mungkin justru karena beliau bukan kamu, kampus ini masih punya aturan." Nala menatap sahabatnya beberapa saat. "Kamu masih bisa bercanda?" "Kalau aku ikut marah, keadaan juga nggak berubah." Mereka tertawa kecil. Tawa yang lebih mirip usaha untuk bertahan daripada benar-benar bahagia. Di sisi lain gedung. Adrian masih duduk sendirian di ruang seminar. Proposal-proposal sudah dirapikan. Namun pikirannya belum benar-benar meninggalkan kejadian tadi. Ia membuka kembali daftar peserta sidang. Aruna Pradipta. Nilai akademik sangat baik. Beberapa artikel ilmiahnya pernah dimuat di jurnal mahasiswa. Tema proposalnya pun berbeda dari kebanyakan. "Ingatan Kolektif Masyarakat Pasca Konflik Lokal." Topik yang tidak populer. Tetapi menarik. Adrian menghela napas. Ia mengambil map Aruna. Kertas-kertas di dalamnya masih sedikit lembap. Di halaman pertama terdapat sebuah catatan kecil yang ditulis tangan. "Sejarah bukan hanya tentang masa lalu. Ia adalah cara manusia memilih apa yang ingin diingat." Adrian berhenti membaca. Kalimat itu sederhana. Namun terasa hidup. Ia menutup map perlahan. Lalu memasukkannya kembali ke dalam tumpukan. Tidak. Aturan tetap aturan. Malam turun bersama udara yang semakin dingin. Di sebuah rumah sederhana di pinggiran kota, Aruna membantu ibunya makan malam. Perempuan tua itu duduk diam sambil memegang sendok. "Nak..." "Iya, Bu?" "Kamu sudah pulang sekolah?" Aruna tersenyum. "Sudah." "Ibu telat jemput ya?" "Tidak." "Maaf..." "Ibu tidak salah apa-apa." Ibunya menatap wajah Aruna lama sekali. "Lho... kamu siapa?" Pertanyaan itu datang begitu saja. Seperti pisau kecil yang setiap hari menggores luka yang sama. Aruna tetap tersenyum. "Aku Aruna." Perempuan tua itu mengangguk pelan. "Oh..." Beberapa detik kemudian ia tersenyum. "Namamu cantik." Aruna menunduk agar ibunya tidak melihat air mata yang mulai memenuhi matanya. Setiap hari... Ibunya melupakan namanya. Namun setiap hari pula... Ibunya selalu berkata bahwa nama itu indah. Seolah dunia sedang menghapus ingatan sedikit demi sedikit, tetapi masih menyisakan kasih sayang. Keesokan paginya. Universitas kembali ramai. Mahasiswa memenuhi halaman dengan berbagai aktivitas. Di depan perpustakaan, Adrian berjalan sambil membawa beberapa buku referensi. Seorang dosen menghampirinya. "Mas Adrian." "Ya?" "Ada mahasiswa yang kemarin terlambat itu." "Ada apa?" "Dia datang lagi." "Untuk protes?" "Bukan." "Terus?" "Dia menitipkan proposal baru." Adrian mengernyit. "Proposal baru?" "Iya." Katanya, meskipun sidangnya gugur, dia tetap ingin memperbaiki semua catatan yang belum sempat dibahas. Adrian terdiam. "Dia tahu tidak ada yang akan menilai?" "Tahu." "Kenapa tetap diperbaiki?" Dosen itu tertawa kecil. "Saya juga tanya begitu." "Lalu?" "Dia bilang... kalau skripsinya jelek, yang malu nanti dirinya sendiri." Entah mengapa, kalimat sederhana itu bertahan di kepala Adrian jauh lebih lama daripada yang seharusnya. Siang hari. Perpustakaan pusat. Aruna duduk sendirian di sudut rak sejarah. Laptop tua di depannya dipenuhi revisi. Sesekali ia membuka buku. Menulis. Menghapus. Menulis lagi. Seolah sidang kemarin tidak pernah terjadi. Di sisi lain ruangan, Adrian datang untuk mencari referensi. Tanpa sengaja matanya menangkap sosok yang dikenalnya. Aruna. Perempuan itu bahkan tidak menyadari keberadaannya. Ia terlalu sibuk mencoret catatan. Sesekali mengerutkan dahi. Lalu tersenyum sendiri ketika menemukan jawaban. Adrian tidak menghampiri. Namun untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun mengajar, ia berdiri cukup lama hanya untuk mengamati seorang mahasiswa yang sedang belajar. Bukan karena wajahnya. Bukan karena penampilannya. Melainkan karena sesuatu yang jauh lebih sulit dijelaskan. Sebagian besar mahasiswa belajar demi nilai. Sebagian lagi demi gelar. Tetapi perempuan itu... Belajar seolah memang mencintai prosesnya. Dan perasaan seperti itu semakin langka setiap tahun. Adrian berbalik meninggalkan perpustakaan. Ia tidak tahu bahwa beberapa detik sebelum ia pergi, Aruna mengangkat kepala. Mereka nyaris saling bertatapan. Namun hanya nyaris. Takdir, rupanya, belum ingin mempertemukan mereka dalam percakapan yang sebenarnya. Di luar gedung, angin sore kembali membawa aroma hujan. Daun-daun tua berguguran di sepanjang jalan menuju fakultas. Adrian berhenti sejenak di bawah pohon angsana yang mulai menguning. Entah mengapa, ia kembali teringat satu kalimat yang tertulis di halaman pertama proposal itu. "Sejarah bukan hanya tentang masa lalu. Ia adalah cara manusia memilih apa yang ingin diingat." Ia menggeleng pelan, seolah ingin mengusir pikiran yang tak semestinya menetap. Baginya, seorang dosen tidak boleh memberi perhatian lebih kepada satu mahasiswa, apa pun alasannya. Batas itu harus tetap ada—tegas, jelas, dan tak boleh digeser sedikit pun. Sementara itu, di balik jendela perpustakaan, Aruna menatap langit yang kembali mendung. Ia sama sekali tidak memikirkan dosen yang telah menggugurkan sidangnya. Yang ada di kepalanya hanya satu hal. Ia harus lulus. Bukan demi dirinya. Melainkan sebelum ibunya benar-benar melupakan siapa dirinya untuk selamanya. Di antara ribuan mahasiswa yang berlalu-lalang sore itu, tak seorang pun menyadari bahwa dua orang yang nyaris tak saling mengenal baru saja melangkah ke jalur yang perlahan akan mengubah hidup mereka. Bukan karena cinta. Belum. Melainkan karena sebuah penelitian yang, tanpa mereka sadari, telah mulai membuka pintu menuju rahasia yang selama puluhan tahun terkubur dalam sejarah universitas.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
2.0M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
824.0K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
2.1M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
1.0M
bc

A Warrior's Second Chance

read
381.8K
bc

Not just, the Beta

read
360.9K
bc

The Broken Wolf

read
1.2M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook