Sedikit Rasa

1028 Words
Setelah kesepakatan Helen dan Charles tempo lalu, yang akan memulai hubungan ini dengan status teman di awalnya, untuk pertama kalinya mereka berdua jalan bersama. Charles menjemput Helen di rumahnya. Ekspektasinya sih kalau gak makan ya nonton film ke bioskop, tapi ternyata salah, Charles membawanya ke makam Kirana. "Hai," sapa Charles sambil meletakkan sebuket bunga mawar di atas makam Kirana. Kirana Syarita, nama yang tertulis di batu itu. Tampak Charles memandang lekat makam di depannya itu, tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Sesekali Charles mengelus pusara Kirana. Helen seolah dapat merasakan kesedihan yang dialami Charles, saat melihat Charles tetap diam di depan makan Kirana. Seperti tak ada lagi yang bisa dikatakan untuk menggambarkan kesedihan Charles saat ini. Namun tiba-tiba Helen menjadi gelisah, melihat dua ekor kecoa di sekitaran kaki Charles. Helen tak berani untuk menegur Charles sekedar bilang kalo di dekat kakinya ada kecoa. Dia sudah bergidik geli karna kecoa itu sudah mulai jalan naik ke celana Charles. Helen berdiri kemudian berjalan agak menjauh dari Charles. "Ya ampun kecoanya ada dua, mana udah pada naek-naek lagi," gumam Helen sambil menjauh. Menyadari Helen mulai berjalan menjauh darinya, Charles berdiri dan memandang Helen yang menunjuk-nunjuk bahu Charles tempat dua kecoa itu nongkrong dengan manis. Buru-buru Charles mengibaskan kecoa itu dari bahunya sambil bergidik geli. *** Mobil berhenti dan parkir di salah satu kedai coffe. Setelah memesan coffe di kasir, mereka duduk di dekat jendela kaca yang menghadap ke arah jalan raya. "Issh kamu cuci tangan dulu kali, habis pegang kecoa gitu. Jangan jorok," ucap Helen saat melihat Charles hendak menyeruput coffe yang baru datang. Dia berdehem dan beranjak menuju washtafel yang terletak di pojokan. Dddrtt ddrrtt Ponsel Charles bergetar lama, tampak nama Tere tertera di layar. Dari kejauhan Charles dapat melihat Helen yang tengah memandangi layar ponselnya. "Siapa?" "Tulisannya sih Tere," ucap Helen. Charles mengangkat telponnya, raut wajahnya berubah saat selesai menerima panggilan telpon dari Tere. "Ada rapat mendadak, jadi aku harus balik ke kantor," ucapnya datar sambil meminum coffenya. "Ya sudah, kamu lanjut aja. Biar aku di sini dulu sebentar, nanti pulangnya gampang aja, naik taksi online." Sebenarnya Helen agak kecewa karna mereka gak jadi bersantai berdua sebentar di sini. "Aku jalan dulu. Jangan kelamaan di sini," pamit Charles yang di balas dengan anggukan kepala Helen. Saat keluar dari kedai coffe, Charles berpapasan dengan Wisnu. Langkahnya sempat terhenti, berpikir untuk balik lagi ke dalam, namun diurungkannya. Dia meyakinkan dirinya sendiri bahwa itu bukan Wisnu, tapi ternyata salah. Yang berpapasan dengannya tadi memang benar Wisnu, Charles melihat jelas mereka berdua tengah duduk di tempat yang sama. Niatnya untuk menelpon Helen terganggu dengan panggilan masuk dari atasannya. "Dari mana Bang?" bisik Tere pada Charles yang baru datang dan duduk di sampingnya. Tere memang sengaja menyediakan kursi kosong di sampingnya khusus untuk Charles. "Habis ketemu sama temen," jawabnya singkat. Charles langsung pasang tampang serius memperhatikan penjelasan atasannya di depan, sebelum Tere menanyainya lebih lanjut. Namun, sepanjang rapat, Charles terus kepikiran Helen dan Wisnu. Tangannya sudah gatal ingin menghubungi Helen, tapi dia tak berani selama atasannya masih berbicara di depan. Setelah penjelasan yang begitu panjang, akhirnya rapat selesai juga. Charles melirik jam di tanganya yang menunjukkan pukul sebelas malam. Kalau saja ini bukan rapat yang membahas persiapan penyambutan beberapa kapolda dari luar daerah dalam rangka kunjungan kerja, dari tadi Charles sudah pamit keluar sebentar, untuk menanyakan apakah Helen sudah pulang atau belum. Tapi itu tak bisa di lakukannya, karna dia termasuk panitia inti dalam acara itu. Beberapa temannya yang ikut rapat tadi, mengajaknya untuk nongkrong di salah satu pub di hotel dekat kantornya. "Lain kali bro. Aku duluan ya," pamit Charles. Bujukan Tere juga gak mempan untuk mengajaknya ikut bergabung. Di sepanjang jalan menuju rumah, Charles mencoba menghubungi Helen. Sambungan teleponnya bernada masuk, hanya saja Helen tak mengangkat telponnya. Kali ke tiga di cobanya lagi, namun tetap sama, tak ada respon. "Pasti dia sudah tidur," ucapnya sambil melemparkan pelan handphonenya ke kursi disampingnya. Sesampainya di rumah, Charles langsung membersihkan diri. Mencium kening Charlos dan tidur. *** Sekitar jam lima subuh, Helen tiba-tiba terbangun karna kebelet pengen buang air kecil. Selesai dari kamar mandi, ia kembali ke kamarnya dan berbaring di tempat tidur sambil memainkan handphonenya. Panggilan tak terjawab sebanyak tiga kali dari Charles. "Ngapain tengah malam dia nelpon ya?" ucapnya bingung. Helen kemudian iseng mengirimkan pesan balasan di aplikasi w******p, yang menjelaskan bahwa dia sudah tertidur saat di telepon kemarin. Pesannya langsung centang biru, tak lama handphonenya berdering.   Charles calling.   "Iya," sahut Helen dengan suara yang masih mengantuk. "Setelah aku pergi kemarin, kamu sama Wisnu kan? Kalian janjian ketemu di sana? Ngapain aja kalian berdua di sana? Terus, kamu pulangnya diantar sama dia? Jam berapa pulangnya?" tanya Charles bertubi-tubi. Helen tak langsung menjawab, dia masih bingung kenapa Charles bisa langsung menelponnya subuh-subuh begini. "Halo!" seru Charles. "Kamu begadang? Atau lagi piket malam?" Helen malah bertanya balik, tak menjawab pertanyaan Charles. "Kenapa kamu malah nanya balik? Jawab dulu pertanyaan aku? Gak usah mengalihkan pembicaraan." Suaranya agak sedikit sewot. "Ya gak mungkin lah aku janjian sama dia di sana, sedangkan awalnya kita bareng kesana. Kemarin itu gak sengaja ketemu sama Wisnu di sana, setelah kamu pergi dari cafe. Daripada bengong sendirian, jadi kita ngobrol sebentar di sana. Pulangnya juga gak larut malam, sekitar jam sembilan aku sudah sampai rumah." "Diantar sama dia?" tanya Charles lagi. "Iya, soalnya pesan taksi online di cancel terus sama drivernya. Daripada nunggu gak jelas, jadi aku minta anterin pulang sama dia. Gak mungkin kan aku minta jemput sama kamu yang lagi rapat?" Sesaat Charles terdiam mendengar jawaban dari Helen. Ada rasa gak terima di hatinya saat mendengar dia diantar pulang oleh Wisnu. "Lain kali kalau mau pulang dengan orang lain apalagi lagi laki-laki, kamu harus bilang dulu sama aku. Kamu yang sudah mengiyakan untuk mencoba menjalani hubungan dengan aku, jadi kamu juga harus tahu batasan." "Hah?" ngantuknya langsung hilang mendengar omongan Charles. "Beberapa hari ke depan aku bakalan sibuk, tapi tolong kamu juga jangan sibuk dengan orang lain," ucap Charles. Sudah pasti orang lain yang dimaksud adalah Wisnu. "Masih gelap. Aku mau tidur lagi," ucap Charles sambil mematikan sambungan telponnya. Dari balik pintu Erin tertawa kecil, mendengar percakapan Charles tadi. Sepertinya Charles sudah mulai memiliki sedikit rasa untuk Helen.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD