Kebetulan banget hari ini Wisnu ada dinas luar kota ke Bandung. Begitu selesai tugasnya, dia langsung menemui Reza di distronya. Sebelumnya mereka memang sudah janjian.
"Wah, lu kok gak bilang kalo ternyata Helen sudah punya calon suami?" tanpa basa basi Wisnu langsung to the point. Membuat Reza dan beberapa pengunjung memandang bingung pada Wisnu yang masih berdiri di pintu masuk. "Oopss." Wisnu nyengir kemudian berjalan menghampiri Reza di meja kasir.
"Apaan si lu Nu, datang-datang bukannya bilang salam atau tanya kabar, ini malah ngomong yang gak jelas," ucap Reza.
"Gue masuk ya." Wisnu masuk ke area kasir dan duduk di samping Reza. "Beberapa hari yang lalu gue kan ketemuan sama adek lu di cafe, eh belum ada setengah jam kita nongkrong, datang tuh laki-laki gagah tinggi kaya gue." Reza menaikkan satu aliasnya mendengar ucapan Wisnu. "Bilang kalo dia calom suami adek lu," ucap Wisnu lagi. Reza terdiam.
'Pasti ini laki-laki yang diceritain Mama kemarin. Tapi kok Mama gak bilang sih kalo dia udah resmi jadi calon suami Helen' batin Reza.
"Ah baru juga calon suami, kan belum jadi? Kalo lu mau deketin ya gak masalah lah," ucap Reza santai. Penasaran juga gimana sih orangnya yang ngaku-ngaku jadi calon suami Helen.
"Ealah, Abang macam apa sih lu? Adek udah punya calon suami, lu masih nyuruh gue buat deketin, durhaka lu sama adek sendiri," ucap Wisnu sambil mencomot kripik yang ada di meja kasir.
"Ya kan siapa tau jodohnya elu," ucap Reza lagi.
"Enggak ah, masa iya gue jadi pebinor?" Reza tertawa mendengar ucapan Wisnu. "Padahal adek lu sekarang tambah cantik lo, sayang banget gue telat kenalan sama dia."
"Udah gue bilangin, selama belum sah di mata Tuhan dan negara, bebas aja kalo lu mau deketin." Wisnu terdiam mendengar ucapan Reza.
Sedikit ada benarnya juga apa yang dibilang sama Reza. Kalau Wisnu mau berjuang buat ngedapetin Helen sih, siapa yang tahu takdir mungkin saja berpihak padanya.
***
Sepulang kerja Helen nongkrong sendirian di cafe yang baru buka gak jauh dari kantornya. Sebenarnya anak-anak di unit lain ngajakin nonton ke bioskop, tapi karna film yang mau di tonton gak menarik minatnya, Helen memilih nongkrong saja.
Lumayan rame tempatnya. Book Cafe, nongkrong sendirian gak masalah, ada buku yang menemani. Tulisan itu terpampang di atas pintu masuk. Setelah memesan minuman dan camilan, Helen berjalan menuju rak buku, mengambil salah satu buku Chicken Soup dan mencari tempat duduk dipojokan. Buku yang dibacanya saat ini sangat menarik, sambil sesekali mengambil camilan di meja, matanya tak pernah lepas dari buku setebal 459 halaman itu. Buku yang menyajikan kisah sederhana nan inspiratif, yang sedikit membuka pikiran Helen tentang kehidupan yang tak selalu mulus. Kehidupan yang memiliki misterinya sendiri. Tiba-tiba wajah Charles dan Charlos bergantian muncul di pikirannya.
"Astaga," ucapnya sambil menggeleng-gelengkan kepala. Tangannya mendapati piring camilanya telah kosong. Dia melirik jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul delapan, tapi buku yang di bacanya baru setengah. Dihabiskannya minumannya kemudian berjalan menuju kasir.
"Mas, ini bukunya boleh gak sih di pinjem?" tanya Helen sambil menyerahkan selembar uang seratus ribuan untuk membayar pesanannya tadi.
"Bisa aja sih Mbak, tapi tinggal STNK," ucap Mas kasir.
"Masa sih Mas?"
"Bercanda Mbak," ucap Mas kasir itu sambil tertawa. "Bisa aja Mbak, tanda tangan sama tulis nomor hape di sini ya. Biayanya sepuluh ribu aja kak buat satu bulan." Mas kasir itu menyerah selembar kertas pada Helen.
"Oke makasih ya Mas." Helen pergi meninggalkan cafe dan bergegas pulang. Mobilnya berselisihan dengan mobil Charles. Begitu sampai di rumah, Mama baru saja akan membereskan meja tamu.
"Ada tamu Ma?" tanya Helen sambil mengambil nampan dari tangan Mama dan membawakannya ke dapur.
"Calon suami kamu," ucap Mama sambil tertawa nyaring. "Tadi Charles datang. Lucunya dia gak nyari kamu tapi nyari Mama."
"Mama akrab ya sama dia sekarang?" ucap Helen sambil memakan martabak di piring yang sepertinya di bawa oleh Charles tadi.
"Kan calon suami kamu Len, masa Mama gak akrab?" goda Mama sambil tertawa lagi. Helen memanyunkan bibirnya. "Tadi dia cerita kalau dia bilang kamu itu calon istrinya, waktu kamu sama Wisnu makan di cafe."
"Anehkan Ma?" tanya Helen, minta pendapat Mama.
"Aneh sih enggak tapi lucu aja. Katanya dia takut kamu di ambil sama Wisnu." Mama juga ikut memakan martabak. Handphone mama berdering, panggilan masuk. Video call dari Bang Reza.
