Ternyata ucapan Charles beberapa hari lalu yang bilang kalau dia sibuk, tak terbukti. Sore ini tiba-tiba dia datang menjemput. Helen sudah berada di dalam mobil dan bersiap keluar dari parkiran kantor, saat handphonenya bergetar, sebuah pesan w******p dari Charles. Ia kemudian keluar dari mobil dan berjalan menuju depan kantor, tempat Charles menunggunya.
"Gak jadi pulang Len?" tanya Reni yang tiba-tiba sudah ada di sampingnya.
"Eh, ngagetin aja Ren. Ini mau pulang, dijemput. Duluan ya..." Helen mempercepat langkahnya dan masuk ke mobil Charles. Sekilas Reni dapat melihat siapa laki-laki yang menjemput Helen.
"Katanya kamu sibuk?" tanya Helen sambil memasang seatbeltnya. Tampak wajah Charles kusam dan lelah. "Daripada jemput aku, lebih baik kamu istirahat aja. Muka lelah kaya gitu," ucap Helen tanpa bermaksud apa-apa, tapi malah di tanggapi Charles dengan sedikit marah.
"Oh jadi kamu gak suka dijemput sama aku? Kamu sudah janjian sama orang lain mau jalan?"
"Ih, kamu kenapa sih?" tanya Helen bingung. "Iya kan, lebih baik kamu istirahat, jadi kalau diliput sama wartawan kelihatan lebih fresh di tivi," ucap Helen. Tadi siang Helen melihat Charles di tivi sedang mengawal tamu kantornya yang sedang melakukan kunjungan ke Mabes Polri. Wajahnya terlihat jelas di tivi, karna dia berdiri tepat disamping Kapolda Metro Jaya, sayang wajahnya tampak terlihat kelelahan, namun tak mengurangi kadar ketampanannya. Charles mengarahkan kaca depan mobilnya dan bercermin, benar saja wajahnya tampak lelah dan berkantung mata, karna dari kemarin dia belum tidur.
"Makasih ya. Hati-hati di jalan," pamit Helen sambil turun dari mobil sesampainya di depan rumah.
Begitu masuk ke dalam rumah tercium aroma harum kue. Helen langsung menghampiri Mama di dapur yang tepat tengah mengeluarkan kue dari oven.
"Wangi banget Ma. Tumben Mama bikin kue?" tanya Helen.
"Lagi bikin tester nih buat kamu cobain." Mama memotong kue bolu pisang yang diolahnya tadi dan memberikannya pada Helen. "Besok Mama arisan di rumah Tante Lusi, jadi Mama mau bawa kue ini ke sana. Gimana, enak gak?" tanya Mama.
"Enak Ma." Helen mendekatkan kue itu dan memotongnya sendiri. "Kenapa gak beli aja Ma, kan biar praktis."
"Sayang uangnya kali Len, rencananya Mama mau buat 4 loyang. 3 loyang buat ke tempat Tante Lusi, 1 loyangnya buat mamanya Charles. Kemarin kan ngasih brownies, gak enak ngembaliin tupperwarenya dalam keadaan kosong." Helen manggut-manggut mendengar ucapan Mama.
***
Pagi-pagi di dapur Mama sudah sibuk mempersiapkan adonan kue bolu pisang. Setelah beres-beres rumah, Helen ikut nimbrung di dapur. Gak bantuin juga sih, cuman nemenin Mama sambil sarapan nasi goreng yang sudah dibuatkan Mama.
Satu loyang, dua loyang, tiga loyang, empat loyang, akhirnya semua kue bolu pisang sudah selesai. Mama melirik jam di dinding, yang sudah menunjukkan pukul setengah sebelas siang.
"Kamu siap-siap gih, mandi. Anterin Mama ke tempat Tante Lusi, trus kamu anter juga kue ini buat keluarganya Charles. Jangan lupa, bilang makasih sama maaf baru sempat ngebalikin tupperwarenya hari ini," ucap Mama. Helen menaikkan kedua alisnya dan bergegas mandi.
Jam 11.15 mereka meluncur ke rumah Tante Lusi. Setelah menurunkan Mama di sana, Helen melanjutkan perjalanannya menuju rumah Charles yang beda arah. Karna niatnya cuman nganter kue bolu dari Mama, Helen tidak memberi kabar pada Erin bahwa ia akan ke rumah. Sesampainya di depan rumah Charles, Helen membuka pagar dan masuk. Dari luar tampak sepi, tak ada mobil yang terparkir di halaman rumah. Ia sudah mulai curiga, jangan-jangan gak ada orang di rumah, namun karna kepalang basah, sudah sampai di sini, dia mencoba mengetuk pintu rumah.
"Kayaknya gak ada orang nih." ucapnya. Sudah berkali-kali mengetuk pintu rumah tapi gak ada tanda-tanda orang di dalam. Helen mengambil handphone hendak menghubungi Erin.
"Iya ..." Seseorang membuka pintu rumah. Charles keluar dengan celana pendek dan kaos singlet, serta rambut yang masih acak-acakan. Terlihat jelas dia baru bangun tidur.
"Eh, anu, ini. Maaf ganggu tidur kamu, mau antar ini aja buat Tante Erin." Helen meletakkan tupperware berisi bolu pisang di meja dan berbalik hendak pulang, tapi tangannya di genggam lembut oleh Charles. Helen berbalik dan menatapnya. Terasa hangat genggaman tangan Charles membuatnya tak ingin tangannya dilepaskan oleh Charles.
Kruukk krukkk
Perut Charles berbunyi.
"Tolong bikinin aku teh hangat ya sama ambil pisau di dapur buat motong kue yang kamu bawa ini," ucap Charles sambil melepaskan tangan Helen.
