Bab 7 Masih tidak berani.....

1483 Words
"Kalau kamu memang suka dengannya, jalani saja dulu Yu. Tidak ada salahnya. Kamu memang tahu apa yang akan terjadi nantinya dengan kalian berdua, namun akhir dari semua takdir tetaplah Allah yang tahu. Jangan terlalu percaya dengan sesuatu yang belum benar kepastiannya" "Ya kamu benar. Sebenarnya bukan takdir itu yang aku takutkan tapi penghianatannya atas kepercayaannya padaku nantinya. Sampai-sampai aku di benci sebegitu kuatnya dengan anak bungsu kami. Itu yang sakit Pru" "Mintalah petunjuk dari Allah. Bagaimanapun kita ini masih di bawah kuasa Allah walaupun kita bisa mengetahui yang orang lain belum tahu. Jalani saja yang sudah menjadi takdir kita sembari memohon untuk akhir yang berbeda" "Amin" Keduanya menoleh ke belakang dan melihat Winda berjalan mendeka ke arah kami. Sepertinya sehabis sholat. Sarung dan kopyah masih di pakainya. "Benar kata Pru itu Yu...Kita ini manusia biasa jalani saja. Sekuat-kuatnya kita, sesakti-saktinya kita, kita hanyalah manusia biasa. Dimana takdir kita Allah yang menentukan akhirnya. Kita memang bisa merubah takdir kita tapi perubahan itu tetap harus seijin Allah" Winda duduk di sebelah Pru dan meminum kopi Pru yang tinggal setengah. Melihat Winda dengan santainya meminum kopinya, Pru hanya bisa menghela nafas panjang. Kurang ajar juga loe Win, minta di smackdown raksasa Ayi kayaknya nih orang. Stop it Pru. Bisa mati gua di smackdown Ayi. Gila aja loe. Rasain aja kalau emang mau mati hehehehe Sialan loe..... Winda melempar bantal di sebalahnya kea rah muka Pru yang tertawa tanpa henti. “Malah bercanda kalian ini” Ayu jengkel melihat keduanya tertawa tanpa peduli bagaimana perasaannya. “Kalau memang Aditya cinta sama kamu, adekku saying, bosku yang cantik, suruh dia datang untuk melamarmu besok” Jawab Pru sembari mengelus kepala Ayu dengan saying. Eits saying sebagai adek ya bukan yang lain. Bisa mati di bunuh Ayu kalau memang begitu hehehe. “Berapa lama ?” tanya Ayu tiba-tiba hingga mengejutkan keduanya. “25 tahun” jawab Winda pelan. “Masih lama dan semua Allah yang akan menentukan akhirnya bukan kita Yu” Pru mencoba membesarkan hati Ayu yang masih gamang dengan pilihan yang harus diambilnya. “Tauk ah....tunggu mimpi keluar dulu ya (artinya Ayu mau istikharah dulu ya...biasanya jawabannya berupa mimpi J ). “Begitu lebih baik Yu” jawab Pru dan diangguki Winda tanda mereka setuju dengan keputusan Ayu. *********** “Bagaimana? Berani?” Tantang Angga kepada Aditya. “Ya. Akhir minggu ini aku akan pergi melamarnya” jawab Aditya. “Baguslah. Tapi ingat satu hal, begitu kau membuatnya mendaerita, maka menjauhlah dariku. Aku tidak sudi lagi memiliki hubungan saudara denganmu” tegas Angga sambil berlalu dari hadapan Aditya. Sebenarnya takdir yang bagaimana hingga semua orang memberikan ancaman padaku ya....memang orang tua kurang kerjaan. Masih aja mainan dengan masa depan cucu-cucunya hhhhhh. ********* “Aditya akan datang akhir minggu ini untuk melamarmu. Bersiaplah Yu” Pru duduk di samping Ayu untuk menyampaikan niat baik Aditya. “Hmmmm.....berjanjilah satu hal Pru. Jika terjadi sesuatu padaku, berikan semua yang aku miliki kepada anak-anakku semua. Tidak ada yang tersisa” “Untuk si bungsu juga?” “Iya. Bahkan untuknya. Berikan cincin biru itu padanya, setalah kematianku”. Perintah Ayu kepada Pru tentang warisan untuk semua anak-anaknya. “HHHHHHH sudahlah jangan pikirkan itu dulu. Kita jalani saja yang bisa kita jalani saat ini. Tapi semua akan aku ingat. Tenanglah” Pru menghela nafas panjang. Bagaimanapun dirinya menyadari, Ayu tidak akan lama berbahagia dengan keluarga kecilnya. Dan apa yang akan terjadi pada Ayu lebih dari yang bisa Pru katakan. Mampukah dirinya, Winda, Jay ataupun lainnya melihat akhir hidup Ayu nantinya. Di bunuh oleh Putra Bungsunya sendiri. ******* “Ngapain kesini sih Win?”ujar Ayu jengkel. Hari minggu adalah hari istirahatnya dengan bangun siang hari. Satu kegiatan yang sangat sulit Ayu dapatkan. Semua karena kesibukannya yang luar biasa. Sebagai seorang editor sebuah majalah, Ayu adalah karyawan yang memiliki jam kerja panjang dan seringkali lembur. “Sudah ikut aja. Cerewet amat sih” dengus Winda jengkel. Karena sejak tadi Ayu selalu ngomel tidak jelas. “Mau di hajar Loe?” jawab Ayu ngegas. “Udah ah...nggak usah marah-marah nggak jelas gitu. Ayo kita masuk, menikmati hiburan yang ada di dalam. Tenang ini bukan Café yang aneh-aneh kok, ini hanya Café biasa yang romantis, sesuailah dengan interior di dalamnya” jelas Winda tenang. Winda tahu jika dia tidak menjelaskan bagaimana kondisi Café tersebut, di jamin Ayu akan berbalik pergi begitu saja. Dan menggagalkan aksi mereka hari ini. Oh tidak....jangan sampai itu terjadi. Keduanya memasuki Café Ngopala dengan senyum yang perlahan merekah. Suasana Café di sulap menjadi Grand Party. Denting piano dan suara yang merdu, menyambut keduanya memasuki dan kemudian duduk di barisan paling depan. Ayu yang masih sibuk mengamati interior Café, tidak mempedulikan siapapun yang sedang menyanyi di depannya. “Hai everyone....lagu ini aku persembahkan untuk wanita tercintaku Ayu” Sontak Ayu menoleh dan melihat Aditya tersenyum ke arahnya sambil memegang mic dan mulai bernyanyi.   