"Ma, siapa sih calon suami Helen?" tanya Bang Reza saat video callnya sudah tersambung. Mama kembali tertawa. "Eh, kamu gak bilang udah punya calon suami, temen Abang si Wisnu mau diapain?" ucap Bang Reza saat wajah Helen terlihat di kamera.
"Tau ah, aku mau mandi dulu." Helen meninggalkan Mama yang lagi video call.
Mama menceritakan kedatangan Charles kemarin pada Bang Reza, yang meminta izin juga restu untuk menjalin hubungan dengan Helen. Kedatangan Charles barusan juga Mama ceritakan perihal kejadian di cafe.
"Lalu Mama mendukung Helen sama dia?" tanya Bang Reza lagi, tampak si kembar berebut hendak mengambil handphone ditangan Reza.
"Let it flow aja lah Za, Mama memberikan kebebasan buat Helen mengambil keputusan untuk hidupnya," ucap Mama sambil menyapa cucu kembarnya. Mama memang memiliki pikiran yang cukup modern, yang gak harus saklek anaknya harus mendapatkan jodoh seorang yang berpangkat atau seorang perjaka atau belum menikah. Asalkan anaknya bahagia dengan pilihannya, Mama pasti mendukung.
***
Sebuah pesan masuk di aplikasi w******p Helen. Nomor tak di kenal, sebelum membuka chatnya, dia lebih dulu membuka foto profilnya.
"Charles," gumamnya saat melihat foto profilnya yang menggunakan seragam polisi. "Kita harus bicara," gumamnya lagi membaca isi chat dari Charles.
Pak Irwan datang menghampiri Helen, dan mengajaknya ke lantai dua untuk ikut rapat bulanan. Helen benar-benar lupa kalau hari ini jadwal rapat bulanan yang pasti bakal lama dan pulang agak malam. Rapat dimulai setelah semua unit head dan beberapa perwakilan staff berkumpul. Raut wajah kepala cabang sore ini tampak sedikit tak bersahabat. Betul saja, setelah bagian akunting memaparkan hasil kinerja bulan ini yang memiliki nilai raport merah, kepala cabang langsung mengambil alih rapat. Tak ada yang berkutik saat kepala cabang mempertanyakan kenapa kinerja bulan ini buruk.
"Maaf saya terbawa emosi," ucap Pak kepala cabang setelah kurang lebih lima belas menit mencak-mencak. Peserta rapat mulai menarik nafas, masing-masing mulai berani mengambil minum dan makanan yang ada di meja. Rapat selesai sekitar jam 19.15, saat Helen berjalan menuju parkiran, satpam menghampirinya.
"Mbak, di depan ada yang nungguin, cowok ganteng, katanya mau jemput."
"Hah, siapa Pak?" tanya Helen balik. "Astaga," pekiknya saat ingat kalau pesan dari Charles belum dibalasnya. "Pak, nitip ya." Helen melirik mobilnya.
"Siap 86." Helen bergegas menghampiri Charles yang terlihat akrab ngobrol dengan satpam yang tugas jaga malam.
"Duluan ya Pak.” Pamit Charles sambil berjabat tangan.
Mobil melaju menyusuri jalan ibukota. Masih dalam hening, tak ada yang memulai pembicaraan hanya ditemani musik melow dari radio.
"Jadi gimana permintaan Omanya Charlos?" pertanyaan Charles memecah suasana yang agak canggung.
"Apakah ini murni hanya untuk memenuhi permintaan Omanya Charlos?" tanya Helen sambil menatap Charles yang serius menyetir. Menurut kisah di buku yang dibacanya kemarin di cafe, dia tidak ingin hanya di jadikan sebagai babysister berkedok istri. Charles memperlambat laju mobilnya.
"Dua bulan lagi Charlos sudah mau satu tahun. Tak mungkin aku membiarkannya tumbuh tanpa kasih sayang seorang ibu. Awalnya memang hanya untuk memenuhi permintaan Mama, tapi gak mungkin kita bersama tanpa ada hubungan. Diawal hubungan ini bisakah kita hanya berteman saja dulu?" Helen terdiam mendengar perkataan Charles. Dia tahu bahwa Charles memang tidak memiliki perasaan padanya, dengan Charles mengatakan hal ini, setidaknya Helen tidak berharap lebih untuk dicintai olehnya di awal hubungan ini. Mungkin awal sebagai teman lebih baik daripada mereka bersama hanya untuk memenuhi permintaan Omanya Charlos.
"Iya," jawab Helen singkat. Rasanya ingin mengutarakan semua pertanyaan yang telah disiapkannya, namun panggilan alam tiba-tiba membuatnya gelisah. "Bisakah kamu menyetir lebih cepat?" Helen meringis sambil memegang perutnya. Sepertinya ini karna kebanyakan makan sambal saat makan nasi goreng setelah rapat tadi. "Aduh, lebih cepet lagi dong, atau gak berhenti sebentar di depan?" Helen mulai gelisah, karna ini udah gak bisa ditahan lagi.
"Mana bisa berhenti, macet gini," ucap Charles. "Eh, mau kemana?" Helen bersiap turun. "Kalau mau buang angin, buang angin aja, gak apa-apa,” ucapnya yang seolah tau apa yang tengah di rasakan Helen. Charles kemudian membuka semua kaca jendela mobil.
"Ya sudah," ucap Helen ketus, yang sebenarnya dia malunya minta ampun. Untung buang anginnya gak berbunyi dan gak bau.
Prettt
"Nah, sama ‘kan?" Charles tertawa.
"Buset, bau banget sih?" Helen menutup hidungnya dan menyemprotkan pafrum ke udara. Charles tersenyum kecil saat melihat Helen, kini hatinya sedikit tenang, karna dia tak lagi sendirian memikirkan masa depan Charlos.