"Ya sudah, tunggu sebentar." Helen masuk kedalam rumah, dan langsung menuju dapur. Di teras, Charles membuka keran air dan mencuci mukanya. Tak berapa lama, Helen datang membawakan teh hangat, dia memotong kue bolu pisang dan meletakkannya di piring kecil.
"Tante Erin kemana? Charlos juga gak ada."
"Kayaknya mereka lagi di kantor Papa," jawab Charles dengan mulut penuh makanan.
"Aku pamit dulu." Helen menyampirkan tasnya di bahu.
"Mau kemana? Baru juga sebentar, ada janji sama orang lain ya kamu? Keliatan rapi?" tanya Charles. Wajahnya tampak serius.
"Kali aja kamu mau lanjut tidur, dari pada ganggu kan lebih baik aku pulang. Lagian gak enak sama tetangga, berdua di rumah yang lagi kosong ini."
"Ya ‘kan gak kita ngapa-ngapain juga? Kalo gitu kamu tunggu di sini sebentar aku mau mandi dulu." Charles masuk kedalam rumah. Sambil menunggu Charles, Helen berselancar di dunia maya, i********:. Tanganya asyik menscroll melihat postingan beberapa artis yang di follownya. Sebuah notif masuk, seseorang minta persetujuan untuk mengikutinya.
'Wisnu' batinnya saat melihat poto profilnya. Tanpa pikir panjang Helen langsung menerima permintaan pertemanan Wisnu dan memfollbacknya.
"Astaga ke love lagi," ucap Helen saat asyik melihat postingan Wisnu di akunnya.
"Love apa?" Charles mengagetkannya. Buru-buru Helen mengunci layar handphonenya. Charles masih memandangnya, menanti jawaban Helen.
"Itu, ke love foto temen di i********:," jawab Helen sambil memasukan handphonenya ke dalam tas. Charles terlihat rapi, menggunakan jeans serta baju kaos hitam.
"Ayok," ajak Charles yang bersiap mengunci pintu rumah.
"Ini diberesin dulu. Gelas sama kuenya."
"Kuenya kita bawa aja. Gelas sama pisaunya taroh di dapur aja." Charles membuka pintu lagi dan membiarkan Helen masuk. Dia segera mencuci gelas bekas minum Charles tadi. Saat Helen berbalik, Charles sudah berdiri tepat di belakangnya sangat dekat, membuatnya kaget, jantungnya berdetak kencang.
"Kamu ngapain?"
"Kamu yang ngapain? Naroh gelas di dapur aja, kok lama banget." Helen segera berlalu dari hadapan Charles dan menunggu di teras.
Mereka berdua kemudian meninggalkan rumah dan pergi ke kantor Frans.
"Halo Len, lama gak ketemu," sapa Erin sambil memeluk Helen. "Kok kalian bisa bareng?" tanya Erin lagi, Charles langsung menghampiri Charlos yang sedang bermain di playgroundnya.
"Iya Tante. Tadi Helen ke rumah mau nganter ini." Helen meletakkan tupperware di meja yang langsung di buka oleh Erin.
"Wah kayaknya enak nih. Buatan Mama ya?" Helen mengangguk. "Makasih ya bilang sama Mama."
"Iya Tante," jawab Helen.
Erin mengajak Helen bermain ke playgroundnya Charlos. Charlos yang semula asyik bermain dengan Charles, kini mendekati Helen. Mencoba berdiri dan berjalan secara perlahan. Erin dan Charles yang melihat Charlos melangkahkan kaki, sangat excited. Buru-buru Charles merekam belajar melangkahkan kaki pertamanya Charlos. Lima langkah, akhirnya Charlos sampai di depan Helen, dia langsung menjatuhkan diri ke pelukan Helen.
"Wah, anak ganteng ini hebat. Sudah bisa jalan sendiri." Helen memeluk erat Charlos dan mencium pipinya.
"Hebat cucu Oma." Erin mendekat dan mengelus-elus rambut Charlos.
Sejam bermain bersama Helen, Charlos mulai rewel, merengek gak jelas mau minta apa sambil mengusap-usap matanya. Segera Erin mengolahkan sebotol sufor untuk Charlos yang sudah mulai mengantuk. Biasanya Erin menemani Charlos minum sufor sambil rebahan, tapi kali ini Charlos gak mau. Charles juga mencoba menemani, Charlos tetap gak mau.
"Coba sama Helen Tante." Helen kemudian menggendong Charlos yang sudah memegang botol berisi sufornya. Dia menggendong Charlos sambil berjalan pelan mengitari playground.
Tampak Charlos sudah menutup matanya namun mulutnya masih menyedot sufor dari dotnya. Akhirnya dia tertidur pulas saat susunya habis.
"Mau di letakkan di mana Charlos?" tanya Helen pada Charles yang sibuk menatap layar handphonenya.
"Sini." Charles menggendong Charlos yang sudah tertidur pulas. Erin keluar dari ruangan Frans.
"Aku pulang dulu ya, udah sore."
"Langsung pulang atau masih mau mampir ke tempat lain?" selidik Charles. Erin tertawa pelan mendengar ucapan Charles. Sepertinya naluri menginterogasinya mulai keluar.
"Mampir jemput Mama di rumah temen," jawab Helen singkat. Erin menghampiri mereka dan mengambil Charlos.
"Hati-hati dan setelah jemput Mama, langsung pulang," ucap Charles pada Helen yang sudah duduk di balik kemudi mobilnya.
"Iya ..." Helen tersenyum lebar yang di buat-buat pada Charles.