I'm standing on a mountain Waiting for you to come You were sitting counting The days that I had gone The note I wrote I wrapped up in a cigarette Burned away the memoriesI tried to forgetBut not yet Wishing my life away But these three words I have to say to you My baby blue You know it's true I love you I love you How can I tell you? I don't know what to say This chance that I won't miss But I miss you anyway I feel your painIt's turning me insane Thrown away I had to take the last train home But then you came Wishing my life away But these three words I have to say to you My baby blue You know it's true I love you Wishing my life away These three words I have to say to you My baby blue You know it's true You know it's true I love you I love you I love you   “Win...apa maksud semua ini” tanya Ayu dengan wajah kebingungan. Perlahan dengan pasti setiap orang datang dan memberinya bunga Mawar biru. Sebuah varian bunga terbaru yang memang Ayu sangat menyukainya. Mawar biru adalah bunga yang harum, lembut, namun memiliki ketegasan tak hingga. “Tanya saja sama orang di depanmu” sergah Winda tersenyum. Ayu melihat Aditya tersenyum manis ke arahnya dengan membawa Mawar Biru yang di rangkai dengan mawar warna putih. Paduan warna yang sangat mempesona bagi Ayu. “Ayu....aku tahu bagaimana akhir kisah kita. Aku juga tahu bagaimana aku akan menyakitimu pada akhirnya. Namun kita berdua juga mengetahui betapa kita bahagia saat bersama. Maafkan salahku walau itu belum terlaksana. Maafkan juga jika akulah penyebab anak bungsu kita nantinya akan membuatmu sengsara. Ayu...bolehkah kita mencoba meraih bahagia bersama walau hanya sebentar? Maukah kau merubah itu semua denganku? Berdua kita coba rubah takdir kita. Jika saatnya kita berpisah maka aku pastikan perpisah itu hanyalah sementara. Karena aku akan kembali meraih cintamu dan membuatmu lebih bahagia daripada sebelumnya. Will You Marry Me?” Aditya bertumpu pada satu kakinya dan mengulurkan bunga dan sebuah cincin dengan permata berwarna biru. Ayu yang melihat dan mendengar semua yang di ucapkan Aditya merasa ragu, namun dirinya juga tidak bisa lagi membohongi hatinya. Beberapa bulan ini Aditya memang gencar mengejarnya. Mulai dari antar jemput sampai membawakan makan siang dan malam dengan semua menu yang sangat di sukai olehnya. Tapi Ayu juga merasa semua akan berakhir dengan cepat karena sifat over protective dari Aditya kepadanya. Karena pernah suatu kali Ayu tidak berada di tempat pada saat Aditya mengantarkan makan siang untuknya, bukan karena ada janji dengan seorang laki-laki atau kainnya, justru lebih ke Ayu harus mengirim hasil terjemahan ke Kantor Pos terdekat. Hanya berjarak lima menit saja dari rumah yang disulap menjadi kantornya. Lima menit pergi dan lima menit kembali, 10 menit transaksi di dalam kantor Pos. Sudah hanya begitu saja. Namun Aditya marah hingga mengeluarkan kata-kata tuduhan yang tidak mengenakkan hati dan tak pantas untuk di dengar. Bukan aku tidak mau namun sikapnya yang terakhirsungguh membuatku kecewa dan sakit hati. Kemarin aku belum menjadi kekasih ataupun lainnya, namun dia sudah berani memaki seperti itu. Bagaimana jika sudah resmi?. Huft....Tidak berani rasanya aku mengambil ini semua walaupun aku mencintainya. Ayu menggeleng dan kemudian keluar dari Café meninggalkan semua yang ada di Café terdiam. Aditya yang melihat Ayu pergi, hanya bisa terdiam dan menyesali apa yang dirinya lakukan tempo hari. Bukannya dirinya tak mendengar isi pikiran Ayu yang berisi tentang ketakutannya, Aditya mendengar semuanya. ************** “Ayu tunggu” “Hmmmm” Ayu menoleh dan menemukan Pru dan Winda berada di samping kanan dan kirinya. Meraka bertiga berjalan dengan perlahan dan tak ada satupun yang berbicara. Hingga akhirnya sampailah mereka di sebuah bukit luas dengan kehijauan yang membentang serta pemandangan hijau yang sungguh menyejukkan hati. Suatu tempat yang memang menjadi persinggahan Ayu di kala gundah gulana. Winda dan hanya diam mengikuti kemana saja Ayu melangkah tanpa berniat untuk bertanya apapun.Mereka berniat untuk mengikuti Ayu apapun aktifitasnya. Mereka sadar mengapa Ayu memutuskan menolak lamaran Aditya. Semua karena tingkah Aditya sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD