Part 6

1753 Words
"Kehilangan itu wajar di dunia, jadi sedih juga harus sewajarnya saja." - Note - ©©© Tidak ada yang pernah bisa mengukur seberapa dalamnya perasaan seseorang. Bagaimana perasaan sedih ataupun senang, semua itu hanya diri sendiri yang tahu. Orang lain hanya akan melihat bagaimana seseorang dari luarnya saja. Bagaimana mereka tertawa. Bagaimana mereka membuat orang lain tersenyum. Bagaimana mereka berusaha untuk tidak terlihat lemah. Seperti halnya Senjana, wanita berusia 25 tahun itu tengah merasakan kesedihan luar biasa. Dan semua itu hanya dirinya sendiri yang tahu. Kehilangan janin yang bahkan belum dia ketahui itu sangatlah memukul dirinya telak. Kehamilan yang ditunggu oleh Suaminya. Anak yang sangat dinantikan oleh Antariksa, begitu juga dirinya harus hilang sebelum mereka sempat menyapanya di dunia ini. "Senjana, belum tidur Nak?" Senjana tersadar dari lamunanya saat Riana bertanya, "Belum ngantuk, Ma." "Kenapa sayang? Anak Bunda kenapa?" tanya Wilis yang juga ada disana. "Antariksa belum ada kabar?" tanya Senjana lirih. "Yudhis masih mencari Antariksa, kamu gak perlu khawatir. Dia pasti baik-baik aja." jawab Riana. "Senja mau Antariksa, Bun. Senja mau minta maaf. Atar bakal dateng kan?" tanya Senjana dengan mata bekaca-kaca. "Senjana..." "Senja mau Antariksa disini. Gak bisa yah?" "Bisa, sayang. Bisa." jawab Wilis. Senjana hanya tersenyum kecil mendengar jawaban Ibu kandungnya. Bisa? Sudah dua hari Antariksa tidak menjenguknya di Rumah Sakit. Lelaki itu pergi setelah mengungkapkan kekecewaannya pada Senjana, tanpa ada kabar sama sekali. "Senjana ngerti. Senja ngantuk, malam Ma, Bun." ujar Senjana lalu berbaring membelakangi kedua wanita paruh baya itu. "Malam, sayang." "Malam, Nak." Ingin rasanya Senjana menangis, tetapi dia tidak ingin membuat Wilis ataupun Riana khawatir. Dia sudah cukup membuat orang-orang khawatir. Dia tidak ingin menambahnya lagi. Cukup kemarin dia menjadi beban bagi orang lain, tidak lagi. ©©© Hiruk pikuk orang-orang terasa sangat ramai. Musik yang di dentangkan begitu kencang membuat lantai dansa terlihat penuh oleh orang yang menikmati alunan musik. Beberapa pelayan terlihat sibuk melayani para tamu yang ada di meja-meja. Antariksa duduk di kursi bar dengan botol wine yang isinya sudah setengah. Tangan kanannya mengangkat gelas meminum wine di dalamnya. Rambutnya yang cukup tebal terlihat acak-acakan. Dia hanya mengenakan kemeja putih dengan celana bahan hitam yang biasa dia kenakan untuk bekerja. Sudah dua hari ini dia tidak kembali ke rumah ataupun mengunjungi istrinya di Rumah Sakit. Dia memilih untuk menenangkan diri di kantor. Tinggal disana sampai pikirannya benar-benar kembali. Dia takut, jika dia kembali bertemu Senjana pada saat emosinya seperti ini maka wanita itu akan jauh lebih tersakiti olehnya. Dia tidak ingin salah saat berkata pada Senjana. Ini saja dia masih memikirkan tentang kemarin dia membentak wanita itu. "Alone?" Seorang wanita memakai dress model sabrina berwarna merah darah duduk di bangku kosong samping Antariksa. "Butuh teman untuk berbincang?" tanya wanita itu lagi. Antariksa melirik sinis, "Pergi, sebelum aku yang mengusirmu dengan kasar!" Wanita itu tertawa seolah baru saja mendengarkan lelucon, "Easy, boy! Kenapa? Cewe lo selingkuh?" "Bacot." "Come on! Semua yang datang kesini itu buat cari kesenangan atau lari dari kenyataan kehidupan mereka. Kalau lo dateng kesini bukan karena cari kesenangan berarti lo lagi lari dari kenyataan di kehidupan lo. Am i right?" ujar wanita berambut pirang setengah bule. "Itu bukan urusan lo!" "Gue mungkin emang w************n, tapi gue gak akan memaksa orang yang gak mau gue layani. Kalau mereka gak mau, gue bisa jadi temen curhat juga kok. Asal lo tau, gue orangnya pelupa, jadi sebanyak apapun lo cerita, gue bakal lupa semuanya. Mungkin aja lo butuh jasa gue yang kedua." "Lo pikir gue percaya?" Wanita itu mendengus, "Gue murahan, iya. Tapi gue masih punya harga diri. Bukan 'harga diri' yang benar-benar harga buat gue. Pekerjaan kayak begini, lo pikir semua orang mau dengan rela gitu ngejalaninnya? Gak, kalau lo mau tau. Sebelumnya gue mau tanya, lo udah nikah?" "Penting buat lo?" "Selow dong, kalau emang udah. Lo tenang aja. Gue bukan tipe orang yang suka ngerebut suami orang. Gue juga tau diri kali. Lo keliatan banget sayang sama istri lo. Gue godain aja masih cuek begini." Antariksa tidak menjawabnya dan kembali menenggak minumannya. "Bro, gue mungkin gak tau permasalahan lo apa sama istri lo. Tapi satu yang mau gue kasih tau. Wanita itu, yang menikah dan mengikat janji sama lo. Wanita yang menggantungkan dirinya ke lo. Mungkin, sekarang dia lagi nungguin lo pulang. Berharap suaminya datang, menunggu lelaki yang sekarang justru lagi menghabiskan waktunya buat minum-minum. Kalau lo mau bebas gini, kenapa lo dulu nikahin dia? Kasian anak orang lo buat kayak begitu." Kata-kata itu seakan menusuk tepat di d**a Antariksa. Dia merasakan nyeri saat kalimat itu di lontarkan. Apakah Senjana tengah menunggunya sekarang? Apakah wanita itu mencarinya? Astaga, betapa bodohnya Antariksa. Istrinya tengah kesulitan setelah keguguran dan sekarang dia justru ada di tempat seperti ini menghabiskan waktu hanya untuk mabuk menghilangkan kekecewaan dirinya sendiri. "Gue cewe murahan, tapi gue bisa ngerti perasaan cewe lain kalau mereka disakiti sama b******n-b******n yang selalu datang kesini cuma buat nyari kesenangan. Gue benci sama cowo b******n, tapi mereka juga sumber penghasilan gue. Lo yakin mau jadi salah satu cowo b******n itu? Dengan resiko, lo bisa kehilangan istri lo. Udah siap sama resikonya?" "Semua terserah lo. Oke, waktu udah selesai. Gue masih harus kerja, lo gak guna sama sekali. Gue udah ngomong panjang lebar tapi gak dibayar. k*****t kan?" ujar wanita itu terkekeh lalu berdiri hendak pergi. "Tunggu!" Antariksa berseru memanggil wanita yang sudah turun dari kursi. Wanita itu menghadap Antariksa tersenyum. "Kenapa? Berubah pikiran? Lo mau gue layani malam ini?" "Gak." Wanita itu mendengus. "Terus ngapain lo panggil gue, panjul?" "Thank's, buat nasihat lo tadi." Wanita itu menelengkan kepalanya, "Cuma terima kasih? Gue butuhnya duit." "Ck, oke. Berapa yang lo mau?" "Haha.. gue bercanda. Khusus buat lo gratis. Gue tau lo bukan b******n kayak yang sering gue temui. Anggap aja itu bonus buat lo." ujarnya hendak berbalik. "Tunggu dulu!" "Apa lagi?" "Siapa nama lo?" "Penting?" "Siapa tau kita ketemu lagi dan gue bisa bantu lo saat itu. Buat balasan terima kasih gue." ujar Antariksa. Wanita itu tersenyum mendengar perkataan tulus Antariksa. Dia tahu, tidak ada makna apapun dalam kalimat itu. Dia juga tahu kalau lelaki itu tidak akan mungkin tergoda kepadanya. Sekali melihat saja dia sudah bisa tahu seperti apa Antariksa itu. "Naya. Ranaya Nanggari." Setelah itu Naya pergi tanpa cegahan lagi dari Antariksa. ©©© Sudah beberapa jam terlewati, namun mata Senjana tidak juga bisa terpejam. Dia masih terus terpikirkan semua yang telah terjadi, termasuk kemarahan Antariksa. Ini adalah pertama kalinya suaminya itu benar-benar marah padanya. Dulu saat dia hampir berselingkuh sewaktu berpacaran, Antariksa tidak marah seperti sekarang. Lelaki itu memang marah tetapi tidak pernah seserius saat ini. Senjana bergerak duduk bersandar pada bantal di kepala ranjang. Dia menghela nafasnya panjang. Pandangannya menunduk menatap perut yang seharusnya menjadi tempat tumbuh kembang anaknya yang telah tiada. Tangan kanannya mengelus perut bagian bawah dengan perasaan sedih. Lagi-lagi dia teringat bagaimana semua ini bisa terjadi. Kesalahan fatal yang telah dia lakukan sampai membunuh darah dagingnya sendiri bahkan saat dia belum mempunyai kesempatan untuk tumbuh lebih lama di rahimnya. Air mata itu datang lagi, dan Senjana tidak bisa menahannya. Dia memeluk bagian perutnya dengan tangan gemetar. Kedua kakinya tertekuk, Senjana meletakan dahinya di atas kedua lututnya menahan isakan yang akan keluar. Wanita itu menangis dalam diam, hanya air mata yang keluar sangat deras. Tidak ada suara yang menemani. Hanya keheningan tengah malam yang menemani tangisannya. Lalu kemudian sebuah elusan tangan terasa di kepalanya. Senjana masih belum bergerak dari posisinya. Kepalanya masih pada posisi menunduk, tidak berani mendongak. "Kenapa belum istirahat?" Suara itu membuat Senjana secepatnya ingin mendongak. Dia mengangkat kepalanya pelan, matanya langsung bertemu dengan mata cokelat yang selalu menatapnya dengan penuh cinta. Mata yang membuat dirinya selalu merasa paling di cintai oleh orang itu. "Masih sakit? Mana yang sakit? Kenapa istri tercintaku menangis seperti ini, hm?" ujar lelaki itu duduk di samping menghadap Senjana. "Atar..." "Aku salah yah, Sen? Aku nyakitin kamu lagi kan?" tanya Antariksa lalu mendengus pelan. Senjana berusaha menggeleng pelan namun yang terlihat justru hanya samar saja. "Aku emang gak becus jadi suami. Harusnya aku gak marah dan ninggalin kamu waktu itu. Harusnya aku ada di samping kamu, kita saling menguatkan. Aku bodoh, Sen. Aku lebih mementingkan perasaan diri aku pribadi tanpa sadar kamu juga pasti jauh lebih sedih dari aku. Akhirnya aku nyakitin kamu lagi sekarang. Aku buat kamu nangis lagi." Senjana tidak mampu menjawabnya. Justru dia jadi tidak bisa menahan isakannya lagi. Satu isak tangisnya lolos dari mulutnya. Bibirnya bergetar saat berusaha menahan suara tangisannya keluar lagi. "Kamu bisa hukum aku. Buat aku ngerasain sakit yang kamu rasain, Sen. Sakiti aku, kalau itu bisa buat kamu berhenti ngerasain sedih kayak gini. Jangan nangis lagi, aku mohon. Maafin aku, sayang..." Kedua tangan Antariksa menangkup pipi Senjana yang basah. Dia mendekat ke arah istrinya lalu mengecup kening Senjana lama. Antariksa menutup matanya dan saat itu air matanya lolos. Dia berdosa pada istrinya. Dia menyakiti Senjana lagi. Dia telah mengingkari janjinya sendiri yang mengatakan akan membuat Senjana selalu bahagia. Lihatlah, disaat istrinya tengah dalam kesedihan seperti ini dirinya justru melarikan diri. Berusaha menyembuhkan kekecewaannya sendiri. Dia harusnya ingat bahwa sekarang dia tidak sendiri. Senjana sudah menjadi bagian dari dirinya. Anak yang sudah tidak ada juga bagian dari Senjana. Sudah pasti yang jauh lebih sakit disini adalah wanita itu. "Maafin aku, Sen." ujar Antariksa dengan suara serak. "Anak kita... dia pergi. Atar, aku minta maaf..." ujar Senjana dengan terbata. "Senjana..." Antariksa menangkup wajah Senjana agar menatap dirinya. "Gapapa, kita bisa dapetin dia lagi. Kita bisa usaha lagi. Kita bisa ikhlasin dia. Semua akan baik-baik aja. Kita bisa melaluinya bersama." "Kamu... jangan tinggalin aku. Jangan pergi lagi. Aku butuh kamu. Aku mau kamu disini. Jangan pergi hiks...." Antariksa benar-benar merasakan sakit luar biasa mendengar permohonan Senjana padanya dengan tangisan. Pipinya kembali basah melihat istrinya begitu terluka. Dia mendekatkan wajahnya lalu mencium bibir Senjana. Hanya menempel namun penuh dengan emosi keduanya. Antariksa menangkup samping kepala Senjana, menahannya dengan lembut. Setelah satu menit dalam posisi bibir yang saling bersentuhan, Antariksa memundurkan wajahnya perlahan. Matanya memerah berusaha tidak terlihat lemah demi Senjana. "Maaf, maaf Senjana. Maaf. Aku gak akan tinggalin kamu lagi. Tolong jangan memohon seperti itu ke aku. Aku gak akan pergi..." ujar Antariksa lalu memeluk Senjana erat. Tidak ada jawaban apapun. Senjana justru menangis dengan tersedu di pelukan Antariksa. Dia menggenggam erat kemeja Antariksa dengan erat menyalurkan peraaaan sedih yang sedari dia tahan. Dia tidak peduli lagi jika Wilis ataupun Riana terbangun karena suara tangisanya. Baginya yang terpenting, Antariksa sudah ada di sampingnya. "Menangis sepuas kamu, Sen. Aku akan terus disini. Tapi besok dan seterusnya, aku akan berusaha buat kamu terus bahagia. Maafin aku, sayang." ujar Antariksa. ©©© TBC SEE YA!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD